Aqila Family

Aqila Family
Chapter 17



Masih di ruang rektor setelah kejadian fulgar antara Lee Joon dan Yoona tadi, suasana sudah kembali seperti semula. Lee Joon dan ibu Kang juga pak Lim nampak sedang menunggu apa yang akan Lee Joon katakan pada mereka.


“Jadi apa yang akan tuan muda sampaikan pada kami?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Ibu sudah menjelaskan semuanya, dan kakek sedang dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan,” ucap Lee Joon.


“Apa yang terjadi dengan tuan besar?” tanya ibu Kang.


“Kakek diracuni” ucap Lee Joon.


“Apa?!!” ucap ibu Kang dan pak Lim bersamaan.


“Apa tuan tahu siapa pelakunya?” tanya pak Lim mulai tegang.


“Jika tuan besar sampai teracuni seperti itu, berarti musuh sudah mulai tahu dan bergerak lebih dulu,” saut Ibu Kang.


“Sebenarnya ini hanya baru dugaan saja, tapi aku bertemu ibu bukan hanya untuk mendengarkan penjelasannya tentang menjadi menteri saja, karena ada hal yang lebih penting dari itu,” ujar Lee Joon pada Pak Lim dan Ibu Kang.


“Apa hal yang lebih penting itu tuan?” tanya pak Lim.


“Aku rasa aku tahu siapa yang telah mengkhianati dan membuat ayah menderita selama ini,” ucap Lee Joon dengan tatapan penuh amarah.


Pak Lim dan ibu Kang semakin penasaran dengan apa yang baru saja Lee Joon katakan pada mereka, yang berarti musuh yang selama ini menyembunyikan dirinya dibalik layar telah memperlihatkan kepalanya.


“Siapakah orang itu tuan? jika tuan sudah tahu siapa si brengs*k itu maka itu berarti kita akan memulainya bukan,” ucap pak Lim pada Lee Joon.


“Kami sudah siap untuk ini tuan, bahkan kami sudah menunggu lama untuk hari dimana kita bisa membalas orang yang telah menghancurkan bos,” sambung ibu Kang menatap Lee Joon penuh ambisi.


“Orang yang telah menghancurkan ayah, dan orang yang telah membuat ibu menderita cukup lama, dan orang yang telah membuat kita hidup sengsara selama ini adalah ... kakek ku sendiri, ayah dari ayahku yaitu Gong Jihoon!” ucap Lee Joon geram sambil mengepalkan tangannya.


Pak Lim dan Ibu Kang seketika terdiam tak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Lee Joon, mereka tak menyangka bahwa bos mereka dulu adalah anak dari orang nomor satu di Korea Selatan yaitu Presien Gong Jihoon.


Suasana pun semakin tegang setelah Lee Joon mengatakan hal itu, dan membuat pak Lim juga Ibu Kang tak habis pikir karena musuh mereka yang sebenarnya adalah ayah kandung dari bos mereka sendiri.


“Wahh ... ini sungguh membuatku sampai tak bisa berkata-kata lagi,” ucap pak Lim yang habis terkejut tadi.


“Aku juga tak percaya awalnya, karena ayah tak pernah membicarakan tentang kakek, lalu ibu telah mengatakan semuanya saat aku di Indonesia, tapi kita mendapatkan momen untuk membalas dan menghancurkan iblis tua itu sekarang,” ucap Lee Joon.


“Apa tuan sudah merencanakan sesuatu?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Maaf tuan, kami tahu kalau kau sekarang adalah kepala keluarga mafia terbesar di Asia, tapi aku rasa kita masih butuh tambahan kekuatan jika lawanya sekelas pemimpin sebuah negara,” sambung ibu Kang pada Lee Joon.


“Kalau itu kalian jangan khawatir, aku sudah menyuruh pak Kim untuk mengurusnya,” ucap Lee Joon menjawab ibu Kang dan pak Lim.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan rektor dan Lee Joon pun tersenyum kecil sambil berkata.


“Seperti mereka sudah sampai,” ucap Lee Joon.


Pak Lim dan ibu Kang yang mendengar ucapan Lee Joon bingung sekaligus penasaran apa yang dimaksud dan yang telah direncanakan oleh tuan muda mereka. Kemudian seseorang yang mengetuk pintu tadi pun masuk ditemani beberapa orang yang membuat pak Lim dan ibu Kang sangat terkejut sampai tak bisa berkata-kata, dan ternyata orang yang datang itu adalah pak Kim dan beberapa pejabat besar negara di Korea Selatan.


“Maaf tuan, saya perlu waktu agar dapat menyakinkan mereka,” ucap pak Kim pada Lee Joon.


“Tidak apa-apa, jadi ... bisa kau jelaskan sekarang dengan apa yang sudah kita rencanakan dari awal,” ucap Lee Joon pada pak Kim.


“Tentu saja tuan, sebelum itu silahkan tuan-tuan duduk. Saya akan memperkenalkan mereka terlebih dahulu. Pertama adalah pak Hwang Do, beliau sekarang menjabat sebagai menteri keuangan Korea Selatan, selanjutnya adalah pak Song Ji Won, beliau sekarang menjabat sebagai menteri luar negeri Korea Selatan, dan yang terakhir adalah ibu Kyung Soon, yang sekarang menjabat sebagai menteri perdagaan, industri, dan energi Korea Selatan. Mereka bertiga bersedia menjadi sekutu kita tuan muda,” jelas pak Kim pada Lee Joon.


“Kami akan menjadi sekutu anda tuan, pak Kim sudah menjelaskan semuanya pada kami,” ucap pak Hwang Do yang menjabat sebagai menteri keuangan.


“Kami bersedia menjadi kaki tanganmu ketika pak Kim memberitahu kami bahwa anda adalah cucu kandung dari pak Presiden Goong,” sambung pak Song Ji Won menteri luar negeri.


“Saya berbeda dengan mereka, saya bersedia membantu tuan karena saya punya hutang budi seumur hidup pada pak Lee Jae Hoon, dan saya diberitahu oleh pak Kim bahwa anda adalah anak kandung semata wayang pak Lee Jae Hoon, jadi saya pikir ini adalah kesempatan saya untuk membalas budi seumur hidup saya pada ayah tuan,” ucap ibu Kyung Soon pada Lee Joon.


“Bagaimana bisa tuan tidak memberitahukan hal ini pada kami,” ucap pak Lim dengan nada kesal.


“Ini bahkan lebih dari cukup, tapi saya juga setuju dengan perkataan pak Lim, bukankah kami ini adalah orang terdekatmu tuan, kenapa tuan merahasiakan hal sepenting ini pada kami?” sambung ibu Kang.


“Maafkan aku pak Lim, Ibu Kang ... jangan salah faham begitu, aku sengaja tidak memberitahu kalian karena aku takut menyusahkan kalian terlalu banyak, dan aku sudah membuatkan kalian peran dan tugas masing-masing dalam misi balas dendam ini, aku minta maaf tidak memberitahu kalian tapi kalian tetaplah orang kepercayaan ku yang terbaik,” ucap Lee Joon menjawab ibu Kang dan pak Lim.


Dan sejak hari itu, Lee Joon pun telah mendapatkan sebuah pedang dan perisai untuk berperang melawan raja yang sudah membunuh kesatria darah dagingnya sendiri. Mereka semua pada hari itu menyusun rencana dan memperkirakan semua hal yang akan terjadi, tak lupa Lee Joon meng-ikut sertakan ibunya sebagai perwakilan dari keluarga yang ada di Indonesia secara virtual melalui laptopnya.