
“Apa?!” ucap Yoona tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Bahkan pak Lim sempat mencuri pandang melirik dari spion depan kaca mobil karena mendengar perkataan dari tuan mudanya yang tak terduga itu.
Lee Joon seketika sadar dari khayalnya ketika mendengar ucapan Yoona, Lee Joon pun memalingkan wajah dan tatapannya dari Yoona dan berbalik membelakangi Yoona.
“Tidak, bukan apa-apa,” ucap Lee Joon tanpa menoleh ke arah Yoona.
Yoona yang terkejut hanya bisa diam dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal jiwanya hampir keluar dari raganya ketika Lee Joon mengatakannya cantik.
“Pak tolong berhenti didekat cafe didepan sana, tempat tinggal saya didekat sana,” ucap Yoona pada pak Lim.
Sedangkan Lee Joon yang masih malu dan salah tingkah karena tak sengaja kecoplosan tadi masih memandang keluar jendela membelakangi Yoona.
Mobil mereka pun berhenti tepat didepan cafe yang ditunjuk oleh Yoona tadi, Yoona pun turun dari mobil dan berterimakasih dengan menundukkan kepalanya, ia melihat Lee Joon yang diam saja tak berkata apa dan masih membuang wajah darinya itu.
“Terimakasih karena sudah mengantar saya,” ucap Yoona ke arah mobil.
“Saya hanya menuruti perintah tuan ... maksud saya pak rektor,” jawab pak Lim dan meninggalkan Yoona.
Sekarang tinggal ia sendirian, Yoona berjalan pulang menuju rumahnya sambil teringat dengan apa yang Lee Joon katakan saat mereka masih didalam mobil tadi.
“Aahkk!! ... ini sangat mengesalkan, apa maksudnya mengatakan itu padaku, anehnya aku senang mendengarnya walaupun aku tak tahu kalau itu sebuah hinaan atau dia sungguh-sungguh mengatakan itu. Aaahkk!! Sekarang aku seperti orang gila yang bicara sendiri, bahkan kami baru saja bertemu untuk pertama kalinya setelah dia lulus, dan kami berciuman di menara Seoul, gila! gila! gila! kau gila Park Yoona,” gumam Yoona bicara sendiri dalam perjalanan pulangnya.
Malam harinya, disebuah rumah megah dan halaman yang luas, nampak Lee Joon yang baru saja selesai mandi masuk ke kamarnya yang tak seperti kamar biasanya, kamar yang luas dengan segala macam benda mahal dan properti yang langka didunia, semuanya ada dikamar megah itu.
Lee Joon duduk di sofa dan menonton televisi sambil memakai pakaian tidurnya, dan dia tiba-tiba terkejut mendengar suara dari televisinya yang menyebutkan tentang berita bahwa Indonesia telah mengubah susunan kabinet kepresidenan.
“Dan yang terakhir kami sebutkan adalah menteri kesehatan Republik Indonesia, ibu Nadien Herdiana. M. Jadi ... itu susunan kabinet kepresidenan yang baru dan sudah dilantik,” ucap reporter berita ditelevisi Lee Joon.
“Ibu?!” ucap Lee Joon tak percaya dengan apa yang dia lihat dan ia dengar.
Lee Joon tak menyangka, yang menjabat sebagai menteri kesehatan Indonesia adalah wanita yang sangat ia cintai melebihi apapun, Nadien Herdiana. M, itulah nama wanita yang telah melahirkannya, yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.
“Kenapa kakek dan ibu tak mengatakan apapun padaku tentang hal ini, apa sebenarnya yang direncanakan oleh kakek,” gumam Lee Joon bicara sendiri dengan penuh heran.
Tiba-tiba Lee Joon mendapat telepon dari pak Kim.
“Halo, apa tuan muda sudah melihat beritanya?” tanya pak Lim pada Lee Joon.
“Iya, apa kamu bapak tahu sesuatu tentang hal ini,” sambung Lee Joon menjawab pak Lim.
“Maaf tuan muda, tapi aku juga terkejut dengan berita yang tak terduga ini, saya takut dengan kesehatan nyonya, padahal beliau baru saja sembuh 1 tahun yang lalu, dan masih harus melakukan terapi sampai sekarang. Apa yang akan anda lakukan tuan?” ucap pak Lim menanyakan keputusan Lee Joon.
