Aqila Family

Aqila Family
Chapter 19



Sedangkan di Indonesia, di rumah sakit Mitra Family.


Nampak ibunya Lee Joon sedang memeriksa keadaan kakek Lee Joon atau ayahnya sendiri, Abdul Muthalib. Ibu Lee Joon ditemani oleh Miss Viola didalam ruangan VVIP itu.


“Ayah ... maafkan aku, aku tahu ayah juga menyayangi Lee Jae Hoon suamiku, tapi kenapa ayah memberikan bebannya pada Lee Joon, aku takut ia tak akan sanggup untuk menanggungnya,” gumam ibunya Lee Joon dalam hatinya.


Saat sedang mengelap tubuh ayahnya yang sekarat tak sadarkan diri itu, tiba-tiba ayahnya itu kejang-kejang sesak nafas tak karuan, seketika ibunya Lee Joon pun terkejut dan mencoba untuk menenangkan ayahnya tersebut.


“Ayah? ada apa ini? ayah tolong tenanglah, ayah?! Viola tolong panggilkan beberapa dokter untuk datang kesini membantu,” ucap ibu Lee Joon sambil berusaha memeriksa dan menahan ayahnya yang kejang-kejang.


“Baik nyonya, saya akan segera kembali,” ucap Miss Viola lalu pergi mencari dokter lain untuk membantu.


Ibu Lee Joon yang sudah tak sanggup lagi menahan ayahnya yang kejang-kejang tadi lalu memeluk ayahnya dengan erat di tempat tidur itu, dan tak lama setelah ibunya Lee Joon memeluk ayahnya, ia pun perlahan tenang dan terbaring lemah kembali di atas tempat tidurnya. Tapi itu bukanlah sebuah ketenangan melainkan badai besar yang baru saja muncul dan siap mengguncang dunia.


Ibu Lee Joon yang melihat ayahnya sudah tenang dan kembali tertidur di tempat tidurnya itu untuk sesaat merasa lega, namun ketika ia melihat lebih jelas lagi ternyata ada yang aneh, ibunya Lee Joon pun memeriksa denyut nadi ayahnya, dan setelah memeriksa denyut nadi ayahnya, ia pun berdiri menatap ke arah ayahnya itu. Dan diwaktu yang bersamaan, Miss Viola datang dengan beberapa dokter spesialis dan masuk ke ruangan VVIP itu, ketika mereka masuk mereka melihat ibunya Lee Joon yang berdiri tepat disebelah ayahnya sedang menutupi ayahnya itu dengan kain putih, Miss Viola yang melihat itu pun bingung dan bertanya pada ibunya Lee Joon.


“Nyonya?? ada apa ini?” tanya Miss Viola pada ibunya Lee Joon dengan nada berat.


“Jum’at Februari, tanggal 1 pada jam pukul 11.33 Wib. Pasien bernama Abdul Muthalib dinyatakan ... dinyatakan meninggal dunia,” ucap Ibu Lee Joon sayu menahan tangis.


Satu hari setelah kematian kakek Lee Joon yang membuat gempar seluruh dunia, beritanya langsung menyebar seperti virus, dan saat ini Lee Joon dan semua orang anggota keluarga yang ada di Korea Selatan juga ada di Indonesia, mereka langsung datang setelah dihubungi oleh ibunya Lee Joon langsung, dan tak ketinggalan petinggi keluarga di Korea Selatan yaitu pak Lim dan ibu Kang juga datang.


Sekarang mereka akan memakamkannya, liang sudah di gali dan semua anggota keluarga juga sudah hadir di pemakaman sakral itu. Lee Joon, pak Kim, dan pak Lim turun masuk kedalam liang untuk menyambut jenazah kakeknya. Peti dibuka dan terlihat jenazah yang sudah berbalut kain putih bersih diangkat oleh orang-orang itu membawanya ke pada Lee Joon, pak Kim, dan pak Lim yang sudah masuk ke dalam liang, sekarang jenazah kakek Lee Joon sudah berada di tanganya, mereka perlahan memasukkan jenazah kakeknnya kedalam liang dan saat memsaukkan jenazah kakeknya itu, Lee Joon terlihat tanpa ekspresi sedikit pun ia hanya diam seharian selama pemakaman kakeknya itu.


Karena di Indonesia berbeda budaya dengan budaya Korea yang waktu membesuk seseorang ketika meninggal, maka keesokan harinya di kediaman kedua almarhum kakek Lee Joon di Jakarta, banyak tokoh-tokoh besar dan pejabat dari sertiap negara yang pernah berhubungan dengan keluarga kakek Lee Joon yaitu Aqila Family datang untuk membesuk dan menyampaikan rasa suka duka mereka atas kepergian kakek Lee Joon.


Didalam rumah itu, disebuah ruangan dan disana tertampang foto kakeknya Lee Joon dengan rangkaian bunga yang mengelilingi fotonya itu. Banyak dari anggota keluarga Aqila Family berbeda-beda keyakinan, jadi ketika mereka berdoa didepan foto almarhum kakeknya Lee Joon mereka berdoa sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.


