Aqila Family

Aqila Family
Chapter 29



“Dialah yang akan membawa kita pergi dari Singapura dengan kapalnya,” ucap pak Kim menjawab Lee Joon.


“Aku semakin penasaran dengan sosok VVIP ini,” ucap Lee Joon sambil menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya di atas meja.


“Kau akan tahu ketika kita sudah berhasil menculik iblis tua itu,” ucap pak Kim pada Lee Joon.


Sambil mengangkat kepalanya dari posisi menunduk dan raut wajah yang sangat percaya diri, sorotan mata Lee Joon sudah menjelaskan bahwa ia sudah mengambil keputusan mutlak.


“Kalau begitu ... mari kita lakukan!” ucap Lee Joon tegas dengan sorot mata penuh ambisi.


1 jam kemudian setelah pertemuan besar para petinggi dan eksekutif Aqila Family di hotel megah dan mewah yang menjadi markas utama Aqila Family, diruangan yang sama nampak semua orang sudah pergi kecuali Lee Joon dan ketiga orang keperccayaannya itu, yaitu pak Kim, pak Lim, dan ibu Kang. Sepertinya mereka baru saja selesai berbincang.


Dan saat Lee Joon hendak mau minum, tiba-tiba ponsel pintarnya berdering, dan ia pun menerima panggilan itu.


“Halo?” ucap Lee Joon menjawab panggilan.


“Ini aku tuan, apa pertemuannya sudah selesai?” ucap suara seorang wanita yang menelepon Lee Joon.


“Lisa?” ucap Lee Joon.


10 menit kemudian Lisa dan Yoona pun datang menemui Lee Joon dan yang lain diruangan yang sama, tempat pertemuan para petinggi dan eksekutif yang baru saja selesai 1 jam yang lalu.


“Maaf tuan, kami datang secara tiba-tiba,” ucap Lisa pada Lee Joon.


“Apa yang terjadi?” tanya ibu Kang pada Lisa dan Yoona.


“Apa ada hal serius yang terjadi?” sambung pak Kim.


“Duduklah, katakan pada kami apa yang membuat kalian datang kesini saat hari sudah larut malam begini,” saut pak Lim mempersilahkan Lisa dan Yoona untuk duduk.


Lisa langsung menoleh ke arah Yoona setelah mendengar pertanyaan dari senior-seniornya itu, dan tanpa pikir panjang Yoona pun menjelaskan tujuan kedatangannya ke hotel megah itu saat hari sudah larut malam itu.


“Aku tidak bisa menunggu besok! karena Lisa sudah memberitahuku bahwa ada seseorang yang mengenal dan mengetahui tentang ibuku sebelum ia meninggal, jadi aku sudah memutuskan untuk menemuinya,” ucap Yoona pada semua orang dengan raut wajah penuh percaya diri.


“Apa?! siapa orang yang kau maksud itu? kenapa kau tidak mengatakan apapun pada kami Lisa?” tanya ibu Kang pada Yoona dan Lisa.


“Siapa dan dimana orang itu?” tanya Lee Joon sambil menatap Yoona penuh arti.


“Maaf tuan, aku tahu ini mungkin lancang tapi orang yang kami maksud tidak ingin identitasnya diketahui, maafkan aku tuan,” saut Lisa yang menjawab pertanyaan dari tuan mudanya.


Lee Joon menatap Yoona dengan raut wajah serius, dan begitupun Yoona yang juga menatap Lee Joon dengan serius. Dan tanpa pikir panjang Lee Joon pun berkata.


“Baiklah,” ucap Lee Joon singkat.


“Tapi tuan muda, kita masih belum tahu siapa orang yang akan mereka temui nanti, bagaimana kalau orang itu adalah orang yang berbahaya,” saut ibu Kang yang kurang setuju dengan keputusan Lee Joon memberi Yoona dan Lisa ijin untuk pergi.


