
1 minggu kemudian ... didalam kelas jurusan sastra Indonesia ....
“Terimakasih atas kerja keras kalian semua, bapak harap hasil penelitian kalian ini dapat mengubah masa depan Korea untuk lebih maju dan berkembang lagi. Jangan lupa untuk datang besok pagi karena kita akan menggelar gladi untuk wisuda kalian, apa ada pertanyaan sebelum saya pergi?” ucap pak Kim pada semua mahasiswa dikelas itu.
“Tidak pak ...,” saut semua mahasiswa yang ada dikelas.
“Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu, dan jangan lupa besok,” ucap pak Kim lalu pergi meninggalkan kelas.
Kelas pun bubar lebih awal karena tak ada lagi yang harus mereka pelajari, semuanya hanya menunggu hari H wisuda. Lee Joon pergi meninggalkan kelas bersama Jun Hyung dan menuju ke parkiran.
Ditengah perjalanan mereka, Lee Joon dan Jun Hyung bertemu dengan Park Yoona dan temannya So Min.
“Wah ... tak kusangka kami akan bertemu dengan junior kami yang dipanggil cerewet oleh Lee Joon, apa itu panggilan sayang kalian? haha,” ucap Jun Hyung meledek Lee Joon dan Yoona.
“Diam kau badut garing!” saut Yoona dengan kesal.
“Apa! badut garing? apa katamu? kami ini adalah senior kalian,” ucap Jun Hyung menjawab Yoona.
“Jun Hyung! aku tidak membelanya tapi apa yang dia katakan itu benar, kau seperti badur garing,” sambung Lee Joon.
“Apa! apa maksudmu Lee Joon sialan,” ucap Jun Hyung.
“Hei Yoona, bukannya kau terlalu berlebihan,” ucap So Min pada Yoona.
“Diamlah kalian berdua!” ucap Lee Joon dan Yoona bersamaan.
Jun Hyung dan So Min pun terdiam dan hanya membeku disebelah temannya, Lee Joon dan Yoona.
“Bisakah kita bicara berdua saja?” tanya Lee Joon pada Yoona.
Yoona sempat tersentak dan tak menduga dengan apa yang Lee Joon katakan.
“Ada apa? Apa ada yang ingin kau katakan? kenapa tidak katakan disini saja,” jawab Yoona pada Lee Joon.
“Kau ini sangat keras kepala, ayo ikut aku,” ucap Lee Joon dan menarik lengan Yoona membawanya pergi meninggalkan Jun Hyung dan So Min.
Jun Hyung dan So Min terpaku beberapa saat sebelum mereka mumutuskan untuk berpisah.
Di atap kampus ....
“Lepaskan tanganku aku bilang!” ucap Yoona sambil menarik tanganya yang dipegang oleh Lee Joon.
“Aku tidak akan basa-basi lagi-“
“Memang kapan kau pernah basa-basi? sifatmu yang dingin dan mulutmu yang tajam itu ... aku baru tahu kalau ada manusia sepertimu, memangnya ayah dan ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun hah!” ucap Yoona dengan kesal dan emosi.
“Jika aku tahu, aku tidak mungkin seperti yang kau katakan,” jawab Lee Joon dengan tatapan serius pada Yoona.
Yoona tersentak dan baru menyadari bahwa Lee Joon mengalami amnesia, ia merasa sudah kelewatan dan melampaui batas dengan perkataannya barusan, Yoona yang tak enak pada Lee Joon pun meminta maaf pada Lee Joon.
“Maafkan aku ... aku sudah kelewatan, aku tidak bermakssud-“
“Tidak apa-apa,” saut Lee Joon memotong permintaan maaf Yoona.
“Apa?” ucap Yoona yang tak menyangka dengan reaksi Lee Joon itu.
“Aku bilang tidak apa-apa, itu bukan salahmu, kamu marah karena aku menarikmu tiba-tiba dan membawamu kesini, wajar saja kamu marah bahkan kita tidak pernah berkenalan dengan benar walaupun kita sudah sering bertemu. Aku memakluminya,” ujar Lee Joon pada Yoona.
