Aqila Family

Aqila Family
Chapter 13



“Kamu?!!” ucap mereka bersamaan.


Mereka pun berdiri dan membantu memungut barang-barang Yoona yang jatuh berserakan. Dan pas barang terakhir yang hanya tinggal benda itu yang tergeletak dilantai, tangan mereka secara bersamaan memegang benda itu.


“Ini?!!” ucap Yoona syok dalam hatinya.


“Plakk!!” suara tamparan keras dari Yoona.


“Dasar rektor mesum, jangan pernah menyentuh barang pribadi orang lain terutama barang seorang wanita,” ucap Yoona yang marah ke pria yang ditabraknya karena tak tahu barang yang ia bantu pungut itu adalah pembalut wanita.


“Hei ... pelankan suara nenek sihir mu itu, bagaimana nanti orang lain mendengarnya, nanti orang-orang akan salah faham kalau kamu bicara begitu padaku,” ucap Lee Joon pada Yoona.


“Lupakan itu, sebaiknya aku menjaga jarak dari batu es seperti mu, apa kau tidak tahu gosip tentang kita telah tersebar diseluruh kampus ini,” ucap Yoona yang sudah berdiri dan menoleh ke arah Lee Joon.


“Gosip??” ucap Lee Joon bingung.


“Itulah kamu, tidak peduli dengan semua yang ada disekitarmu, kau hanya memikirkan dirimu sendiri,” ucap Yoona dan melangkah pergi meninggal Lee Joon.


Mendengar ucapan Yoona yang mengatakan dirinya adalah seorang yang tidak peduli dengan semua yang ada disekitarnya, Lee Joon tertegun dan sempat termenung teringat dengan sosok dirinya yang dulu. Lee Joon tak terima dengan ucapan Yoona, ia pun menghentikan Yoona dengan memanggilnya.


“Park Yoona!” panggil Lee Joon yang menghentikan langkah Yoona.


Park Yoona pun terhenti karena Lee Joon memanggilnya dengan menyebut nama lengkapnya. Yoona pun menoleh ke arah Lee Joon yang mulai berjalan mendekatinya.


Mereka pun berhadapan seperti pasangan pengantin yang akan memasangkan cincin dijari manis mempelai wanita.


“Perkataanmu barusan agak menyinggungku, jadi aku mau menjelaskannya padamu walaupun tidak semuanya,” ucap Lee Joon dengan raut wajah percaya diri pada Yoona.


“Apa maksudmu?” ucap Yoona bingung dan agak malu karena posisi mereka yang sangat dekat.


“Mungkin benar aku dulu adalah seseorang seperti yang kamu katakan barusan, tapi sekarang aku sudah tidak begitu, seekarang aku harus mempedulikan semua orang yang ada disekitarku dan itu termasuk kamu,” ucap Lee Joon sambil menatap Yoona serius.


Yoona yang mendengar perkataan Lee Joon itu untuk sesaat ia sempat terdiam dengan ucapan Lee Joon, ia tahu betul apa yang Lee Joon katakan padanya adalah sebuah keseriusan yang terlihat dari sorot matanya. Kemudian Park Yoona hanya menjawab dengan singkat perkataan Lee Joon itu.


“Baiklah, lakukan sesuka mu,” ucap Yoona pada Lee Joon dan melangkah pergi meninggalkan Lee Joon dilorong tempat dimana mereka pertama kali bertemu.


Lee Joon hanya diam dan berdiri ditempatnya itu sambil melihat punggung Yoona yang semakin menjauh dari padangannya.


Sore harinya, di parkiran kampus.


Lee Joon dan pak Lim masuk ke mobil mereka, saat Lee Joon dan pak Lim hendak pergi mninggalkan area parkir, Lee Joon melihat Park Yoona yang sedang berdiri di gerbang kampus seperti sedang menunggu sesuatu. Lee Joon pun menuyuruh pak Lim untuk menghampirinya.


“Ayo kita menghampirinya pak, sepertinya dia butuh tumpangan,” ucap Lee Joon pada pak Lim.


“Apa maksud tuan kita akan menghampiri Ibu Park? bukankah kalian sedang hangat diperbincangkan di kampus, apa anda yakin dengan ini?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Kalau tentang itu aku sebenarnya tidak peduli dengan gosip itu, sudahlah ... ayo kita menghampirinya,” ucap Lee Joon.


