
Disisi lain, tepatnya didepan rumah sakit disebuah cafe. Lee Joon dan Lisa masuk dan mendapati Miss Viola yang sudah menunggu mereka di cafe itu, Lee Joon dan Lisa pun duduk bersama Miss Viola.
“Selamat datang tuan muda,” sambut Miss Viola berdiri dan membungkuk memberi salam pada Lee Joon.
“Iya, mari duduk kita duduk,” saut Lee Joon dan duduk bersama mereka.
“Apa ada yang ingin kau pesan tuan? jika ada biar aku pesankan,” ucap Lisa bertanya pada Lee Joon.
“Aku dengar di Indonesia ini terkenal dengan rasa kopinya yang khas, kalau begitu aku pesan ekspresso khas Indonesia,” ucap Lee Joon pada Lisa.
“Baiklah tuan, tunggu sebentar aku akan pergi memesannya dulu,” ucap Lisa pada Lee Joon lalu berdiri pergi memesan pesanan tuanya.
Sekarang hanya tinggal Miss Viola dan Lee Joon di meja itu, mereka pun berbincang dan bersenda gurau seperti kakak adik.
“Benar, kau seperti kakak perempuanku saja, haha,” ucap Lee Joon tertawa.
“Tuhkan aku sudah bilang padamu,” saut Miss Viola.
Tak lama kemudian, Lisa datang dengan segelas ekspresso dan segelas cappucino. Ia pun menyuguhkan ekspresso yang dipesan oleh tuan mudanya, sedangkan ia memilih minuman yang berbeda dengan tuan mudanya, yaitu cappuccino cincau dengan toping oreo di atasnya.
“Apa kau yang memesan ini?” tanya Lee Joon pada Lisa melihat pesanan Lisa.
“Iya tuan, tadinya aku memesan sebotol anggur tapi mereka bilang itu hanya tersedia ditempat-tempat seperti club malam, karena di negara ini alkohol masih illegal untuk dijual secara umum,” jawab Lisa.
“Kalian tidak tahu ya, disini bukan seperti di Korea yang punya batasan umur bagi orang yang mau minum alkohol, disini peraturan dan hukumnya sangat berat dan sulit, tapi bukan berarti negara ini baik seperti negara lainya. Orang-orang yang punya kekuasaan dan pengaruh besar disini memanfaatkan itu sebagai sistem dan hierarki yang mereka susun sedemikian rupa untuk kepentingan diri mereka sendiri,” jelas Miss Viola pada Lisa dan Lee Joon.
“Wahh ... ternyata situasi disini juga sama seperti di Korea,” saut Lee Joon sambil menyeruput kopi ekspressonya.
“Berarti tidak ada yang enak disini,” ucap Lisa menanggapi perkataan Miss Viola.
“Ada satu, dan itu adalah ekspresso yang sedang kuminum ini, ini lebih nikmat dari apa yang kubayangkan,” sambung Lee Joon setelah mencicipi kopinya.
Mereka bertiga tersenyum kecil setelah mendengar ungkapan Lee Joon barusan, dan Lee Joon yang teringat dengan Yoona jadi penasaran dengan apa yang sedang ibunya dan Yoona bicarakan dengan waktu yang sudah cukup lama.
“Aku penasaran, apa yang sedang Yoona dan ibu bicarakan disana,” ucap Lee Joon sambil memandang ke arah rumah sakit.
“Ngomong-ngomong tuan muda, kapan pertemuan itu akan kita laksanakan?” tanya Miss Viola tiba-tiba.
“Pertemuan?” saut Lisa yang belum mengetahuinya.
“Jadi kau sudah tahu,” ucap Lee Joon.
“Pak Kim mengirimkan dokumen dan file yang berisi tentang rencananya tepat sebelum tuan datang ke Indonesia, jadi aku sudah menghapalnya. Tapi aku tidak menyangka kalau kita akan memakai jasa VVIP setelah sekian lama sejak tragedi laut merah Asia Tenggara!” ucap Miss Viola yang membuat Lee Joon dan Lisa terkejut penuh heran.
“Apa? apa maksudmu VVIP itu ada saat tragedi itu terjadi?” tanya Lee Joon pada Miss Viola dengan raut wajah serius.
“Benar sekali tuan muda, apa pak Kim tidak mengatakannya padamu? padahal dialah orang yang mati kedua seteleh ayah tuan muda tertembak karena melindungi tuan muda saat itu,” jelas Miss Viola.
“Tunggu sebentar, aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kau bicarakan saat ini,” saut Lisa.
“Apa maksudmu dengan dialah yang mati kedua setelah ayah? jika dia memang sudah mati saat tragedi itu, lalu kenapa sekarang dia masih hidup dan masih menjadi VVIP di Aqila Family?” ucap Lee Joon semakin tegang bertanya pada Miss Viola.
“Bukan ... bukan seperti itu tuan, anda salah faham. Sebenarnya VVIP itu adalah ayah dari VVIP yang sekarang,” ucap Miss Viola.
Mendengar jawaban dari Miss Viola, Lee Joon pun menghela nafas panjang sambil perlahan bersandar dikursinya. Lalu saat ia akan bertanya lagi pada Miss Viola, tiba-tiba handphone berdering, ia pun menerima panggilan itu.