Perkataan Lee Joon itu membuat Yoona terdiam dan hanya menatap Lee Joon yang terkena pancaran sinar matahari, karena Yoona setinggi bahu Lee Joon jadi Yoona sempat merasa silau melihat Lee Joon dengan sinar matahari yang menyinarinya.
“Hei! apa ada sesuatu diwajahku?” tanya Lee Joon pada Yoona.
“Ah? tidak, tida apa-apa,” saut Yoona yang tersadar dari diamnya.
“Aku ingin bertanya satu hal padamu,” ucap Lee Joon pada Yoona.
“Apa yang ingin kau tanyakan, jangan bilang kau ingin menanyakan kalau aku sudah punya pacar atau belum,” pungkas Yoona pada Lee Joon.
“Haha ... kau ini terlalu percaya diri, kamu bukan tipeku, dan jangan salah paham, aku hanya ingin menanyakan apakah kau punya kembaran atau sejenisnya,cuma itu,” jelas Lee Joon pada Yoona.
Yoona yang mendengar Lee Joon mengatakan bahwa dia bukanlah tipenya merasa harga dirinya telah tersakiti, dan ia membalas perkataan Lee Joon.
“Apa? bukan tip, wahh ... kau juga jangan terlalu percaya diri, mentang-mentang kau punya wajah tampan itu dan tubuhmu yang seperti tiang listrik-“
“Apa katamu? tiang lis-“
“Hei Lee Joon, kamu juga bukan tipe ku, dan jangan harap ada wanita yang akan terpikat oleh tiang listrik sepertimu dengan sifat dinginmu itu, dan satu hal lagi, kembaran? aku tak tahu kenapa kau menanyakan hal ini tapi aku ini hanyalah anak tunggal, kalau itu saja yang ingin kau tanyakan lebih baik aku pergi, selamat tinggal tiang listrik,” ujar Yoona dan pergi meninggalkan Lee Joon di atap kampus sendirian.
“Apa? tiang listrik, dasar kurcaci sialan! tapi aku baru tahu kalau dia adalah anak tunggal. Berarti wanita yang mirip dengannya yang ada diingatanku mungkin tidak ada hubungannya dengan dia, hahh ... aku menyia-nyiakan waktuku, sebaiknya aku pulang dan memberi makan Blacky,” gumam Lee Joon dan pergi pulang kerumahnya.
Dirumah Lee Joon ....
Lee Joon tengah mebuka kaleng makanan kucing dan si Blacky yang menggesek-gesekkan kepalanya di kaki Lee Joon.
“Meoong ....”
“Iya aku tahu kau lapar, maafkan aku karena belakangan ini aku terlalu sibuk dan melupakanmu, Blacky,” ucap Lee Joon bicara pada kucing hitamnya itu.
Setelah memberi makan Blacky, Lee Joon masuk ke kamarnya dan hendak mengganti pakaiannya dan baru dia teringat dengan map itu!. Lee Joon pun mebukanya dan menemukan hal yang ia duga.
“Inikan! dokumen dan arsip dana keuangan kelompok mafia, dan ada logo yang sama persis dengan tatto di punggung pak Lim, apa ini milik ayah? mungkin ini bisa membantuku, sebaiknya aku simpan dulu sebelum menanyakannya pada pak Lim, karena dia bilang dia adalah tangan kanan ayah, mungkin dia tahu sesuatu tentang ini,” gumam Lee Joon bicara sendiri.
Lee Joon pun menyimpan map itu lagi dan pergi mandi.
Malam harinya ... di rumah Yoona ....
Yoona tengah mengenakan masker wajah di kamarnya agar tak membuat kulit wajahnya kusam, ia tiba-tiba teringat dengan perkataan Lee Joon yang mengatakan bahwa dia bukanlah tipenya, itu sangat membuat Yoona kesal.
“Haahh! kamu bukanlah tipeku, sialan! memangnya siapa yang mau dengan cowok dingin sepertinya, ini sangat menjengkelkan,” gumam Yoona bicara sendiri sambil melihat cermin.
