Aqila Family

Aqila Family
Chapter 31



2 minggu kemudian, di Korea selatan.


Tapatnya di kampus yang dipimpin oleh Lee Joon, semua mahasiswa bahkan dosen disana sedang heboh dengan pengumuman yang tertempel di semua sudut kampus. Pengumuman itu berisi tentang kepindahan Lee Joon beserta orang-orang kepercayaannya.


“Apa kau tidak kecewa dengan ini? rektor tampan dan dosen tercantik dipindahkan ke kampus swasta. Padahal mereka sangat cocok dan enak dipandang mata,” ucap salah satu mahasiswa.


“Benar ... tapi yang sangat aku sayangkan adalah kenapa ibu Park Yoona juga pindah, padahal dia adalah salah satu dosen favoritku,” saut teman mahasiswa itu.


Diruang dosen pun sedang membicarakan hal yang sama, banyak diantara dosen yang menyayangkan kepindahan mereka yang tiba-tiba itu.


“Aku harap kamu nyaman di kampus barumu ibu Park,” gumam teman semeja Yoona.


Di hotel tempat markas utama Aqila Family. Disebuah ruangan tempat pertemuan para petinggi dan para eksekutif yang berlangsung beberapa minggu yang lalu, terlihat semuanya sudah berkumpul dan duduk dikursi masing-masing seperti waktu pertemuan itu.


Ini adalah pertemuan kedua, dan kali ini para petinggi dan eksekutif sudah lengkap semua kecuali satu kursi yang menjadi tempat bagi sosok VVIP, tapi karena Yoona juga ikut dalam pertemuan itu maka dialah yang duduk dikursi VVIP itu sementara karena ia tak bisa duduk disebelah Lee Joon dengan kursi lain, sebab itu sudah menjadi budaya dalam Aqila Family. Pertemuan para petinggi dan eksekutif pun dimulai!.


“Terimakasih kepada kalian para petinggi sekaligus eksekutif yang sudah hadir disini, dan hari ini adalah pertemuan kedua kita setelah waktu itu. Pertama-tama mungkin kalian sudah tahu apa yang akan kita bahas dipertemuan kali ini, untuk itu ... aku ingin kita semua fokus dan memahami tiap poin-poin yang akan kita bahas nanti. Kalau begitu selanjutnya aku serahkan pada pak Kim untuk menjelaskannya secara detail dan menyeluruh,” ucap Lee Joon membuka pertemuan sakral itu.


Pak Kim pun berdiri setelah diberi izin oleh tuan mudanya untuk menjelaskan apa yang sudah ia siapkan bersama VVIP untuk beraksi di pertemuan yang sudah mereka rancang agar dapat menculik presiden Gong. Layar tancap pun dihidupkan dan pak Kim mulai menjelaskan.


“Terimakasih tuan muda. Baiklah ... tolong perhatikan disini, aku harap kalian sudah hafal dengan dokumen dan file yang aku berikan itu, karena rencananya ada dalam itu semua. Seperti yang sudah aku jelaskan saat pertemuan pertama kita, ini adalah rencana penculikan terbesar yang pernah ada, jadi pastikan kalian faham dan mengerti dengan peran kalian masing-masing. Disini aku hanya menjelaskan secara singkat karena kalian sudah menghafal rencananya, karena rencana ini awalnya ada tiga pos yang akan kita gunakan, tapi sekarang setelah aku dan VVIP revisi kembali ... kita punya satu pos lagi, yaitu pos keempat. Karena pos empat ini tidak ada didalam dokumen dan file yang aku berikan, maka anggap saja pos keempat ini adalah rencana cadangan seandainya kita tertangkap atau dikepung oleh militer dari beberapa negara yang akan terlibat. Sebelum aku lanjutkan apa ada yang ingin bertanya?” ujar pak Kim panjang lebar lalu bertanya.


Melihat tidak ada satu orang pun yang ingin bertanya, pak Kim pun berniat melanjutkan penjelasannya, namun saat mulut pak Kim mulai terangkat tiba-tiba ada satu orang yang mengangkat tangannya untuk bertanya.


“Maaf pak, aku ingin bertanya,”


“Yoona?” ucap pak Kim tak menduga bahwa yang bertanya itu adalah Yoona.


