
“Iya, kakekmu. Dialah dalang dibalik semua penderitaan ayahmu, bahkan ia tak ragu membunuh ayahmu dan menciptakan tragedi itu,” jelas ibunya pada Lee Joon.
“Apa maksus ibu sebenarnya? bukankah kakek yang telah menyelamatkan ayah, kenapa sekarang ibu malah mengatakan hal yang sebaliknya? siapa yang harus aku percaya jika masalah tambah rumit begini,” ucap Lee Joon pada ibunya dengan perasaan tak karuan.
“Sepertinya kau sedikit salah faham, yang aku maksudkan bukanlah kakek mu yaitu ayah ibu, tapi kakek dari ayahmu sendiri, dia adalah ayah dari ayahmu,” ucap ibunya.
“Kenapa ayah tidak pernah mengatakan apapun tentang ini,” gumam Lee Joon bicara sendiri.
“Ibu yakin ayahmu tidak mengatakannya padamu karena sudah jelas itu untuk melindungi mu dari kakek mu itu,” ucap ibunya.
Lee Joon sesaat terdiam dan mencernanya dari awal, ia sekarang mulai faham walaupun agak rumit tapi sepertinya ia mulai faham dengan apa yang telah terjadi selama ini. Ibu Lee Joon yang melihat anaknya itu terdiam mencemaskan anak semata wayangnya itu.
“Lee Joon, apa kau baik-baik saja?” tanya ibunya sambil mendekap tangan Lee Joon.
“Ah maaf bu, aku hanya teringat tentang sesuatu yang lain, bukan hal yang penting juga,” jawab Lee Joon.
“Lee Joon, ibu ... ibu ingin kamu berhenti sampai disini saja, jangan terlibat lagi dengan organisasi ini, biarkan ibu saja yang membalaskan den-“
“Ibu! maafkan aku, aku sudah menceburkan diriku duluan, dan sekarang ibu yang sudah kering ingin menceburkan diri ibu lagi ke dalam air kotor ini, maafkan aku ibu, tapi aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi, bahkan sebelum aku sembuh dari amnesiaku, aku menyangka kalau aku hanyalah anak laki-laki miskin yang hidup sebatang kara,” ucap Lee Joon pada ibunya sambil berlutut dan menggenggam tangan ibunya.
“Tapi ibu ju-“
Lee Joon tiba-tiba memeluk ibunya yang sedari tadi sudah menahan air matanya agar tak jatuh, Lee Joon sangat geram dan marah pada kakek dari ayahnya itu, ia bertekat akan membalaskan dendam ayahanda tercinta pada kakeknya itu sampai ke tulang-tulangnya.
“Ibu ... aku tahu ibu sangat mengkhawatirkan aku, tapi kakek ku yang baik telah memberikan aku kekuatan yang aku butuhkan, aku berjanji bu! akan membalaskan dendam ayah pada iblis yang tega membunuh anaknya sendiri sampai ketulang-tulangnya,” ucap Lee Joon dengan nada berat sembari memeluk ibunda tercintanya.
Miss Viola yang melihat langsung dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh tuan mudanya tersebut ikut terharu dan panas dengan apa yang dikatakan oleh ibunya Lee Joon yang telah mengunggkapkan musuh sebenarnya yang masih bersembunyi dibalik layar.
Dengan muka yang tadinya sayu dan khawatir, sekarang berubah menjadi muka yang murka dan tatapan mata yang siap mati dari Lee Joon, ia melepaskan pelukannya dari ibunya dan kembali menggenggam tangan ibunya sambil berkata.
“Ibu ... tolongkan katakan dimana iblis terkutuk itu padaku,” ucap Lee Joon menanyakan tentang kakek dari ayahnya pada ibunya.
Ibu Lee Joon pun mengambil tisu dan mengelap air matanya, setelah itu ia mengambil remot tv yang ada di atas meja dekat sofa tempat mereka duduk lalu menyalakan tv tersebut sambil berkata.
“Lihatlah ... dan pikirkan baik-baik sebelum kamu memutuskan untuk melawannya,” ucap Ibu Lee Joon dengan raut wahah yang sudah berubah sedih menjadi serius dan tatapan seorang yang tidak takut apapun.
Tv itu pun menyala dan mempertontonkan siaran tv Korea Selatan yang mana saat itu adalah video dari orang nomor 1 di Korea Selatan, dengan bunyi redaksi seperti ini.
“Presiden Korea Selatan Gong Jihoon akan mencalonkan dirinya lagi sebagai salah satu kandidat terkuat calon Presiden di periode keduanya tahun ini,” bunyi suara dari tv yang dilihat oleh Lee Joon.
