Aqila Family

Aqila Family
Chapter 5



Keesokan harinya ... di tenda panitia ospek.


Semua orang berkumpul dan menunggu Lee Joon siuman dari pinggsannya, termasuk pak Lim si supir bus.


“Belakangan ini, aku rasa dia sering sekali pingsan, apa ini tidak apa-apa pak Kim?” ujar Jun Hyung pada pak Kim.


“Entahlah ... aku punya firasat kalau dia bukanlah Lee Joon yang kita kenal seperti sekarang,” ujar pak Kim menjawab Jun Hyung.


Mendengar perkataan pak Kim, pak Lim langsung berkomentar.


“Mungkin itu hanya perasaan Pak Kim, yang saya tahu Lee Joon tetaplah Lee Joon yang saya kenal,” ucap pak Lim.


Sementara Yoona dan Jiso hanya diam menatap Lee Joon yang terbaring belum sadar.


30 menit kemudian ....


“Akhh! Dimana ini? Kepalaku rasanya sangat berat,” gumam Lee Joon.


Semua orang terkejut dan menghampiri Lee Joon.


“Kau sudah sadar, jangan memaksakan diri dulu, sebaiknya kau tetap berbaring seperti itu,” ucap pak Kim pada Lee Joon yang hendak bangun.


“Baiklah kalau begitu, karena dia sudah sadar, sebaiknya saya kembali ke parkiran bus, kalau begitu saya pergi dulu, jaga kesehatanmu Lee Joon,” ujar pak Lim dan berjalan keluar tenda.


“Tunggu! Urusan kita masih belum selesai, kamu belum memberita-“


“Tenang saja Lee Joon, kopiku masih banyak dan sebaiknya kau fokus memulihkan kesehatanmu dulu, setelah kau sudah agak baik, temuilah aku kapanpun kau mau, aku selalu ada di bus, kalau begitu aku permisi,” jawab pak Lim dan pergi dari tenda panitia.


“Hei sebenarnya ada urusan apa kamu dengan supir akh, maksudku pak Lim?” tanya pak Kim pada Lee Joon.


“Itu ... anu, itu karena ... aa?”


“Itu karena dia berkonsultasi pada Pak Lim tentang hal-hal mesum,” saut Yoona tiba-tiba.


Mendengar perkataan Yoona, semua orang yang ada ditenda terkejut, terutama si Jun Hyung.


“Apa!!, kurang ajar kau Lee Joon, ternyata kamu selama ini menyembunyikan dirimu yang asli ya,” ucap Jun Hyung dengan nada menaik.


“Hei ... apa maksud kalian, aku tidak pernah berbicara tentang itu, hei Yoona! Apa maksudmu berkata seperti itu,” pungkas Lee Joon dan menoleh ke arah Yoona.


“Aku tidak yakin, mungkin aku salah dengar, ah aku harus pergi ke tendaku, kalau begitu sampai jumpa,” ujar Yoona dan pergi begitu saja.


“Hei! Yoona! Mau kemana kau, hei jangan bicara omong kosong, hei! Jangan melarikan diri seperti itu!” ucap Lee Joon meneriaki Yoona yang pergi.


Setelah Yoona pergi dari tenda panitia, semua orang yang tinggal sontak menoleh ke arah Lee Joon bersamaan.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu? Ini bukan seperti yang dia katakan, aku bersumpah ini bukan seperti itu,” ucap Lee Joon pada Jiso, Jun Hyung, dan pak Kim.


“Kita lupakan masalah itu, sekarang istirahatlah, kami akan melanjutkan kegiatan ospek, kau diam saja disini,” ucap pak Kim pada Lee Joon.


“Iya, aku mengerti,” jawab Lee Joon.


“Hei ... seharusnya kau berkonsultasi padaku, karena aku punya banyak referensi di komputerku dari pada kau bertanya pada pak Lim itu,” bisik Jun Hyung pada Lee Joon dan pergi menyusul pak Kim.


“Jun Hyung!! Kembali kau! Dasar sialan! Ini gara-gara omong kosong yang dia katakan, tunggu saja kau Park Yoona, tunggu saja,” ucap Lee Joon dan bergumam sendiri.


“Apa kau mau menontonnya untuk referensi, aku punya beberepa video dewasa di laptopku,” tawar Jiso pada Lee Joon.


“Sudah kubilang ini tidak seperti itu!!” tegas Lee Joon menjawab Jiso.