Selang beberapa saat, handphone Yoona berbunyi dan Yoona langsung mebuka dan melihat sebuah pesan di handphonenya.
“Huh? ini dari So Min, kenapa dia menyuruhku untuk menelponnya? kutelpon saja kali ya,” pungkas Yoona dan menelpon sahabat karibnya itu.
“Drrrt! drrrtt!”
“Halo? ada apa kau menyuruhku menelponmu?” tanya Yoona pada So Min.
“Ada apa katamu? tentu saja untuk menanyakan masalah kemarin.,” jawab So Min.
“Ah ... maksudmu senior sialan itu, yah tak ada apa-apa antara kami memangnya kenapa?” ujar Yoona.
“Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja, cepat katakan padaku ada apa antara kalian, kenapa senior tampan itu sampai menarik mu sseperti itu? kemana dia membawamu tadi? apa kalian diam-diam berkencan di belakangku? sebaiknya kau jujur padaku atau aku tidak akan berteman lagi,” ucap So Min dengan nada kesal pada Yoona.
“Hah ... kau ini, dia membawaku ke atap kampus, dan menanyakan hal yang tidak terduga,” ujar Yoona.
“Apa? jangan-jangan dia mengakui perasaanya padamu, benarkan yang aku bilang, sudahlah jangan membohongiku Yoona, pasti itukan,” ucap So Min.
“Justru sebaliknya, sekarang harga diriku sudah tidak ada lagi, hei ... So Min, apa menurutmu aku tidak cantik? apa aku bisa memiliki pasangan yang bisa mencintaiku tanpa syarat tertentu?” ucap Yoona pada So Min.
“Apa yang bilang, tentu saja temanku ini sangat cantik dan tentu saja kau bisa memiliki pasangan yang akan menjaga dan mencintaimu sampai mati, kenapa kau bertanya begitu? apa dia menghina mu?” pungkas So Min pada Yoona.
“Dia bilang kalau aku bukanlah tipenya, dan itu membuat harga diriku tersakiti, bahkan kata-katanya itu membuat aku tidak bisa tidur, bagaimana ini Yoona? aku sangat kesal dan marah sekarang, aku harus apa?” ucap Yoona pada So Min.
“Apa? dia bilang begitu! Wahh ... ternyata dia memang idaman, maksudku dia pasti buta karena mengatakan itu tanpa mengenalmu seutuhnya,” ucap So Min pada Yoona.
“Kau ini sebenarnya berada dipihak mana?” pungkas Yoona.
“Sepertinya kita harus membuat dia sadar Yoona, bahwa dia akan menyesal karena mengatakan omong kosong seperti itu padamu,” ujar So Min.
“Apa maksudmu?” tanya Yoona.
“Sudahlah, kau ikuti saja kataku, pokoknya kita akan buat kutub utara itu mencair dan menjadi tsunami, haha,” ucap So Min.
“Sebenarnya apa yang katakan ini? aku tidak mengerti,” ucap Yoona.
“Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu, selamat malam Yoona,” ucap So Min dan menutup teleponnya.
“Tuut ... tuut ....”
“Hei! So Min? So Min, apa maksudmu? hahh ... sekarang apa lagi yang dia rencanakan, aku punya firasat buruk tentang ini,” gumam Yoona dan meletakkan handphonenya di sebelah tempat tidurnya.
Beberapa hari berlalu dengan cepat, dan sampailah harinya, dimana hari ini adalah hari pelaksanaan wisuda. Digedung auditorium, suasana wisuda sangat terasa, banyak dari orang tua mahasiswa hadir menyaksikan pemindahan tali toga milik anak mereka, tapi berbeda dengan Lee Joon, ia tidak begitu ceria dan bahagia, dan itu membuat pak Kim merasa kasihan padanya.
