Aqila Family

Aqila Family
Chapter 4



Jum’at 24 April 2025 ....


Sekitar pukul 08.00 pagi, Mereka sampai di puncak. Semuanya turun dari mobil dan berkumpul disebuah padang rumput.


“Baiklah semuanya, bawa barang-barang kalian jangan sampai ada yang tertinggal,” teriak Jun Hyung pada semua mahasiswa baru.


“Baiklah, disini kita akan mendirikan tenda, tolong bagi yang laki-laki silahkan ambil tenda dari bagasi bus, dan yang perempuan silahkan cari tempat mendirikan tenda perkelas,” ucap pak Kim pada semua mahasiswa baru.


Semua mahasiswa baru pun bergerak mengerjakan tugasnya masing-masing, namun berbeda dengan panitia dan dosen, tenda mereka cukup besar dan hanya satu. pak Kim pun menyuruh Jun Hyung dan Lee Joon untuk mendirikan tenda panitia disisi lain.


“Hei, kalian berdua cepat dirikan tenda kita, aku akan mencari tempat yang cocok,” Ucap pak Kim pada Jun Hyung dan Lee Joon.


Lee Joon dan Jun Hyung pun pergi mengambil tenda di bagasi bus, dan lagi-lagi ia bertemu dengan pak supir yang sempat minum kopi bersamanya semalam.


“Apa kalian juga membutuhkan tenda?” tanya si pak supir pada Lee Joon.


“Iya pak, tenda untuk panitia,” pungkas Jun Hyung pada si pak supir.


“Oh tenda panitia, sebentar, kalau tenda panitia tidak ada dibagasi yang ini, tunggu sebentar ya, aku rasa aku meletakkannya di bagasi samping,” ujar pak supir.


Selang beberapa saat, pak supir datang dengan tas besar segi empat.


“Ini, karena ukurannya yang besar dan cukup berat aku kesulitan mengeluarkannya dari bagasi, maaf kalian lama menunggu ya,” ucap pak supir pada Lee Joon dan Jun Hyung.


“Baik pak, terimakassih. Kalau begitu kami permisi,” ucap Jun Hyung pada si pak supir dan mengajak pergi Lee Joon.


“Ah tidak apa-apa,” jawab pak supir.


“Jun Hyung, kamu pergi duluan saja, aku ada urusan sebentar dengan pak supir,” sambung Lee Joon pada Jun Hyung.


“Tapikan ini berat, apa kamu tidak tega melihat ku seperti ini,” jawab Jun Hyung.


“Tolong pergi cepat, nanti Pak Kim menggagalkan kita di semester ini, apa kau tidak mau lulus,” ucap Lee Joon pada Jun Hyung.


“Kalau begitu cepatlah, kami juga butuh bantuanmu untuk mendirikan tenda besar ini,” jawab Jun Hyung.


“Baiklah, aku akan segera kesana setelah selesai,” ucap Lee joon.


Jun Hyung pun pergi meninggalkan Lee Joon dan pak supir itu di bus. Mereka pun masuk ke bus untuk mengobrol.


“Jadi ... apa yang mau katakan? Apa kau berubah pikiran terhadap perempuan itu?” tanya pak supir pada Lee Joon.


“Tidak bukan itu, tapi sebelum itu bisakah kau menutup pintu bus ini,” jawab Lee Joon.


“Oke baiklah, sepertinya ini adalah percakapan penting sampai kau menyuruhku untuk menutup pintu bus segala,” pak supir pun menutup pintu bus.


“Aku tidak akan bertele-tele, jadi apa bapak tahu buku apa yang aku baca semalam?” tanya Lee Joon dengan wajah serius.


“Buku yang kau baca semalam? Oh itu ... aku tidak tahu karena judul bukunya tertutup kursi didepanmu, memangnya kenapa? Aku kira kau ingin mengatakan sesuatu yang penting,” jawab pak supir.


“Aku akan berterus terang sekarang, apa bapak tahu buku Tragedi Laut Merah Asia Tenggara?” tanya Lee Joon dengan wajah tegang.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Lee Joon, pak supir itu tiba-tiba menutup mulut Lee Joon dan  berkata.


“Maafkan aku, tapi jika kita teruskan sekarang mungkin akan berbahaya, aku akan memberitahu mu hal yang sebenarnya, jadi datanglah temui aku setelah semua orang telah tidur,” bisik pak supir ditelinga Lee Joon.