“Tentu saja kita akan ke kampung halaman ku, pesankan tiket untuk keberangkatan 2 hari dari sekarang dengan tujuan Indonesia, kampung halamanku,” ucap Lee Joon pada pak Lim.
“Baik tuan, saya akan mempersiapkannya,” ucap pak Lim singkat.
2 hari kemudian, di kampus.
Yoona masuk ke salah satu kelas untuk mengajar disana, sesampainya Yoona dikelas itu Yoona langsung mengajar.
“Selamat siang semuanya, bagaimana dengan tugas yang saya berikan kemaren apa kalian sudah menegerjakannya?” tanya Yoona pada mahasiswa di dalam kelas itu.
2 jam berlalu, Yoona keluar dari kelas dan hendak menuju ke kantin kampus untuk mengisi perutnya yang tidak sempat untuk sarapan tadi pagi.
“Rasanya aneh hari ini, aku belum melihat dia sejak pagi tadi, apa dia tidak masuk hari ini ya?” gumam Yoona bicara sendiri yang merasa aneh karena tidak melihat dan mendengar keberadaan Lee Joon di kampus.
Saat Yoona berbelok ke salah satu lorong menuju kantin kampus, ia bertemu dengan pak Lim yang baru saja selesai mengajar di salah satu kelas. Park Yoona menyapa pak Lim dan menundukkan kepalanya, begitu pun pak Lim yang juga menunduk membalas sapaan dari Park Yoona. Setelah mereka melewati satu sama lain, Yoona yang penasaran tak sanggup menahan rasa penasarannya itu dan memberanikan diri untuk menanyakan tentang Lee Joon pada pak Lim.
“Ah ... tunggu sebentar pak Lim,” ucap Yoona memanggil dan menghentikan langkah kaki pak Lim.
“Iya, kenapa ibu Park?” tanya pak Lim pada Yoona.
“Bukan sesuatu yang penting, tapi apa pak rektor ada di ruangannya? Ada hal yang perlu saya bicarakan sengan beliau,” ujar Yoona menanyakan Lee Joon pada Pak Lim.
“Ah ... aku dengar tuan ... maksudku pak rektor sedang keluar negeri,” jawab pak Lim.
“Keluar negeri? kapan ia pergi?” tanya Yoona pada pak Lim.
“Aku rasa ia ada sedikit urusan di negara itu, mungkin dia berangkat tadi pagi,” ucap pak Lim menjawab Yoona.
“Ah ... mungkin aku bisa menunggunya pulang dari sana, terimakasih informasinya pak Lim, kalau begitu saya permisi,” ucap Yoona dan pamit pergi meninggalkan pak Lim.
“Iya ibu Park, sama-sama,” jawab pak Lim.
Dari kejauhan pak Lim melihat Yoona yang makin jauh dari padangannya. Pak Lim merasakan bahwa adanya percikan-percikan cinta yang akan membakar dan melelehkan kutub utara tak lama lagi.
“Kau sangat beruntung tuan muda, karena disini ada seorang malaikat yang mencarimu, aku harap kalian benar-benar menjadi sebuah pasangan kekasih suatu hari nanti,” gumam pak Lim bicara dalam hatinya dan melangkah pergi menuju ruangan rektor.
Saat sebelum pak Lim sampai diruangan rektor, ia mendapatkan telepon dari nomor yang tak dikenal, hal itu membuat pak Lim sedikit cemas dan waspada, namun ia tetap menerima panggilan dari nomor misterius itu.
“Halo? siapa ini?” ucap pak Lim penasaran.
“Ini aku, cepatlah datang ke ruangan rektor,” jawab orang yang ada ditelepon pak Lim dengan nada suara seorang wanita.
Pak Lim pun mematikan teleponnya dan bergegas menuju ruang rektor dengan wajah tegang, semakin dekat ia dengan ruangan rektor semakin berat dan besar pula rasa penasarannya dengan siapa sosok yang meneleponnya itu, dan sekarang ia sudah berada tepat didepan pintu ruangan rektor.
Pak Lim tak langsung membuka pintunya, ia perlahan meraba kedalam saku jasnya dan mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam saku jasnya itu.
Pak Lim membuka pintunya secara tiba-tiba dan mengarahkan ujung pistolnya ke orang yang sudah menunggunya datang, namun alangkah terkejutnya pak Lim melihat siapa sosok yang ada didepannya sekarang.
“Ibu Kang?!!” ucap pak Lim bingung tak percaya.