Aqila Family

Aqila Family
Chapter 22



1 minggu kemudian, di kediaman rumah dinas menteri pendidikan Korea Selatan. Nampak pak Kim sedang melihat layar handphonenya dengan penuh tatapan ambigu dari wajahnya.


“Seandainya bos tahu ... bahwa kematian tuan besar saat sebelum tragedi itu terjadi adalah tipuan, mungkin kita bisa menang melawan ayahmu bos, dan sekarang yang tertisa hanyalah penyesalan bagi tuan besar karena sudah merekayasa kematiannya sendiri dihadapan ayah dan cucunya. Maafkan aku bos ... aku tak bisa memberitahukan ini demi kepentingan keluarga Aqila Family saat itu” gumam pak Kim dalam hatinya dan merasa bersalah pada ayahnya Lee Joon.


Sedangkan dihalaman kampus yang dikepalai oleh Lee Joon, ia datang seperti biasa dengan mobil mewahnya dan paras tampan yang memikat hati kaum hawa disambut dengan gemuruh oleh ribuan mahasiswa dikampus itu yang membuat banyak wartawan mendatangi kampus tersebut setelah konferensi pers yang telah ia buat dengan ibunya.


“Hahh ... ini sedikit diluar dugaan ku, aku kira para mahasiswa akan melempariku dengan telur seperti di dalam drama-drama” gumam Lee Joon dalam hatinya sambil berjalan menuju ruangannya.


Namun langkahnya terhenti tepat didepan pintu masuk ke gedung kampus, ia melihat Park Yoona yang sudah berdiri didepan pintu itu dari kejauhan sambil menatap Lee Joon dengan penuh linangan air mata. Lee Joon baru ingat karena sebelum ia pergi ke Indonesia ia meninggalkan Yoona diruangannya sendirian dan pergi begitu saja setelah menerima telepon dari ibunya. Lee Joon pun mendekati Yoona perlahan dan sampai tepat dihadapan Yoona. Semua para mahasiwa yang ada dikampus itu sedang melihat mereka berdua dengan iri dan merasa ini adalah hal paling romantis yang pernah mereka lihat, semua teriakan itu menyorakkan pada mereka berdua Lee Joon dan Yoona untuk berciuman, karena situasi dan suasana yang sangat pas dan hangat menurut para mahasiswa itu.


“Cium! cium! cium!!” sorak semua mahasiwa yang melihat mereka berdua.


Disisi lain, tepatnya dilantai dua ruangan Lee Joon, pak Lim dan ibu Kang hanya memperhatikan dari jendela ruangan Lee Joon. Pak Lim dan ibu Kang tak bisa ikut campur dengan masalah ini, karena masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh tuan muda mereka yaitu Lee Joon.


“Aku kasian padamu ... keponakan ku,” ucap ibu Kang tiba-tiba bicara sendiri.


“Apa? apa barusan kau bilang keponakan? aku juga sudah menganggap tuan muda sebagai adikku sendiri malahan,” saut pak Lim yang mendengar perkataan ibu Kang.


“Kau tahu apa, ini bukan seperti yang kau bayangkan,” ucap ibu Kang pada pak Lim dengan nada kesal.


“Hei ... kenapa kau marah? apa aku salah bicara? apa kau sedang datang bu-“


“Pak Lim! Apa kau tahu siapa kakakku?” tanya ibu Kang tiba-tiba memotong perkataan pak Lim.


“Hah? kenapa kau tiba-tiba menayakan hal itu? tentu saja aku tahu siapa kakak mu, kakak mu adalah mantan menteri kesehatan negara ini, almarhum ibu Park Hye Jin,” ucap pak Lim menjawab perkataan ibu Kang.


“Benar sekali, makanya tuan muda pernah mengatakan bahwa aku mirip dengan temannya bukan, dan itu adalah Park Yoona yang sekarang ada didepan tuan muda,” ucap ibu Kang membuat pak Lim penasaran.


“Apa maksud mu? apa yang sedang coba kau katakan? bisakah kau perjelas secara sederhana apa yang kau maksud itu?” ucap pak Lim pada ibu Kang.


“Wanita ... yang sekarang kita lihat sedang berdiri dihadapan tuan muda adalah ... anak kandung dari kakakku!” ucap ibu Kang yang membuat mata pak Lim membelalak tak percaya.


“Apa?!! bagaimana aku bisa percaya dengan kebetulan seperti ini, ini sangat mengejutkan jika yang kau katakan itu adalah sebuah kebenaran. Tapi kenapa aku sampai tidak tahu padahal ia selama ini ada didekatku,” ucap pak Lim.