“Apa aku boleh bertanya?” ucap Yoona.


“Ah ... tentu saja, silahkan apa yang ingin kau tanyakan,” ucap pak Kim pada Yoona.


“Aku hanya ingin tahu, bagaimana cara kita membedakan orang kita dengan orang yang bukan orang kita?” tanya Yoona pada pak Kim.


“Kau membuat aku takut saja, apa hanya itu pertanyaanmu?” saut pak Kim.


“Iya, hanya itu,” jawab Yoona.


“Karena banyak orang kita yang akan menyamar disana, mungkin karena ibu Yoona ini baru bergabung dengan kita maka aku rasa tak apa-apa mengulangnya. Kita bisa membedakan kawan dan lawan hanya dengan kancing baju yang ada dikerah kemeja putih kita, dikancing itu ada lambang Aqila Family, jadi pastikan kalian mengenali antara kawan dan lawan,” ujar pak Kim menjawab pertanyaan Yoona.


Terlihat dalam pertemuan itu hanya VVIP yang tidak hadir, dan selain VVIP semua petinggi dan eksekutif hadir termasuk Miss Viola yang tak sempat hadir saat pertemuan pertama.


2 jam kemudian, pak Kim pun mengakhiri penjelasannya dengan baik, semua orang sudah siap untuk beraksi saat hari yang telah ditetapkan yang tak lama lagi, dan ini akan menjadi sejarah dalam buku dunia.


“Baiklah ... mungkin itu saja penjelasan dariku, dan aku harap kita semua sudah siap dengan hari yang sudah kita tunggu-tungu ini, kita harus pastikan bahwa dendam yang yang pendam selama ini ... akan terbayar dua hari lagi!” ujar pak Kim mengakhiri penjelasannya lalu duduk kembali dikursinya.


Lee Joon pun berdiri dengan raut wajah penuh ambisi, ia kemudian tersenyum kecil lalu berkata.


“Mari kita mulai!” ucap Lee Joon sambil tersenyum.


Dua hari pun berlalu.


Saat ini, di Singapura.


Nampak satu persatu mobil yang dikawal oleh deretan barisan polisi menuju sebuah gedung yang besar dan mewah. Dari tiap mobil itu keluarlah para pemimpin negara yang diundang dalam pertemuan itu, bahkan tidak hanya pemimpin-pemimpin dari negara yang ada di Asia saja, negara-negara diluar Asia seperti Italia, Spanyol, bahkan Inggris pun turut hadir dalam acara pertemuan itu.


Setelah semuanya sampai dalam gedung itu, kita melihat banyak sekali orang-orang penting yang duduk dan berbincang bersama, dan saat orang-orang tengah asik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara dari microfon yang membuyarkan suasana di ruang itu.


“Halo apa kabar semuanya, karena acara kita hari ini tidak formal maka saya rasa tidak perlu adanya sambutan dari saya, tapi saya hanya akan meperkenalkan diri saya. Nama saya Nadien Herdiana. M, saya sekarang sedang menjabat sebagai menteri kesehatan Indonesia, salam kenal semuanya,” ucap ibu Lee Joon yang menjadi mc di acara itu.


Semua orang itu pun memberi tepuk tangan yang meriah pada ibu Lee Joon, namun suasana yang meriah itu tiba-tiba hening ketika seseorang masuk ke ruangan itu.


“Maaf ... saya rasa kami terlambat,” ucap pria yang baru masuk itu.


Semua orang kembali melanjutkan kemeriahan yang tadinya sempat terhenti karena kedatangan salah seorang tamu itu. Namun orang yang terlambat itu bukanlah orang biasa, melainkan sosok yang telah ditunggu-tunggu oleh Lee Joon yaitu kakeknya sendiri, presiden Korea Selatan Gong Jihoon. Dan ibu Lee Joon pun melanjutkan perannya sebagai mc di acara itu.


