Aqila Family

Aqila Family
Chapter 7



Tepat setelah Lee Joon berada disebelah wanita yang terbaring itu dengan tangan yang di infus, Lee Joon merasa pernah bertemu denganya dan saat Lee Joon menatap wajah wanita itu, seketika kepala Lee Joon kembali kesakitan dan hampir membuat Lee Joon hilang keseimbangan. pak Lim yang cemas langsung memegang bahu Lee Joon agar tak jatuh.


“Aku.. aku tidak apa-apa,” ucap Lee Joon pada pak Lim.


Mendengar perkataan Lee Joon, pak Lim lalu melepaskan tangannya dari bahu Lee Joon dan berkata pada Lee Joon.


“Apa tuan merasa kenal dengan wanita ini?” tanya pak Lim pada Lee Joon sembari memberi Lee Joon sebuah pistol.


“Iya ... aku rasa aku tahu siapa dia, dia adalah wanita yang ada di ingatanku waktu itu, wanita yang mengarahkan pistolnya padaku, yang kau bilang bahwa dia telah menyelamatkan ku, dan ini?” ujar Lee Joon dengan wajah terkejut sembari menatap pistol yang diberikan oleh pak Lim.


“Iya, itu adalah pistol yang dia arahkan padamu tuan, dia dan pistol itulah yang telah menyelamatkan tuan waktu tragedi itu.


Saat tengah asyik mengobrol, wanita yang terbaring dengan infus itu tiba-tiba membuka matanya yang tidak diperban dan bangun perlahan. Melihat pistol yang ada ditangan Lee Joon, spontan wanita itu hendak menghantam Lee Joon tapi masih sempat ditahan oleh pak Lim.


“Tenanglah, dia adalah anaknya bos!” ucap pak Lim pada wanita itu.


Mendengar perkataan pak Lim, wanita itu kembali tenang dan berdiri menatap Lee Joon. Lee Joon yang kaget karena akan diserang tadi hanya terpaku diam melihat wanita itu.


Mereka saling bertatapan dan perlahan tangan dari wanita itu naik ke arah wajahnya Lee Joon, wanita itu memegang dagu Lee Joon dan berkata dengan penuh linangan air mata pada Lee Joon.


“Ini benar kamu ... ini benar kamu tuan muda, hick ...,” ucap wanita itu dan menangis haru didepan Lee Joon.


Lee Joon hanya diam melihat dan mendengar tangis haru wanita itu, ia tak tahu harus apa, dan tanpa sadar Lee Joon berkata pada wanita itu.


“Apa ... apa benar kamu yang telah menyelamatkan aku?” tanya Lee Joon dengan wajah resah dan iba melihat wanita itu.


Melihat dan mendengar Lee Joon dan wanita itu dihadapannya, pak Lim juga tak sanggup menahan air matanya, pak Lim meneteskan air matanya tanpa bersuara sedikit pun.


20 menit kemudian ....


“Kamu sudah sangat dewasa seperti ini, aku yakin bos pasti akan senang sekali melihat putranya yang tampan dan gagah sepertimu tuan muda,” ucap  wanita itu pada Lee Joon.


“Terimakasih ... karena sudah menyelamatkan aku, tapi aku tidak begitu tahu tentangmu, karena ingatanku yang belum pulih seutuhnya,” ujar Lee Joon.


“Apa pak Lim tidak mengatakannya padamu?” ucap wanita itu.


“Maafkan aku, aku sebenarnya ingin menjelaskannya pada tuan muda saat kami bertemu, tapi saat itu tuan muda tiba-tiba kesakitan karena ingatannya, jadi aku tidak sempat mengatakannya padamu tuan muda,” sambung pak Lim.


“Mengatakan apa? apa maksudmu pak Lim?” ucap Lee Joon yang penasaran.


“Sebenarnya aku dan pak Lim adalah orang kepercayaan bos yang paling dekat dengannya, bisa dibilang pak Lim adalah tangan kanannya bos, dan aku adalah tangan kirinya,” ujar wanita itu pada Lee Joon.


“Ah ... jadi begitu, berarti kalian benar-benar orang terdekat ayah. Tapi aku tak tahu nama mu, bisakah kau mengatakan siapa nama mu?” pungkas Lee Joon pada wanita yang terbaring itu.


