
Dijalan raya Singapura.
Rombongan Lee Joon sudah bergabung dengan orang-orang pos dua yang bertugas mengawal mereka sampai ke pelabuhan dermaga. Namun dalam perjalanan mereka menuju pelabuhan dermaga, tiba-tiba mereka dikejar oleh beberapa mobil polisi dari belakang.
“Apa mereka sudah mengetahuinya? Ini akan sulit jika orang-orang sudah mengetahuinya, bagaimana ini pak Lim?” ucap Lee Joon cemas.
“Jangan khawatir tuan muda, coba lihatlah lebih jelas lagi, bukankah polisi-polisi itu adalah orang kita. Mereka menyamar dengan baik, dan sebenarnya tugas dari pos dua tidak sesederhana itu, mereka bertugas menyamar menjadi petugas aparat Singapura dan seolah-olah mereka sedang mengejar kita padahal sebenarnya mereka sedang mengawal kita,” jelas pak Lim pada Lee Joon.
Lee Joon pun tenang ketika mendengar perkataan pak Lim. Tiba-tiba ponsel Lee Joon berdering dan ia pun menerima panggilan itu.
“Halo, pak Kim?” ucap Lee Joon.
“Kami sudah sampai di pelabuhan dermaga bersama dengan nyonya dan para eksekutif, tuan sudah sampai mana?” ucap pak Kim pada Lee Joon.
“Kami akan sampai sebentar lagi,” jawab Lee Joon.
“Baiklah kalau begitu tuan muda, kami menunggumu disini cepatlah sedikit,” ucap pak Kim.
“Iya aku faham, sampai ketemu di pelabuhan dermaga,” ucap Lee Joon pada pak Kim lalu menutup teleponnya.
Disisi lain, pak Choi dan pak Seo tengah mengikuti Lee Joon dengan mobil mereka yang baru saja keluar dari basemen tempat acara pertemuan diadakan. Tiba-tiba ponsel pak Choi berdering.
“Halo, ini aku. Aku sudah memberitahu negara-negara tetangga yang dekat dengan Singapura, mereka sudah mengirimkan masing-masing satu kapal perang kesana,” ucap pak Kwon Tae.
“Baiklah, kami juga sedang menuju ke arah presiden seperti yang kau katakan,” ucap pak Choi.
“Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu,” ucap pak Kwon Tae lalu menututp teleponnya.
Tiba-tiba mobil yang dinaiki oleh pak Choi dan pak Seo ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikenal, mobil yang tak dikenal itupun beralih ke sisi samping mobil pak Choi, dan dari jendala mobil tak dikenal itu seseorang mengeluarkan pistol lalu menembak ban bagian depan mobil pak Choi, sontak mobil yang ditumpangi oleh pak Choi dan pak Seo oleng dan menabrak pembatas jalan lalu terpental keluar jalan raya setelah itu meledak dengan dasyat.
Disisi lain, didalam mobil yang dinaiki Lee Joon.
Tiba-tiba ponsel Lee Joon berdering dan ia pun menerima panggilan itu.
“Halo?” ucap Lee Joon.
“Kami sudah membereskan tuan muda,” ucap orang yang menelepon Lee Joon.
“Bagus, cepat susul kami kita menuju ke pelabuhan dermaga,” ucap Lee Joon.
“Baik tuan,” jawab orang yang menelepon Lee Joon lalu mematikan teleponnya.
“Ada apa,” tanya ibu Kang pada Lee Joon.
“Pak perdana menteri dan pak menteri pertahanan berhasil dilumpuhkan oleh orang kita,” jawab Lee Joon.
Pak Lim pun menambah laju mobil yang ia bawa itu menuju ke pelabuhan dermaga. Sedangkan di pelabuhan dermaga mereka sudah ditunggu oleh ibu Lee Joon, pak Kim, dan sosok yang masih misterius yaitu orang yang memakai topeng kucing dengan sebutan VVIP. Mereka sudah stand by disana dan sebuah kapal perang yang terparkir di pelabuhan dermaga itu.
