Aqila Family

Aqila Family
Chapter 10



5 tahun kemudian, Selasa 01 Januari 2030.


Disebuah kampus di Korea selatan.


Nampak semua mahasiswa terutama para kaum adam di kampus itu terlena dengan kedatangan seorang dosen cantik yang berjalan melewati lorong kampus menuju ke sebuah kelas untuk mengajar. Dosen cantik itu sangat populer di kampusnya, karena kecantikan dan sifatnya yang dermawan membuat dia sangat didambakan oleh para kaum adam di kampus itu, bahkan para kaum hawa pun mengagumi kecantikannya yang menyilaukan itu.


Tak lama kemudian, ia pun sampai disebuah kelas yang akan ia ajarkan dengan mata kuliah yang ia tekuni. Dosen yang cantik rupawan itu pun membuka pintu kelas tersebut dan sontak para kaum adam di kelas itu terlena dan serasa terbang melihat kecantikannya yang bak dewi bulan.


“Ehemm ...,” ucap dosen cantik itu mendehem dan menyadarkan lamunan para kaum adam.


“Tidak sia-sia aku mendaftar ke kampus ini, ternyata aku bisa bertemu malaikat seperti ibu dosen disana,” gumam salah satu mahasiswa dikelas itu.


“Aku mendengarnya, jadi aku sarankan agar kamu tidak menjadikan itu alasan mu masuk ke kampus ini,” saut dosen cantik itu menanggapi perkataan salah satu mahasiswanya tadi.


Sontak semuanya tertawa mendengar perkataan dosen cantik itu yang menanggapi salah satu mahasiswanya. Dosen cantik itupun memulai kelas pada mata kuliahnya dengan sebuah perkenalan.


“Baiklah semuanya, karena ini adalah hari pertama kali kita bertemu maka saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya adalah-“


“Wahh!! ada apa itu, banyak sekali mobil mewah masuk ke sini,” teriak salah satu mahasiswa yang duduk didekat jendela kelas yang memotong perkataan dosen cantik itu.


Dosen yang cantik itu pun merasa kesal dan mengintruksikan ke seluruh mahasiwa yang ada dikelas itu untuk duduk kembali dibangku mereka, tapi perkataannya itu tak dihiraukan sama sekali oleh para mahasiswa.


Dosen cantik itupun mendekati jendela dan melihat keluar jendela karena ingin mencari tahu siapa bedebah yang telah mengganggu jam mengajarnya itu. Disaat ia melihat beberapa mobil mewah itu berhenti tepat ditengah lapangan kampus, saat itulah dari salah satu mobil paling megah dan paling menarik perhatian saat itu, pintunya terbuka perlahan mengangkat keatas, dan terlihat sepasan kaki yang keluar dari dalam mobil mewah itu dengan sepatu kulit mengkilat serta celana dasar merek ternama, perlahan tubuh orang itu keluar dari mobil dan betapa terkejutnya semua orang yang sedang menonton kedatangan pria tampan itu.


“Lee Joon?!! bukankah itu Lee Joon si batu es,” ucap dosen cantik itu yang terdengar sampai ke telinga pria tampan yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.


Pria itu pun menoleh ke sumber suara itu, dan menyapa orang yang berteriak itu dengan mengejeknya.


“Hei nenek sihir, ternyata kau masih ingat aku haha, bagaimana kabarmu Park Yoona?” saut pria tampan itu yang tak lain adalah Lee Joon.


Semua mahasiswa terkejut bukan kepayang, dosen tercantik dikampus mereka mengenal pria tampan dan kaya raya, sontak hal itu langsung menjadi topik dan gosip hangat di kampus itu.


10 menit kemudian, disebuah ruangan khusus para dosen.


Nampak Lee Joon dan dua orang kepercayaan ayahnya yang kini menjadi orang kepercayaanya yaitu pak Kim dan pak Lim berdiri dibelakang Lee Joon dihadapan para dosen.


“Wahh ... ternyata orang yang bernama Lim itu adalah dosen bahasa Indonesia, aku penasaran dengan pria yang tampan itu, apa dia juga akan menjadi dosen bersama kita disini,” bisik salah satu dosen dengan dosen lain.


“Aku juga berpikir begitu, jika benar maka aku yakin para mahasiswi akan punya idola mereka yang baru selain ibu Park Yoona,” sambung salah satu dosen.


Park Yoona yang mendengar pebisikan antara dosen itu pun merasa tersaingi dan kesal.


“Aku harap dia tidak menjadi dosen disini, bagaimana mungkin manusia berhati kutub utara itu bisa menjadi dosen disini, hahh ...,” gumam Park Yoona.


“Dan yang terakhir, aku perkenalkan pada bapak dan ibu sekalian, pak Lee Joon yang akan menjabat sebagai rektor kampus ini, kalian bisa memanggilnya dengan Pak-“


“Rektor!” sambung Lee Joon memotong perkataan pak Kim.


Mendengar bahwa manusia berhati es itu yang akan menjadi rektor kampus, Park Yoona sangat terkejut dan tak menyangkanya, apa lagi dengan tiba-tiba seperti ini.


“Sebentar pak, kalau boleh tahu apa yang terjadi dengan rektor kami yang lama?” tanya Park Yoona.


“Ah maaf, sepertinya saya lupa mengatakan hal itu. Pak rektor yang lama telah dipindahkan ke sebuah kampus swasta di wilayah Ansan,” ujar pak Kim menjawab Yoona.


Mendengar itu Park Yoona hanya bisa pasrah menerima keadaan, ia bahkan tak tahu bahwa pak Kim bekas dosennya dulu semasa masih berkuliah bersama Lee Joon kini telah menjabat sebagai menteri pendidikan Korea Selatan.


“Baiklah, mungkin ada yang ingin pak rektor sampaikan kepada para dosen, kami silahkan pak,” ucap pak Kim pada Lee Joon sembari memberi microfon padanya.


“Baiklah, selamat siang semuanya. Mungkin saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi karena pak menteri sudah memperkenalkan saya diawal tadi, jadi disini saya hanya akan mengatakan bahwa saya berharap kerja samanya selama saya menjadi rektor di kampus ini. Dan sebenarnya saya juga mantan alumni di kampus ini. Sekali lagi saya mohon kerja samanya kepada bapak dan ibu dosen sekalian, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih,” ucap Lee Joon pada semua dosen diruangan itu.


Hari yang melelahkan ini pun berakhir, terlihat semua orang sudah pulang dan hanya meninggalkan Lee Joon dan pak Lim yang baru saja berkemas untuk pulang.


“Pak, apa bapak ingat dia?” tanya Lee Joon pada pak Lim ditengah parkiran kampus.


“Bagaimana aku tak ingat dengan teman-teman lamamu tuan, apa yang harus kita lakukan? aku yakin dia sedang membawa bom nuklir berisi pertanyaan yang berton-ton,” ucap pak Lim pada Lee Joon.


Sedangkan dari ujung pandangan Lee Joon dan pak Lim terlihat Park Yoona yang akan menghampiri mereka, hingga sesaat kemudian Park Yoona pun sampai dan berdiri tepat didepan Lee Joon.


“Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, jadi maukah kau ikut aku ke suatu tempat? Kau akan tahu semuanya jika kau ikut,” ucap Lee Joon pada Yoona.