Setelah acaranya selesai dengan lancar dan sukses, para wisudawan pun keluar dari auditorium dan mengambil momen bahagia ini dengan berfoto bersama dengan keluarga mereka masing-masing, termasuk Jun Hyung dan Jiso teman sekelas Lee Joon. Melihat Jun Hyung dan beberapa temannya tengah asyik dengan keluarga mereka masing-masing, itu membuat Lee Joon merasa sesak dan sedih, ia pun hendak pergi dan pulang kerumahnya, namun dicegat oleh pak Kim yang menghampirinya dengan sebuah bucket bunga.
“Ini, hanya ini yang bisa aku beri, dan selamat atas kelulusanmu,” ucap pak Kim dan memberikan sebuah bucket bunga berisi permen.
Lee Joon tersentak dan terpaku sesaat saat pak Kim memberikan hadiah itu padanya, saat ia pikir tak ada yang akan memberikan hadiah atau mengucapkan selamat padanya, pak Kim datang dan memberinya itu, dan itu sangat membekas dihatinya Lee Joon, ia tak akan melupakan ini.
“Terimakasih pak, tapi kamu tidak perlu repot begini,” ucap Lee Joon pada pak kim dengan mata yang berbinar-binar.
“Kau selalu begitu, ubahlah kebiasaan dinginmu itu, bagaimana kau akan mendapatkan pasangan nanti jika kau selalu dingin begitu,” ujar pak Kim.
“Tapi aku benar-benar berterimakasih padamu pak, aa ... aku tidak akan melupakan atas semua yang telah bapak berikan padaku, bapak selalu membantuku dan memperhatikanku, jadi ... jadi aku sangat berterimakasih padamu,” ucap Lee Joon sambil menahan air matanya yang tak terbendung lagi.
“Hei! ka ... kau menangis? kenapa kau begini? apa aku telah menyinggungmu? kenapa kau menangis?” tanya pak Kim dengan heran dan cemas.
“Tidak, bagiku kau sudah kuanggap ayahku sendiri, dan sekarang hanya kaulah yang aku miliki bahkan saat dihari bahagia seperti ini, hanya kaulah yang datang kepadaku dengan hadiah ini, aku benar-benar berterima kasih padamu, huu ...,” ujar Lee Joon dengan terisak-isak.
Mendengar perkataan Lee Joon, pak Kim menghampirinya dan memeluk Lee Joon. pak Kim juga terbawa hanyut dan tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Lee Joon, beliau pun ikut mengeluarkan air mata yang sudah ia tahan sejak melihat Lee Joon mengenakan toganya.
Dan hal ini ternyata dilihat oleh Yoona dan pak Lim dari kejauhan walau beda posisi. Melihat Lee Joon dan pak Kim sedang berbagi haru, Yoona merasa kasihan dan salah terhadap Lee Joon, ia baru menyadari betapa kesepiannya Lee Joon selama ini, dengan hidup tanpa mengingat apapun itu pasti berat baginya. Dan sejak hari itu, Yoona mulai memperhatikan Lee Joon dengan cara yang berbeda.
1 hari setelah wisuda ....
Dirumah Lee Joon ....
“Tok tok tok ...,” suara ketukan pintu.
“Siapa malam-malam begini?” gumam Lee Joon sambil menuju ke arah pintu dan membukanya.
“Haii ... boleh aku masuk? Permisi ....”
“Kau! Apa yang kau lakukan malam-malam begini, dan masuk rumahku orang tanpa seizinku,” ucap Lee Joon.
“Maaf aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku merasa ada seseorang yang belum aku beri hadiah kemaren, jadi aku hanya mau bilang, selamat atas kelulusanmu senior,”
“Park Yoona, apa kamu juga mengidab amnesia?” tanya Lee Joon.
Ternyata yang mengetuk pintu rumah Lee Joon itu adalah Park Yoona, namun Lee Joon merasa ada yang aneh dengan wanita satu ini dan tidak mengerti sama sekali ada apa dengan wanita satu ini yang tiba-tiba datang lalu memberi dia ucapan selamat atas kelulusannya.
“Baiklah senior, aku sudah membeli beberapa minuman dan ayam goreng, jadi mari kita rayakan kelulusanmu malam ini,” ucap Yoona pada Lee Joon.
