Antares

Antares
Gerombolan baru



Kami berenam kemana-mana. Gerombolan baruku itu. Sosok nyata sebetulnya ada lima. Sebab benakku enggan menghitung Ares. Ia kerap mengabaikanku. Jadi aku berlaku sama. Terlepas dari antar jemputnya dengan kuda besi. Motorku.


"Aku tak mau sekolah!" 


Ayah terlihat menghela nafas dari layar video call. "Alasannya?"


"Masa aku harus berdiri, pulang pergi naik sepeda orang. Belum lagi kalau siang panas sekali. Kemarin malah aku kehujanan. Aku nggak mau sekolah!"


"Apakah sebuah kendaraan bisa membuatmu kembali masuk sekolah?"


Aku tersenyum, "mungkin!" 


Aku tak perlu merengek lama jika dengan Ayah. Beda sekali jika itu Mama. Ada banyak daftar alasan yang harus kubuat jika menginginkan sesuatu. Itu sebabnya aku selalu mendesak Ayah. 


Kemajuanku di pengasingan: aku berhasil memaksa Ayah mengirim kendaraan. Entah baru atau bekas aku tak perduli, yang penting aku tidak berdiri. 


Lalu datanglah motor baru dari Lek Kardi. Tetangga belakang rumah yang kerjanya jual beli. Aku sih, berharap mobil, namun motorpun jadilah. Aku gembira. Yang penting aku tidak perlu berdiri memegang bahu anak lelaki itu lagi. Namun kegembiraanku tak berlangsung lama.


Aku belum bisa naik motor. Iya, aku hidup di abad anak SD sudah bisa mengendarai motor dengan lincah, sedangkan aku bersekolah diantar Mama. Atau menggunakan jasa abang ojek saat pulang sekolah dan kemana-mana. Jadi aku terpaksa mempunyai sais baru untuk kuda besiku. Sudah bisa kau tebak. Ares, si tetangga kita.


Disela-sela waktu, aku belajar mengendarai motorku dengan mencuri. Mayang dan Arimbi, keduanya mahir mengendarai kuda besi. Aku tak ingin menggantungkan seluruh pagiku pada kepatuhan Ares. Dia hanya menunjukkan muka patuh dan bersahabat di depan Iyang Uti dan Bibi Tantri. Dibelakang mereka? Wajahnya kembali menjadi antagonis.


Dan setelah dua hari mencuri aku pulang dengan parut panjang. Jatuh.


"Masyaallah, Putri! Kenapa?"


"Jatuh, Iyang. Dari motor."


"Kamu belajar naik motor? Kan, sudah ada Ares yang mengantar jemput kamu. Besok, tidak ada lagi naik-naik motor sendiri."


"Kalau luka itu berbekas, kulitmu terlihat buruk. Anak perempuan tabu mempunyai parut luka. Paham!" Iyang Uti meradang.


Mungkin untuk beberapa orang. Parut luka di kulit anak perempuan akan membuat harga pasarannya menjadi turun.


Memangnya aku benda? 


"Tidak usah membantah, Iyang Uti." 


Bibi Tantri ikut bersuara. Pokoknya Ares ditahbiskan menjadi sais abadi. Mengantar dan menjemputku. Aku berharap anak lelaki itu mendebat Iyang Uti seperti ia biasa mendebatku. Tapi sia-sia. Pasti telah banyak jasa Iyang Uti ditelannya, hingga ia tak bersuara.


Aku menyumpah serapah. Dalam benak saja tentunya. Rasa segan kepada Iyang Uti, membuatku mati-matian menahan kalimat tersebut agar tidak tersembur keluar.


Pernah suatu pagi, di jejeran cemara udang di tengah jalan. Aku memintanya berhenti. Kemudian menyumpahi kepatuhannya. Menyumpahi muka dua-nya.  Menyumpahi keheningannya. Menyumpahi segalanya yang tak bisa kukatakan di depan Iyang Uti. 


Anak lelaki itu hanya menjawab santai. 


"Iyang Uti yang memintaku, aku tak menemukan alasan membantahnya. Jadi aku melakukannya bukan untukmu."


Kemudian ia berkata masih dengan nada santai, "Masih mau pergi sekolah? Jika tak mau naik, maka kau boleh berjalan kaki hingga sekolah."


Lalu aku mengumpatnya, memanggilnya hewan bermoncong merah jambu.


Ia menjawab.


"Aku bukan b*b*, aku hanya anjing yang patuh pada majikannya."


"Kau yang pantas menjadi b***, b*** hutan liar. Yang senang mengacau. Bukankah kau dipecat karena mengacau ladang orang disana? Berapa banyak yang kau lukai?"


Dan aku menamparnya. 


Telapak tanganku pedas. Ares? bergeming saja tidak. 


Ia hanya menatap sinis dengan matanya, namun sudut bibirnya tersenyum puas. Jika selama ini kami bertikai dalam hening, hari ini kemajuannya pesat.  Kami melakukan kontak fisik.