“Tapi aku punya satu syarat,” ucap Lee Joon pada Yoona.


“Apa itu syarat yang kau maksud?” tanya Yoona pada Lee Joon.


“Tentu saja aku akan ikut bersama kalian,” ucap Lee Joon yang membuat Yoona dan Lisa berdegik dan saling menoleh satu sama lain.


“Bagaimana Lisa?” tanya Yoona pada Lisa.


“Kalau begitu aku harus bertanya pada orang itu apakah boleh menambah satu orang lagi untuk menemuinya. Aku permisi sebentar untuk meneleponnya,” ucap Lisa dan pergi menjauh dari mereka.


Tak lama kemudian Lisa kembali setelah menelepon orang yang akan mereka temui itu, dan mengatakan hasil dari perbincangan mereka.


“Baiklah tuan, beliau setuju dengan syarat yang tuan berikan,” ucap Lisa pada Lee Joon.


Mendengar itu, Lee Joon pun kembali menoleh ka arah Yoona dan berkata.


“Kalau begitu kapan kita pergi menemuinya?” tanya Lee Joon pada Yoona.


“Karena ini sudah lewat tengah malam, kita akan pergi 6 jam dari sekarang di bandara,” jawab Yoona.


“Bandara? apa dia bukan orang Korea?” tanya pak Lim penasaran.


“Kalau begitu aku juga akan ikut,” sambung ibu Kang.


“Maaf ibu kang, tapi ia hanya mau bertemu dengan orang yang sedikit, ia tidak mau menambah satu orang lagi setelah tuan muda tadi,” jawab lisa menanggapi ibu kang.


“Kenapa bisa begitu, apa dia adalah orang penting? berlagak sekali dia,” ucap ibu Kang kesal.


“Tidak usah khawatir ... aku dan Lisa bisa menjaganya dengan baik, jadi ... aku mohon pada kalian tolong persiapkan apa yang perlu disiapkan disini, selagi kami pergi dengan Yoona,” ucap Lee Joon.


“Baiklah kalau begitu, jaga diri kalian baik-baik dan jangan khawatir dengan rencana kita, aku pastikan ketika kau pulang nanti rencananya sudah siap dan kita tinggal mengeksekusinya,” ucap pak Kim pada Lee Joon.


“Baiklah pak Kim, aku serahkan yang disini pada kalian,” ucap Lee Joon menjawab pak Kim.


Keesokan paginya, Lee Joon, Yoona, dan Lisa pun berangkat ke bandara dan pergi ke tempat tujuan mereka yang masih tak diketahui oleh Lee Joon. Sedangkan di Korea, diambil alih oleh pak Kim sebagai wakil kepala keluarga sementara mengisi posisi Lee Joon karena pak Kim lebih tua dari pak Lim.


Malam harinya, setelah penerbangan yang cukup melelahkan. Lisa, Yoona, dan juga Lee Joon pergi menuju ke sebuah rumah sakit megah dan besar untuk bertemu seseorang yang pernah Lisa katakan pada Yoona tentang seseorang yang tahu masa lalu ibunya sebelum ibu Yoona meninggal.


“Kita sudah sampai,” ucap Lisa pada Yoona dan Lee Joon.


“Ini rumah sakit yang mewah dan besar menurutku. Tapi kenapa dengan ekspresi wajahmu itu?” ucap Yoona menoleh melihat Lee Joon yang berwajah datar.


“Jika aku tahu kalau kita akan ke Indonesia, aku lebih baik ... ah sudahlah ayo masuk,” ucap Lee Joon pada Yoona dan Lisa lalu berjalan duluan masuk kedalam rumah sakit megah itu.


Setibanya mereka bertiga didalam rumah sakit itu, alangkah terkejutnya Yoona melihat semua direktur dan para staff pegawai yang menyambut kedatangan mereka sambil membungkukkan badan.


“Selamat datang tuan muda!” ucap semua orang dengan gemuruh sambil membungkuk.