“Siapa orang dengan topeng kucing itu pak Kim?” tanya ibu Lee Joon pada pak Kim.
“Kita akan mengetahuinya nanti nyonya,” jawab pak Kim singkat pada ibu Lee Joon.
Didalam mobil Lee Joon, Yoona yang tengah melihat layar ponselnya tiba-tiba terkejut dengan apa yang telah dia lihat di layar ponselnya, ia pun memberitahu Lee Joon.
“Wahh ... ini gawat! sepertinya polisi lokal sudah tahu kalau kita sedang menculik presiden Korea, lihat ini! bahkan di internet beritanya sudah menyebar luas, dan para negara tetangga juga sudah mengirimkan masing-masing satu kapal perang untuk mengepung Singapura, bagaimana ini apa yang harus kita lakukan?” ujar Yoona mulai cemas.
“Tenang saja, kita masih punya rencana cadangan jika hal itu terjadi, kita percayakan saja pada pak Kim,” saut pak Lim menanggapi apa yang dikatakan Yoona.
“Bagaimana dengan pak perdana menteri dan menteri pertahanan? apa ada berita tentang mereka?” tanya Lee Joon.
“Sepertinya mereka baru saja dibawa ke rumah sakit setelah di evakuasi dari mobil mereka yang terbakar, hasilnya juga sudah keluar, dan polisi juga sudah menyatakan bahwa mayat-mayat itu benar adalah mayat perdana menteri Choi dan menteri pertahanan Seo Dae Young,” jawab Yoona sambil melihat layar ponselnya membaca internet.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di pelabuhan dermaga dimana ibu, pak Kim, dan VVIP telah menunggu mereka. Lee Joon pun keluar dari mobilnya diikuti pak Lim, ibu Kang, dan Yoona yang langsung mengeluarkan presiden Gong dari mobil dibantu oleh pak Lim dan mendudukkan presiden Gong di atas kursi roda, setelah itu mereka pun masuk menaiki kapal perang yang sudah menunggu mereka itu, sesaat Lee Joon sempat melihat bendera yang ada di kapal perang itu, dan ia cukup terkejut dengan apa yang dia lihat, yang ternyata kapal itu adalah milik Indonesia karena bendera yang terkibar di kapal itu adalah merah putih.
Setelah rombongan Lee Joon masuk dan menaiki kapal perang itu, VVIP yang sedang berada di dek kapal bagian depan mengangkat tangannya pada kepala kemudi kapal pertanda kapal harus pergi sekarang juga. Kapal perang itupun mulai bergerak menjauh dari pelabuhan dermaga dan meninggal Singapura. Dan kini Lee Joon beserta rombongannya sampai di dek kapal bagian depan yang sudah ditunggu oleh pak Kim, ibu Lee Joon, para eksekutif, dan VVIP dengan topeng kucingnya. Tiba-tiba presiden Gong yang tengah terikat dikursi roda sadar dan sangat terkejut karena mendapati dirinya yang sedang terikat di kursi roda baik kaki maupun tangannya.
“Apa ini?! lepaskan Aku!” ucap presiden Gong dengan nada tinggi.
Melihat presiden Gong yang telah sadar, ibu Lee Joon langsung mendekati presiden Gong dan berdiri tepat didepannya. Presiden Gong sangat terkejut dan tak menyangka bahwa orang yang berdiri didepannya saat ini adalah menantunya sendiri yaitu ibu Nadien Herdiana. M, istri dari anaknya sendiri.
“Kau wanita jal*ng yang telah menghancurkan anakku, dasar brengs*k! apa kau sudah gila menculikku seperti ini? apa kalian tidak takut jika kalian menculikku seperti ini semua negara di Asia akan memburu kalian!” ucap presiden Gong marah penuh emosi.