Lee Joon hanya mengangguk dan pak supir melepaskan dekapannya dari mulut Lee Joon. Selang beberapa saat nampak Lee Joon keluar dari bus dan pergi untuk membantu Jun Hyung mendirikan tenda.


Setibanya Lee Joon di tempat pak Kim dan Jun Hyung ia melihat tenda sudah selesai didirikan, Lee Joon pun menghampiri mereka.


“Maaf, sepertinya aku terlambat,” ucap Lee Joon yang tak enak.


Pak Kim menyodorkan minuman kaleng pada Lee Joon dan berkata padanya.


“Apa kamu melihat ingatanmu yang hilang itu lagi?” tanya pak Kim pada Lee Joon tanpa menoleh padanya.


“Itu.. aku juga bel-“


“Apa pak dosen ada disini?” ucap seorang mahasiswi baru yang tiba-tiba datang dan memotong perkataan Lee Joon.


“Bukannya kamu temannya si cerewet,” ujar Lee Joon yang melihat mahasiswi yang menghampiri mereka tak alian adalah si So Min teman dekatnya si Yoona.


“Si cerewet?!” ucap Jun Hyung dan pak Kim bersmaan.


“Itu ... si Yoona pingsan pak, kami tidak kuat membawanya kesini karena anak laki-laki semuanya sedang pergi mencari kayu bakar di hutan,” pungkas So Min yang cemas memikirkan Yoona.


Mendengar hal itu, Lee Joon langsung pergi menarik lengan So Min dan berkata.


“Cepat beritahu aku dimana tenda kalian,” tanya Lee Joon pada So Min sambil pergi menariknya.


“It itu disana, itu tenda kami yang warna merah,” jawab So Min dengan malu karena lengannya yang dipegang oleh Lee Joon cowok tertampan di jurusannya.


Sesampai mereka ditenda Lee Joon langsung mengangkat Yoona dan membawanya ke tenda panitia untuk diperiksa. Saat perjalanan mereka ke tenda panitia, Yoona yang masih didekapan Lee Joon tiba-tiba bergumam.


“Ibu ... ibu ... jangan lawan ular itu,” gumam Yoona dalam keadaan pingsan.


Lee Joon yang mendengar itu sontak sempat terhenti sejenak.


“Ular?!” gumam Lee Joon dalam hatinya.


Mereka akhirnya sampai ditenda panitia yang sudah ditunggu oleh Pak Kim dan Jun Hyung.


“Bagaimana keadaan si cerewet?” tanya Jun Hyung pada Lee Joon.


“Sudahlah cepat periksa dia, aku tidak punya waktu meladeni omong kosong mu itu Jun Hyung,” jawab Lee Joon dengan tatapan serius.


Pak Kim dengan muka datar melihat Jun Hyung dan menyuruhnya untuk memeriksa Yoona.


“Bukk!” pak Kim memukul Jun Hyung dengan tanganya.


“Aduh, kenapa bapak memukulku?” tanya Jun Hyung pada pak Kim.


“Sempat-sempatnya kau bercanda padahal ada nyawa mahasiwa ku sedang terancam, cepat periksa dia!” ucap pak Kim pada Jun Hyung dengan mata membelalak.


“Baiklah, baringkan dia disini,” saut Jiso, teman sekelas Lee Joon dan Jun Hyung.


Lee Joon pun membaringkan Yoona dengan perlahan, setelah itu Lee Joon pergi keluarga tenda dan teringat dengan apa yang digumamkan oleh Yoona tadi. Lee Joon merasa janggal dan curiga dengan perkataan Yoona tentang ular dan ibunya itu, Lee Joon pun memutuskan untuk fokus dengan apa yang dikatakan oleh pak supir tadi, ia harus menemuinya malam ini ssetelah semua orang tidur. Sedangkan Yoona harus tidur di tenda panitia dengan kondisi yang belum sadar dan masih pingsan.


Malam harinya ... pukul 00.14 tengah malam ....


Lee Joon membuka matanya, dan perlahan beranjak pergi dari tempat tidurnya, ia melihat semua orang didalam tenda telah tertidur pulas. Ia pun pergi secara diam-diam keluar tenda,namun ternyata Yoona yang udah sadar duluan dari pinggsannya itu menyadari bahwa Lee Joon baru saja pergi dengan gerak gerik yang mecurigakan, dan itu membuat Yoona penasaran kemana perginya Lee Joon tengah malam begini. Yoona pun diam-diam mengikuti Lee Joon yang hendak menemui si pak supir bus itu.


