
Ibu Kang, pak Lim, dan Lisa terkejut dengan seseorang yang muncul dihadapan mereka itu, yang tak lain adalah Lee Joon si tuan muda dan pewaris tahta tertinggi di Aqila Family.
“Tuan muda? apa tuan sudah baik-baik saja?” tanya ibu Kang pada Lee Joon yang cemas.
Lee Joon tak menjawab ibu Kang, ia langsung duduk dihadapan ketiga petinggi organisasi ayahnya tersebut. Lee Joon dengan raut wajah serius dan mata yang tajam dengan penuh keyakinan mengatakan tujuannya yang baru pada ketiga orang terdekat ayahnya itu.
“Maaf sudah membuat kalian cemas, tapi aku ingin mengatakan sesuatu hal yang mungkin ini akan menjadi jalan terkahir sekaligus pilihan yang telah aku putuskan,” ujar Lee Joon.
“Apa maksudmu tuan?” tanya ibu Kang yang bingung dan heran.
“Aku akan membalaskan dendam ayah setelah Aqila Family kembali lagi seperti sediakala,” ucap Lee Joon.
Mendengar apa yang ddikatakan oleh tuan muda mereka, pak Lim, ibu Kang, dan Lisa sempat terdiam dan tertegun mendengar itu, namun ketiganya tanpa pikir panjang memutuskan akan setia kepada Lee Joon apapun yang akan terjadi.
“Kalau begitu, kami siap membantumu tuan muda, apapun keputusan dan perintahmu itu adalah wahyu bagi kami,” ucap pak Lim menjawab pernyataan Lee Joon.
“Bagaimana dengan mu?” tanya Lee Joon pada Lisa.
“Semua sudah dijawab oleh pak Lim aku rasa, apa kau meragukanku tuan muda?” jawab Lisa.
“Tidak, aku hanya memastikannya karena aku baru saja diculik,” ujar Lee Joon.
“Apakah kamu masih marah tuan muda? maaf untuk itu, saya tidak punya cara lain selain menculik tuan muda, karena situasi internal kami yang belum bersih,” jawab Lisa.
Mendengar ucapan Lisa, pak Lim dan ibu Kang langsung bertannya pada Lisa apa maksud dari perkataannya tersebut.
“Apa maksudmu? internal yang belum bersih?” tanya pak Lim pada Lisa.
“Jelaskan!” perintah Lee Joon tegas.
“Baik, tuan muda,” jawab Lisa.
Saat hendak menjelaskan, tiba-tiba ada bunyi ketukan pintu, yang ternyata itu adalah anak buah Lisa yang masuk dengan sebuah map ditangannya, ia pun memberikan map itu kepada Lisa dan pergi.
“Logo ini!” ucap Lee Joon spontan.
“Ada apa tuan muda? apa tuan muda tahu sesuatu tentang hal ini?” tanya Lisa.
“Sepertinya kita menemukan petunjuk terhadap masalah internal yang barusan kamu bilang, pak Lim, apa map itu masih kau simpan?” ucap Lee Joon.
“Apa maksud tuan map yang tuan temukan dirumah tuan tempo hari?” jawab pak Lim.
“Iya benar, tolong bawa itu kesini, aku harus memastikan sesuatu,” ujar Lee Joon.
Pak Lim pun pergi mengambil map yang diserahkan Lee Joon tempo hari yang berisi dokumen dan arsip dana Aqila Family.
10 menit kemudian ....
Pak Lim datang dengan map itu dan memberikannya pada Lee Joon.
“Ini tuan,” ucap pak Lim sembari memberikan map yang ia bawa pada Lee Joon.
Lee Joon meletakkan kedua map itu diatas meja secara bersebelahan, dan betapa heran serta terkejutnya mereka melihat kedua logo di kedua map itu.
“Logo ini?-“
“Iya, kedua logo ini terlihat sama namun berbeda,” ucap Lee Joon memotong Lisa.
“Pada map yang akan diterima Lisa logo huruf A-nya huruf kapital, sedangkan logo pada map yang tuan muda temukan huruf A-nya huruf kecil,” ujar ibu Kang.
Semuanya terheran dan bingung, pak Lim dan ibu Kang berusaha mengingat semua hal dimasa lalu namun logo yang huruf A-nya kapital baru saja mereka lihat.
“Aku rasa aku baru pertama kali melihat logo ini, walaupun ini persis sama seperti logo keluarga kita Aqila Family, tapi hurufnya kapital,” ujar ibu Kang.