“Hei ... santai saja, jangan berteriak seperti itu, akukan hanya menawarkan padamu, jika kau tidak mau ya sudah aku pergi dulu,” jawab Jiso dan pergi bergabung dengan yang lain di lapangan.


Setelah semua orang pergi, hanya Lee Joon yang ada didalam tenda panitia, dia mulai membaik dan teringat dengan apa yang dikatakan oleh pak Lim. Lee Joon masih belum mengetahui semua kebenaran yang diketahui oleh pak Lim, ia baru mengetahui alasan ayahnya menjadi mafia, dan sedikit sejarah kedua orang tuanya itu.


Lee Joon pun berpikir keras dengan apa yang dikatakan oleh pak Lim, ia harus memilih jalan hidup yang berbeda jika ia ingin mengetahui tentang kedua orang tuannya dan tentu saja untuk mengembalikan semua ingatannya yang hilang 10 tahun yang lalu.


Seminggu kemudian ... di kampus.


Lee Joon melamun dibangkunya dalam kelas yang ramai, dan  saat itu pak Kim masuk ke kelas untuk sebuah pengumuman.


“Ehemm! Aku tidak akan berlama-lama, jadi tolong dengarkan baik-baik. Kita baru saja sudah melaksanakan ospek tahunan jurusan kita, itu artinya kita sudah resmi menerima junior-junior kalian kemaren, yang ingin aku sampaikan adalah kalian sebentar lagi akan tamat, untuk itu tolong siapkan penelitian akhir kalian dan kalian bisa langsung ujian dan wisuda,” ucap pak Kim pada semua orang dikelas itu.


Taeyeon mengangkat tangannya dan bertanya.


“Pak, apakah jadwal ujian dan wisuda sudah diumumkan?” tanya Taeyeon pada pak Kim.


“Pertanyaan yang bagus, untuk sekarang belum ada pengumuman kapan ujian dan wisuda akan dilaksanakan, tapi jika ada informasi terbari dari kampus, pasti akan diumumkan secepatnya,” Jawab pak Kim.


Sementara Lee Joon masih saja melamun dengan tatapan kosong, dan itu membuat pak Kim menanyainya.


“Lee Joon, hei Lee Joon.”


“Hei ... Lee Joon, pssst! Lee Joon!” bisik Jun Hyung pada Lee Joon.


“Ah iya! Ada apa?” tanya Lee Joon yang tersadar dari lamunannya.


“Itu pak Kim memanggilmu dari tadi, ada dengamu, kau melamun dari tadi,” ujar Jun Hyung pada Lee Joon.


“Iya pak? bapak memanggil saya?” tanya Lee Joon pada pak Kim.


“Apa semua baik-baik saja? Aku memnanggilmu beberapa kali tapi kamu tak menanggapiku,” ucap pak Kim.


“Ah ... tidak pak, saya baik-baik saja sungguh,” jawab Lee Joon.


“Kalau begitu, saya akan pergi dan jangan lupa dengan apa yang saya bilang barusan,” ujar pak Kim.


“Baik pakk,” saut semua mahasiswa dikelas.


Pak Kim pun pergi meninggalkan kelas, sementara Lee Joon dan Jun Hyung masih duduk dibangku mereka.


“Hei Lee Joon, apa kamu senggang selepas ini? Ayo kita minum, aku tahu tempat yang enak,” ajak Jun Hyung pada Lee Joon.


“Minum? Apa kau ulang tahun?” tanya Lee Joon.


“Ah bukan, ini hanya pesta kecil karena kita akan segera lulus, kalau begitu aku akan menunggumu di depan gerbang kampus oke,” ujar Jun Hyung.


“Maaf aku tidak tertarik,” jawab Lee Joon.


“Pokoknya aku akan menunggumu di depan gerbang, pokoknya aku tunggu,” ucap Jun Hyung dan pergi begitu saja.


“Maaf Jun Hyung, aku tidak akan datang sebaiknya kau jangan menungguku,” gumam Lee Joon.


Lee Joon pun mengambil tasnya dan berjalan pergi meininggalkan kelasnya.


Disebuah cafe ... pukul 19.22 malam ....


“Apa kau sedang menyukai seseorang? Kalau iya kau bisa mengatakannya padaku, biarkan temanmu ini membantumu,” ucap Jun Hyung yang sudah mabuk.


“Aku kira kau kuat minum karena kau yang mengajakku, dan aku tidak menyukai siapapun,” jawab Lee Joon.