“Kemana dia malam-malam begini? Apa dia sedang mengigau sambil berjalan,” gumam Yoona sambil membuntuti Lee Joon perlahan.


Hingga sampailah Lee Joon di bus yang mereka tumpangi tadi, nampak disisi lain bus pak supir telah siap dengan meja dan dua kursi santai dengan seteko kopi yang masih panas.


“Aku kira kamu tidak akan datang,” ucap si pak supir pada Lee Joon.


“Bagaimana aku tidak datang, kamu sepertinya mengetahui sesuatu, dan sesuatu itu mungkin ada kaitannya dengan ingatanku yang hilang,” ucap Lee Joon menjawab pak supir.


“Duduklah, aku sudah menyiapkan semuanya. Ini minumlah selagi hangat,” suguh pak supir sembari menyodorkan secangkir kopi panas pada Lee Joon.


“Aku kesini bukan untuk minum kopi dan bersantai,” jawab Lee Joon mengambil segelas kopi dan duduk disebelah pak supir.


Dan disisi lain bus, Yoona yang penasaran tengah menguping pembicaraan Lee Joon dan si supir bus.


“Apa yang mereka bicarakan? Aku baru tahu kalau si dingin itu suka bergaul dengan orang yang lebih tua dengannya,” gumam si Yoona.


Sementara Lee Joon dan si supir bus menikmati kopinya, tiba-tiba Yoona melihat Lee Joon mengeluarkan sebuah buku dari dalam jaketnya, yang mana itu adalah buku yang dibaca oleh Lee Joon saat mereka tertabrak, dan si Jun Hyung sudah menjelaskan isi buku ilegal itu padanya.


“Bukannya itu buku Tragedi Laut Merah Asia Tenggara? Untuk apa dia membawa buku ilegal itu?” gumam Yoona.


Disisi lain ....


“Buku ini ... kamu ingin menanyakan tentang buku ini bukan,” ucap si supir bus pada Lee Joon.


“Bagaimana bapak tahu?” jawab Lee Joon dengan wajah bingung.


“Karena aku akan jujur dan mengatakan semuanya padamu, bisakah kamu panggil aku ak Lim,” ujar pak Lim si supir bus.


“Baiklah kalau begitu Pak Lim,” jawab Lee Joon.


Pak Lim pun mulai menjawab rasa bingung dan penasaran Lee Joon itu dengan menyebut sesuatu yang membuat Lee Joon sekarat akhir-akhir ini.


“Aqila Family!” sebut pak Lim.


“Apa? Apa maksud bapak?” tanya Lee Joon yang tambah bingung.


“Tolong pegang kopiku, aku akan memperkenalkan diriku secara resmi padamu malam ini,” ucap pak Lim pada Lee Joon sambil berdiri dan membuka bajunya.


“Apa maksudmu? Kenapa kau membuka bajumu disaat udara dingin seperti ini,” pungkas Lee Joon yang tak tahu apa yang akan dilakukan oleh pak Lim.


“Ga ... gambar itu-“


“Iya, aku yakin kamu pasti sudah melihatnya bukan,” ujar pak Lim pada Lee Joon tanpa menoleh padanya.


“Pak Lim, apa maksud semua ini? Tolong jelaskan padaku, aku begitu bingung dan penasaran dengan semua ini,” pungkas Lee Joon dengan perasaan campur aduk.


Sedangkan Yoona ....


“Apa?! Kenapa bapak itu memperlihatkan punggungnya pada Lee Joon? Aku sama sekali tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan dari sini, sebaiknya aku lebih dekat,” gumam Yoona dan beranjak untuk mendekati Lee Joon dan pak Lim.


Disisi Lee Joon ....


“Aku akan menjelaskannya secara pelan, jadi pastikan kamu mendengarkan,” ucap pak Lim sembari mengenakan bajunya kembali.


Lee Joon hanya menggangguk dan menyeruput kopinya dengan wajah penuh makna.


“Aku tahu sudah saatnya kamu tahu kebenaran 10 tahun yang lalu dan ingatanmu yang hilang itu,” ucap pak Lim pada Lee Joo.


“Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku merasa aku bukanlah orang yang seperti sekarang, itu sulit dijelaskan karena ingatanku belum kembali sepenuhnya, tapi aku hanya ingat dengan samar-samar seperti mimpi, banyak orang-orang berjas hitam dengan senjata api, dan itu seperti sebuah perang ditengah hutan dan hujan lebat dengan genangan darah seperti ombak yang menabrak karang,” ucap Lee Joon pada pak Lim dengan wajah penuh cemas.


“Tenangkan dirimu, ternyata benar, ingatanmu terhenti diwaktu itu. Apa itu saja yang kamu ingat?” tanya pak Lim pada Lee Joon.


“Tidak, tepat sebelum aku hilang kesadaran, aku melihat seorang wanita yang mirip dengan gadis yang duduk disebelah kursiku tadi mendatangi ku yang sekarat, lalu dia perlahan mengangkat pistolnya dan mengarahkannya padaku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi,” jelas Lee Joon pada pak Lim.


Pak Lim menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Lee Joon tentang ingatannya itu.


“Sekarang aku faham. Apa kamu menganggap wanita yang menodongkan senjata ke arahmu itu yang mencelakaimu?” ujar pak Lim dengan wajah serius sambil menoleh ke arah Lee Joon.


“Aku ... aku tidak begitu yakin, tapi aku merasa sangat mengenal wanita itu, bahkan aku merasa dia pernah membantuku berulang kali,” ucap Lee Joon pada pak Lim.


Disisi Yoona ....


“Apa ini? Apa mereka membicarakan tentangku? Apa Lee Joon sedang berkonsultasi dengan supir itu untuk mendekatiku? Aku tahu aku ini cantik tapi-” gumam Yoona yang telah berpindah tempat untuk menguping pembicaraan Lee Joon dan pak Lim.


Kembali ke sisi Lee Joon dan Pak Lim ....


“Ternyata benar apa yang dia bilang, jangan salahkan wanita itu, saat tragedi itu, dialah yang menyelamatkanmu dari orang-orang itu, bisa dibilang dia berkorban untukmu, itulah kenapa kamu masih hidup sampai sekarang,” ujar pak Lim pada Lee Joon.


“Apa maksud bapak sebenarnya? Bagaimana bisa wanita yang mirip dengan Park Yoona itu telah berkorban untukku, sedangkan dia menodongkan pistolnya ke arahku,” ucap Lee Joon dengan perasaan campur aduk.


“Baiklah, dengarkan baik-baik, tolong kamu rahasiakan ini untuk sekarang, karena aku takut teman-temanmu akan salah faham terhadap mu, dan apa yang kamu miliki sekarang akan hilang dalam sekejab,” ujar pak Lim dengan tatapan serius.


“Apa yang sebenarnya bapak katakan ini? aku tidak mengerti sama sekali, tolong jangan buat aku berpikir seperti ini,” ucap Lee Joon.


“Berjanjilah, setelah aku mengatakan semuanya, kamu harus memilih dengan benar dan tekat yang kuat,” ucap pak Lim pada Lee Joon.


“Tapi aku seka-“


“Berjanjilah!” tegas pak Lim dengan lantang pada Lee Joon.


“Iya aku berjanji,” jawab Lee Joon singkat.


“Prrruuuuurt,” suara perut Yoona yang cukup keras.


“Suara apa itu?” ucap pak Lim mendengar suara perut Yoona yang tengah menguping.


“Astaga! dasar perut sialan, kenapa disaat hal penting begini kamu berbunyi,mau bagaimana lagi, aku harus kembali ke tenda sebelum mereka mengetahui keberadaanku,” gumam Yoona dan pergi menuju tenda panitia.


“Mungkin hanya binatang hutan yang melintas,” ujar Lee Joon pada pak Lim.


“Aku harus memeriksanya, karena ini adalah rahasia,” jawab pak Lim dan pergi ke arah bagasi bus tempat Yoona menguping mereka.


“Ada apa? apa ada sesuatu disana?” tanya Lee Joon dari kejauhan.


“Tidak, apa hanya perasaanku saja ya,” gumam pak Lim dan kembali duduk disbelah Lee Joon.


Sedangkan Yoona yang baru sampai di tenda, dikejutkan oleh pak Kim yang baru bangun.


“Dari mana kamu tengah malam begini?” tanya pak Kim pada Yoona.


“Ah ...? aa ... aku dari buang air, apa bapak membuntutiku?” jawab Yoona.


