Aqila Family

Aqila Family
Chapter 2



Di chapter sebelumnya ....


Dan disaat semuanya tengah asyik mengobrol, Lee Joon siuman dan sadar kembali.


"Ah ... dimana ini?"


"Aah!! Lee Joon sudah sadar pak!”


"Jun Hyung! pelankan suara mu, nanti pasien diruangan sebelah jadi terganggu."


"Ah maaf pak Kim, habisnya Lee Joon si batu es jurusan kita sudah siuman."


Namun Lee Joon kembali melototi si Park Yoona, kali ini dengan raut wajah bingung dan berkata padanya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ah ...? apa maksudmu pas aku menab-"


"10 tahun yang lalu! apa kamu pernah bersamaku?"


Suasana hening seketika saat Lee Joon tiba-tiba memotong dan menanyakan Park Yoona tentang kejadian 10 tahun yang lalu.


Keesokan harinya ...  Rabu 15 April 2025.


"Brrmm ... brrmm ... brmmr ...," suara getaran dari handphone Lee Joon.


Lee Joon  keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih menggantung diatas kepalanya dan rambutnya yang masih lembab.


"Halo?" ucap Lee Joon.


"Ah Lee Joon? kenapa lama sekali mengangkat teleponnya, ini aku, cepat buka pintunya," jawab suara yang ada di handphone Lee Joon.


"Hah?! pak Kim? tunggu dulu, buka pintu? apa maksud bapak?" jawab Lee Joon yang bingung.


"Hah ... padahal aku sangat mengkhawatirkan mu, cepat buka pintunya atau aku dobrak sekarang juga!" jawab pak Kim.


"Memangnya sejak kapan bapak tahu alamat rumahku?" tanya Lee Joon pada pak Kim.


"Kalau begitu biaya perbaikannya kau tanggung sendiri ya, hiaa!!" jawab pak Kim.


Bukk!!


30 Menit kemudian ....


Di ruang tamu rumah Lee Joon, Lee Joon sedang mengobati luka memar dibahu pak Kim setelah dia mencoba mendobrak pintu rumah Lee Joon.


"Aku tidak percaya, ternyata bapak sungguh tahu alamat rumah ku dan mendobrak pintu rumahku, ya ... walaupun yang hancur bahunya pak Kim," ucap Lee Joon pada pak Kim.


"Diam kau, ini semua karena kau terlalu dingin, dan aku sebagai dosenmu tentu harus bertanggung jawab pada setiap mahasiswa dan itu termasuk kau juga," jawab pak Kim yang kesal.


"Yah ... aku sih tidak apa-apa dengan kehadiran bapak yang tiba-tiba ini, tapi kenapa bapak juga membawa mereka? (Jun Hyung dan Park Yoona)," ucap Lee Joon sambil menoleh ke arah Jun Hyung dan Yoona.


Ternyata pak Kim tidak datang sendirian, beliau juga mengajak teman satu kelasnya Lee Joon dan satu lagi mahasiswi baru yang masuk pada tahun ini, Park Yoona.


"Jangan begitu, sebagai tangan kanannya pak Kim-"


"Sejak kapan kau menjadi tangan kananku?!" potong pak Kim menjawab perkataan Jun Hyung.


"Mungkin sejak bapak mempercayakan acara ospek jurusan kita tahun ini padaku, heheh," jawab Jun Hyung dengan tertawa kecil.


"Apa kau mau aku gagalkan dimata kuliah ku? Jun Hyung?!" ucap pak Kim dengan wajah serius.


"Ah lupakan yang tadi pak, pak Kim mana ada tangan kanan, beliau tak memerlukannya kan pak, hehe," jawab Jun Hyung dengan bercanda.


"Jadi maksudmu aku ini buntung?! kalau begitu nilaimu dimata kuliahku akan menjadi E," ucap pak Kim pada Jun Hyung.


"Pak Kim! tapi aku tidak bermak-"


"Jun Hyung! jangan membuat aku sakit kepala, lebih baik kau diam atau aku akan membocorkan contekan UAS mu pada ku yang kemaren,” potong Lee Joon terhadap Jun Hyung yang berisik.


"Lee Joon!! ah kalian berdua ... dosen sama muridnya sama saja, yang satunya batu es dan yang satunya batu nisan," sentak Jun Hyung spontan karena mendengar rahasia contekanya diungkapkan oleh Lee Joon.


