
Seminggu kemudian, di kampus.
Park Yoona yang baru saja selesai mengajar sedang berjalan menuju ruangan rektor, ia tampak kesal dan seperti akan memakan orang yang ia temui disepanjang jalan. Sedangkan disisi lain, Lee Joon tampak sedang menonton berita tentang musim kampanye untuk pemilihan presiden Korea Selatan saat ini. Park Yoona yang pun sampai di depan ruangan Lee Joon, ia tak mau hal yang sama terjadi lagi jadi ia mengetuk pintu terlebih dahulu setelah kejadian kemarin yang sangat memalukan baginya.
“Tok! tok! tok!” suara ketukan pintu dari Yoona.
Lee Joon yang mendengar suara ketukan pintu itu pun mengambil remot tv dan mematikannya sebelum ia menjawab ketukan pintu itu.
“Iya silahkan masuk,” ucap Lee Joon dari dalam ruangannya.
Yoona pun membuka pintu karena sudah diizinkan masuk oleh Lee Joon, dan ia cukup terkejut setelah memasuki ruangan Lee Joon karena tidak melihat kehadiran pak Lim dan seorang wanita yang ia temui kemarin yaitu ibu Kang.
“Maaf apa kau punya waktu sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu,” ucap Yoona pada Lee Joon.
“Nenek sihir? aku kira siapa tadi. Duduklah ... aku akan menyiapkan teh dulu,” ucap Lee Joon menjawab Yoona dan mempersilahkan ia duduk.
Yoona pun duduk disofa dan melihat Lee Joon yang tengah menyeduhkan teh untuknya, sesaat ia kembali teringat tentang kejadian saat ia dan Lee Joon berciuman secara tak sengaja. Mukanya pun langsung memerah dan malu sendiri karena teringat dengan hal konyol itu.
“Apa yang kau pikirkan saat seperti ini Yoona!! Apa kau sudah gila!!” gumam Yoona dalam hatinya.
“Ini silahkan diminum,” ucap Lee Joon pada Yoona sembari menyuguhkan segelas teh hangat padanya.
Yoona terlihat ragu untuk meminumnya, dan ia malah menatap Lee Joon dengan curiga, hal itu membuat Lee Joon cukup gemas melihat wajah Yoona yang mencurigainya.
“Kenapa? apa kau pikir aku memasukkan racun kedalam minumanmu?” ucap Lee Joon pada Yoona.
“Siapa tahu iya, aku yakin kau akan melakukan hal seperti itu padaku,” jawab Yoona kesal.
“Minumlah, jika aku mau meracuni maka lebih baik aku membuatkan mu kopi dari pada teh, aku tahu kamu tidak bisa minum kopi karena sakit magh mu akan kambuh,” ucap Lee Joon pada Yoona.
Yoona yang mendengarkan ucapan Lee Joon itu pun terkejut dan merasa bersalah sekaligus tersentuh, karena Lee Joon tahu dan masih ingat kalau dia tidak bisa minum kopi karena sakit maghnya bisa kambuh.
“Aku bahkan hampir lupa kalau aku itu tidak bisa minum kopi, tapi rektor mesum ini kok bisa tahu kalau aku tidak bisa minum kopi ya? oh iya! dulu aku pernah bilang kalau aku tidak bisa minum kopi karena sakit maghku bisa kambuh. Ternyata ia ingat itu ... bukan itu cukup lama dan ia masih ingat dengan itu, tapi anehnya kok aku tersentuh ya? kau benar-benar sudah gila Yoona!” gumam Yoona dalam hatinya bicara sendiri.
Lee Joon yang melihat Yoona hanya diam tak menghiraukannya lalu melambaikan tangannya tepat didepan wajahnya, dan Yoona pun tersadar dari lamunannya itu.
“Hei, jika kau tidak mau minum aku akan membuangnya,” ucap Lee Joon pada Yoona sembari mengambil segelas teh yang ia suguhkan pada Yoona.
“Ah ... tidak-tidak, aku akan meminumnya,” ucap Yoona yang langsung mengambilnya dari tangan Lee Joon lalu meminum teh itu.
Lee Joon yang melihat itu pun tersenyum kecil saat Yoona meminum teh buatannya, ia pun duduk tepat didepan Yoona dan menunggu Yoona selesai meminum tehnya.
“Apa kau haus, aku bisa membuatkan tehnya dalam galon jika itu tak cukup,” ledek Lee Joon melihat Yoona yang meneguk teh dengan tergesa.
“Jadi hal apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Lee Joon pada Yoona sambil meminum tehnya.
“Ini ... ini tentang waktu itu, saat aku mau keluar dari ruangan mu hari itu, apa orang-orang itu-“
“Maksudmu tentang kita yang berciuman tempo hari lalu?” ucap Lee Joon memotong perkataan Yoona.
“Bagaimana kamu bisa mengatakannya dengan lancar tanpa ada rasa canggung sedikit pun, bahkan aku harus mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal seperti itu,” ucap Yoona.
“Lalu aku harus bagaimana? menghindarimu seperti anak Sma yang sedang menyimpan perasaannya, begitu?” jawab Lee Joon tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Ahhkh! kau ini memang berhati dingin seperti batu es, aku hanya takut pak Lim dan wanita itu salah faham tentang kita,” ucap Yoona yang kesal pada Lee Joon.
“Maksudmu pak Lim dan ibu Kang? tenang saja, aku sudah mengurusnya dan mereka bukan tipe-tipe orang yang suka membuat gosip yang tidak berguna, jadi kau jangan khawatirkan hal itu,” ucap Lee Joon menjawab Yoona.
“Apa kau yakin? tapi aku penasaran mengenai wanita itu, sebenarnya siapa wanita itu? apa dia dosen baru juga di kampus ini?” tanya Yoona pada Lee Joon.
“Maksudmu ibu Kang? dia adalah wakil rektor,” jawab Lee Joon singkat.
“Apa? wakil rektor? hancur sudah reputasi dan harga diriku ... bahkan kita berciuman didepannya saat itu,” ucap Yoona.
“Kenapa kau selalu mengatakan tentang ciuman itu, itu hanyalah sebuah kecelakaan bia-“
“Diam kau, kau tahu apa soal perempuan. Bagi perempuan ciuman adalah suatu hal yang harus dilakukan dan diberikan hanya pada orang yang dia sayangi dan cintai,” ucap Yoona memotong perkataan Lee Joon yang makin membuatnya kesal.
“Tapi itukan sebuah kecelakan yang tak bisa kita hindari,” ucap Lee Joon yang tak mau kalah.
“Walaupun itu adalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja sekalipun, tapi kamu terilhat tidak merasa bersalah sedikit pun, bahkan ciuman pertama ku yang kusiapkan untuk orang yang akan kucintai sudah dikotori oleh batu es seperti mu,” ucap Yoona kesal.
“Jadi sekarang kau menyalahkan ku,” ucap Lee Joon.
“Tentu saja itu salahmu, ternyata kau memang seorang rektor mesum yang tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali,” ucap Yoona semakin kesal.
Lee Joon yang melihat Yoona semakin kesal itu merasa sangat terhibur dan gemas dengan tingkah laku wanita cantik yang ada didepannya itu, Lee Joon pun berniat ingin menggodanya sedikit lagi dengan berpura-pura akan menciumnya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan bertanggung jawab. Sekarang pejamkan matamu, aku akan membiarkan mu untuk mencium ku seperti aku mencium mu,” ucap Lee Joon.
“Apaa!! apa kau sudah gila, bahkan jika aku tidak waras, aku tidak akan sudi untuk menci-“
“Cuupp!!”