“Peep!! peep!” suara klakson daro mobil Lee Joon menyapa Yoona.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Lee Joon pada Yoona.


“Tidak ada, aku hanya sedang-“


“Ayo pulang bersamaku, aku akan mengantarmu,” ucap Lee Joon memotong perkataan Yoona.


“Apa? te ... terimakasih sekali atas tawarannya pak rektor, tapi tidakkah bapak mempertimbangkan tentang gosip kita, bagaimana jika seseorang melihat saya menaiki mobil mu, dan itu akan memperkuat gosip kita,” jawab Yoona setengah kesal dengan nada ramah yang memaksa.


“Baiklah kalau begitu, tapi aku akan mengumumkan di kampus bahwa kita pernah berciuman di menara Seoul seperti kemaren” ucap Lee Joon mengancam Yoona sambil tersenyum pergi meninggalkan Yoona.


5 menit kemudian, di dalam mobil Lee Joon.


Pak Lim yang tengah menyetir sedang menahan tawa melihat dari kaca spion depannya, karena dikursi belakang ada dua orang manusia seperti sepasang kekasih yang sedang marah.


“Hei, katakan dimana tempat tinggal mu,” ucap Lee Joon pada Yoona yang tidak mau melihat ke arah Lee Joon.


Yoona hanya diam tak menjawab perkataan Lee Joon dan hanya melihat keluar jendela mobil.


“Apa kau marah?” tanya Lee Joon pada Yoona.


“Manusia mana yang tidak marah jika dia diancam,” jawab Yoona kesal.


“Aiish ... lalu bagaimana denganmu yang menabrakku tadi dilorong kampus, bukannya kamu harus meminta maaf ketika menabrak orang, tapi sebaliknya kamu malah memarahiku dan pergi begitu saja, apa hobimu dari dulu adalah menabrak orang?” ucap Lee Joon yang juga ikut kesal dengan tingkah laku Yoona.


“Tapi kamu juga menyentuh barang pribadi orang lain tanpa izin, bukankah itu juga tindakan kriminal,” ucap Yoona yang mulai ngegas.


“Bagaimana itu bisa dikatakan tindakan kriminal, padahal aku hanya membantumu memungut barang-barangmu yang berserakan,” jawab Lee Joon yang ikut-ikutan ngegas.


“Ssssstthh!!” suara mobil Lee Joon yang tiba-tiba mengerem mendadak.


“Aahkk!” ucap Lee Joon dan Yoona bersamaan karena Pak Lim yang tiba-tiba mengerem mendadak.


Pak Lim perlahan menoleh kebelakang menatap Lee Joon dan Yoona dengan raut wajah datar.


“Pak Rektor, ibu Park ... saya rasa saya mendukung mengenai gosip tentang anda berdua,” ucap pak Lim pada Lee Joon dan Park Yoona.


“Tidak akan!!” ucap Lee Joon dan Yoona bersamaan dengan nada ngegas.


Pak Lim pun kembali menyetir setelah menggoda dua orang keras kepala itu, terkadang pak Lim tersenyum kecil melihat tingkah laku dua manusia serasi yang duduk dikursi belakangnya itu.


Sesaat kemudian, suasana didalam mobil menjadi hening dan tenang, nampak dari sudut kaca mobil terpantul cahaya senja sore hari yang indah masuk kedalam mobil, dan cahaya itu tepat menerpa wajah cantik Park Yoona yang sedang memandang keluar jendela mobil, Lee Joon yang tak sengaja menoleh ke arah Yoona terlena dan bengong melihat wajah cantik Yoona yang terkena cahaya senja sore itu, dan sesekali rambut panjang Yoona tergerai diterpa angin yang masuk ke mobil. Lee Joon tak pernah menyangka, gadis yang dulunya tomboy dan cerewet sepertinya sekarang telah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik rupawan dan banyak disukai kaum pria, padahal dulunya preman saja takut pada seoarang Park Yoona. Tiba-tiba Park Yoona menoleh ke arah Lee Joon dan mendapati kalau Lee Joon sedang terlena menatapnya.


“Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?” tanya Yoona pada Lee Joon sambil meraba-raba wajahnya.


“Kamu sangat cantik,” ucap Lee Joon yang tanpa sadar mengeluarkan kalimat itu.