“Mungkin kamu baru pertama kali melihatnya, tapi aku merasa pernah melihat ini dimasa lalu,” saut pak Lim.
“Aku juga merasa pernah melihatnya,” saut Lisa menyambung pak Lim.
“Apa kalian tahu sesuatu?” tanya Lee Joon.
“Apa sebaiknya kita tanyakan pada anak buah mu yang mengantarnya?” ucap pak Lim pada Lisa.
“Aku juga berpikiran sama, baiklah kalian tunggu sebentar aku akan menyu-“
Tiba-tiba beberapa anak buah Lisa masuk tanpa mengetuk pintu, dengan raut wajah cemas dan nafas yang terhengah-hengah.
“Ada apa?! apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Lisa pada anak buahnya.
“Maaf, kami baru tahu bahwa ada penyusup diantara kami, jadi kami pikir kalian sedang dalam bahaya,” jawab salah satu anak buahnya.
“Penyusup? apa dia memakai anting ditelinga kanannya?” tanya Lee Joon pada anak buah Lisa.
“Benar, kami baru tahu identitasnya karena di gerbang depan terdapat sebuah kartu dengan logo huruf A dikartu tersebut,” jawab anak buah Lisa.
“Bagaimana pun cepat temukan penyusup itu!” perintah Lisa pada anak buahnya.
“Baik!” jawab semua anak buah Lisa dan pergi.
Sekarang hanya tinggal mereka bertiga lagi, pak Lim tampak mengingat sesuatu dan masih mencoba untuk mengingatnya secara pasti.
“Berarti penyusupnya adalah orang yang mengantarkan map ini barusan,” ucap Lee Joon.
“Benar sekali, aku minta maaf atas kelalaianku tuan muda,” jawab Lisa.
“Jika kita ingin tahu siapa dalang dibalik ini semua, bukankah kita harus membuka map itu,” ujar ibu Kang.
“Benar, sebaiknya kita membukanya dan mencari tahu apa yang ada didalamnya,” sambung pak Lim.
Lisa memberikan map itu pada Lee Joon, sementara pak Lim mengambil map yang berisi dokumen dan arsip dana yang ditemukan oleh Lee Joon tempo hari.
“Aku akan membukanya,” ucap Lee Joon sembari membuka map yang diberikan oleh penyusup tadi.
Perlahan tangan Lee Joon meraba masuk ke dalam map itu, setelah merasa telah memegang sebuah kertas, Lee Joon pun perlahan menariknya keluar dari map itu, dan setelah semua kertas itu keluar dari map itu, alangkah terkejutnya mereka bertiga, karena diantara dua kertas yang ada didalam map itu ternyata adalah surat wasiat dari kakek Lee Joon, yang mana kakeknyalah pemegang tahta tertinggi sekaligus alasan tercipta Aqila Family, yaitu Abdul Muthalib.
Semuanya masih terdiam dan tak percaya melihat isi map itu, pak Lim dan ibu Kang tak bisa berkata-kata, apalagi dengan Lisa, yang terpaku dan syok dengan isi map itu, yang mana itu adalah wasiat dari orang yang menciptakan Aqila Family, sekaligus pemegang tahta tertinggi raja dari segala raja dunia bawah, yaitu tuan besar orang nomor satu di masa kejayaan Aqila Family, yang tak lain adalah kakek kandung Lee Joon sendiri. Dan beginilah bunyi tulisan dalam wasiat itu.
“Aku tidak akan bertele-tele, jika surat yang kutulis ini telah dibaca oleh orang yang membacanya itu berarti aku sedang sekarat. Ini adalah pesan sekaligus permintaan terakhir ku sebagai kepala keluarga Aqila Family, bahwasannya aku Abdul Muthalib sebagai kepala keluarga Aqila Family yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, dengan surat wasiat yang aku tulis dengan tanganku sendiri, aku menyerahkan dan meminta cucuku satu-satunya untuk melanjutkan dan menjadi kepala keluarga yang baru setelah ayahnya. Bagaimana pun juga hanya dia yang bisa melanjutkan dan mengemban mahkota yang aku emban selama ini, aku sangat berharap dia bisa menerima wasiatku ini, dan setidaknya sebelum aku pergi untuk menebus segala dosaku, aku ingin melihat dan memeluk cucuku satu-satunya Lee Joon. M.”