“Apa? Untuk apa aku membuntutimu, bukannya kamu sakit, kenapa tidak membangunkan salah satu dari kami agar bisa menemanimu, kalau terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana?” ucap pak Kim pada Yoona.


“Baiklah pak, maafkan aku, itu karena aku memang benar-benar tidak tahan lagi,” pungkas Yoona menjawab pak Kim.


“Ngomong-ngomong, apa kau tahu kemana perginya anak itu?” tanya pak Kim pada Yoona.


“Apa yang bapak maksud itu adalah si Lee Joon?” jawab Yoona.


“Iya, apa kau tahu kemana dia, bukannya dia tidur disebelah Jun Hyung tadi?” ujar pak Kim.


“Bagaimana ini, apa aku beritahu saja ya, sepertinya jangan deh,” gumam Yoona dalam hatinya.


“Kenapa kau diam?” tanya pak Kim lagi pada Yoona.


“Ah tidak, tadi aku bertemu dengannya saat aku akan kembali kesini, katanya dia akan tidur di bus karena ia tidak terbiasa tidur dengan orang banyak disebelahnya,” ujar Yoona menjawab pak Kim.


“Syukurlah kalau begitu, yang penting kita tahu dimana anak itu. Ini sudah malam pergilah tidur, besok kita ada kegiatan ospek,” ucap pak Kim pada Yoona.


“Baik pak,” jawab Yoona dan pergi kembali untuk tidur disebalah Jiso.


Pak Kim pun kembali masuk ke tenda dan tidur kembali setelah mengetahui bahwa Lee Joon tidur di bus seperti yang dikatakan oleh Yoona.


Di bus ....


“Ingatan mu itu tidak semuanya salah, kamu sudah besar dan menjadi pria seperti sekarang ini saja aku sudah bersyukur,” ucap pak Lim pada Lee Joon.


“Apa bapak mengenalku? Apa bapak tahu sesuatu tentang ku dimasa lalu?” tanya Lee Joon yang penuh rasa penasaran.


“Iya, aku mengenalmu, bahkan aku sangat mengenalmu beserta kedua orang tuamu,” jawab pak Lim.


Mendengar itu Lee Joon melototi pak Lim dengan raut wajah ambigu.


“Apa kau adalah ayahku?” tanya Lee Joon.


“Bukan ... bukan seperti itu. Ayahmu adalah orang yang sangat disegani dan dihormati di negara ini, bukan maksudku di Asia bahkan dia punya pengaruh yang cukup besar terhadap dunia,” ujar pak Lim.


“Apa maksud bapak? Apa aku bisa mempercayaimu?” ucap Lee Joon pada pak Lim.


“Apa lagi yang kau ragukan ketika kau sudah melihat tatto dipunggungku,” jawab pak Lim.


“Baiklah, jadi siapa orang tuaku sebenarnya?” tanya Lee Joon dengan penuh rasa penasaran.


“Ayahmu adalah majikanku saat kami masih aktif, sedangkan ibumu adalah seorang dokter terkenal dirumah sakit ternama di Indonesia,” jelas pak Lim pada Lee Joon.


“Apa yang terjadi pada mereka?” tanya Lee Joon.


“Buku itu (menunjuk ke arah buku yang dikeluarkan Lee Joon) adalah salah satu jurnal ayahmu,” ucap pak Lim pada Lee Joon.


Mendengar ucapan pak Lim, Lee Joon merasa ini salah, ia merasa bahwa ayahnya adalah kriminal besar karena apa yang Jun Hyung katakan tentang buku itu adalah dalang terjadinya Tragedi Laut Merah Asia Tenggara.


“Berarti ayahku adalah seorang kriminal besar,” ucap Lee Joon dengan tatapan kosong.


“Hei ... jangan memaksakan dirimu, aku tahu ingatanmu belum kembali sepenuhnya, tapi ini bukanlah seperti yang kau kira. Ayahmu ... sebelum ia dijuluki sebagai seorang mafia, ia dulunya adalah komandan pasukan khusus Korea selatan,” ujar pak Lim pada Lee Joon.


“Lalu kenapa? Kenapa dia memilih menjadi mafia kejam? Bahkan ia membuat tragedi sebesar itu,” ucap Lee Joon dengan mata yang mulai berair.