“Tuan muda bisa memanggilku dengan ibu Kang,” jawab ibu Kang.


“Baiklah ibu Kang, aku pasti akan membalas kebaikan mu karena telah menyelamatkan aku,” ucap Lee Joon.


“Tuan muda tidak perlu mengatakan hal itu, karena itu sudah tugas saya sebagai salah satu orang kepercayaan bos, dan wajar saja saya melakukan itu karena tuan muda adalah anak dari orang yang telah menyelamatkan hidup saya,” ujar ibu Kang pada Lee Joon.


Setelah cukup lama bercerita dan berbasa-basi, akhirnya pak Lim membuka suaranya dan ingin menanyakan tentang bagaimana pandangan Lee Joon sekarang, apakah dia memang sudah memilih jalan ini atau hanya obsesi semata.


“Maaf mengganggu percakapan kalian, tapi bukankah kita akan membahas hal yang lebih penting,” ucap pak Lim memotong percakapan antara Lee Joon dan Ibu Kang.


Mendengar perkataan pak Lim, Lee Joon dan ibu Kang berhenti bicara dan mendengarkan pak Lim.


“Saya akan langsung saja pada poin-poinnya, pertama sekarang kita memang sudah memiliki penerus tahta ini dan tuan muda juga sudah memilih jalannya aku rasa, tapi itu belum cukup membuat kita untuk bangkit kembali karena ingatan tuan muda yang belum kembali sepenuhnya. Dan yang kedua, kekuatan kita tidak seperti dulu lagi saat ayah tuan muda yang memimpin, karena kita banyak kehilangan kekuatan utama kita saat tragedi 10 tahun yang lalu, dan jika kita ingin mengembalikan nama dan kehormatan Aqila Family seperti dulu lagi, maka kita harus mulai membangun kekuatan dan koneksi lagi dari awal,” ujar pak Lim menjelaskan situasi dan kondisi Aqila Family pada Lee Joon.


“Pak Lim benar, kita tidak sekuat dan sebesar dulu karena kekuatan dan koneksi kita banyak hilang sejak tragedi itu, jika kita harus mulai dari awal lagi, aku rasa itu butuh waktu yang cukup lama hingga kita benar-benar disegani dunia seperti dulu,” Sambung ibu Kang menanggapi perkataan pak Lim.


Lee Joon hanya terpaku dan berusaha mencari jalan keluar atas apa yang dijelaskan oleh pak Lim. Lee Joon pun berkata.


“Jadi ada dua masalah sekarang di Aqila Family, pertama adalah ingatanku, dan kedua adalah kekuatan dan koneksi kita yang sudah melemah. Aku punya rencana untuk poin yang kedua, bagaimana jika kita mencari kekuatan dari titik awal Aqila Family itu sendiri, pak Lim pernah bilang bahwa Aqila Family ini adalah organisasi mafia yang dibentuk oleh kakek ku bukan,” ucap Lee Joon pada Ibu Kang dan Pak Lim.


“Jadi ... maksud tuan muda-“


“Iya, kita akan mencari informasi dan bertanya pada orang-orang yang pernah menjadi orang-orang kakek, sekalian saja kita minta saran mereka untuk memperluas koneksi dan kekuatan kita, siapa tahu mereka punya koneksi dengan orang atau organisasi yang pernah berhubungan dengan kita Aqila Family,” ujar Lee Joon.


“Itu ide yang bagus, tapi bagaimana kita tahu kalau orang-orang yang ada pada generasi pertama Aqila Family masih hidup, kalaupun ada, mungkin sekarang mereka hanyalah kakek-kakek seperti di panti jompo,” ucap pak Lim menanggapi perkataan Lee Joon.


“Benar kata pak Lim, tapi aku rasa kita harus pergi ke tempat dimana pertama kali Aqila Family lahir,” sambung ibu Kang.


“Maksudmu kita harus pergi ke tempat dimana Aqila Family pertama kali terbentuk?” ucap Lee Joon.


“Iya ... dan kebetulan itu adalah kampung halaman ibumu tuan muda, orang-orang menyebutnya dengan sebutan negara dengan seribu pulau, Indonesia!” jelas ibu Kang.


Mendengar itu, Lee Joon semakin yakin dengan pilihannya ini, karena dia sudah memilih untuk membalaskan dendam ayahnya yang telah dimanfaatkan.