“A ... aku sungguh tak percaya ini, jika wasiat ini benar adanya, berarti tuan besar masih hidup,” ujar pak Lim sembari menghapus keringat di wajahnya karena terkejut dengan wasiat yang diterima oleh Lee Joon.
“Aku juga tak habis pikir, tapi bagaimana kau tahu kalau tuan besar masih hidup seperti yang kau katakan?” saut Lisa dan menanggapi perkataan pak Lim.
“Pak Lim benar, mungkin saja tuan besar masih hidup karena didalam wasiat ini tak ada kalimat yang mengatakan soal kematian beliau, yang aku dengar tadi hanya kata sekarat,” sambung ibu Kang.
“Tuan muda? anda tidak apa-apa?” tanya pak Lim pada Lee Joon karena melihat Lee Joon yang masih terdiam sendiri.
Lee Joon tiba-tiba tertawa halus dan menjawab pertanyaan pak Lim, “Haha ... haha ... aku ... aku sudah tak terkejut lagi dengan hal-hal seperti ini, aku kira aku hanyalah seorang mahasiswa miskin yang hidup sendirian, aku tak menyangka aku punya keluarga aneh ini, haha ... ha ...,” pungkas Lee Joon.
Pak Lim, ibu Kim, dan Lisa hanya diam mendengar perkataan Lee Joon, mereka tahu akan perasaan tuan muda mereka yang masih syok dan tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.
Tiba-tiba ponsel pak Lim mendapatkan sebuah pesan misterius, yang berbunyi, “Datanglah ke hotel dekat pantai, dan tinggalkan villa tua itu, tuan besar ingin bertemu,” bunyi pesan yang ada di ponsel pak Lim.
Mendapat pesan itu, pak Lim langsung memprtlihatkan pesan itu pada Lee Joon, sementara ibu Kang dan Lisa hanya diam menatap Lee Joon dengan raut wajah khawatir.
“Apa pendapatmu tuan muda?” tanya pak Lim setelah memperlihatkan pesan misterius itu pada Lee Joon.
“Ini mungkin perangkap atau hal semacamnya, tolong pertimbangkanlah tuan muda,” ucap ibu Kang pada Lee Joon.
“Pak Lim, ibu Kang, dan Lisa. Kalian bilang akan setia dan ikut dengan ku bukan, jadi ... aku harus bertemu dengan kakekku dan memastikannya sendiri,” ucap Lee Joon serius.
Keesokan harinya ....
Tepatnya disebuah hotel megah dengan suasana yang unik, sederet manusia dengan pakaian yang memakai jas hitam berjejer rapi dari pintu masuk hotel hingga didalamnya. Mereka adalah orang dari generasi Aqila Family yang pertama.
Lee Joon dan ketiga orang kepercayaannya pun datang, terliihat pak Lim, ibu Kang, dan Lisa yang berjalan dibelakang bahu kekar Lee Joon dengan sangat elegan dan megah. Mereka disambut langsung oleh ratusan orang dihotel itu.
“Apa kalian kenal semua orang-orang ini?” bisik Lee Joon pada pak Lim.
“Aku ragu, tapi orang-orang yang pernah kami temui dulu tidak ada sama sekali, aku rasa ini adalah anggota inti dari generasi pertama,” jawab pak Lim.
Mereka diarahkan kesebuah ruangan dilantai paling atas, tempat dimana orang-orang kaya didunia berkumpul. Hingga sampailah mereka diruangan tersebut, dan betapa terkejutnya mereka melihat isi dari ruangan megah itu, ternyata banyak orang didalam ruangan itu yang merupakan mantan-mantan pejabat dimasa lalu, walaupun ada beberapa orang yang baru mereka kenal.
Tak lama kemudian, Lee Joon dihampiri oleh seorang wanita yang bisa dibilang model sekaligus ratu dari kecantikan asia, Miss Viola. Miss Viola adalah mantan juara umum dari ajang wanita tercantik dan pengusaha tersubur pada tahun sebelumnya.
“Halo, perkenalkan saya adalah orang yang bertanggung jawab dalam acara hari ini, tuan bisa memanggil saya dengan Miss Viola,” sambut hangat dari Miss Viola pada Lee Joon.
“Salam kenal Miss Viola, kami minta maaf karena sedikit terlambat, kami baru tahu kalau di Indonesia masih ada yang namanya kemacetan,” ucap Lee Joon pada Miss Viola.
“Ah ... tidak apa-apa tuan, kami juga faham situasi di negara ini, silahkan tuan ikuti saya, saya akan menunjukkan meja tuan,” pungkas Miss Viola sembari menunjukkan jalan ke meja Lee Joon.
