Antares

Antares
Yang terbuang



Mereka membuangku!


Pikiran itu yang pertama kali terlintas, saat kakiku menginjak keriuhan bandara Adi Sucipto. Penerbangan dari kota asalku menuju tanah kelahiran Ayah. Hanya menempuh waktu dua jam saja. Dua jam untuk beribu kilometer jarak yang kini memisahkanku dari mereka. Mama juga Ayah


Aku sendirian, meski banyak orang disekelilingku. Tetapi hanya aku yang mengenali diriku. Manusia akan menjadi melankolis manakala menyadari dirinya sendirian. Berada di tengah keramaian namun tetap merasa sendirian. Aku diterpa badai melangut dari buah pikiranku.


Ada pekerjaan penting yang harus Mama tangani. Itu alasan yang dikemukakan agar aku maklum. Tapi alasan utama Mama tidak mengantarku karena ia tidak ingin berdebat sepanjang jalan. Entah berdebat denganku atau dengan pikirannya. 


Keputusan untuk menyerahkan hak asuhku, anak semata wayangnya kepada  Iyang Uti. Ibu dari lelaki yang pernah menjadi suami. Bukan keputusan yang mudah. Sebab hampir sepuluh tahun ini aku selalu bersamanya. Mama hanya mengijinkanku menginap jika Ayah mendapat giliran bertemu denganku saja.


Tapi jika kupikirkan lagi. Mungkin alasannya adalah, Mama menghindari bertemu mantan suaminya. Yaitu ayahku. 


Katanya ada sebutan 'mantan suami' namun tidak ada sebutan 'mantan ayah'. Sebab ikatan darah jauh lebih setia, mengalir di semua pembuluh vena. Bila dibandingkan ikrar janji di buku nikah. 


Kuberitahu kenapa: Sebab kata-kata kerap berkhianat tatkala perasaan mulai berkarat!


"Yang mau jemput kemana, sih!"


Aku kembali bersungut, melongok mencari-cari sosok yang akan menjemput. Kata Ayah, akan ada seseorang yang menjemput. Bukan Iyang, Bibi Tantri atau bahkan orang yang mempunyai hubungan kerabat di tanah kelahirannya. Hanya orang suruhan. Titik.


Bahkan Ayah juga tidak bersedia mengantar dengan alasan yang sama. Ada orang penting yang lebih penting ditemui daripada mengantar diriku. Iya, Ayah dan Mama tinggal di kota yang sama, dan dengan ritme kesibukan serupa. 


Dan kini, aku di tempat yang tak kukenali. Bagaimana jika aku salah mengenali dan mengikuti orang jahat? Itu mungkin luput dari perhatian mereka. Mereka meyakinkan bahwa aku telah cukup dewasa untuk menjaga diri.


"Ckk, jangan cengeng! Bukankah kamu pernah ke tempat Opung di Medan sana sendirian?" 


"Ya, tapi itukan liburan, Ma!" 


"Bagaimana jika aku diculik, diperkosa dan kemudian mayatku ditemukan di sudut bandara dalam keadaan terpotong di dalam koper? Mama nggak khawatir?"


"Jangan menjadi paranoia! Bukankah kamu paling ahli berkelahi? Ingat peristiwa baru-baru ini?" Mama membungkam rengekanku. 


Coba kau bayangkan! Aku dilepaskan terbang sendiri. Serupa dafodil yang memecah, terbang mengikuti arah dimana angin akan menjatuhkanku. Bedanya dafodil mempunyai banyak benih, sedangkan aku hanyalah sebuah atau biji tunggal. Tapi biji yang hanya satu itu tak menjadikanku istimewa. Ditanam dengan baik ditanah berhumus, ditaruh di pinggir jendela, dipupuk dan disirami setiap pagi, misalnya. 


Aku hanya terlempar kesana kesini manakala kedua orang yang berikrar itu berseteru. Sejauh aku bisa mengingat dan mencoret-coret buku harianku. Hanya ada dua pembagian. Jum'at sore di tempat Ayah dan Minggu sore sudah di tempat Mama. 


Tak pernah ada "Kami". 


Maka akhir dari sebuah ikrar adalah cerai berai. Mama menjadi perempuan. Ayah menjadi lelaki. Dan aku menjadi objek. Objek di akhir dan awal minggu. Objek yang tak bisa mengajukan keberatan. Sebab subjek-lah yang utama. Objek hanya pelengkap subjek.


Aku pelengkap perseteruan. Sebab akhir dari sebuah ikrar tentu tak seru tanpa perebutan. Aku adalah sebuah perebutan mereka. Dan yang lebih seru aku menikmatinya. Menikmati menjadi objek itu. Jika aku tidak bisa mempunyai pendapat, bukan berarti tidak boleh mengajukan penawaran. 


Dan kuberitahu: ada banyak sekali penawaran yang menguntungkan jika aku tidak banyak berpendapat. Kantungku selalu penuh jika Mama berhasil membujukku untuk rela pergi ke tempat Ayah. Padahal aku hanya memerankan sandiwara, enggan ketempat Ayah. Sementara dari pihak Ayah, aku mendapatkan beberapa barang kemauanku. Jika sedikit saja aku menyinggung ketidakhadirannya dalam acara sekolah. 


Oya, namaku Putri Maharani. 