"Pulang sana!" ucap pak Kim dan Lee Joon pada Jun Hyung.


"Ah ... aku akan diam, maafkan aku, anggap saja aku ini arwah gentayangan," jawab Jun Hyung dengan nada sedih.


Melihat tingkah laku mereka bertiga, itu sedikit membuat Park Yoona terkekeh senyum menahan tawa, namun tawa kecilnya Park Yoona tak sengaja dilihat oleh Lee Joon.


"Kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?" tanya Lee Joon pada Yoona dengan dingin.


Tawa Park Yoona hilang seketika ketika Lee Joon bertanya dengan dingin dan raut wajah yang serius.


"Hei, cobalah tidak dingin pada semua orang, kau dulu tidak seperti ini," ucap pak Kim pada Lee Joon karena melihat Yoona yang terdiam.


"Bapak tahu apa tentangku," jawab Lee Joon datar.


"Anak ini memang susah diatur," ucap pak Kim.


"Apa pak Kim tahu tentang masa lalunya Lee Joon ya?" gumam Park Yoona dalam hatinya.


Pak Kim kemudian mulai membuka topik pembicaraan, dan sengaja menyuruh Jun Hyung untuk pergi membeli minuman agar ia tak mendengarkan percakapan yang akan pak Kim katakan pada Lee Joon.


"Hei ... Jun Hyung tolong belikan kami minuman, dan pakai uangmu dulu, aku lupa membawa dompet kesini, mungkin tertinggal di mobil," ucap pak Kim pada Jun Hyung.


"Sekarang seorang dosen meminta tolong untuk membelikan minuman pada mahasiswanya yang telah digagalkan hanya karena bergurau dengan mahasiswanya," jawab Jun Hyung dengan nada menyindir.


"Apa kau mau aku DO dari kampus, sudah cepat pergi dan bawakan kami minuman," ucap pak Kim dengan wajah seriusnya.


"Dan sekarang dosen itu sedang mengancam mahasiswanya karena tidak mau membeli minuman untuknya, sungguh malang nasibmu Jun Hyung kau hanyalah malaikat yang tersakiti didunia manusia," ucap Jun Hyung bicara sendiri.


"Anak ini sumpah! kalau begitu kau kuberi nilai A+ dan akan ku kurangi jam tugas kalian," ucap pak Kim dengan nada Kesal.


Jun Hyung yang mendengar perkataan pak Kim itu dengan spontan berdiri seperti Bruce Lee, dan langsung menuruti apa yang di perintahkan oleh pak Kim.


"Kalau begitu, bapak mau rasa apa? mangga? leci? sirsak? ah.. aku tahu minuman yang pas untuk bapak, kopi susu kan pak," jawab Jun Hyung yang langsung berdiri.


"Dasar anak ini! sudah cepat pergi sana, tenggorokan ku mulai kering," ucap pak Kim.


"Baiklah, kalau Lee Joon dan Yoona mau minum apa?" tanya Jun Hyung pada Yoona dan Lee Joon.


"Apa saja deh, yang penting selain kopi," jawab Yoona.


"Kenapa? kamu tidak suka kopi? Yoona?" tanya pak Kim pada Yoona.


"Ah bukan begitu pak, saya punya sakit magh yang sering kambuh setelah saya meminum kopi, jadi saya tidak bisa meminum kopi," jawab Yoona.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita beli minuman beralkohol sekaligus untuk merayakan-"


"Merayakan keluarnya mahasiswa yang bernama Jun Hyung karena dengan terang-terangan minum minuman beralkohol didepan dosennya sendiri!" potong pak Kim dengan wajah datar.


"Ah mungkin minuman beralkohol tidak baik ya, hehe kalau begitu aku akan mencari minuman buah saja untuk kita, aku pergi dulu kalau begitu," ucap Jun Hyung lalu pergi.


Klik!


Jun Hyung pun pergi membeli minuman setelah menutup pintu. Sedangkan dirumah Lee Joon nampaknya suasananya berubah menjadi lebih seirus.


"Akhirnya anak itu pergi juga, dasar tidak menghormati orang tua," gumam pak Kim.


"Apa yang mau bapak bicarakan? sepertinya bapak punya sesuatu yang tidak biasa untuk dikatakan, sampai-sampai bapak harus menyuruh Jun Hyung pergi membeli minuman agar tidak tahu tentang pembicaraan kita ini," tanya Lee Joon pada pak Kim.