“tapi aku tidak menyangka kau akan datang menemuiku di depan gerbang kampus haha,” ucap Jun Hyung dan bertambah mabuk.


“Hei sudahlah, jangan minum lagi, kau sudah sampai batasmu, kalau kau minum lagi kau akan merepotkanku nanti,” ujar Lee Joon.


1 jam kemudian ... dijalan raya ....


Terlihat Lee Joon tengah menggendong Jun Hyung yang bicara sendiri dan berhenti beberapa kali untuk Jun Hyung muntah.


“Anak sialan ini sangat berat, dan bau mulutnya sangat tidak normal,” gumam Lee Joon bicara sendiri.


“Hei ... Lee Joon, kau tampan dan banyak wanita di kampus terpesona denganmu, tapi kau terlalu dingin untuk mereka yang mencari kehangatan, dan kau terlalu sederhana untuk mereka yang mencari kemegahan,” gumam Jun Hyung di punggung Lee Joon.


“Diam akau atau aku akan meninggalkan mu disini,” jawab Lee Joon mendengar perkataan Jun Hyung.


Mereka berdua dengan kondisi Jun Hyung yang mabuk dan digendong oleh Lee Joon tak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam mengikuti mereka sejak mereka minum di cafe, dan orang yang mengikuti mereka tak lain adalah pak Lim.


Akhirnya Lee Joon dan Jun Hyung pun sampai dirumah Lee Joon, Lee Joon membaringkan Jun Hyung disebelah pintu rumahnya dan hendak memasukkan kunci pintu rumahnya, tapi ia mendengar suara barang jatuh dekat tong sampah di depan pagarnya, ia pun bergegas memeriksa suara itu keluar pagar dan ternyata itu adalah orang yang mengikutinya sejak tadi yang tak lain adalah pak Lim.


“Pak Lim?! Apa yang bapak lakukan disini?” tanya Lee Joon dengan wajah bingung pada pak Lim.


“Akhirnya aku ketahuan gara-gara kucing ssialan itu,” gumam pak Lim.


“Kucing?” ucap Lee Joon.


“Meoong!”


“Kamukan! Blacky,” ujar Lee Joon.


“Apa ini kucing peliharaanmu?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Bisa dibilang begitu sih, tapi kenapa bapak ada disini, dan berpakaian seperti pencuri,” tanya Lee Joon pada pak Lim.


Pak Lim hanya diam dan melihat ke arah Lee Joon.


10 menit kemudian ... dirumah Lee Joon ....


“Kenapa bapak mengikuti kami?” tanya Lee Joon pada pak Lim.


“Maafkan aku, aku rasa aku lupa menyampaikan sesuatu hal yang penting padamu saat itu,” jawab pak Lim.


“Apa itu?” tanya Lee Joon.


“Tapi ini agak,” ujar pak Lim sambil menatap ke arah Jun Hyung yang tertidur di sofa.


“Baiklah, aku akan menaruhnya dikamarku dan kita bisa bicara diluar,” ucap Lee Joon pada pak Lim dan menggendong Jun Hyung ke kamarnya.


Setelah Lee Joon menggendong Jun Hyung ke kamarnya, ia dan pak Lim pun pergi keluar untuk mencari tempat ngopi dan melanjutkan obrolan mereka tempo hari.


“Tolong dua gelas kopi hitam,” ucap Lee Joon pada si pemilik warung.


“Baiklah, tunggu sebentar ya,” saut si pemilik warung.


Lee Joon dan pak Lim pun duduk di meja dan kursinya.


“Apa tidak apa-apa kita meninggalkan temanmu itu dirumahmu begitu saja?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Tidak apa-apa, dia kalau sudah mabuk berat tidak akan pernah bangun sampai sore bahkan tsunami datang melanda Korea ini,” jawab Lee Joon.


Si pemilik warung datang membawa pesanan Lee Joon dan pak Lim, dua gelas kopi hitam yang masih panas disuguhkan di atas meja mereka, dan pemilik warung itu meminta tolong pada mereka untuk menjaga warungnya itu sebentar karena ada panggilan mendesak dari telponnya.


“Ini pesanan kalian, dan aku minta maaf bisakah kalian menjaga warungku sebentar, barusan aku mendapatkan panggilan dari suamiku, katanya anak ku sedang sakit,” ujar si pemilik warung itu pada Lee Joon dan pak Lim.


