Aqila Family

Aqila Family
Chapter 21



Di Korea Selatan, tepatnya di kediaman pribadi presiden Gong Jihoon. Terlihat ada beberapa mobil mewah yang mendatangii kediamannya itu. Mobil pertama yang berhenti tepat didepan halaman rumah megah dan halaman yang besar ternyata adalah salah satu menteri di Korea Selatan, yaitu menteri pertahanan Korea Selatan Seo Dae Young, dan setelah menteri pertahanan mobil kedua yang menyusul adalah mobil dari kepala BIN (badan intelejen negara) Korea Selatan, yaitu Kwon Tae Jung, dan mobil terakhir yang masuk ke kediaman presiden Gong Jihoon adalah mobil dari perdana menteri Korea Selatan, yaitu Choi Young Do. Entah apa yang sedang direncanakan oleh kakek Lee Joon karena memanggil nama-nama besar di Korea Selatan datang ke kediaman pribadinya. Ketiga orang penting ini pun masuk ke dalam kediaman presiden Gong.


Setibanya mereka di ruangan presiden Gong, mereka melihat presiden Gong sedang menonton siaran tv yang sedang memberitakan tentang konferensi pers yang diadakan oleh Lee Joon dan ibunya, dan sesaat setelah itu presiden Gong mematikan tv nya dan menyapa ketiga orang penting yang dipanggilnya itu.


“Kalian sedikit terlambat,” ucap presiden Gong pada ketiga orang penting itu.


“Maafkan kami pak presiden, tapi setidaknya biarkan kami duduk terlebih dahulu,” ucap perdana menteri Choi Young Do pada presiden Gong.


“Haha ... maafkan aku, silahkan duduk dengan nyaman,” sambung presiden Gong mempersilahkan mereka duduk.


“Bagaimana dengan kampanye mu pak? apa berjalan dengan baik?” tanya pak Seo menteri pertahanan Korea.


“Maaf pak menteri Seo ... kau tak perlu berbasa-basi seperti itu, karena kurasa kau tahu kenapa aku memanggil kalian kesini bukan, tentu saja itu karena aku ingin meminta penjelasan kalian tentang tugas yang aku berikan 25 tahun yang lalu pada kalian! apa maksud ini semua hah!! kenapa bisa mereka masih hidup sampai sekarang, bukannya kalian bilang kalau kalian sudah menghabisi mereka dihutan itu,” ucap presiden Gong yang naik pitan ketika melihat sikap basa-basi dari pak menteri pertahanan Seo Dae Young.


Mereka bertiga tertunduk malu ketika presiden Gong memarahi mereka, terutama pak menteri pertahanan Seo Dae Young yang merasa bahwa kejadian yang sudah lewat 25 tahun yang lalu adalah aib bagi militer Korea Selatan, karena mereka tak bisa menyelesaikan misi dan kalah dari musuh yang notabennya bukan berkecimpung didunia kemiliteran.


“Tolong tenangkan dirimu presiden Gong, kami minta maaf karena tidak memberitahukannya padamu sejak dulu, karena kami pikir sudah menghabisi mereka semua saat itu, kami pun tidak menyangka hal ini akan terjadi, bahkan menantumu yang disembunyikan oleh almarhum anakmu ternyata masih hidup dan bahkan sekarang ia telah menjadi salah satu menteri di negara itu,” ucap pak perdana menteri Choi Young Do berusaha menenangkan presiden Gong.


“Menantu? aku tidak pernah punya menantu,” jawab presiden Gong kesal.


“Maaf presiden Gong, aku rasa aku tahu apa yang dilakukan oleh orang yang mengaku cucumu itu, kita bisa mencari tahu kebenarannya secara langsung jika bapak memberi perintah untuk mengintrogasinya,” saut kepala BIN Korea Selatan Kwon Tae Jung.


“Apa maksudmu? sudah jelas yang ada bersamanya di konferensi pers itu adalah wanita ****** yang telah membuat anakku mengambil tindakan bodoh, berarti ia memanglah bagian dari darah daging anakku,” ucap presiden Gong.


“Tragedi Laut Merah Asia Tenggara! aku sudah bilang pada kalian agar melakukannya tak setengah-setengah, dan akibatnya adalah hal yang kita takutkan mungkin akan terjadi,” ucap presiden Gong.


