
Keesokan harinya, diruang rektor.
Nampak Lee Joon tengah membuat kopi dan pak Lim yang sedang menyeruput kopi panasnya sambil melihat layar handphone-nya.
“Ah ... panas ... lidahku terbakar,” sentak pak Lim yang kepanasan setelah menyeruput kopinya.
“Hati-hati lah itu masih panas,” saut Lee Joon sambil membawa segelas kopinya dan duduk di sofa dekat pak Lim.
“Itu karena tuan tidak memberitahu saya kalau kopinya masih panas,” ucap pak Lim menjawab Lee Joon.
“Kan aku sudah bilang jangan panggil aku dengan sebuatan ‘tuan’ jika kita berada dikampus,” ucap Lee Joon pada pak Lim.
“Ah ... maaf tu ... maksud saya pak rektor,” jawab pak Lim.
Lee Joon hanya tertawa kecil melihat pak Lim yang selalu ingin memanggilnya dengan sebutan tuan, itu karena sudah menjadi budaya didalam keluarga Aqila Family.
Disisi lain, disebuah ruang kelas.
Nampak Park Yoona sedang mengajar dengan yakin dan selalu membuat mahasiswa laki-laki terkesima dengan kecantikan dan kepintarannya.
“Baiklah, sebelum saya menutup perkuliahan kita pada hari ini, mungkin ada yang ingin kalian pertanyaan saya persilahkan,” ucap Yoona sembari memasukkan alat ajarnya kedalam tas.
“Maaf bu, kami ingin tahu ada hubungan apa ibu dengan pak rektor?” tanya salah satu mahasiswa dikelas itu.
Yoona yang mendengar pertanyaan dari salah satu mahasiswanya itu dengan tenang dan yakin menjawab mereka.
“Ah soal itu, saya dan pak rektor dulunya adalah senior dan junior di kampus yang sama,” jawab Yoona dengan lugas.
“Wah ... berarti ibu sudah mengenal pak rektor sejak lama,” ucap salah satu mahasiswanya.
“Benar, apa yang kalian ingin tanyakan hanya tentang itu, aku sangat menyayangkan karena kalian bertanya tentang mata kuliah yang baru saja kalian pelajari tapi malah bertanya tentang kehidupan pribadi seseorang, jadi ... saya akan pergi, jangan lupa dengan tugas kalian,” ucap Yoona dan pergi meninggalkan ruangan kelas itu.
Sedangkan suasana didalam kelas setelah ditinggalkan oleh Yoona, banyak dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi yang menggosipkan Yoona dengan Lee Joon.
“Aku rasa kita telah membuat ibu Park tersinggung,” ucap salah satu mahasiswi padan teman sekelasnya.
“Sepertinya begitu, tapi bukankah kalian melihat raut wajahnya ketika kita menanyakan tentang pak rektor padanya, wajah langsung memerah dan salah tingkah seperti sedang malu,” sambung salah satu mahasiswa.
“Benar, aku juga mulai curiga saat ibu Park yang tiba-tiba meneriakkan nama pak rektor saat pertama kali pak rektor datang ke kampus ini,” saut salah satu mahasiswa yang bergabung dan bergosip.
“Aku juga dengar dari dosen-dosen lain, kalau ibu Park dan pak rektor sebenarnya adalah alumni dari kampus kita sendiri,” ucap salah satu mahasiswa dengan teman-temannya.
“Wahh ... ini seperti kisah webtoon saja, bukankah ini sangat romantis teman-teman, bayangkan saja dosen tercantik di kampus dan pak rektor tertampan di kampus sebagai sepasang kekasih, aaakh!! Korea pasti gempar jika hal itu memang terjadi,” ujar salah satu mahasiswi.
“Yang kau katakan memang benar jika itu adalah sebuah kenyataan, tapi aku juga dengar gosip bahwa pak rektor kita yang baru ini adalah manusia berhati kutub utara, bahkan sifat beliau katanya bisa membekukan seluruh Korea waluaupun itu disaat musim panas karena sifatnya yang dingin sedingin kutub utara,” sambung salah satu mahasiswa.
“Ehemm!!” bunyi suara seseorang mendehem.
“Hei! Hei ... pak dosen datang,” ucap salah satu mahasiwa memberitahukan pada teman sekelasnya.
Ternyata dosen yang mendehem itu adalah pak Lim, yang mana saat ini adalah jam mata kuliah pak Lim yang mengajar tentang bahasa Indonesia.
“Aku mendengar sesuatu yang menarik saat masuk tadi, apa yang kalian katakan tadi tentang hubungan ibu Park dan pak rektor benarkan, aku sarankan pada kalian untuk jangan berharap itu akan menjadi kenyataan, karena kalian tidak tahu apa-apa, sebenarnya ibu Park dan pak rektor adalah ...,” ucap pak Lim menggoda para mahasiwanya.
“Apa cepat katakan pak,” ucap mahasiswanya yang sangat penasaran.
“Sebenarnya ibu Park dan pak rektor adalah ... buka halaman 27 dan kerjakan soal itu dengan benar jika kalian ingin tahu tentang hubungan ibu Park dan pak rektor,” ucap pak Lim pada mahasiwanya.
“Yahh ... gak asyik,” saut semua mahasiswanya kecewa.
Pak Lim hanya tertawa kecil melihat mahasiswanya, ternyata gosip tentang Lee Joon dan Park Yoona di kampus sudah menyebar sejak hari pertama mereka bertemu. Pak Lim sempat teringat kejadian dimasa lalu saat ia bertemu dengan Lee Joon dan mengobrol saat kelas Lee Joon akan berkemah di puncak karena acara ospek tahunan, pak Lim teringat bahwa beliau pernah sekali meenggoda Lee Joon tentang Yoona, namun pada saat itu Lee Joon tidak menunjukkan rekasi apapun tentang perasaannya terhadap Yoona.
“Hah ... aku hanya berharap, tuan muda mendapatkan pasangan yang tulus mencintainya dan apa adanya setelah tuan muda membalaskan dendamnya,” gumam pak Lim dalam hatinya.
Disebuah lorong dikampus yang menuju ke arah kantin, nampak Yoona tengah berjalan menuju ke arah kantin dengan raut wajah yang masih kesal.
“Hah ... aku tak habis pikir dengan hadirnya si batu es yang menyebalkan itu disini, sekarang semua mahasiswa sedang menggosipkan kami, ini sangat mengesalkan,” gumam Yoona bicara sendiri tanpa melihat jalan.
Saat tengah asyik menggerutu karena kesal dengan gosipnya dengan Lee Joon, tiba-tiba Yoona menabrak seseorang.
“Buukhh!!” suara tabrakan.