Mereka pun mengikuti Miss Viola menuju meja mereka yang sudah disiapkan. Dan setelah mereka duduk di meja mereka, Lee Joon dan ketiga orang kepercayaannya itu masih melihat-lihat semua orang yang menghadiri pertemuan itu, mereka tidak menyangka bahwa akan ada banyak tokoh penting dimasa lalu yang hadir dan berkontribusi pada pertemuan ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara microfon yang mengatakan kalau tuan besar sudah hadir disana. Lee Joon dan ketiga orang kepercayaannya itu mulai berdiri mengikuti semua orang yang ada didalam ruangan megah itu yang juga berdiri ketika mendengarkan microfon yang mengatakan tuan besar sudah hadir.
Lee Joon sangat penasaran dengan si tuan besar yang disebut-sebut ini, apakah itu adalah kakeknya atau orang lain yang menjadi perwakilan kakeknya. Perlahan dari kejauhan mulai terlihat seorang pria tua yang duduk diatas kursi roda berhenti tepat di depan semua orang, pria tua itupun hanya mengangkat tangannya dan semua orang pun duduk kembali.
Lee Joon sangat penasaran terhadap pria tua itu, dengan yakin dihatinya mengatakan bahwa pria tua yang ada di depan itu pasti adalah kakek kandungnya.
Microfon pun kembali berbunyi, dan orang yang memegang microfon itu tak lain dan tak bukan adalah pak Kim, mantan dosen Lee Joon semasa kuliahnya.
“Selamat siang semuanya, karena ini adalah acara formal dan sakral bagi kita, maka sebaiknya saya memperkenalkan diri saya walaupun sebagian tuan dan nyonya sudah mengenali saya. Perkenalkan ... saya Kim Do Han kepala staf sekaligus sektretaris umumnya tuan besar, salam kenal semuanya,” ucap pria yang menjadi mc yang tak lain adalah orang yang sangat Lee Joon kenal dan sekaligus orang yang sudah Lee Joon anggap sebagai ayahnya sendiri semasa masih dibangku perkuliahan.
Melihat dan mendengar dengan mata dan kepalanya sendiri, Lee Joon dan pak Lim sangat syok dan tertegun, karena mereka tak bisa mempercayai dengan apa yang mereka lihat dengan mata dan kepala mereka sendiri, bahwa orang yang sedang bicara didepan mereka adalah orang kedua dan terpenting di dalam organisasi mereka, Aqila Family.
“Pak Kim?!” ucap Lee Joon tak percaya.
“Ini benar-benar tidak masuk akal, siapa sangka dia adalah tangan kanan dari generasi pertama,” pungkas pak Lim.
“Aku ingat sekarang, dulu saat bos menikah dengan ibu tuan muda, dialah yang menjadi kepala keamanan saat acara pernikahan itu,” sambung ibu Kang sambil menoleh pada pak Lim.
“Aku tidak tahu apapun, jadi aku hanya akan diam,” saut Lisa dan meneguk minumannya.
“Benar, saat itu hanya aku dan ibu Kang yang mendampingi bos ayah tuan muda saat hari pernikahannya, dan pria itu sangat dihormati dan disegani seolah-olah dialah tuan besar,” ujar pak Lim.
Lee Joon masih terkejut dan menatap pak Kim dari kursinya, ia tak dapat berkata-kata, ia tak menduga bahwa orang yang selama ini baik dan selalu mengurusnya adalah orang nomor dua kepercayaan kakeknya.
“Baiklah, tak perlu berbasa-basi lagi, saya disini hanya menjadi mc untuk acara sakral ini. Selanjut saya persilahkan kepada tuan besar sekaligus kepala keluarga kita semua yang akan membuka dan menyampaikan tajuk utama kita pada hari ini, silahkan tuan,” ucap pak Kim dan memberikan microfon pada pria tua yang ada diatas kursi roda.
“Ehhmm ... selamat siang semuanya,” ucap pria tua itu.
“Siang tuan besar!!” jawab semua orang yang ada dalam ruangan megah itu dengan gemuruh.
Lee Joon yang sudah tak tahan hendak berdiri dan menghampiri pak Kim yang ada didepan, namun tangannya dengan sigap dipegang oleh pak Lim dan Menahannya.
“Tenanglah tuan muda, lebih baik kita tidak membuat masalah sekarang, aku sarankan untuk kita mendengarkan dulu apa yang akan beliau sampaikan, hingga semuanya jelas dan pasti,” ucap pak Lim pada Lee Joon.