“Ibu? Apa dia-“
“Benar, kakekmu adalah seorang presiden,” ucap ibunya memotong perkataan Lee Joon dengan tatapan murka ke arah tv itu.
Lee Joon kembali terkejut dan tak percaya sambil menatap tajam ke arah tv itu, ia tak menyangka bahwa kakeknya yang dari ayahnya itu adalah seorang presiden dari negeri ginseng. Lee Joon tambah panas setelah mengetahui identitas asli musuhnya itu, yaitu presiden Korea Selatan Gong Jihoon yang tak lain adalah kakeknya kandungnya sendiri dari ayahnya.
Di kampus yang dalam suasana belajar-mengajar, nampak Park Yoona sedang berjalan menuju ke ruangan rektor, entah apa tujuannya kesana tapi ia terlihat sedang mencari seseorang. Tak lama kemudian dia pun sampai didepan pintu ruangan rektor itu, dan tanpa pikir panjang Yoona masuk tanpa mengetuk pintu dan mendapati pak Lim dan ibu Kang yang sedang menikmati kopi dan teh mereka.
“Huh? ibu Park?” ucap pak Lim yang cukup terkejut dengan kehadiran Yoona.
“Apa kamu seorang dosen di kampus ini?” tanya ibu Kang pada Yoona.
“Be ... benar, saya adalah dosen,” ucap Yoona menjawab ibu Kang.
“Kalau begitu kenapa orang berpendidikan seperti mu sampai lupa mengetuk pintu sebelum masuk? bukankah itu adalah sebuah pengetahuan umum,” ucap ibu Kang menyindir dan agak kesal terhadap Yoona.
“Aku minta maaf soal itu,” jawab Yoona sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.
“Tidak apa-apa ibu Park, aku faham kalau kamu mengenal Pak Rektor sebagai teman dekat, tapi apa yang Ibu Park lakukan barusan masuk ke tempat seseorang tanpa mengetuk pintu itu menurut saya termasuk tindakan yang tidak sopan,” ucap Pak Lim pada Yoona.
“Apa? teman dekat, aku benar-benar minta maaf soal tidak mengetuk pintu, tapi saya dan dia ... maksud saya pak rektor hanya teman biasa, kami tidak dekat sama sekali” ucap Yoona yang salah tingkah ketika mendengar pak Lim mengatakan bahwa mereka berdua dekat.
“Jadi apa yang membuat Ibu Park datang kesini?” tanya pak Lim pada Yoona.
Sedangkan Ibu Kang masih melihat saja percakapan antara Yoona dan pak Lim sambil meminum tehnya.
“Aku hanya ingin melihat, apakah pak rektor sudah pulang dari luar negeri, karena aku ada sedikit urusan dengannya,” ucap Yoona pada Pak Lim.
“Saya minta maaf, tapi seperti yang anda lihat, beliau belum pulang dari luar negeri,” ucap Pak Lim pada Yoona.
“Ah ... begitu, kalau begitu aku permisi dan maaf telah mengganggu waktu kalian,” ucap Yoona sambil menunduk pada pak Lim dan Ibu Kang lalu pergi ke arah pintu.
Saat Yoona menarik gagang pintunya, tiba-tiba ia menabrak seseorang yang hendak masuk ke ruangan itu, Yoona pun hilang keseimbangannya dan malah memegang dasi dari orang yang ia tabrak itu, mereka pun sama-sama hilang keseimbangan dan jatuh bersamaan ke lantai, dan hal yang sama dirasakan oleh Yoona untuk yang kedua kalinya.
“Cupp?!!”
Ternyata bibirnya yang lembut itu tak sengaja bertaut dengan bibir orang yang ia tabrak dan jatuh bersamanya. Ibu Kang yang melihat kejadian langka itu seketika menyemburkan air teh yang ia teguk keluar dari mulutnya karena kaget, sedangkan Pak Lim membiarkan air kopinya keluar dengan tenang dari mulutnya seperti aliran sungai sambil melihat pemandangan yang terjadi didepannya.
Sesaat karena sadar mereka telah berciuman secara tak sengaja, orang yang ditabrak oleh Yoona itu pun berdiri dan membantu Yoona berdiri lalu berkata.
“Kau benar-benar hobi menabrak orang ya, bahkan kau membuat kita mengulanginya seperti di tam-“
“Dasar kau rektor mesum sial*n! kenapa kau selalu muncul saat seperti ini,” teriak Yoona pada Lee Joon dan pergi begitu saja dari ruangan itu.
Sementara pak Lim dan ibu Kang dengan wajah mereka yang masih bengong menatap Lee Joon tak bisa berkata-kata.
“Pak Lim? ibu Kang? ada apa? apa ada sesuatu diwajahku?” tanya Lee Joon polos.