“Tapi bagaimana kita akan kesana, sekarang keuangan kita saja tidak seperti dulu karena banyak bisnis kita yang diambil alih oleh pemerintah setelah tragedi itu,” ujar pak Lim.


Seketika Lee Joon teringat dengan map yang berisi dokumen dan arsip dana gelap Aqila Family yang ia temukan dirumahnya tempo hari secara tak sengaja.


“Tunggu sebentar, kalau masalahnya adalah uang, sepertinya aku lupa menunjukkan sesuatu yang memang dari awal ingin kutanyakan pada kalian, coba bukalah map ini,” ucap Lee Joon pada ibu Kang dan pak Lim sembari memberikan map itu pada pak Lim.


Pak Lim pun membuka map itu dan membaca beberapa dokumen dan arsip didalamnya, betapa terkejutnya pak Lim setelah melihat semua dokumen dan arsip yang ada didalam map itu.


“Ini! Ini adalah arsip dan dokumen tentang aliran dana serta bisnis Aqila Family dari generasi pertama hingga saat ini, aku tak percaya ini, tapi ini akan sangat membantu kita untuk kebangkitan Aqila Family,” ucap pak Lim.


“Bukankah ini adalah simpanan uang dibank luar negeri, dan ada juga berkas-berkas kontrak dengan tempat-tempat hiburan malam yang terkenal disini, aku tak percaya ternyata koneksi dan jangkauan bisnis Aqila Familiy sangatlah besar, ini pasti koneksi dan bisnis yang sudah terjalin lama,” sambung ibu Kang.


“Tuan muda, dari mana anda mendapatkan dokumen dan berkas sepenting ini? bahkan saat ayah tuan muda masih menjadi pemimpin Aqila Family saja kami tidak pernah melihat dan mengurus dokumen seperti ini,” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Aa ... bagaimana aku menjelaskannya ya, itu aku temukan didalam gudang dirumah ku, ada seekor kucing yang tak sengaja menabrak lemari tua dan aku menemuka map itu terjatuh dari atas lemari itu, ya ... begitulah,” ujar Lee Joon.


“Entah ini kebetulan atau keanehan, tapi bagaimana bisa rahasia besar Aqila Family ada dirumah tuan muda,” ucap pak Lim.


“Tapi ini aneh, hampir semua dokumen, arsip, dan berkas yang ada di map ini tidak tertulis nama ayah tuan muda sama sekali, tapi tertulis dengan nama orang lain, Abdul Muthalib!” ucap ibu Kang.


“Abdul Muthalib?, siapa dia? apa dia mertua bos? tapi bos tidak pernah mengatakan nama mertuanya pada kita sekalipun,” ucap pak Lim.


“Maksudmu itu adalah kakek? aku tak tahu kenapa tapi aku yakin itu adalah nama kakekku, mengingat ibuku adalah orang Indonesia,” ucap Lee Joon.


“Kita harus memastikannya sendiri, haruskah kita ke Indonesia?” pungkas pak Lim.


“Sepertinya mau tak mau kita harus kesana, dan siapa tahu tuan muda bisa bertemu dengan ibu tuan muda,” sambung ibu Kang.


“Apa? ibuku? jadi ibuku masih hidup?” tanya Lee Joon yang terkejut dengan perkataan ibu Kang.


“Aku tidak tahu pastinya, tapi pada saat tragedi 10 tahun yang lalu, ibu tuan muda sudah disembunyikan oleh bos, ayah tuan muda. Tapi setelah kejadian itu, kami tidak pernah lagi mendengar kabar tentang ibu tuan muda, kami tidak tahu dimana bos menyembunyikan ibu tuan muda, tapi kami yakin kalau ibu tuan muda masih hidup disuatu tempat di Indonesia walaupun beliau sudah berhenti menjadi dokter,” ucap ibu Kang pada Lee Joon.


Mendengar bahwa ada kemungkinan ibunya masih hidup disuatu tempat di Indonesia, Lee Joon sangat bersyukur dan mungkin dengan bertemu dengan ibunya bisa membantu mengembalikan ingatannnya pulih.


Lee Joon pun memantapkan hatinya untuk pergi ke Indonesia dan mencari ibunya yang tak tahu dimana tempat ayahnya menyembunyikan ibunya. Bahkan Lee Joon berharap kalau ibunya baik-baik saja dan tetap dalam keadaan sehat.