“Kau bisa menanyakan hal itu pada pak Kim, aku rasa sebelum bos meninggal, bos meminta tolong pada pak Kim untuk menjaga seorang anak perempuan yang lebih muda beberapa tahun saja dari tuan muda, dan ternyata dugaanku benar, belum lama ini aku bertanya pada pak Kim tentang hal itu, dan pak Kim menjelaskan semuanya padaku, pak Kim lah yang merawat dan membiayai kehidupannya atas permintaan bos, tapi ia tak bisa merawat tuan muda dan Yoona secara bersamaan dalam satu tempat, jadi ia menempatkan Yoona di panti asuhan, dia tidak pernah bertemu langsung dengan Yoona selama ia dipanti asuhan, pak Kim hanya membiayainya hingga Sma, setelah ia besar dan bisa bekerja sendiri untuk mencari uang, Yoona berbicara kepada kepala yayasan panti asuhan itu bahwa untuk memberitahukan pada orang yang sudah membiayai hidupnya selama ini untuk berhenti dan tak memngirimkan uang padanya lagi, karena ia akan mencoba hidup dari hasil keringatnya sendiri mulai saat itu. Lalu pak Kim yang mendengarkan hal itu dari kepala yayasan panti asuhan itu pun awalnya menolak dan masih mengirimkan uang pada Yoona, namun semakin lama melihat Yoona yang semakin hari semakin mandiri dan bisa menjaga dirinya sendiri, membuat pak Kim menerima kemauan Yoona, dan ia tak lagi mengirimi uang padanya,” ujar ibu Kang panjang lebar menceritakannya pada pak Lim.


“Aku faham kau menyesal karena tak bisa berada disampingnya ketika kakakmu telah tiada, tapi itu juga bukan salah mu karena kamu menderita cukup lama karena tragedi itu. Aku yakin keponakan mu itu adalah wanita yang kuat seperti almarhum ibunya,” ucap pak Lim sembari tersenyum kecil pada ibu Kang.


Didepan pintu masuk gedung kampus, Lee Joon dan Yoona masih berdiri dan melihat satu sama lain, Lee Joon yang melihat linangan air mata Yoona merasa bersalah karena tak memberitahunya tentang semua yang telah terjadi, namun itu semua karena Lee Joon tak mau Yoona terlibat dalam balas dendamnya pada kakeknya, karena itu akan membahayakan nyawa Yoona. Melihat air mata Yoona yang sudah tumpah mengalir dipipinya, Lee Joon perlahan mengangkat tangannya dan hendak menghapuskan air mata Yoona dengan tangannya, tapi tangan Yoona sudah duluan sampai ke wajah Lee Joon.


“Plaaakk!!” suara tamparan keras dari tangan Yoona ke wajah Lee Joon.


Sontak semua orang yang melihat mereka terkejut dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat, dan begitu juga dengan ibu Kang dan pak Lim yang melihat dari kejauhan juga terkejut tak percaya dengan apa yang sudah Yoona lakukan pada tuan muda mereka yaitu Lee Joon.


Lee Joon hanya diam dan kembali menatap Yoona dengan raut wajah bersalah pada Yoona. Ia tak tahu harus bicara apa pada Yoona tapi ia sangat merasa bersalah pada Yoona.


“Dasar batu es sial*n!” ucap Yoona pada Lee Joon dan pergi bergitu saja meninggalkan Lee Joon.


1 jam kemudian, didalam ruangan Lee Joon.


Lee Joon sedang menerima perawatan akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh Yoona padanya, terlihat Lisa lah yang tengah mengobati bibir Lee Joon yang sedikit lecet akibat tamparan keras hadiah selamat datang kembali ke Korea dari Yoona.


“Wahh ... aku tak menyangka tamparannya sangat keras,” ucap Lee Joon bicara sendiri.


“Diamlah tuan muda, jangan bergerak sebelum aku selesai mengobatinya,” ucap Lisan menegur Lee Joon.


“Ah maafkan aku,” jawab Lee Joon pada Lisa.


Sedangkan pak Lim dan ibu Kang hanya saling melihat antara satu sama lain sebelum ibu Kang mengatakan semuanya pada Lee Joon. Dan setelah Lee Joon selesai diobati oleh Lisa, ibu Kang pun mulai membuka mulutnya dan memberitahu kebenaran tentang keponakannya, yaitu Park Yoona.


“Tuan muda ... sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada tuan muda,” ucap ibu Kang pada Lee Joon.


“Apa itu ibu Kang? kau bisa bicara dari situ saja,” jawab Lee Joon santai.


“Tapi ini tentang Park Yoona tuan,” sambung ibu Kang.


“Park Yoona? apa ini tentang masalah pagi tadi? sudah lah ibu Kang, aku bisa mengurusnya sendiri,” jawab Lee Joon.


“Tapi tuan, sebenarnya Park Yoona juga korban dari tindakan kakek tuan, presiden Gong,” ucap ibu Kang.


“Apa?! apa maksud mu?” ucap Lee Joon tak percaya.