Beberapa saat kemudian saat dipertengahan acara, orang-orang dari Aqila Family yang menyamar sebagai petugas keamanan di gedung itu melihat presiden Gong meninggalkan ruangan tempat acara sedang berlangsung, orang-orang Aqila Family itu pun dengan cepat menyebarkan informasi lewat earphone mereka sampai akhirnya informasi terkahir yang tertera adalah presiden Gong sedang menuju sebuah toilet bersama dua orang pengawalnya dan dua orang lagi adalah pak Seo Dae Young (menteri pertahanan Korsel) dan pak Choi Young Do (perdana menteri Korsel).


Sedangkan disisi lain gedung, Lee Joon sedang memperhatikan pergerakan kakeknya itu melalui layar monitor cctv bersama Yoona, Lisa, Miss Viola, pak Lim dan ibu Kang.


“Aku tidak menyangka bahwa pak perdana menteri juga akan ikut bersamanya,” ucap Yoona sambil melihat monitor cctv.


Saat mereka semua memonitor presiden Gong yang hendak mau masuk ke salah satu ruang toilet, terlihat di dalam monitor itu presiden Gong masuk sendiri ke ruang toilet itu dan menyuruh para pengawalnya serta pak Seo dan pak Choi untuk menunggunya diluar saja. Melihat itu, Lee Joon kemudian memerintahkan orangnya yang menyamar sebagai tukang pel untuk ikut masuk kedalam ruangan toilet itu.


“Lakukan sekarang!” perintah Lee Joon.


Di toilet, tempat dimana presiden Gong berada.


Orang suruhan Lee Joon yang menyamar sebagai tukang pel pun sampai didepan ruang toilet itu dan hendak masuk kedalam, namun ia ditahan oleh dua pengawal presiden Gong.


“Apa yang kau lakukan?” tanya salah satu pengawal pada orang suruhan Lee Joon.


“Aku akan membersihkan toilet, apa aku melakukan kesalahan?” jawab orang suruhan Lee Joon itu.


“Kalau begitu boleh kami memeriksamu dulu, apa yang ada didalam gerobakmu itu,” sambung pengawal yang satunya lagi.


“Baiklah ... silahkan periksa,” ucap orang suruhan Lee Joon itu.


Kedua pengawal itu pun memeriksa dengan sangat detail dan menyeluruh sampai mengeluarkan isi gerobak yang hanya berisi dua botol sabun pembersih lantai dan kain pel.


“Bagaimana? apa aku boleh masuk sekarang?” tanya orang suruhan Lee Joon itu pada kedua pengawal itu.


Dua pengawal itu menoleh ke arah pak perdana menteri dan menteri pertahan Korea, mereka menganggukkan kepala pertanda izin sudah diberikan, orang suruhan Lee Joon itu pun dibolehkan masuk kedalam toilet.


Setibanya ia didalam toilet itu, ia pun berpura-pura membersihkan kaca yang ada didalam sana sambil menunggu presiden Gong keluar dari toilet. Tak lama kemudian, presiden Gong pun keluar dari pintu toilet, dan hal itu tak disia-siakan oleh orang suruhan Lee Joon itu. Ia pun langsung mendekap mulut dan hidung presiden Gong dengan kain pel yang ada ditanganya, presiden Gong mencoba memberontak namun ia pingsan dan tak sadarkan diri karena dikain pel itu  sudah diberi cairan bius yang disamarkan menjadi dua botol cairan pembersih lantai tadi. Melihat presiden Gong yang sudah tidak sadarkan diri, orang suruhan Lee Joon itupun memasukkannya kedalam gerobak dorongnya itu, dan menutupinya dengan kain.


Orang suruhan Lee Joon itupun keluar dari toilet dengan santai melewati pengawal dan orang terdekat presiden Gong yang menunggu diluar toilet itu tanpa ada kecurigaan sedikit pun, dan ketika orang suruhan Lee Joon itu sampai di dalam lift, ia pun memberitahukan pada semua anggota bahwa ia sudah berhasil menculik presiden Gong dan sekarang ia sedang berada di lift menuju lantai satu.


Mendengar informasi yang baru saja mereka terima, sontak semua anggota Aqila Family pun mulai bergerak dan bersiap di pos masing-masing. Orang-orang yang ada di pos satu yaitu di acara pertemuan itu langsung menuju lantai satu dan bersiap di area parkiran di basemen.