“Apa kau gila, aku tidak mengerti ada apa denganmu sekarang, tapi ini sudah malam dan kau ke rumah laki-laki membawa minuman dan ayam, nanti orang-orang bisa salah paham tentang ini,” ujar Lee Joon dengan wajah serius.
“Tidakkah kau berterimakasih atau apapun itu, bagaimana bisa kau memarahiku sedangkan aku sengaja menemuimu untuk mengucapkan selamat atas kelulusanmu dan merayakannya, apakah itu salah?” ucap Yoona sambil menggigit ayam goreng yang ia beli.
“Prrrrt!! prrrtt!” suara perut Lee Joon.
10 menit kemudian ....
“Haha ... itu seperti suara gunung erupsi, haha ... ternyata kamu juga bisa membuat suara seperti itu dengan perutmu, haha ....” ledek Yoona pada Lee Joon karena kejadian 10 menit yang lalu.
“Diam kau!” ucap Lee Joon pada Yoona dengan wajah kesal.
“Haha ... oke oke maafkan aku, tapi setidaknya cicipilah ayam ini sebelum aku menghabiskannya, kenapa kau malu-malu begitu? apa jangan-jangan-“
“Sini!” ucap Lee Joon menngambil ayam goreng yang ada dihadapan Yoona.
Mereka pun makan dan menikmati minuman yang dibawa oleh Yoona, hingga tak terasa sudah tengah malam.
“Aku kira kau tidak kuat minum, ternyata kau cukup lihai untuk seorang wanita,” ucap Lee Joon pada Yoona.
“Jadi apa sekarang kau berubah pikiran, apa aku masih bukan tipemu?” ucap Yoona pada Lee Joon.
“Aku rasa kau sudah mabuk, ayo aku akan mengantarmu pulang, berdirilah,” pungkas Lee Joon.
“Kau terlalu kejam, bagaimana bisa kau menyuruhku pulang disaat begini, kau memang tidak bisa memahami hati perempuan,” jawab Yoona dan berdiri menuju pintu.
Ditengah perjalan Lee Joon mengantar Yoona, Yoona tiba-tiba mau muntah dan menyuruh Lee Joon untuk menggosok punggungnya.
“Huuekk! ... ah ... ini membuat perutku tidak enak, tolong gosok atau tekan punggungku,” ucap Yoona pada Lee Joon.
“Apa? kenapa harus aku?” jawab Lee Joon.
“Kau pikir tanganku, huueekk! ....”
Lee Joon pun menggosok punggung Yoona hingga ia selesai muntah. Dan mereka pun sampai di gang rumahnya Yoona.
“Kita sudah sampai, kau tidak perlu mengantarku sampai didepan rumahku, rumah berada diujung gang ini, dan ternyata rumah kita tak terlalu jauh sepertinya, hanya berbeda beberapa gang saja, kalau terimakasih telah mengantarku, sampai jumpa,” ucap Yoona pada Lee Joon dan berjalan pergi meninggalkan Lee Joon.
“Terimakasih!” ucap Lee Joon tiba-tiba.
Itu membuat langkah Yoona terhenti karena mendengar kata terimakasih yang keluar dari mulut batu es seperti Lee Joon, Yoona pun berbalik dan menoleh ke arah Lee Joon.
“Apa? yang barusan kau bilang?” ucap Yoona dengan wajah bingung dan tidak percaya menatap Lee Joon.
“Aku bilang terimakasih, untuk minuman dan ayamnya, terutama karena telah mengucapkan selamat atas kelulusanku, yah ... walaupun kau mengatakannya setelah hari wisuda, tapi tetap saja, aku berterima kasih padamu. Kalau begitu ... aku pergi dulu,” ucap Lee Joon dan berbalik pergi meninggalkan Yoona.
Yoona terpaku sesaat setelah mendegar perkataan Lee Joon yang tidak ia duga itu.