Setelah sambutan yang tak terduga itu, sekarang Yoona dan Lee Joon serta Lisa akan menuju ke sebuah ruangan yang sudah diduga oleh Lee Joon. Sesampainya mereka bertiga diruangan itu, Yoona pun terkejut untuk kedua kalinya.


“Apa?! ibu?” sentak Yoona terkejut mendengar Lee Joon memanggil wanita yang ada didepannya itu dengan sebutan ibu.


“Maaf aku tidak sempat mengatakannya padamu, tapi orang yang aku maksud benarlah beliau, ibu dari tuan muda,” saut Lisa menjelaskan pada Yoona.


“Terimakasih sudah mengantarnya Lisa, kalian bisa pergi selagi aku bersamanya,” ucap ibu Lee Joon.


“Di ... dia bisa bicara dengan lancar menggunakan bahasa Korea!” sergah Yoona terkejut.


“Tolong bersikap sopan saat kamu bersama beliau, beliau juga menjabat sebagai menteri kesehatan di negara ini, jadi tentu saja bisa berbicara dengan bahasa Korea, beliau sangat pintar,” ucap Lisa pada Yoona.


“Ah maafkan saya nyonya,” ucap Yoona membungkuk pada ibu Lee Joon.


“Tidak apa-apa, bolehkah kutahu siapa namamu?” tanya ibu Lee Joon pada Yoona yang gugup.


“Nama saya Yoona bu, Park Yoona,” ucap Yoona menjawab ibu Lee Joon kaku.


“Haha ... tidak usah tegang, santai saja denganku. Kalau begitu aku juga akan memperkenalkan diriku padamu, tapi bukan sebagai orang besar seperti menteri kesehatan, melainkan sebagai seorang Ibu. Baiklah ... namaku Nadien Herdiana. M. Kau bisa memanggilku dengan Ibu Nadien,” ujar ibu Lee Joon pada Yoona.


“Baik bu Nadien,” jawab Yoona canggung.


“Hei, kenapa kau tiba-tiba canggung seperti ini? padahal tadi kau begitu bersemangat seperti anak kecil yang akan pergi ke sebuah wahana,” ucap Lee Joon pada Yoona.


“Aaaakh!!” suara teriakan Lee Joon berkumandang.


“Maafkan aku, tapi aku rasa omonganmu perlu dihentikan,” ucap Yoona pada Lee Joon setelah mencubitnya tiba-tiba.


“Apa kau bilang, wahh ... kau benar-benar jahat padaku, padahal kita berdua sudah pernah berci-“


“Ah ... mungkin tuan muda masih mabuk setelah naik pesawat dalam waktu lama, haha,” ucap Yoona memotong perkataan Lee Joon dan tiba-tiba mendekap mulut Lee Joon dengan tanganya.


“Mmmh! Mmmhm,” suara Lee Joon yang tertahan karena didekap oleh tangan Yoona.


Melihat kelakuan Yoona didepan ibu tuan mudanya saat ini, Lisa langsung menarik Yoona dan menegurnya.


“Aku sudah bilang padamu untuk menjaga sopan santun saat bersama nyonya bukan,” ucap Lisa pada Yoona kesal dan malu.


“Waahh ... aku hampir kehabisan nafasku. Ibu ... ibu lihatkan apa yang dia lakukan padaku, tolong obati dia Bu,” ucap Lee Joon pada ibunya.


“Hahaha ... aku tidak pernah menyangka ada orang bisa membuat putraku begini, ini cukup membuatku senang melihat putraku punya orang seperti ini didekatnya,” ucap ibu Lee Joon setelah melihat kekonyolan Yoona dan putranya sendiri.


“Ibu?” ucap Lee Joon bingung sambil melihat ibunya yang tersenyum.


Lee Joon yang melihat ibunya tersenyum itu untuk sesaat merasa bingung dan juga senang, karena baru kali ini ia melihat ibunya senyum dan tertawa bahagia tanpa dibuat-buat.