Tak lama kemudian orang yang membawa presiden Gong dengan troli petugas kebersihan itu pun sampai di parkiran mobil, dan disana ternyata semua orang yang bertugas di pos satu sudah stand by di parkiran menunggu kedatangan presiden Gong yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Mereka pun memasukan presiden Gong kedalam mobil, lalu tancap gas menuju dermaga tempat dimana VVIP sudah menunggu dengan kapal perang dengan bendera Indonesia.


Didalam mobil yang membawa presiden Gong, pak Lim lah yang menjadi supir dan Lee Joon duduk sebelahnya, sedangkan dibangku belakang ada Yoona dan Ibu Kang yang duduk mengapit presiden Gong yang tak sadarkan diri. Diikuti oleh beberapa mobil dibelakang yang megawal mobil Lee Joon adalah Lisa, Miss Viola, dan beberapa mobil lagi yang dibawa oleh anggota Aqila Family.


Disisi lain, tepatnya di depan toilet.


Pak Choi mulai merasa curiga dan aneh karena presiden Gong yang belum juga keluar dari dalam toilet, ia pun menyuruh kedua pengawal itu untuk masuk kedalam melihat keadaan, dan kedua pengawal itu pun masuk, tak lama kemudian dua pengawal itu keluar dari toilet dengan wajah cemas dan takut.


“Pak ... pak presiden tidak ada didalam sana,” ucap salah satu pengawal pada pak Choi dan pak Seo.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pengawal itu, pak Choi dan pak Seo sangat terkejut dan cemas. Mereka berdua langsung panik dan menyuruh kedua pengawal itu untuk melapor pada petugas keamanan digedung itu. Pak Seo yang panik langsung menghubungi kepala militer Korea Selatan dan menyuruh mereka untuk bersiap dalam mode tempur, sedangkan pak perdana menteri Choi tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata pada pak Seo.


“Petugas kebersihan ... iya petugas kebersihan itu, pasti dia yang telah menculih pak presiden,” ucap pak Choi.


Tiba-tiba kedua pengawal tadi yang di suruh untuk melapor kepada petugas keamanan datang kembali dan memberitahukan hal yang tak terduga pada pak Choi dan pak Seo.


“Kami sudah mencari kemanapun, tapi tak ada satupun petugas keamanan yang kelihatan,” ucap salah satu pengawal.


“Apa?!” ucap pak Choi dan pak Seo bersamaan.


“Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah acara pertemuannya sudah selesai setengah jam yang lalu,” sambung salah satu pengawal lainnya.


“Apa?! apa yang terjadi sebenarnya ini?” ucap pak Seo dengan penuh emosi.


“Aku akan mencoba menghubungi BIN, aku yakin pak presiden masih berada di Singapura,” ucap pak Choi sembari mengeluarkan handphonenya lalu menghubungin BIN.


Di Korea Selatan.


Tepatnya di kantor pusat BIN (Badan intelejen negara) Korea Selatan, handphone pak Kwon Tae Jung berdering, ia pun menerima panggilan itu.


“Ini aku, terjadi sesuatu yang gawat disini dan apa kau bisa menemukan dimana lokasi pak presiden sekarang?” tanya pak Choi.


“Apa yang sebenarnya terjadi disana? disini situasinya sangat kacau, tiga kapal perang angkatan laut dan dua pesawat jet tempur sudah berangkat menuju Singapura 30 menit yang lalu,” ucap pak Kwon pada pak Choi.


“Presiden telah di culik, aku tidak tahu siapa dalangnya tapi ini sangat gawat, kemungkinan besar penjahatnya juga ikut campur tangan dengan acara yang kami hadiri ini,” ucap pak Choi.


“Hei Kwon Tae, tolong hubungi beberapa negara tetangga yang dekat dengan Singapura untuk membantu agar mengepung semua jalur transfortasi baik keluar atau pun masuk ke Singapura,” ucap pak Seo merebut handphone yang ada ditangan pak Choi.


“Iya aku mengerti. Aku baru saja mendapat informasi bahwa pak presiden masih berada di Singapura, dan dia sepertinya  dibawa menuju pelabuhan dermaga,” ucap pak Kwon Tae Jung selaku kapala BIN Korea Selatan.