Aqila Family

Aqila Family
Chapter 24



1 jam kemudian setelah peperangan didalam ruangan Lee Joon, terlihat bahwa suasana yang tadinya tegang sudah tenang dan kembali seperti normal, namun hanya Lee Joon yang mendapatkan cobaan berat karena dikedua pipinya terlihat jelas ada bekas tangan akibat tamparan yang cukup keras dari Park Yoona yang langsung menyerang Lee Joon setelah mendengar semua percakapan mereka. Dan sekarang Lisa sedang mengobati tuan mudanya lagi untuk yang kedua kalinya setelah tamparan pertama Yoona dihadapan semua mahasiswanya tadi pagi di depan gedung kampus.


“Tanganku sakit setelah menghajar batu es sial*n ini,” ucap Yoona yang masih kesal pada Lee Joon.


“Bagaimana bisa itu sakit, apa kau tidak lihat akulah yang sekarat akibat tamparan mu, padahal kau sudah menamparku dihadapan semua orang tadi pagi,” jawab Lee Joon juga kesal pada Yoona.


“Itu salah mu sendiri!” saut Yoona.


“Apa?! salahku? bagaimana bisa kau menyalahkan ku padahal kaulah yang menghajarku sampai begini, baiklah aku akan menuntut mu kalau begitu,” sambung Lee Joon merasa kesal dengan sikap Yoona.


“Apa? kau mau menuntutku? silahkan saja, aku tidak takut sama sekali, bagaimana mungkin rektor mesum sepertimu bisa menuntun seorang dosen sejati sepertiku,” jawab Yoona semakin membuat Lee Joon kesal.


“Apa?! aaaiishh ... kau memang nenek sihir berotot,” ledek Lee Joon pada Yoona.


“Apa? nenek si ... dasar rektor mesum sial*n!” ucap Yoona sambil melempari Lee Joon dengan bantal sofa.


“Apa kau sudah gila?! aku sedang terluka karena ulah mu dan kamu melempari ku dengan bantal! terima ini!” sambung Lee Joon menjawab Yoona dan membalas Yoona dengam melemparinya kembali dengan bantal.


Dan akhirnya mereka berdua malah membuat perang bantal seperti anak kecil diruangan rektor itu. Lisa, ibu Kang, dan pak Lim hanya bisa pasrah dan menonton tingkah konyol tuan muda mereka itu dengan Park Yoona yang memalukan.


“Apa ini? aku merasa sedang melihat drama komedi romantis anak Sma,” ucap Lisa tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.


“Aku juga tidak pernah melihat tuan muda yang biasanya dingin dan bicara seadanya bisa menjadi orang seperti ini karena Yoona,” saut ibu Kang yang terpelongo melihat tingkah laku tuan muda dan keponakannya itu.


“Hahaha ... bagaimana mungkin seorang kepala keluarga mafia bisa dihajar oleh seorang gadis seperti Yoona, hahaha ...,” ucap pak Lim yang sangat terhibur melihat dua orang egois yang sedang perang bantal seperti anak kecil itu.


Pada saat sedang heboh dengan perang bantal konyol itu, tiba-tiba datang lagi seseorang yang juga terpelongo saat melihat Lee Joon dan Yoona seperti sepasang kekasih yang sedang mabuk melempari bantal ke arah satu sama lain.


“Apa yang sedang ku lihat ini?” ucap seseorang itu tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Ah? pak Kim ... nikmati saja apa yang bapak lihat sekarang, kita tak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, hahah ...,” ucap pak Lim dengan santainya sambil tertawa dan menepuk pundak pak Kim yang terheran-heran.


Dan ditengah-tengah keributan itu, Yoona yang melempari Lee Joon dengan bantal secara tak sengaja mengenai fas bunga yang ada di meja kerjanya Lee Joon, fas bunga itu pun jatuh dan pecah berkeping-keping, dan suara pecahan dari fas bunga yang jatuh itulah yang menjadi pelerai dari perang bantal yang dilakukan oleh Lee Joon dan Park Yoona, suasana pun hening seketika.


20 menit kemudian, masih diruangan Lee Joon. Mereka semua sudah menceritakan secara terus terang tentang identitas dan tujuan mereka kepada Yoona.


“Jadi ... seperti itu yang sebenarnya terjadi, ternyata aku dan Lee Joon juga korban dari perbuatan presiden Gong, bagamana bisa keluargaku hancur hanya karena ayah dari batu es sial*n ini menolak perjodohan dengan ibuku,” ucap Yoona kesal sambil menatap tajam ke arah Lee Joon.


“Park Yoona! jaga ucapan mu itu, ini bukanlah salah tuan muda, bahkan ia juga menderita seperti mu bahkan ia lebih menderita darimu, jika kau yang ada diposisi tuan muda mungkin kau tidak akan bisa seperti sekarang,” sentak ibu Kang memarahi keponaannya itu.


“Plaaakk!!” suara tamparan yang cukup keras mendarat tepat dipipi kiri wajah cantik Yoona.


Semua orang terdiam dan tegang setelah ibu Kang yang tiba-tiba menampar keponaan satu-satunya yaitu Park Yoona, anak kandung dari kakak ibu Kang sendiri. Bahkan Lee Joon yang melihat Yoona ditampar oleh ibu Kang dengan sangat keras merasa kasihan dengan Yoona.