"Soal itu.. bapak yakin ini ada hubungannya dengan ingatan mu yang hilang sejak 10 tahun yang lalu," jawab pak Kim.


"Ternyata benar? kamu menderita amnesia?" sentak Yoona yang masih tidak percaya kalau Lee Joon mengidap amnesia.


Saut Lee Joon menjawabab Park Yoona dengan dingin lagi. Dan kemudian pak Kim melanjutkan pembicaraannya.


"Bapak hanya mau menyampaikan tentang apa yang dikatakan oleh dokter yang merawat mu kemarin, dokter bilang ini gejala ingatan yang hilang mulai kembali lagi, dan itu memicu saraf otak menjadi tegang karena ini hampir sama dengan trauma katanya, apa betul itu Lee Joon? apa disaat kamu pingsan kamu mendapatkan ingatan mu walau setetes?" ujar pak Kim dan bertanya pada Lee Joon.


Pertanyaan pak Kim membuat Lee Joon termenung, dan kembali teringat dengan siluet yang ia lihat ketika ia pingsan. Disana Lee Joon melihat, di tengah hutan belantara, rerumputan serta ilalang sudah berubah warna menjadi merah pekat, dan pada saat itu hujan begitu lebat beserta petirnya yang menyambar, ribuan mayat bergeletakan di tengah genangan air hujan yang bercampur darah ribuan manusia pada saat itu.


Lee Joon yang tengah sekarat itu tiba-tiba melihat sosok yang mirip dengan Park Yoona, namun ia memakai pakaian serba hitam seperti stelan ala mafia, jas hitam, celana hitam, dan berdasi. Wanita yang mirip dengan Park Yoona itu mendekati Lee Joon yang tengah sekarat dan mulai kehilangan kesadarannya, hingga yang terlihat dan terdengar dari mata dan telinga Lee Joon hanyalah wanita yang begitu mirip dengan Park Yoona perlahan sedang mendekatinya dengan pandangan yang semakin buram dan pendengaran yang hanya mendengarkan suara rintik hujan dan petir yang silih berganti menyambar di tengah hutan belantara.


Tiba-tiba!!


"Lee Joon!! Hei ... Lee Joon!!" ucap pak Kim.


Suara pak Kim yang keras menyadarkan Lee Joon dari lamunannya, dan dengan melihat raut wajah Lee Joon yang gusar dan pucat pak Kim menjadi khawatir dengan Lee Joon.


"Huh? Dia ...," gumam Yoona melihat Lee Joon yang tiba-tiba pucat dan cemas.


"Kenapa? ada apa dengan mu? kau pucat setelah bapak menanyakan tentang ingatan mu yang hilang 10 tahun yang lalu, apa benar kamu telah mengingatnya? katakan pada bapak? siapa tahu kita akan tahu sebuah petunjuk!" tanya pak Kim pada Lee Joon.


Namun melihat Lee Joon yang begitu pucat dan sulit untuk mengeluarkan kata-kata, Park Yoona sepertinya merasa kasihan pada Lee Joon.


"Melihat kondisinya,  dia masih membutuhkan perawatan dokter yang ahli dibidang ini pak, menurut saya lebih baik kita bawa Lee Joon kembali ke rumah sak-"


"Di hutan! di hutan itu aku melihatnya!, kejadian 10 tahun yang lalu, Tragedi Laut Merah Asia tenggara!" sentak Lee Joon memotong perkataan Yoona.


Perkataan Park Yoona dipotong oleh Lee Joon yang langsung menceritakan apa yang ia lihat ketika ia pingsan kemarin.


"Apa maksud mu dengan Tragedi Laut Merah Asia Tenggara? ahh..!! aku ingat Lee Joon, sekarang aku ingat!. Itu adalah sebuah Tragedi yang sangat menakutkan, bahkan itu skalanya dunia pada saat itu, banyak tentara dari manca negara bahkan pasukan PBB sampai di kerahkan masuk ke tengah hutan belantara itu! hutan! jangan bilang kau juga bagian dari-"


Kilk!!


"Aku pulang ... ini minumannya, aku yakin pasti kalian akan menyukainya ...?" ucap Jun Hyung yang baru kembali untuk membeli minuman.


Semua terdiam melihat Jun Hyung yang baru saja kembali dari minimarket untuk membeli minuman. Karena sandal yang dipakai oleh Jun Hyung adalah sandal wanita berwarna pink terang.