Perlahan ibu Lee Joon mendekat ke arah presiden Gong yang terikat dikursi roda, dan saat tepat berada didepan presiden Gong hal yang tak terduga pun terjadi, karena ibu Lee Joon yang langsung meludahi presiden Gong tepat di wajahnya.
“Aku tidak takut sama sekali, jangan semua negara di Asia ... bahkan jika seluruh dunia memburu kami aku tidak akan takut sebelum tua bangka sepertimu mati seperti kau membunuh suamiku,” ucap ibu Lee Joon dengan penuh emosi dan linangan air mata.
“Hahaha ... apa kau bilang? bukankah anakku mati karena kamu, kamulah yang telah membunuhnya ... jika saja anakku tidak jatuh cinta padamu dan menerima perjodohan dengan Park Hye Jin, mungkin dia masih hidup sekarang,” bantah presiden Gong menyalahkan ibu Lee Joon.
Mendengar ucapan presiden Gong yang menyalahkannya, sontak ibu Lee Joon naik pitan dan hendak menampar presiden Gong, namun sesaat sebelum tangan ibu Lee Joon itu mendarat ke wajah presiden Gong, ia dihentikan oleh anaknya sendiri yaitu Lee Joon yang menahan tangan ibunya itu agar tak terprovokasi omongan kakeknya itu.
“Cukup ibu ... ibu tidak perlu mengotori tangan ibu karena menampar tua bangka ini, sebaiknya ibu menenangkan diri dulu didalam kapal, biarkan aku yang menyelesaikannya,” ucap Lee Joon pada ibunya.
Semua orang hanya diam melihat ditempat, dan Lee Joon pun menyuruh bawahannya untuk mengantarkan ibunya masuk kedalam kapal untuk menenangkan diri. Dan setelah ibunya masuk kedalam kapal, sekarang hanya tinggal pak Kim, ibu Kang, Lisa, Miss Viola, pak Lim, Yoona, dan VVIP yang berada dibelakang Lee Joon. Semua anggota Aqila Family dari petinggi dan eksekutif hingga anggota biasa pun ada disana seperti membulati presiden Gong. Lee Joon tanpa basa-basi langsung memerintahkan orangnya untuk mengikat dan menggantung kakeknya itu diujung penembak rudal dan menyuruh arah dari penembak rudal itu mengarah ke laut lepas, agar bisa menggantung kakeknya itu tepat di atas laut.
“Hei? tunggu ... tunggu dulu, apa yang akan kalian lakukan padaku? hei! lepaskan aku!” ucap presiden Gong penuh rasa cemas dan takut.
Para anggota Aqila Family yang diperintahkan oleh Lee Joon itu pun melepaskan ikatan presiden Gong dari kursi roda dan mengikatnya balik lalu menggantungkannya tepat diujung penembak rudal yang mengarah ke laut lepas. Melihat dibawahnya adalah laut lepas yang kedalamannya tak terhingga, presiden Gong tiba-tiba berteriak dan meminta ampun seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
“Tolongg! tolong ampuni aku, aku salah ... aku memang bersalah karena telah membunuh ayahmu, tolong lepaskan aku ...,” rintih presiden Gong dengan linangan air mata yang memohon ampun pada cucunya itu.
Yoona tiba-tiba menghampiri Lee Joon dan mengatakan kalau perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh Lee Joon ini sudah diluar batas wajar, dan ia berusaha untuk membujuk Lee Joon agar mencari cara lain untuk menghukum kakeknya itu.
“Lee Joon, aku tahu kau sangat marah dan benci pada kakekmu, tapi aku rasa ini sudah kelewatan,” ucap Yoona pada Lee Joon.
“Kakek? kakekku hanya satu dan itu adalah Abdul Muthalib, aku tidak ingat pernah mempunyai kakek busuk seperti dia,” jawab Lee Joon tanpa menoleh ke arah Yoona.