“Ayo pergi ke Indonesia!” ucap Lee Joon dengan wajah serius dan tersenyum kecil.


1 minggu kemudian ... Kamis, 01 Mei 2025.


“Aku sudah lama tidak kesini, terakhir kali aku kesini waktu tragedi itu,” ujar pak Lim.


“Pelankan suaramu, kita sedang berada di kampung halamannya Aqila Family, bagaimana jika ada seseorang mendengarkan percakapan kita ini, jika itu mantan orang-orang generasi pertama yang mendengarkan kita tak perlu khawatir, namun bagaimana jika yang mendengarkan itu adalah anjingnya pemerintah, kalian tahu sendiri disini hukum seperti dua mata pisau,” ucap ibu Kang.


Tiba-tiba mereka didatangi oleh sebuah mobil sedan hitam dan beberapa orang keluar dan langsung mendekap mulut Lee Joon serta menutup kepalanya dengan kain dan memasukkannya ke dalam mobil. Ibu Kang dan pak Lim tak sempat menyelamatkan Lee Joon karena mereka dihadang oleh orang-orang dengan senjata api. Mereka pun pergi meinggalkan Ibu Kang dan Pak Lim bersama Lee Joon yang mereka ikat didalam mobil mereka.


Sementara ibu Kang dan pak Lim langsung menghubugi kenalan mereka yang ada disana untuk meminta bantuan mereka mencari tuan muda mereka, Lee Joon.


“Padahal kita baru saja sampai disini, tapi sudah ada masalah baru. Apa kau tahu siapa yang melakukan ini?” tanya pak Lim pada ibu Kang.


“Aku rasa aku tahu siapa yang ada dibalik ini, apa kau ingat sebelum kita masuk ke hutan 10 tahun yang lalu, bos pernah berbicara lewat telponnya dengan seorang wanita, dan bos bilang pada wanita yang ada ditelpon itu untuk menjaga dan membawa pergi ibu tuan muda,” ujar ibu Kang pada pak Lim.


“Apa maksudmu adalah si mawar hitam?” ucap pak Lim menanggapi perkataan ibu Kang


“Benar, mawar hitam ... itulah julukannya didunia bawah, karena dia elegan seperti mawar dan berbahaya karena duri dari mawar itu sendiri, bahkan dia adalah ahli racun terbaik yang pernah dimiliki oleh Aqila Family,” ujar ibu Kang.


“Apa menurutmu dia telah menghianati kita?” ucap pak Lim pada ibu Kang.


“Entahlah, tapi aku tahu kita harus kemana jika ini memang ulah si ratu racun itu,” pungkas ibu Kang menjawab pak Lim.


Pak Lim dan ibu Kang pun pergi ke sebuah mobil dan meengendarainya menuju posisi Lee Joon.


“Untung saja kita meletakkan alat pelacak pada tuan muda,” ucap pak Lim yang sedang menyetir.


“Seharusnya kau bilang kalau kau punya mobil, sekarang bagaimana dengan orang yang akan menjemput kita itu,” ucap ibu Kang pada pak Lim.


“Soal itu tidak begitu penting, lebih baik bergerak sendiri seperti ini untuk sekarang, aku rasa orang-orang kita disini sudah berada dalam kendali si mawar hitam sepenuhnya karena kosongnya tahta raja dalam Aqila Family,” jawab pak Lim dan mempercepat laju mobil mereka.


Merekapun pergi mengikuti mobil yang menculik Lee Joon dengan alat pelacak yang ada di tubuh Lee Joon sebagai penunjuk jalan.


10 menit kemudian ....


Lee Joon sampai disebuah villa megah dengan nuansa alam yang begitu alami. Lee Joon diturunkan dari mobil dan orang-orang yang menculiknya tadi melepas ikatan yang ada di tangan Lee Joon serta membuka penutupu kepala dan penutup mulutnya.


“Siapa kalian?! lepaskan aku!” bentak Lee Joon pada orang-orang itu.


Muncul dari balik pintu villa megah itu seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai dan seegelas anggur ditangannya menghampiri Lee Joon.


“Seperti yang aku duga, kamu memang pewaris tahta yang asli, terbukti karena kamu berhasil selamat dari tragedi itu,” ucap wanita cantik itu pada Lee Joon.