Lee Joon dan Ibunya yang berdiri disebelah foto almarhum kakeknya itu cukup terkejut karena banyak dari orang-orang yang datang adalah orang-orang yang tak mereka sangka, seperti tokoh-tokoh besar dan para pejabat besar dari beberapa negara yang ada didunia.


“Aku tak menyangka, ternyata kakek punya koneksi sebesar dan seluas ini,” gumam Lee Joon dalam hatinya.


Berbeda dengan Lee Joon yang tak memperlihat kesedihannya atas kepergian kakeknya, ibunya Lee Joon sangat sedih bahkan matanya sampai seperti mata panda karena tak bisa tidur sejak kepergian ayahnya. Lee Joon sangat khawatir melihat keadaan ibunya yang seperti itu, ia takut ibunya akan berakhir seperti sebelumnya yang sekarat setelah kepergian ayahnya.


Ibu Lee Joon sedang membuka album foto dikamarnya, dan sesaat Lee Joon datang mengetuk pintu kamar ibunya.


“Ibu, ini aku ... apa boleh aku masuk,” ucap Lee Joon dari luar kamar pada ibunya.


Ibu Lee Joon yang mendengarkan panggil anaknya itu lalu membukaan pintu dan membiarkan anaknya masuk menemaninya. Lee Joon melihat ada sebuah album foto di atas tempar tidur ibunya dan melihat isi dari almbum foto itu.


“Itu adalah foto saat ibu dan ayahmu menikah, ibu sangat bahagia pada saat itu,” ucap ibu Lee Joon sambil menghampiri dan duduk disebelah Lee Joon.


“Ayah nampak gagah di foto ini,” ucap Lee Joon sambil melihat foto tersebut.


“Benar, ayahmu sangat gagah dan pemberani. Tapi ibu salah karena menyangka pada hari itu adalah hari yang bahagia juga bagi ayahmu, ternyata ia sangat sedih dan malu pada ibu dan almarhum kakekmu, ayahmu malu dan sedih karena ayahnya tidak mau hadir walaupun mereka sedang bermusuhan," ucap ibu Lee Joon menceritakan masa lalu.


“Apa saat itu ibu dan kakek sudah tahu tentang hal itu?” tanya Lee Joon pada ibunya.


“Sebenarnya almarhum kakekmu sudah tahu lebih dulu dari ibu, tapi karena ibu dan ayahmu akan menikah maka kakekmu merahasiakannya dari ibu, dan ibu tahu kalau kakek dari ayahmulah yang telah membuat ayahmu menderita karena ayahmu sendiri yang mengatakannya pada ibu setelah kami menikah seminggu kemudian,” jelas ibu Lee Joon sayu pada Lee Joon.


“Apa ibu tidak apa-apa?” tanya Lee Joon.


“Untuk sesaat mungkin itu terasa sesak dan sakit setelah mendengarkannya langsung dari ayahmu, tapi ayahmu sudah memberanikan dirinya untuk mengatakan itu pada ibu, kakekmu juga sudah siap jika ayahmu ingin meminta bantuan dari keluarga jika dia ingin membalas ayahnya itu, tapi ayahmu cuma bilang untuk tidak membahas hal itu lagi, ayahmu sudah menyerah terhadap ayahnya dan ayahmu hanya berharap kalau suatu hari nanti ayahnya akan sadar dan kembali ke jalan yang benar,” ucap ibu Lee Joon dengan air mata yang sudah berlinang pada Lee Joon.


“Ibu...,” ucap Lee Joon lalu memeluk ibunya dengan erat.


“Ibu hanya takut akan kehilangan dirimu juga nak, karena ibu hanya punya kamu sekarang,” ucap ibu Lee Joon dan dengan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya.


“Ibu ... ibu jangan khawatir tentang apapun, karena apapun yang terjadi aku akan tetap berada disisi ibu, aku akan melindungi ibu, aku juga akan mencintai ibu seperti ayah mencintai ibu, jadi ibu tak perlu menangis seperti ini lagi ... karena aku akan merasa bersalah karena telah membuat wanita yang aku sayangi sudah meneteskan air matanya dengan sia-sia,” ucap Lee Joon menenangkan ibunya.


“Maafkan ibu Lee Joon ... karena ibu kau harus menanggung beban tanggung jawab yang begitu besar dari ayah dan almarhum kakekmu,” ucap ibunya pada Lee Joon.


“Tidak ibu ... ibu tidak salah apapun. Karena itu adalah pilihanku sendiri, aku merasa harus melanjutkan dan menanggung beban yang selama ini ayah rasakan, dan aku juga akan membalas kakek yang sudah membuat keluarga kita jadi seperti ini, ibu tak perlu berbuat apa-apa, ibu cukup jaga kesehatan ibu dan makan dengan teratur, jangan khawatirkan aku, karena aku punya banyak orang yang setia dan selalu mendukungku dalam situasi apapun,” ucap Lee Joon.


“Jika kamu bilang ingin membalas kakek mu itu, maka ibu juga tidak bisa melakukan apa yang kamu katakan pada ibu, ibu juga ingin membalas kakek mu itu karena telah membuat ayahmu sangat putus asa tolong biarkan ibu membantu mu,” ucap ibu Lee Joon sambil melepaskan pelukan dari anaknya perlahan.