“Tapi ini sudah kele-“
“Yoona! jangan ikut campur dan kembalilah kesini,” sergah ibu Kang memotong perkataan keponaannya itu.
Yoona pun kembali ke tempat ia berdiri sebelumnya setelah dibentak oleh ibu Kang. Dan sekarang semua orang terfokus pada presiden Gong yang menggelantung terikat di ujung penembak rudal kapal perang itu. Semua orang semakin tegang saat Lee Joon mengeluarkan pistol dari dalam jasnya, ia lalu mengarahkan pistol itu pada kakeknya yaitu presiden Gong yang menggelantung dan terikat di penembak rudal.
“Maafkan aku ... aku benar-benar minta maaf, aku salah ... aku salah karena sudah membunuh anak si-“
“Doorr!! Doorr!! Doorr!!!” suara tembakan yang berturut-turut menderat tepat di tubuh presiden Gong.
Dengan penuh linangan air mata, terlihat dari pistol Lee Joon yang masih mengeluarkan asap setelah menembak presiden Gong beberapa kali, dan dengan linangan air mata yang masih mengalir dipipinya, Lee Joon pun berkata pada kakeknya yang sudah mati menggelantung itu.
“Tidak ada kata maaf untuk orang yang tidak pernah merasa bersalah. Semoga kau tenang di Neraka sana,” ucap Lee Joon pada jasad yang masih menggelantung itu.
Lee Joon pun menembakkan peluru terkhirnya ke arah tali yang menggantung kakeknya itu, tali itupun putus dan jasad dari kakeknya itu terjun bebas ke laut. Semua orang yang ada di kapal perang itupun mendekat ke tepian kapal dan melihat air laut yang sudah berubah menjadi merah karena darah dari presiden Gong yang mengapung ditengah laut itu.
“Akhirnya kita bisa membalaskan dendam bos,” ucap pak Lim.
“Iya ... aku harap bos bisa melihat ini dari sana,” sambung ibu Kang.
“Bahkan manusia kejam juga bisa mati dengan kejam,” saut Miss Viola.
Mereka semua melihat jasad presiden Gong yang terombang-ambing dibawa ombak. Dan saat semua orang teralihkan dengan jasad presiden Gong yang mengapung, tiba-tiba sosok VVIP mendekat ke arah Lee Joon dan mengeluarkan pistol dari dalam jasnya, ia langsung meletakkan muncung pistolnya itu tepat didepan kening Lee Joon.
Melihat Lee Joon yang ditodongkan pistol tepat dikeningnya itu, sontak semua anggota Aqila Family juga mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya pada orang yang disebut VVIP itu. Dan Lee Joon dengan tenang lalu berkata padanya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Lee Joon pada VVIP itu dengan sorot mata yang tajam penuh percaya diri.
“Hei! apa yang kau lakukan? apa kau ingin berkhianat, Huh?!!” ucap pak Lim dengan nada keras pada VVIP.
“Cepat jauhkan pistol itu dari tuan muda, kami tahu kau menggantikan almarhum ayahmu sebagai VVIP, tapi ini akan mengecewakan keputusan terkahir yang ayahmu buat, apa kau yakin dengan ini?” ucap ibu Kang pada VVIP itu.
Mendengar perkataan dari ibu Kang, orang yang menjadi VVIP itupun perlahan menurunkan senjatanya dari kening Lee Joon, sementara orang-orang masih mengarahkan senjata mereka ke arah VVIP itu. Ia lalu berkata pada Lee Joon.
“Aku tak menyangka kalau kita punya nasib yang sama tentang ayah kita,” ucap VVIP itu pada Lee Joon dengan sorot mata penuh arti dari balik topengnya itu.
VVIP itupun perlahan membuka topengnya hingga sosok yang ada dibalik topeng itu pun terkuak dan membuat semua orang yang melihatnya terkejut bukan main, terutama Lee Joon.
“Kau?!! Jun Hyung!” ucap Lee Joon tak percaya.