“Lisa, lepaskan Yoona dari tanganmu,” ucap ibu Lee Joon pada Lisa yang memegang tangan Yoona.


“Baiklah nyonya, maafkan saya,” jawab Lisa dan melepaskan tangannya dari Yoona.


Ibu Lee Joon mendekat ke arah Yoona dan memegang tangannya dengan lembut penuh arti, sedangkan Yoona yang melihat itu merasa bingung dan terkejut karena ibu Lee Joon yang tiba-tiba menggenggam kedua tangannya itu.


“Kau sangat mirip dengan almarhum ibumu, sifatnya, gaya bicara, sikapnya, semuanya sangat mirip denganya ... aku merasa sedang melihat Park Hye Jin,” ucap ibu Lee Joon sambil menatap Yoona penuh arti.


Mendengar perkataan ibu Lee Joon padanya, tampak jelas dari mata Yoona yang mulai berlinang air mata, begitupun dengan ibu Lee Joon yang juga menahan linangan air matanya. Dan tiba-tiba Lee Joon menyela mereka disaat seperti itu.


“Ibu, bisakah kau mengobati mulutku? aku rasa mulutku sedikit tergores saat dia menutup mulutku tadi dengan tangannya,” ucap Lee Joon yang membuat ibunya kesal.


“Cikhh!, apa kau tidak lihat kami sedang sibuk disini. Keluar!” ucap ibu Lee Joon kesal.


“Tapi bu-“


“Keluar ibu bilang! Jangan pernah mengganggu percakapan wanita saat mereka sedang berbincang,” ucap ibu Lee Joon memarahi anaknya.


“Maafkan aku,” jawab Lee Joon takut dengan amarah ibunya.


“Temuilah Miss Viola dicafe depan rumah sakit ini, dan jangan kembali sebelum ibu suruh,” ucap ibu Lee Joon pada Lee Joon dan Lisa.


“Baiklah,” ucap Lee Joon dan meninggalkan ruangan ibunya bersama Lisa.


Dan sekarang hanya tinggal Yoona dan ibu Lee Joon diruangan itu, mereka pun duduk di sofa dan mulai berbincang membahas tentang kematian almarhum ibunya Yoona.


“Maafkan aku, aku rasa putraku banyak menyusahkanmu di Korea sana,” ucap ibu Lee Joon pada Yoona.


“Ah ... tidak juga, malah sebaliknya akulah yang selalu ditolong olehnya,” jawab Yoona.


“Aku tidak menyangka bahwa kalian selama ini masuk di kampus yang sama, mungkin ini memang takdir,” ucap ibu Lee Joon.


“Aku juga tidak menyangka orang yang dikatakan Lisa adalah ibunya Lee Joon,” ucap Yoona.


“Itulah kenapa aku bilang ini adalah takdir,” ucap ibu Lee Joon.


Mereka diam sesaat setelah berbincang sedikit dan basa-basi, Yoona yang dari tadi sudah menahan mulutnya untuk bertanya tentang ibunya pun mulai membuka mulutnya dan bertanya pada ibu Lee Joon.


“Aku ingin bertanya padamu,” ucap Yoona.


“Silahkan,” jawab ibu Lee Joon.


“Apa benar kau mengetahui tentang ibuku?” tanya Yoona pada ibu Lee Joon.


Ibu Lee Joon terdiam sesaat, ia teringat tentang kenangannya bersama ibunya Yoona. Ibu Lee Joon pun dengan raut wajahnya yang sedih menoleh ke arah sebuah lemari, ia pun pergi membuka lemari itu dan membawa sebuah album foto lalu memberikannya pada Yoona.


“Bukalah album foto itu, kau akan tahu setelah melihatnya sendiri,” jawab ibu Lee Joon.


“Apa maksudnya ini?” ucap Yoona terkejut setelah membuka album foto itu.