“Pewaris tahta? tragedi? sebenarnya siapa kamu?! kenapa kalian menculik ku? apa kalian musuh ayahku?” tanya Lee Joon dengan wajah kesal.


“Tenanglah tuan tampan, sebenarnya kita adalah keluarga yang sudah lama tidak berjumpa, apa kau lupa atau pura-pura lupa?” ucap wanita itu menjawab Lee Joon.


“Keluarga? apa maksudmu?” tanya Lee Joon.


“Kamu akan tahu setelah kita masuk ke dalam, aku sarankan agar kau menyiapkan tisu, hei kalian .... cepat bawa dia kedalam,” ucap wanita itu memerintahkan orang-orangnya membawa Lee Joon kedalam villa megah itu.


Mereka pun membawa Lee Joon dengan paksa kedalam villa megah itu, Lee Joon dibawa ke ruang bawah tanah yang berisi deretan rak botol anggur, dan  disudut ruangan itu terlihat sebuah tempat tidur rumah sakit, dan ada seorang wanita paruh baya yang terbaring di atasnya dengan bantuan tali oksigen dan infus ditangannya.


Lee Joon terkejut melihat wanita paruh baya yang terbaring lemah itu, ia perlahan menghampiri wanita paruh baya itu dengan perasaan sedih dan haru dalam hatinya. Saat Lee Joon berada tepat disebelah wanita paruh baya itu, ia tak sadar sejak kapan air matanya keluar membasahi pipinya, tangan Lee Joon bergerak sendiri mengelus wajah dari wanita paruh baya itu, dan seketika dalam tangisnya yang tak mengeluarkan suara itu tiba-tiba Lee Joon kesakitan di kepalanya, ia memegangi kepalanya dan memukul-mukul kepalanya sendiri tanpa henti. Melihat Lee Joon yang mulai hilang kendali itu, wanita cantik tadi memerintahkan orangnya untuk membawakan suntik, dan wanita itupun langsung menyuntik Lee Joon. Setelah disuntik, Lee Joon pun pingsan dan tak sadarkan diri.


Malam pun tiba ....


Ibu Kang dan pak Lim tiba di villa megah tempat Lee Joon diculik tadi, mereka langsung menerobos masuk dan ketika mereka baru saja melewati pintu pagar villa itu, ternyata mereka sudah ditunggu oleh ratusan orang dengan persenjataan lengkap dengan jas hitam sama seperti mereka.


Ibu Kang dan pak Lim pun ikut mengeluarkan pistol mereka dan waspada.


“Dimana tuan muda?! cepat beritahu kami!” tanya pak Lim sambil menodongkan senjata ke semua orang yang mengepung mereka.


“Tenanglah, kita belum melihat siapa orang dibalik ini,” ujar ibu Kang pada pak Lim yang saling membelakangi.


“Ternyata benar ... itu adalah kalian senior Lim, senior Kang,” ucap wanita cantik yang menculik Lee Joon menghampiri ibu Kang dan pak Lim.


“Ternyata benar dugaanku, ini semua ulahmu mawar hitam!” ucap ibu Kang pada wanita cantik itu.


Semua orang pun menurunkan senjatanya, dan setelah suasana yang tegang itu, si mawar hitam cantik ini membawa pak Lim dan ibu Kang ke ruang bawah tanah tempat Lee Joon dan wanita paruh baya itu dirawat.


Mereka pun tiba diruangan bawah tanah berisi ratusan botol anggur itu, dan membuat ibu Kang dan pak Lim terkejut melihat Lee Joon yang tak sadarkan diri tepat di sebelah wanita paruh baya itu dengan tempat tidur yang berbeda.


“Apa yang kau lakukan dengan tuan muda? jawab aku mawar hitam!” tanya ibu Kang tegas pada mawar hitam.


“Tenanglah, dan bisakah senior memanggilku dengan namaku saja, aku sudah bosan dengan sebutan itu,” jawab wanita cantik itu.


“Siapa wanita paruh baya yang ada disebelah tuan muda, Lisa?” tanya pak Lim pada wanita cantik bernama Lisa itu.