“Iya, tenang saja kami akan menjaganya untukmu,” jawab pak Lim ramah.


“Terimakasih, kalau begitu aku pergi dulu,” ucap pemilik warung dan pergi meninggalkan warungnya yang dijaga oleh Lee Joon dan pak Lim.


Setelah wanita pemilik warung itu pergi, Lee Joon pun memulai percakapan mereka.


“Kebetulan sekali si pemilik warung ini pergi, jadi bapak bisa melanjutkan itu, aku juga memiliki banyak pertanyaan sejak apa yang bapak katakan saat kita dipuncak tempo hari lalu,” ucap Lee Joon pada pak Lim.


“Baiklah, kalau begitu aku akan biarkan kau bertanya sepuasmu padaku malam ini, aku akan berusaha menjawab semua yang ku tahu,” ujar pak Lim pada Lee Joon.


“Baiklah, pertama kau telah menjelaskan tentang sejarah dan kenapa orang tuaku memilih menjadi mafia. Tapi satuhal yang ingin aku ketahui dan ini adalah hal yang aku pikirkan sejak terakhir kali kita mengobrol,” ucap Lee Joon.


“Apa itu?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Ibu! Apa ibuku masih hidup? Apa yang terjadi padanya? Dimana dia sekarang?” tanya Lee Joon dengan mata yang berbinar-binar.


Pak Lim terdiam beberapa saat karena tak menduga apa yang ditanyakan oleh Lee Joon jauh dari perkiraan pak Lim.


“Ah ... ibu, aku mengira kau akan menanyakan tentang ayahmu, maaf tentang itu, tapi kalau itu tentang ibumu, aku tidak tahu,” jawab pak Lim dengan wajah bersalah.


Lee Joon langsung lesu dan hilang semangat setelah mendengar jawaban yang dikatakan oleh pak Lim padanya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan masalah yang ada didepannya ini.


“Tapi mungkin dia tahu sesuatu tentang ibumu,” sambung pak Lim dengan tatapan serius pada Lee Joon.


“Dia? dia siapa? siapa yang bapak maksud?” tanya Lee Joon pada pak Lim.


“Wanita yang ada di ingatanmu terkahir kali,” jawab pak Lim.


“Maksud bapak wanita yang menodongkan pistolnya padaku 10 tahun yang lalu?” ujar Lee Joon.


“Benar, dan ada satu hal yang ingin aku luruskan tentang ingatanmu itu. Wanita itu tidak menodongkan senjatanya padamu, melainkan ia menyelamatkanmu dari kematian,” ujar pak Lim pada Lee Joon.


“Apa maksud bapak? Aku tidak mengerti sama sekali,” ucap Lee Joon yang bingung.


“Sebenarnya saat kamu sekarat, ada seseorang yang akan menembakmu dari belakang, dan kamu tidak menyadari hal itu karena kamu sudah cukup sekarat, dan saat kau bilang wanita yang menodongkan senjatanya padamu itu sebenarnya ia menodongkan senjatanya pada orang yang ada di belakangmu, jadi dia bukan mengarahkan padamu melainkan orang yang ada dibelakangmu, dan kau pingsan tepat setelah mereka saling tembak, dan akhirnya orang yang ingin mencelakaimu itu tewas tepat disebelah mu, sedangkan wanita yang menyelamatkanmu itu masih hidup karena ia tertembak tidak dibagian vital, namun ia sekarat dan pingsan,” terang pak Lim pada Lee Joon.


“Lalu apa yang terjadi pada wanita itu? berarti aku telah berhutang budi padanyakan, aku ingin bertemu dengannya, aku akan membalasnya karena telah menyelamatkan aku,” ucap Lee Joon dengan penuh keyakinan.


“Tunggu! Apa yang kau pikirkan sampai kau mau membalas kebaikannya, apa yang kau punya sekarang? Maaf aku mengatakan ini, tapi kau hanyalah mahasiswa semester akhir yang mengontrak rumah yang hampir rubuh ini. Apa kau yakin bisa membalas budi dengan keadaanmu yang sekarang ini?” ujar pak Lim pada Lee Joon.


Mendengar itu Lee Joon terdiam dan termenung beberapa saat.