“Itu karena pilihannya, itu semua karena ayahmu saat itu dikhianati oleh kedua negara yang ia bela dan ia cintai. Saat itu.. ayahmu bertugas memimpin pasukan khusus Korea ke Indonesia untuk menangkap bandar narkoba terbesar di Asia, dan operasi itu tidak dilakukan oleh pasukan khusus Korea saja, mereka mebuat tim gabungan yang terdiri dari pasukan khusus antara Indonesia dan Korea. Namun saat selangkah lagi tim ayahmu bisa menangkap bandar narkoba terbesar di Asia itu, tiba-tiba tim ayahmu ditembak secara membabi buta oleh tentara pasukan khusus Indonesia yang menjadi sekutu ayahmu saat itu, semuanya mati kecuali ayahmu,dia berhasil menyelamatkan diri dan ditemukan seminggu kemudian di pantai Jeju di Korea,” jelas pak Lim menceritakan ayah Lee Joon.


“Lalu bagaimana ayahku bisa menjadi seorang mafia?” tanya Lee Joon.


“Itulah alasan ayahmu yang akan dibantai di Indonesia tapi malah selamat dan ditemukan di pantai di pulau Jeju. Ayahmu diselamatkan oleh mafia dari negara seribu pulau itu,” jelas pak Lim.


“Apa maksudmu itu adalah Indonesia?” saut Lee Joon.


“Benar, dan bos mafia yang menyelamatkan ayahmu itu adalah ayah dari ibumu, atau kau bisa memanggilnya dengan sebutan kakek,” ujar pak Lim.


Lee Joon tambah syok mendengar itu, bahwa kakeknya adalah seorang bos mafia di Indonesia.


“Kakekmu bukanlah mafia biasa, beliau memiliki banyak koneksi di Asia termasuk Korea, makanya ayahmu bisa kembali ke Korea walau banyak goresan pada mental dan tubuhnya. Setelah ayahmu kembali ke Korea, ia mencari atasannya untuk meminta penjelasan atas apa yang telah dia alami bersama rekan-rekan pasukan khusus itu, namun ia malah dipenjarakan atas perintah presiden. Dan saat ayahmu sudah putus asa didalam penjara, suruhan kakek mu datang membebaskannya, dan membawa ayahmu ke Indonesia. Disana ayahmu menerima tugas dari kakek mu dan bersedia menjadi bawahan yang setia seumur hidupnya pada kakekmu sebagai tanda terimakasih karena telah membebaskannya dari penjara,” ujar pak Lim pada Lee Joon.


“Lalu setelah itu ayahku menjadi mafia dan juga sebagai bawahan kakekku,” ucap Lee Joon yang mulai menerima kenyataan.


“Iya begitulah, tapi tidak sampai disitu, suatu hari ... kakekmu tiba-tiba sekarat dan terkena racun, para bawahannya langsung bergerak begitupun ayahmu, dan dalangnya langsung ketahuan 2 hari setelah kakekmu dirawat dirumah sakit tempat ibumu bekerja. Kakekmu sudah memutuskan dengan bulat, ia akhirnya memilih ayahmu untuk menggantikan posisinya sebagai bos mafia, ayahmu menolaknya tapi kakekmu berkata pada ayahmu bahwa itu adalah permintaan terkahirnya sebelum wafat, jadi mau tak mau ayahmu terpaksa menerima tahta itu dengan hormat. Dan pesan rahasia yang kakekmu katakan pada ayahmu adalah “tolong jaga anakku, aku tak masalah jika kau harus menikahinya, karena hukum disini sangat rumit jadi satu-satunya jalan agar kau bisa melindungi putriku satu-satunya adalah dengan menikahinya,” Itulah yang kakekmu katakan pada ayahmu, dan pada akhirnya kakekmu meninggal dalam dekapan ayahmu. 2 tahun kemudian ayah dan ibumu menikah dan lahirlah kamu, putra sekaligus harta satu-satunya yang dimiliki oleh ayah dan ibumu, bahkan jika kakekmu itu masih hidup dan tahu kalau dia mempunyai cucu yang tampan sepertimu, aku yakin kakekmu pasti sangat bahagia sekarang,” ujar pak Lim panjang lebar pada Lee Joon.


“Jadi itu yang terjadi pada orang tuaku, aku masih akk! Kepalaku!!” saut Lee Joon yang tiba-tiba kesakitan dikepalanya.


“Hei! Kamu tidak apa-apa? Hei ada apa? Tolong tenanglah Lee Joon!! Hei Lee Joon!” ucap pak Lim.