“Itu lebih baik dari pada memanggil mawar hitam yang konyol itu, aku lebih suka dipanggil dengan nama asliku. Sebenarnya aku juga tidak tahu ada apa dengan putra mahkota kita ini, dia tiba-tiba kesakitan dan memegangi kepalannya setelah ia menangis melihat wanita paruh baya ini,” ujar Lisa pada ibu Kang dan pak Lim.


“Jangan-jangan maksudmu! wanita ini adalah nyonya?” ucap pak Lim pada Lisa.


“Benar sekali,” jawab Lisa singkat.


“Aku rasa tuan muda kesakitan karena ingatannya yang tiba-tiba muncul saat melihat wajah nyonya,” sambung pak Lim.


“Sebaiknya kita biarkan tuan muda istirahat dulu, lebih baik kita bicara ditempat lain,” ujar ibu Kang.


Mereka pun pergi ke atas dan membiarkan Lee Joon dan ibunya beristirahat di ruangan bawah tanah.


Tak lama setelah itu, Lee Joon sadar dari pinggsannya, dan wajahnya seperti telah melewati masa-masa sulit yang begitu lama. Lee Joon beranjak dari tempat tidurnya dan kembali menghampiri wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibunya sendiri.


“Ibu ... ini aku, Lee Joon bu ...,” ucap Lee Joon sembari menahan tangis.


Ucap Lee Joon sayu sambil memegang tangan ibunya yang terbaring lemah itu.


“Bu ... sekarang aku  sudah ingat semuanya, aku berjanji akan membalas orang yang telah menghianati ayah, aku berjanji kita bisa seperti dulu lagi,” ucap Lee Joon pada ibunya yang masih dalam keadaan terbaring lemah tak sadarkan diri.


Sementara diruangan atas, tepatnya di ruang tengah villa itu, ibu Kang, pak Lim, dan Lisa tengah berbincang membahas dan  mengkaji apa yang telah terjadi dari awal hingga sekarang.


“Aku tak menyangka, kalau kamu sudah merawat nyonya yang hampir sekarat begitu selama ini, sebenarnya apa yang membuat nyonya berakhir seperti itu? bukankah nyonya seorang dokter disini?” tanya pak Lim pada Lisa.


“Sembilan tahun yang lalu, tepat setelah satu tahun berlalu sejak tragedi yang telah merenggut nyawa bos, nyonya dikejar oleh orang-orang itu karena tahu hubungan nyonya dan bos adalah sepasang suami istri, jadi mereka berniat ingin menghapus Aqila Family sampai ke akar-akarnya,” jelas Lisa menjawab pak Lim.


“Tapi bukankah saat itu nyonya masih jauh lebih sehat dan bugar sebelum beliau seperti sekarang,” saut ibu Kang.


“Itu ... terjadi tepat sebelum nyonya dikejar dan diburu oleh orang-orang itu yang menyamar sebagai perawat dan dokter dirumah sakit tempat nyonya bekerja, nyonya mengaku bahwa minumannya telah diracuni, dan nyonya sempat menyuntikkan obatnya sebelum beliau menelpon ku untuk menyelamatkannya di waktu itu,” jelas Lisa pada ibu Kang dan pak Lim.


“Apa sekarang mereka tahu kalau nyonya dan tuan muda masih hidup?” tanya pak Lim.


“Kalau itu, saat aku dan orang-orang ku berhasil menyelamatkan nyonya dan membawa beliau kesini, seminggu kemudian muncul berita tentang kematian nyonya dimana-mana, bahkan hampir semua saluran di tv menayangkan berita soal kematian nyonya dengan redaksi ‘seorang profesor rumah sakit ternama telah bunuh diri dengan meminum sianida’. Itulah yang terjadi pada kami selama kami disini, tapi karena mereka mengklaim bahwa nyonya sudah mati, itu membuat kami cukup aman sementara waktu hingga sekarang, dan untuk tuan muda kita, aku tak tahu apa-apa tentang itu,” jawab Lisa panjang lebar.


“Seandainya mereka masih mencari dan memburu orang-orang kita, pasti tuan muda sudah tamat, aku rasa tuan muda tidak terlalu mereka anggap melihat bos dan nyonya sudah mereka lenyapkan, mungkin itu yang membuat mereka tidak atau belum menyentuh tuan muda,” sambung ibu Kang.


Tiba-tiba pintu dari arah ruang bawah tanah terbuka, dan perlahan terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat menghampiri mereka bertiga.