Karena rumah Lee Joon tidak begitu besar jadi tempat meletakkan sandal dari pintu kelihatan langsung dari ruang tamu yang langsung terbuka di depan pintu masuk rumahnya.


Melihat semua orang melototinya, Jun Hyung merasa tidak enak dan tak sengaja melihat Lee Joon yang berwajah pucat dengan keringat yang banyak. Spontan Jun Hyung menghampiri Lee Joon karena cemas.


"Ah! Lee Joon! kau kenapa? apa yang terjadi? kau demam? tapi tubuh mu tidak panas sama sekali, malah lebih dingin dari sifatmu," ucap Jun Hyung yang masih sempat bercanda terhadap temannya  itu.


"Ah.. Lee Joon seper-"


"Aku baik-baik saja! kenapa kau lama sekali? padahal minimarketnya kan hanya beberapa blok dari rumahku," Lee Joon kembali memotong perkataan Yoona.


Park Yoona kembali terdiam karena Lee Joon kembali memotong perkataannya. melihat tingkah laku Lee Joon kepada Yoona, pak Kim mengajak Yoona untuk pergi keluar sebentar.


"Park Yoona," panggil pak Kim pada Yoona.


"Ah iya pak?" jawab Yoona.


"Bisa ikut aku? aku minta tolong sebentar?" ucap pak Kim.


"Katakan saja pak, apa itu?" jawab Yoona.


"Ayo ikut aku sebentar, sepertinya tangan kananku lupa membeli sesuatu, bagaimana bisa ia disebut tangan kanan, membeli minuman saja tidak becus," ucap Pak Kim dengan sengaja menyindir si Jun Hyung.


Jun Hyung melirik pada pak Kim dengan tatapan bingung dan kaget. pak Kim dan Park Yoona pun pergi keluar sementara Jun Hyung dan Lee Joon masih duduk di ruang tamu.


Klik!!


"Lee Joon, apa pak Kim baru saja melantik aku sebagai tangan Kanannya?" tanya Jun Hyung pada Lee Joon.


"Jun Hyung, kita ini adalah mahasiswa semester akhir, jadi bersikaplah seperti anak-anak mahasiswa semester akhir pada umumnya," jawab Lee Joon dengan wajah datar.


"Tapi Lee Joon, aku lebih merasa terbebani dengan status mahasiswa semester akhir, makanya aku bersikap seperti ini walaupun ini memang sifat ku yang lucu dan imut ini," jawab Jun Hyung.


"Habiskan minumanmu dan pulang sana," ucap Lee Joon pada Jun Hyung lalu pergi begitu saja.


"Apa? heh apa maksudmu? kenapa dari tadi menyuruhku pulang seperti tidak mengnginkan keberadaan ku disini, dan lagi kau mau kemana telanjang dada seperti itu, hei! Lee Joon!!" ucap Jun Hyung.


Lee Joon pergi memasuki kamar mandi dan membersihkan diri, ia masih memikirkan tentang apa yang ia lihat disaat ia pingsan kemarin, apakah itu benar ingatannya atau hanya ilusi semata karena terlalu lelah dan pingsan, Lee Joon hanyut dalam suara shower di kamar mandi, ia merasa kalau itu terasa sangat nyata, dan wanita yang sangat mirip dengan Park Yoona itu juga ada disana saat itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?! sebenarnya apa yang terjadi 10 tahun yang lalu?! apa aku ada hubungannya dengan Tragedi Laut Merah Asia Tenggara?!!" gumam Lee Joon dalam hatinya.


Suara air yang berjatuhan dari shower terasa sangat lambat di mata Lee Joon, padahal ia sedang mandi dengat air hangat namun tubuhnya malah tambah menggigil kedinginan.


"Sebenarnya siapa aku?!" gumam Lee Joon dalam hatinya dengan penuh rasa penasaran dan kebingungan.


Dijalan gang dekat rumah Lee Joon ...


Pak Kim dan Park Yoona sedang berjalan menikmati angin sepoi-sepoi, dan mereka sambil mengobrol tentang Lee Joon.


"Apakah dia memang begitu oranganya, pak Kim?" tanya Yoona pada pak Kim.


"Ah, maksudmu Lee Joon?" jawab pak Kim.


"Sebelumnya saya minta maaf pak, padahal saya masih menjadi mahasiswa baru di kampus ini, tapi saya seperti sudah punya teman lama saja dengan bapak, Jun Hyung dan Lee Joon," ujar Yoona pada Pak Kim.