“Maafkan saya pak presiden, saya tahu ini adalah kelalaian dari kami pihak militer, saya berjanji akan membayar lunas kesalahan yang telah kami perbuat saat 25 tahun yang lalu dan menyelesaikan masalah ini dengan cepat,” ucap pak menteri pertahan Seo Dae Young.


“Aku tak menanyakan apapun dari kejadian tragedi itu karena kupikir kau mengirim tim khusus terbaik pilihan mu itu, dan ternyata kau malah membuat benih baru yang akan melilitku ketika ia sudah besar nanti. Tolong ceritakan padaku apa yang telah terjadi saat tragedi itu berlangsung!” ucap presiden Gong pada Seo Dae Young menteri pertahanan Korea Selatan.


“Baiklah ... tepatnya seminggu sebelum terjadinya tragedi itu, kami sudah mengetahui siapa yang telah menyelamatkan anakmu saat misi menangkap bandar narkoba terbesar di Asia itu, dan orang itu adalah kepala keluarga dari mafia terbesar dan paling disegani di Asia, yaitu Aqila Family! Pasukan kita tak menyangka akan berhadapan dengan mereka saat itu, tapi salah satu pasukan kita berhasil meracuni kepala keluarga mereka yang bernama Abdul Muthalib. Dua hari kemudian kami mendapatkan informasi dari intelejen bahwa kepala keluarga mafia terbesar itu telah meninggal karena racun, dan ia memberikan tahtanya itu kepada anakmu, Lee Jae Hoon. Dan hari dimana tragedi itu pun terjadi, kami berhasil mengepung mereka dan menyudutkan mereka didalam hutan itu, kemudian hal yang tak terelakan pun terjadi, dari kedua pihak melakukan serangan secara agresif dan saling balas, hingga hutan yang sudah seperti neraka itu pun mencapai puncak dari kejadian itu, anakmu tewas setelah menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng demi anak kecil yang kita duga adalah cucumu itu, tinggallah salah satu pasukan kita dan seorang wanita saat itu. Saat akan menggorok leher anak kecil itu, wanita yang juga separuh sekarat itu ternyata mempunyai pistol dan menembakkan pistolnya saat detik-detik terakhir pasukan kita yang akan menggorok leher anak kecil itu. Jadi ... bisa dibilang pasukan kita kalah dari kelompok mafia yang dipimpin oleh anakmu sendiri, komandan pasukan khusus terbaik yang pernah dimiliki oleh Korea Selatan, Komandan Lee Jae Hoon,” ujar pak menteri pertahanan.


Setelah mendengarkan semua penjelasan dari menteri pertahanannya, presiden Gong hanya diam seperti berpikir, ia terlihat bingung sambil mengenghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.


“Hemmh ... jadi itu yang telah terjadi sebenarnya, lalu siapa yang menjadi pemimpinnya sekarang?” tanya presiden Gong.


“Jika dilihat sejak kejadian itu, mereka pasti sudah sangat melemah sekarang karena banyak dari orang dan petinggi dari mafia itu yang tewas saat tragedi itu. Jadi sudah pasti pemimpinnya sekarang adalah menantu ... maksudku wanita itu,” jawab pak menteri pertahanan.


“Lebih baik kita yang bergerak lebih dulu sebelum mereka mulai membuat kekacauan yang lebih besar presiden Gong, jika bapak memberi perintah, aku akan mengutus orang-orang intelejen ku untuk mulai mencari tahu apa yang sedang mereka rencanakan,” ucap pak Kwon Tae Jung kepala BIN Korea Selatan.


“Aku juga setuju dengan pak Kwon Tae ... lebih baik kita yang menyerang dari pada diserang, tapi kami ingin tahu dari mu presiden Gong, tentang pria yang mengaku dirinya adalah cucumu itu ... apa yang akan kita lakukan padanya?” ucap perdana menteri pak Choi Young Do dan bertanya pada kakek Lee Joon, presiden Gong.


“Sebenarnya aku ingin sekali memiliki cucu dari anakku yang bodoh itu, tapi karena wanita itu ... anakku harus kehilangan nyawanya hanya demi wanita yang ia cintai tanpa restu dariku, bagaimana pun aku ini juga seorang manusia, jadi jangan menyentuh pria muda itu dulu, bunuh saja wanita itu dengan cara apapun,” ucap kakek Lee Joon, presiden Gong.