“Aku tidak akan lembut lagi padamu kali ini, aku sudah berikan pilihan padamu, dan sekarang sudah waktunya aku menanyakan hal itu sebalum aku membuka lebih banyak lagi, jadi pilihlah! Kau ingin mengembalikan ingatanmu itu dan mencari kebenaran tentang kedua orang tuamu, atau kau bisa tetap seperti sekarang menjadi mahasiswa miskin yang akan wisuda. Jadi yang mana kau pilih?” tanya pak Lim dengan tatapan tajam pada Lee Joon.


Lee Joon berpikir keras atas pilihan yang diberikan oleh pak Lim, ia tak mau membuat pilihat yang salah, ia tak mau hidup seperti ini seumur hidup, dan ia tak mau menjadi orang yang mengenal dirinya sendiri karena amnesia yang telah membuatnya seperti sekarang, jadi dia pun memutuskan!.


“Baiklah! Sudah kuputuskan,” ucap Lee Joon pada pak Lim.


“Apa itu, aku mau mendengarkannya langsung dari mulutmu, jalan mana yang kau pilih,” ucap pak Lim dengan wajah tegang dan penasaran.


“Aku akan tetap seperti sekarang, menjadi mahasiswa miskin yang akan wisuda,” ujar Lee Joon dengan yakin.


“Sepertinya aku terlalu berharap padamu, kalau itu pilihan mu sepertinya aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi,” ucap pak Lim setelah mendengar jawaban Lee Joon.


Saat pak Lim ingin mengucapkan selamat tinggal dan akan pergi, Lee Joon mengatakan sesuatu yang membuat pak Lim duduk kembali dan mendengarkan apa yang yang dikatakan oleh Lee Joon.


“Itu untuk sekarang, tapi setelah aku lulus dari kampus ini, aku akan lakukan tanpa kamu memintaku untuk melakukannya, yaitu mencari ingatan ku yang hilang dan juga mencari kebenaran tentang kedua orang tuaku,” ujar Lee Joon dengan serius.


Pak Lim menatap Lee Joon beberapa saat dan menyodorkan gelas kopinya untuk bersulang.


“Baiklah, kalau begitu ayo lakukan, aku akan membantumu sampai akhir,” ucap pak Lim pada Lee Joon.


“Kenapa? Kenapa kamu begitu ingin membantuku? Seakan-akan kamu ingin aku mengambil pilihan yang pertama yau kau katakan,” tanya Lee Joon.


“Jadi kau masih mencurigaiku ya, baiklah ... aku akan memperkenalkan diriku secara resmi, perkenalkan! Aku adalah salah satu orang kepercayaan ayahmu, aku adalah tangan kanannya Lim Geon Ho,” ujar pak Lim pada Lee Joon.


Lee Joon tersenyum kecil setelah melihat dan mendengar perkenalan dari pak Lim, yang mana beliau ternyata adalah tangan kanan ayahnya Lee Joon.


“Jadi selama ini kau mengawasiku?” tanya Lee Joon.


“Benar, itulah permintaan terkahir dari bos, ah ... maksudku ayahmu,” ujar pak Lim menjawab Lee Joon.


“Baiklah, jujur aku masih mencoba untuk menerima dan memahami semua kenyataan ini, jadi tolong jangan ganggu aku untuk sementara waktu, aku butuh waktu untuk mencerna ini semua, terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang bersamaan, jadi aku harap kamu mengerti, pak Lim,” ujar Lee Joon pada pak Lim.


“Aku mengerti,” jawab pak Lim singkat.


Ting!!


Mereka pun bersulang menandakan kesepakatan telah disetujui.


Dan tak lama mereka bersulang, pemilik warung tadi yang pergi datang kembali dan berterimakasih lagi pada Lee Joon dan pak Lim.


“Ah maaf aku terlalu lama ya,” ucap pemilik warung pada mereka.


“Ah, tidak apa-apa kok, kami juga menikmati kopi kami dengan nikmat, dan pas sekali kami juga akan pergi karena kopi kami sudah habis,” ucap pak Lim sembari menarik dompet dari saku jaketnya dan akan membayar kopinya.


“Ah tidak usah bayar, anggap saja itu sebagai tanda terimakasihku karena sudah menjaga warungku,” ujar si pemilik warung tersebut.


“Kalau begitu terimakasih, kami pergi,” ucap pak Lim dan Lee Joon lalu pergi ke arah rumah Lee Joon.


Dalam perjalanan pulang, pak Lim pamit pada Lee Joon dan pergi begitu saja. Sementara Lee Joon baru ingat kalau si Jun Hyung masih tertidur dirumahnya.


Keesokan harinya ... dirumah Lee Joon ....