“Apa itu? ini terasa sama persis saat kami berpisah setelah ia menolongku dari bapak-bapak mesum di bus waktu itu, dan saat itu dia juga tersenyum seperti barusan,” gumam Yoona bicara sendiri.
Setelah hari itu, pandangan Lee Joon terhadap Yoona mulai berubah. Ia tidak tahu apa itu, tapi dia merasa ada sesuatu yang membuatnya aneh ketika teringat atau mendengar nama Yoona.
Keesokan harinya ... pukul 12.23 siang ....
Dirumah Lee Joon ....
Nampak Blacky kucing hitam yang sekarang menjadi peliharaan Lee Joon tengah asyik menyantap makanannya di dapur. Sedangkan Lee Joon duduk di atas kasurnya didalam kamarnya sambil menatap map yang berisi informasi tentang kelompok mafia yang dipimpin oleh ayahnya. Ia sedang berpikir atas keputusannya tempo hari yang berjanji pada pak Lim kalau dia akan memilih untuk mencari kebenaran kedua orang tuanya sakaligus untuk mendapatkan kembali ingatannya jika dia sudah lulus. Dan Lee Joon pun memutuskannya.
30 menit kemudian ....
Di sebuah gudang tua, Lee Joon datang dengan map ditangannya, dan dari sudut gudang datang seseorang.
Saat Lee Joon tepat berada ditengah gudang itu, dan seseorang dengan stelan jas yang serba hitam didepannya, seketika dari arah belakang orang berjas itu datang sekelompok orang yang juga mengenakan stelan jas hitam, disusul beberapa mobil sedan mewah dan barisan sepeda motor dengan merek ternama.
Setelah mereka semua berkumpul dan berbaris didepan Lee Joon yang takut dan bingung, orang-orang berjas hitam itu dengan kompak dan serentak menundukkan kepala ke arah Lee Joon.
“Selamat datang tuan muda!” ucap semua orang berjas dengan lantang memberi hormat pada Lee Joon.
Lee Joon yang melihat itu tak bisa berkata-kata, rasa bingung dan takutnya tadi seketika hilang saat seseorang yang berjas hitam didepannya tadi membuka topi dan kacamata hitamnya.
“Pak ... pak Lim? ada apa ini? bukannya kau bilang kita akan bicara berdua saja disini? kenapa ada orang berjas sebanyak ini, aku tidak mengerti, siapa mereka semua ini?” ucap Lee Joon pada pak Lim.
“Maaf soal itu, karena tuan sudah datang kesini, itu berarti tuan sudah memutuskannya bukan, berarti tuan telah menepati janji yang tuan ucapkan sendiri waktu itu,” ujar pak Lim menjawab Lee Joon.
Lee Joon diam sesaat, ia menatap semua orang yang ada didepannya dengan tatapan yang tiba-tiba serius.
“Maafkan aku, mungkin aku belum terbiasa dengan ini semua, tapi akan aku katakan pada semua orang disini, walaupun ingatanku belum sepenuhnya kembali, tapi aku yakin kalau ini adalah takdir dan warisan yang ayahku tinggalkan untukku, jadi.. apakah kalian mau membantuku sekali lagi? yaitu membantuku untuk mengembalikan kehormatan Aqila Family!!” ucap Lee Joon pada semua orang dengan lantang.
Mendengar seruan dari tuan muda mereka, orang-orang berjas itu serentak menjawab.
“Hidup kami hanya untuk Aqila Family!!” ucap semua mafia yang ada dihadapan Lee Joon.
Setelah teriakan itu, Lee Joon pun di bawa oleh pak Lim kedalam salah satu mobil termahal yang ada disana, dan mereka pergi dari gudang tua itu diikuti oleh iringan mobil dan sepeda motor para mafia bekas anak buah ayahnya yang masih hidup.
Didalam mobil ....
“Apa mereka semua adalah orang-orangnya ayah?” tanya Lee Joon pada pak Lim.
“Tentu saja, tapi ini belum semuanya, karena tragedi itu banyak orang-orang kita mati sia-sia dan hilang begitu saja,” jawab pak Lim.
“Kita akan pergi kemana?” tanya Lee Joon.