Aku bisa mengukur kekuatannya. Ares mengukur emosiku. Masing-masing kami akhirnya saling mengenali.


Cukup lama aku tak memandang matanya. Dan aku terkejut saat kebencian tak lagi terpercik disana. Rupanya api itu telah merambat di mataku. Aku memandangnya dengan benci yang sempurna. 


Jadi kami hanya berlima kemana-mana. 


Tugas sekolah selesai dengan nilai terbaik. Peran sosok keenam itu memang cukup membantu. Antares Bimasakti ternyata mempunyai otak sakti. Terserah, ia hanya anjing pintar milik Iyang Uti yang setia. Bagiku ia tak pernah ada. 


Kuakui kehidupan di tempat pengasingan cukup menyenangkan. Sebab aku menemukan gerombolan baru itu. Tugas sekolah adalah awal, selanjutnya adalah petualangan baru. Singkatnya aku mulai menyukai pengasinganku.


Mereka anak-anak seru. Seru sebab tak malu mengakui dosa remaja mereka. Sebut Arimbi Sitoresmi, gadis cantik yang mahir menari. Ternyata diam-diam sering memacu kuda besi di balapan liar alun-alun kabupaten. 


Mayang Dewi Utari, yang berbibir menggoda. Di saat-saat tertentu ternyata sering mencuri hisap kretek milik ayahandanya. Sudah sedikit kecanduan nampaknya dengan tembakau-tembakau itu.


Lalu si -nampak- alim Surya Kencana, anak kepala polisi setempat. Yang tak pernah lupa menyelipkan lintingan berdaun wangi ke saku, jika ayahandanya mendapat buruan baru. Daun tujuh yang masih ilegal sebab dapat membuat penikmatnya mencandu dan berhalusinasi nakal.


Kemudian Danang Prasetya, anak berwajah rupawan pemilik ladang tembakau besar. Dosanya? Ia pernah menjalin hubungan dengan pacar temannya. Ralat: pacar teman-temannya secara bersamaan, jumlahnya tiga. Ia melakukannya sebab ketiga perempuan itu hanya tertarik dengan wajah dan harta ayahnya. 


Dosa Ares atau Antares Bimasakti. Hemm, mereka bilang hidup Ares sedingin gunung Sindoro di pagi hari. Ia terlalu dingin dan berhati-hati agar tidak melakukan dosa, hingga tidak harus mengaku berdosa. Begitulah menurut mereka. Dan aku mati-matian menahan agar ludahku tidak menyemburkan dosanya yang tercatat di buku bersampul belacu. 


Aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Jika menceritakan rahasia teman adalah sebuah keseruan, maka menyimpan rahasia seorang musuh bisa juga menjadi kemenangan. Aku menyukai kemenangan.


Lalu kuberitahu dosaku. Entahlah apakah menjadi pembangkang adalah sebuah dosa. Sepertinya iya, itu sebabnya ada sebuah kisah dongeng tentang ibu yang mengutuk anaknya menjadi batu. Tetapi ibu dalam dongeng itu bukan ibuku, jadi Mama tak pernah mengutukku saat aku membantah titahnya.


"Kenapa kamu pindah kesini? Benarkah karena kamu melakukan bully?"


Dengan alami mereka bertanya penyebab kepindahanku. Aku terdiam sejenak. Cerita itu pasti sudah beredar. Itu sebabnya ada beberapa anak yang menghindariku secara terang-terangan. Beberapa menunjukkan wajah benci. Seperti Ares contohnya. 


Kenapa? Mereka semua tak pernah tahu cerita yang sebenarnya. Kenapa orang-orang suka bersikap seolah-olah mereka yang paling tahu. Merasa yang paling benar. 


Lalu kuceritakan secara ringkas tanpa perlu menjungkir balik alur cerita seperti pengecut binal Michelle Khanzakh Wiroy mengadu pada guru. Tentunya disaat Ares tak ada disekitarku. Ia tidak berhak untuk tahu cerita hidupku. 


"Benarkah?" Arimbi mengusap-usap punggungku. Seolah mengirim pesan agar aku tabah. 


"Cewek sialan!" Danang ikut mengumpat.


"Makasih, aku tidak apa-apa. Mulutnya sudah kuhajar!" ucapku sambil mengepalkan tinju.


Dan mereka sepakat, jika saja sempat bertemu atau berpapasan tak sengaja di jalan. Mereka berjanji akan membalas kesumatku. Tentu tidak dengan cara vulgar. 


Aku tertawa. Meski kemungkinan untuk bertemu dengan Michelle Khanzakh Wiroy sangatlah kecil. Aku berterimakasih pada kesediaan mereka membelaku. Aku lega mereka mempercayaiku. Aku tahu mereka berbeda, sebab mereka tak pernah mununjukkan wajah bermusuhan sejak pertama kali aku datang ke sekolah ini.


Akhirnya aku bertemu koloni yang mau menerimaku.