“Buuggg!!” suara bantal yang tepat mengenai wajah Jun Hyung.


“Ada apa! Apa aku sudah-“


“Hei cepatlah cuci mukamu, dan makan roti yang ada di atas meja itu,” ucap Lee Joon memotong igauan temannya itu.


“Apa? roti? Jangan-jangan selama ini kau hanya sarapan dengan roti? Hei Lee Joon,” ucap Jun Hyung pada Lee Joon sembari bangun dari kasur dan menghampiri Lee Joon.


“Jangan banyak tanya dan makan saja itu,” jawab Lee Joon.


“Kau mau kemana pagi-pagi begini? bukannya kita tidak ada kelas hari ini?” tanya Jun Hyung pada Lee Joon.


“Aku tidak sepertimu yang mendengkur dari pagi sampai pagi, aku mau olahraga di taman dekat sini, kau pulanglah dan bersihkan dirimu,” ucap Lee Joon pada Jun Hyung.


“Apa? kenapa setiap aku kerumah mu kau selalu menyuruhku pulang, aku tidak akan pulang, aku akan mandi disini dan ikut olahraga denganmu,” ucap Jun Hyung


“Apa kau pernah olahraga sebelumnya? yang kutahu kau hanyalah seorang pemalas dan mencari semua mahasiswi cantik dikampus,” jawab Lee Joon meledek Jun Hyung.


“Jangan remehkan aku, aku dulu juara satu lomba lari estafet saat masih SMP,” ucap Jun Hyung kesal.


30 menit kemudian ... di taman ....


“Tolong aku! tolong aku Lee Joon, aku tidak kuat lagi ... aahh ...,” gumam Jun Hyung yang sedang mengejar Lee Joon dengan jarak cukup jauh.


“Cih ... sudah kubilang agar kau pulang saja tadi, kejar aku kalau kau mau aku belikan air mineral,” ucap Lee Joon dan berlari meninggalkan Jun Hyung yang terhengah-hengah.


Dibawah pohon besar yang rindang ....


Lee Joon memberikan sebotol air mineral pada Jun Hyung yang terbaring dengan keringat seperti baru saja menyebur di kolam.


“Ini, minumlah,” ucap Lee Joon sambil memberikan sebotol air mineral pada Jun Hyung.


“Ah ... terimakasih ... kau bilang mau olahraga tapi ini kenapa seperti kita latihan wajib militer saja,” ujar Jun Hyung lalu meminum airnya.


“Drrtt! drrtt!” suara pesan masuk dari handphone Lee Joon.


Lee Joon pun mebukan pesan tersebut, dan bertanya pada Jun Hyung tentang penelitian dan wisuda mereka.


“Hei Jun Hyung, apa kau sudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pak Kim?” tanya Lee Joon pada Jun Hyung.


“Ah soal itu ... aku baru menulis sampai bab 3, bagaimana dengamu? pak Kim bilang tanpa penelitian itu kita tidak bisa wisuda,” jawab Jun Hyung.


“Aku baru saja mengirim hasil penelitianku pada pak Kim melalui emailku,” ucap Lee Joon yang membuat Jun Hyung terkejut dan merasa dikhianati.


“Apa! Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah selesai, dan kapan kau membuatnya? dasar tak setia kawan,” ucap Jun Hyung dengan kesal pada Lee Joon.


“Maaf soal itu, aku menyelesaikannya saat kita di puncak,” jawab Lee Joon.


“Apa? bagaimana bisa kau, ah ... sudahlah kalau tahu begini lebih baik aku pulang dan menyelesaikan laporan penelitianku,” ujar Jun Hyung pada Lee Joon.


“Oh ya, barusan aku dapat pesan dari pak Kim, katanya hasil penelitian kita itu dikumpulkan paling lambat minggu depan,” ujar Lee Joon pada Jun Hyung.


“Apaaa! Kenapa kau baru bilang sekarang dasar tak setia kawan, kalau begitu aku pulang duluan, terimakasih untuk air mineral dan penghianatan yang kamu berikan,” ucap Jun Hyung pada Lee Joon dan pergi untuk menyelesaikan hasil penelitiannya.


Sekarang hanya Lee Joon sendiri, ia duduk sambil tertawa melihat tingkah laku Jun Hyung. Lee Joon menikmati waktu senggangnya itu dengan bersantai dibawah pohon besar yang rindang sambil meneguk air mineralnya.