“Kita akan pergi ke Jeju, tempat bos, maksudku ayah tuan selamat dari tragedi itu, dan map yang tuan bawa itu pasti dia tahu sesuatu tentang itu,” jawab pak Lim.
“Dia? siapa yang kau maksud? tapi ... bisakah kau panggil aku dengan namaku saja, aku merasa aneh jika kamu memanggilku dengan sebutan tuan muda,” ucap Lee Joon pada pak Lim.
“Saya rasa tidak bisa, heii, tolong lebih cepat sedikit,” jawab pak Lim dan menyuruh orang yang menyupiri mereka untuk lebih cepat.
Mobil yang ditumpangi Lee Joon dan pak Lim beserta iringan mobil mewah dan sepeda motor yang mengikuti mereka itupun pergi menuju ke Jeju.
30 menit kemudian ....
Rombongan Lee Joon dan pak Lim sampai di Jeju. Mereka pergi ke sebuah rumah yang terbilang mewah dan megah dan lebih mirip seperti hotel bintang lima.
Lee Joon dan pak Lim turun dari mobil dan masuk kerumah besar yang megah itu beserta para pengikutnya.
“Silahkan tuan,” ucap pak Lim sambil membukakan pintu besar rumah itu.
Ketika pintu besar itu terbuka, raut wajah Lee Joon yang tadi biasa saja langsung seperti orang yang menemukan harta karun. Lee Joon tak menyangka didalamnya sangat megah dan mewah, dengan lampu gantung yang besar di atas, beserta lukisan dan barang-barang yang terbilang mahal dan langka yang dipajang disekeliling ruangan itu, membuat mata Lee Joon lupa berkedip.
Dan setelah semuanya telah masuk ke rumah itu, pak Lim menepuk tangannya dua kali seperti isyarat untuk menyambut kedatangan Lee Joon, dan benar adanya, seketika langsung keluar orang-orang berbaju seperti pelayan restoran bintang lima dan para wanita cantik yang langsung berbaris membuat barisan dikedua sisi seperti Lee Joon yang berjalan di tengah-tengah mereka.
Mereka langsung melakukan hal serupa di gudang tua sebelumnya dan menundukkan badan memberi hormat pada Lee Joon.
“Selamat datang tuan muda!!” ucap semua orang menunduk memberi hormat pada Lee Joon.
“Aku sungguh tidak terbiasa dengan ini, tapi bisakah kalian mengangkat kepala kalian lagi,” ucap Lee Joon pada semua orang yang memberi dia hormat.
Semua orang pun kembali mengangkat kepalanya dan melayani Lee Joon bak raja dirumah itu.
Malam harinya ... dikamar yang ditempati oleh Lee Joon.
Pak Lim datang dan mengetuk pintu kamar Lee Joon.
“Masuk,” saut Lee Joon mendengar suara ketukan pintu.
“Maaf mengganggumu tuan, tapi ada satu hal yang ingin saya tunjukkan padamu tuan,” ujar pak Lim pada Lee Joon.
“Aku sungguh belum terbiasa dengan panggilan tuan ini, dan sekarang aku sudah menjadi mafia. Apa yang bapak maksud itu?” gumam Lee Joon dan bertanya pada pak lim.
“Ini mungkin tentang ingatan tuan yang hilang itu, silahkan tuan ikuti saya,” ucap pak Lim pada Lee Joon.
“Baiklah,” jawab Lee Joon.
Lee Joon pun mengikuti pak Lim menuju sebuah ruangan yang cukup jauh dari ruang utama rumah megah itu. Dan sesampainya mereka didepan ruangan itu, pak Lim lalu membuka perlahan pintu ruangan itu dan perlahan terlihat ada sosok seorang wanita yang terbaring di tempat tidur dengan tangan yang diinfus dan sebelah matanya yang diperban. Perlahan Lee Joon mendekati wanita itu dengan penuh perasaan yang ambigu di hatinya, dan setelah Lee Joon sampai dan berada tepat disamping wanita yang terbaring itu.