Setelah ia ditampar cukup keras hingga pipi kirinya memerah, Yoona pun pergi begitu saja dari ruangan Lee Joon sambil menangis tersedu-sedu. Lee Joon yang melihat Yoona pergi dengan air mata yang masih mengalir dipipinya itu merasa kasihan dan marah, suasana hatinya campur aduk ketika melihat Yoona menangis apalagi ia melihat Yoona ditampar tepat didepannya sendiri. Lee Joon  bingung sendiri kenapa ia bisa sampai kasihan dan sedih melihat Yoona meneteskan air matanya, padahal Lee Joon lah yang merasakan semua tamparan hari ini, tapi kenapa ia merasa sedih dan bersalah terhadap Yoona.


Pak Kim pun ikut mengeluarkan suara untuk menenangkan suasana tegang setelah ibu Kang menampar Yoona dengan cukup keras di pipi kirinya.


“Apa tidak apa-apa membiarkannya pergi dengan keadaan seperti itu?” ucap pak Kim menoleh ke arah ibu Kang.


“Maafkan aku ... aku terlalu terbawa suasana, seharusnya aku tidak melakukan itu, ini semua memang salahku,” ucap ibu Kang menyesal dengan nada sedu.


“Aku faham dengan perasaannya setelah mendengarkan semua penjelasan kita, aku hanya khawatir Yoona akan mengatakan rahasia kita bahwa kita ini adalah mafia, apa yang harus kita lakukan? ini serba salah menurutku,” saut pak Lim.


“Sepertinya dia akan pergi meninggalkan kampus,” ucap Lisa yang melihat Yoona pergi keluar melewati  gerbang kampus menuju jalan raya.


Mendengar perkataan Lisa, Lee Joon langsung berdiri dan ikut melihat dari jendela, dan ternyata benar itu adalah Yoona yang pergi keluar dari gerbang kampus menuju jalan raya, Lee Joon yang khawatir tanpa pikir panjang langsung mengambil kunci mobil pak Kim yang terletak di atas meja untuk menyusul Yoona karena takut ia akan berbuat hal yang tidak-tidak.


“Aku pinjam mobil mu dulu pak Kim,” ucap Lee Joon mengambil kunci pak Kim lalu pergi begitu saja menyusul Park Yoona yang sedang dalam situasi tak bagus.


Disisi Yoona, tepatnya dijalan raya yang sedang ramai saat sore hari, ia berjalan tak tahu arah tujuan dengan mata yang masih merah karena menangis tersedu-sedu.


“Kenapa sekarang ... kenapa ... kenapaa!! kenapa baru sekarang kau mengatakan kebenaran yang tak bisa diubah lagi ...,” gumam Yoona bicara sendiri sambil menangis sedu berjalan sendiri ditengah keramaian.


Lambat laun tak terasa hari pun sudah gelap dan lampu-lampu kota mulai hidup silih berganti, Yoona yang sudah berhenti menangis dan hanya berjalan tanpa arah kini berhenti di sebuah taman dan duduk sendiri bawah bola lampu taman yang tak terlalu terang, Yoona terlihat lelah dengan tatapan kosong dan perutnya yang selalu berbunyi.


Sedangkan disisi Lee Joon, saat ini ia masih mencari keberadaan Yoona menggunakan mobil pak Kim, Lee Joon semakin mencemaskan Yoona karena hari yang sudah semakin larut malam, bahkan ibu Kang dan pak Kim sudah mencoba meneleponnya berkali-kali tapi Yoona tetap tak bisa dihubungi, hal itu membuat Lee Joon semakin mengkhawatirkan Yoona yang pergi tak tahu kemana.


Tiba-tiba Lee Joon teringat sesuatu dimasa lalu, saat ia dan Yoona masih menjadi senior dan junior dikampus mereka dulu, Lee Joon sering melihat Yoona disebuah taman dekat kantor pemadam kebakaran yang tak jauh dari rumah lamanya dulu. Lee Joon pun bergegas kesana menuju taman tersebut.


Sedangkan di taman tempat Yoona berhenti tadi, ternyata ia sudah ketiduran di kursi panjang di taman itu, berbantalkan tasnya sendiri dengan sepatu hak tinggi hitam yang masih melekat di kakinya, membuat taman yang indah pun ikut sedih melihatnya, tiba-tiba cuaca mulai gelap dan rintik hujan perlahan membasahi wajah Yoona yang putih bening tirus bak malaikat.


Karena merasa wajahnya dingin dari tiap tetesan hujan yang jatuh tepat ke wajahnya, Yoona pun terbangun dari tidurnya dan tak menyangka sebelum ribuan tetesan hujan itu membasahi tubuhnya yang sedang rapuh itu, tiba-tiba seorang pria tinggi berdiri tepat didepannya sambil memegang payung memayungi dirinya agar tak terkena hujan yang semakin lama semakin lebat. Dan ketika pria yang memayungi Yoona itu perlahan mendekat ke arahnya, wajah dari pria yang memayunginya pun terlihat jelas walaupun silau karena ia membelakangi lampu taman yang sedang menerangi mereka berdua ditengah gelapnya malam dan derasnya hujan.


Mata Yoona seketika membelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat, ternyata pria yang datang sambil memayunginya itu adalah Lee Joon. Dengan nada berat dan raut wajah yang khawatir Lee Joon pun berkata pada Yoona dengan berlutut tiba-tiba di depannya.


“Maafkan aku ... aku benar-benar minta maaf, karena ... karena keluargaku kau harus mejalani hidup berat setiap hari, aku benar-benar minta maaf Yoona, aku sungguh minta maaf ...,” ucap Lee Joon sayu sambil menangis dan berlutut dihadapan Yoona.