“Halo, ada apa Ibu?” ucap Lee Joon bicara dengan orang yang meneleponnya yang ternyata itu adalah ibunya sendiri.
“Ibu menyuruhku kembali untuk menjemput Yoona, kau bisa menunggu disini bersama Miss Viola Lisa,” jawab Lee Joon sambil berdiri.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Lisa singkat.
“Padahal aku ingin mendengarkan siapa sebenarnya VVIP ini, tapi ada saja yang menggangu,” gumam Lee Joon sambil memakaikan jasnya.
“Mungkin pak Kim punya alasannya sendiri tidak memberitahu anda tuan,” sambung Miss Viola menanggapi Lee Joon.
“Entahlah ... bahkan dia tidak memberi tahuku kalau ia adalah mantan pasukan khusus juga. Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Lee Joon dan pergi kembali ke rumah sakit menjemput Yoona diruangan ibunya.
Sekarang dicafe hanya ada Lisa dan Miss Viola, Lisa yang masih penasaran dengan pertemuan yang dikatakan oleh Miss Viola lalu bertanya padanya.
“Maaf, bisakah kau jelaskan dengan pertemuan yang kau maksud itu,” ucap Lisa pada Miss Viola.
“Kau kemana saja sampai kau tak tahu tentang informasi penting seperti ini, apa kau hanya bisa minum anggur di Korea sana?” ledek Miss Viola.
“Ciikh ... jika kau tak mau mengatakannya tidak apa-apa, aku akan tanya pada pak Kim saja saat kami pulang ke Korea nanti,” ucap Lisa sedikit kesal.
“Ini,” ucap Miss Viola sambil memberikan sebuah flasdisk pada Lisa.
“Apa ini?” tanya Lisa.
“Itu adalah dokumen dan file yang dikirim oleh pak Kim padaku, aku sudah menghapalnya jadi ... pastikan sebelum kau dan tuan muda pulang kembali ke Korea kau sudah menghapal semua dokumen dan file yang ada didalam flasdisk itu,” ucap Miss Viola pada Lisa.
Sedangkan disisi lain, tepatnya didalam rumah sakit Mitra Family Group, nampak Lee Joon sudah sampai didepan pintu ruangan ibunya. Lee Joon pun masuk setelah ia mengetuk.
“Huh? sepertinya kalian terlihat lebih akrab saat pertamakali bertemu tadi,” ucap Lee Joon pada ibunya dan Yoona yang sedang bersenda gurau.
“Dimana Lisa?” tanya Yoona pada Lee Joon karena tak melihat kehadiran Lisa bersama Lee Joon.
“Dia sedang bersama Miss Viola di cafe depan,” ucap Lee Joon menjawab Yoona.
“Lee Joon ... ibu sudah diberitahu oleh pak Kim dengan apa yang akan kalian lakukan, jadi ibu juga akan membantu dengan bidang yang ibu kuasai,” ucap ibu Lee Joon.
“Jadi ibu sudah tahu ... padahal aku tidak ingin ibu terlibat, tapi karena sifat kalian yang sama-sama keras kepala aku tidak bisa melakukan apa-apa,” ujar Lee Joon.
“Apa? jadi maksudmu aku ini keras kepala,” saut Yoona dengan nada kesal mendengar perkataan Lee Joon.
“Yoona juga ikut, dan dia akan berperan sebagai pengawalmu agar dia juga bisa ikut dalam pertemuan itu,” ucap ibu Lee Joon pada anaknya.
“Apa?! tidak boleh, aku tidak setuju dengan apa yang ibu katakan barusan, bukankah ibu tahu ini sangat berbahaya, salah sedikit kita bisa memicu peperangan dan membuat salah faham antar negara, kenapa ibu mengizinkan dia ikut?” bantah Lee Joon yang terkejut dengan ucapan ibunya.
“Lee Joon! aku tahu ini akan membahayakan nyawaku, tapi orang yang telah membuat keluargamu itu juga telah membuat keluargaku hancur dan menderita. Jadi ... jangan bilang kalau aku tidak ada hubungannya lagi dengan balas dendam yang kau rencanakan ini, karena sekarang aku juga bagian dari keluarga ini,” ujar Yoona dengan penuh tatapan percaya diri dari matanya.
Melihat Yoona yang dengan tegas dan percaya diri dengan kemauannya itu, Lee Joon terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ibunya Lee Joon juga diam setelah perkataan Yoona itu. Dan ketika suasana yang hening itu, tiba-tiba Yoona berkata.
“Jika ... jika kita berhasil dengan rencana ini, aku pasti akan membayarmu dengan apa yang aku punya,” ucap Yoona tiba-tiba.
“Kau berjanji?” tanya Lee Joon menatap Yoona.
“Aku janji!” jawab Yoona penuh yakin dan tegas.
Malam itu pun menjadi malam terakhir mereka berada di Indonesia setelah mereka berbincang dengan ibu Lee Joon. dan sekarang hanya tinggal menunggu kabar dari pak Kim yang sedang mempersiapkan rencana besar itu.