"Namamu Yoona kan? kau ingat saat pertama kali Lee Joon sadar waktu kita masih dirumah sakit," ucap pak Kim.


"Iya aku ingat pak."


"Lee Joon langsung bertanya padamu dengan raut wajah yang entah apa maknanya, rasanya itu bercampur, seperti ada kesedihan, keraguan, kerinduan, dan kegelapan yang seolah dia baru saja melewati itu semua," ujar pak Kim menyampaikan keresahannya pada Yoona.


Melihat Park Yoona yang diam saja seperti memikirkan sesuatu, Pak Kim memberanikan niatnya untuk meminta tolong dan merahasiakan tentang apa yang akan ia katakan padanya.


"Yoona!" panggil pak Kim pada Yoona.


"Hmm ... iya pak?" jawab Yoona.


"Sebenarnya sejak kemarin aku ingin mengatakannya, tapi aku takut kau bukanlah orang yang tepat dan kau juga tidak ada hubungan apa-apa dengannya-"


"Apa yang bapak maksud itu adalah Lee Joon?" ucap Yoona memotong perkataan pak Kim.


"Ah ... hehe, Yoona! walaupun kau bukan orang yang tepat, walaupun kau tidak ada hubungannya dengan Lee Joon, bapak harap kamu bisa menjaganya seperti orang itu, haha ...," ucap pak Kim pada Yoona.


Pak Kim lega mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Yoona, walaupun itu tidak semuanya tapi pak Kim yakin ia telah mengambil keputusan yang tepat. Sementara Park Yoona yang mendengar perkataan pak Kim dan Melihat pak Kim tersenyum tulus, Yoona hanya bisa ikut tersenyum dan menjawab.


"Iya pak, walaupun bapak bilang aku bukan orang yang tepat, walaupun bapak bilang aku orang yang tidak ada hubungannya dengan Lee Joon, dan walaupun aku tidak mengerti apa yang bapak katakan. Aku yakin, semua itu pasti ada maksudnya dan itu semua demi Lee Joon, benarkan pak, haha," jawab Yoona dengan senyuman kecilnya yang manis.


"Terimakasih Yoona, haha," ucap pak Kim yang lega mendengar jawaban Yoona.


Dan hari itupun berlalu dengan singkat, pak Kim yang seperti tidak mengatakan semuanya kepada Yoona,     pak Kim seperti memilih untuk merahasiakan sesuatu itu lebih lama lagi.


Seminggu kemudian ... Selasa 21 April 2025.


Dirumah. Lee Joon tengah merenung dan memikirkan sesuatu yang sepertinya bisa dijadikan petunjuk dan itu tidak asing belum lama ini, Lee Joon terus bergumam sendiri di kamarnya.


"Sepertinya aku melihat sesuatu di baju gadis itu yang mirip dengannya (Park Yoona) saat aku pingsan, tapi apa ya? oh itukan!!" gumam Lee Joon.


Lee Joon yang teringat ada sebuah petunjuk pada baju gadis yang mirip dengan Park Yoona itu merasa pernah melihat lambang atau tulisan seperti yang ada di baju gadis itu, walaupun samar tapi itu sangat mirip bagi Lee Joon.


Lee Joon langsung membuka lemari bajunya dan mencari-cari sesuatu yang sepertinya sudah ia simpan sejak lama.


"Ah kenapa tidak ada ya, padahal aku rasa meletakkannya disini, dimana ya?" ucap Lee Joon bicara sendiri.


Setelah 10 menit mencari, akhirnya Lee Joon menemukan apa yang tengah ia cari itu, dan itu adalah map yang ia temukan tempo hari yang lalu saat si kucing hitam polos mengejar tikus dan masuk kerumahnya lalu tak sengaja menabrak lemari tua dan membuat map tua itu terjatuh dari atas lemari.


Dan benar saja, Lee Joon tahu disudut map itu adalah hal yang membuat ia merasa janggal dan menjadi beban pikiran setelah beberapa hari yang lalu ia pingsan dan secara tidak sengaja melihat ingatannya yang hilang 10 tahun yang lalu walau tidak semuanya. Lee Joon sangat penasaran dengan apa yang ada di sudut map tersebut, dan map itu bukan seperti map biasa pada umumnya, map itu lebih terlihat seperti map khusus dengan tulisan yang ada disudutnya dan kalau dibaca bunyinya akan seperti ini.


"Aqila Family!"