Lee Joon yang mendengar perkataan pak Lim pun duduk dan menenangkan diri. Sedang pria tua berkursi roda itu melanjutkan perkataannya.
“Seperti biasa, aku tidak akan bertele-tele. Mungkin sebagian dari kalian sudah tahu maksud dari pertemuan kita hari ini, dan perlu aku katakan bahwa ... mungkin ini adalah pidato dan perintah sekaligus permintaan terakhir dariku. Perlu kalian tahu, tidak ada lagi yang dapat pria tua bau tanah seperti ku ini melakukan hal-hal yang pernah dan akan kita lakukan saat ini. Jadi pada hari ini, saat ini, detik ini, aku akan memperkenalkan pada kalian semua, penerusku sekaligus pemimpin kalian yang baru,” ujar pria tua itu dengan raut wajah serius dan tegas.
Mendengar tuan besar mereka mengatakan hal itu, sontak semua orang yang ada dalam ruangan megah itu pun riuh ribut tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Dan pria tua itu pun melanjutkan perkataannya.
“Aku yakin kalian pasti bingung dan tak percaya dengan apa yang barusan kalian dengar, tapi keputusan ku ini sudah bulat, aku berharap kalian juga sependapat dan sepemikiran denganku. Aku ini sudah tua dan tak lama lagi, jadi kita butuh penerus dan pemimpin baru yang pantas dan sanggup untuk menggantikan aku sebagai kepala keluarga kita ini, dan orang itu adalah pria muda yang duduk dimeja nomor 2 dengan jas biru tua itu, dia adalah cucuku satu-satunya,” ucap pria tua itu yang tak lain adalah kakek kandung Lee Joon.
Sontak semua orang yang ada di dalam ruangan megah itu pun menoleh dan mengalihkan pandangan mereka pada Lee Joon. Sedangkan Lee Joon mencoba menenangkan dirinya sendiri karena masih tak percaya dengan apa yang dia lihat dan didengarnya.
“Baiklah, kepada tuan muda kami persilahkan kedepan dan berdiri disebalah tuan besar,” ucap pak Kim dengan microfon.
Lee Joon menoleh pada ketiga orang kepercayaannya itu pak Lim, ibu Kang, dan Lisa. pak Lim mengangguk pada Lee Joon begitu juga denga ibu Kang dan Lisa sebelum Lee Joon pergi berdiri didepan.
“Sekali lagi kami mohon kepada tuan muda, kami silahkan untuk kedepan berdiri disebelah tuan besar,” panggil pak Kim untuk yang kedua kalinya.
Dengan perasaan yang tak karuan seperti hendak ujian skripsi yang kedua kalinya, Lee Joon pun berdiri dan berjalan dengan penuh keyakinan dan sorot mata yang tajam menuju ke panggung besar didepannya, setiap langkahnya terasa menginjak bara apa yang panas, saking panasnya tak terasa ia sudah sampai tepat disebelah pria tua yang duduk diatas kursi roda itu yang tak lain adalah kakek kandungnya sendiri.
“Hadirin keluarga ku sekalian, aku perkenalkan pada kalian semua, penerus sekaligus pemimpin baru kalian ... cucuku satu-satunya, Lee Joon Muthalib,” ucap kakeknya dengan bangga.
Lee Joon tak menghiraukan perkataan kakeknya, melainkan menatap tajam dengan raut wajah campur aduk pada pak Kim. Melihat Lee Joon yang menatapnya dengan penuh makna, pak Kim hanya berbisik pelan pada Lee Joon.
“Aku tahu kamu marah, tapi kita harus selesaikan acara sakral ini terlebih dahulu, akan aku jelaskan semuanya setelah ini selesai,” bisik pak Kim pada Lee Joon.
“Jujur ini kali pertama kami bertemu kembali semenjak dia umur 3 tahun, saat itu aku menyesal karena tidak bisa memberi perhatian lebih pada cucuku sendiri, karena alasan aku takut membuatnya dalam bahaya. Tapi sekarang, aku sangat bahagia sekali, melihat cucuku yang lucu dan murah senyum diusianya 3 tahun, sekarang sudah menjadi pria gagah dan dewasa seperti sekarang. Dan sekarang ... aku ingin mendengarnya langsung dari cucuku sendiri, apa kau bersedia menerima permintaan pria tua bau tanah ini?” tanya kakeknya dalam.