Namaku epik. Aku putri dan sekaligus ratu. Sebuah nama yang diberikan adalah doa orangtua pada anaknya. Meski aku belum mengerti apa yang diharapkan mereka atas diriku. Dulu aku berpikir bahwa aku adalah seorang putri dan ratu di istana mereka. Namun setelah mereka berpisah. Aku kehilangan istana itu.


Dan kini aku juga terusir dari tempatku terbiasa tumbuh.


Ayah menang perseteruan dengan alasan jitu. Setelah sekian lama, Mama dinilai gagal dalam menumbuhkanku. Umurku enam tahun saat mereka berpisah, dan setelah sepuluh tahun kemudian karakterku -yang merupakan cermin mereka semakin terbentuk- menjadi pembangkang sejati. 


Sekolah adalah bentuk perpanjangan peraturan yang ada di rumah. Begitulah yang kuyakini. Aku tahu bahwa peraturan sebetulnya dibuat untuk dilanggar. Jadi, aku melanggar sebanyak-banyaknya.


Jadi tugasku adalah membuat hidup mereka tidak monoton. (Mereka seharusnya berterimakasih padaku). Aku menyukai segala bentuk keseruan. Menikmatinya, sebab aku tidak atau belum mempunyai cara menikmati hidup seperti layaknya manusia kebanyakan. 


Dalam bahasa orangtua dan guru-guruku. Aku adalah contoh terbaik dari remaja yang sedang dalam pencarian dirinya. Aku hanya perlu sedikit arahan. Sedikit pertanda. Sedikit pencerahan agar usaha pencarian diri tersebut berhasil.


Dan makna "sedikit" dalam bahasa mereka sama seperti jika kalian bertanya arah pada penduduk lokal di kaki gunung.


"Pak, base camp masih jauh?"


Dengan muka polos, lugu dan suara yang jujur mereka menjawab. "Oh, tidak jauh, kok! Hanya mengikuti jalan setapak ini, letak base camp ada di balik bukit itu!"


Satu jam kemudian kalian masih mendaki dengan peluh seraya menyumpah.


"Tidak jauh, kok!" 


GUNDULMU!


Pada titik itu kita harus mengakui bahwa ukuran jauh-dekat, sedikit-banyak, tinggi-rendah bukan ilmu pasti layaknya hitungan matematika. Begitupun dunia remaja dan dunia orang dewasa. 


Apa yang menurut kita seru, bagi orang dewasa adalah suatu kekacauan. Orang dewasa kurang menyukai kekacauan. Sebab syarat menjadi dewasa adalah ketika kau bisa mengurangi kekacauan. Kekacauan dalam hidupmu!


Aku dikeluarkan dari sekolah. Sebab aku didakwa melakukan tindakan bully kepada seorang anak. Aku hanya didakwa oleh pengadilan pribadi, mereka yang menyebut diri sebagai guru. Tidak ada bukti pasti yang bisa membuatku menjadi tersangka. Tetapi status terdakwa itu sudah cukup untuk mengeluarkanku dari sekolah. 


Putri Maharani pelaku bully kepada Michelle Khanzakh Wiroy.


Tapi aku bersumpah suatu saat nanti, aku akan menemui anak itu dan membuat perhitungan. Bukan sebuah balas dendam, hanya ingin mengetahui alasan pasti kenapa anak centil itu menceritakan sebuah cerita dengan alur yang dijungkir balikkan. Kelak, aku akan memintanya menguraikan naskah tentang sinetron keji tersebut. Tunggu saja!


Aku pemberontak sudah pasti. Aku senang membuat kegaduhan tentu betul. Aku menikmati keseruan, tak perlu disangkal. Namun aku menolak membully. Bahkan kepada binatang terlemah sekalipun aku tak ingin menunjukkan kuasa meski aku bisa. Sebab hanya pengecut yang memenangkan perseteruan dengan curang. 


Aku meyakini bahwa membully adalah sebuah kecurangan. Sebab dalam perkelahian membutuhkan lawan yang bisa melawan. Lawan yang mempunyai amarah dan emosi seimbang. Seperti akhir dari sebuah ikrar yang menjadi perseteruan itu. Mereka mempunyai emosi yang seimbang. 


Membully tentu tak sepadan dengan keseruan tersebut. 


Namun karena namaku sudah terlanjur dikenal sebagai "contoh terbaik dari remaja yang sedang dalam pencarian dirinya". Mereka -para guru tersebut- tak perlu mendengarkan pembelaan dari aku si terdakwa. 


Peraturan dibuat untuk dipatuhi. Dan mereka tak memerlukan banyak bukti sebab aku adalah pelanggar segala bentuk peraturan yang mereka miliki. Mereka tak perduli aku mempunyai peraturan diri yang tidak mungkin kulanggar meski kumaui. Seperti membully.


Dan hal yang menakjubkan justru datang dari orang-orang yang katanya menjadi wali hidup dari Tuhan. Mama dan Ayah. Mereka dengan pasrah membawaku pulang. Lalu membangun ancang-ancang, melemparkan aku si biji benih yang separuh tumbuh ke tanah berhumus yang jauh, ketimbang memeliharanya dalam sebuah pot di dekat ranjang.


Dan aku menolak untuk menangis. Menangis agar mereka tidak membuangku. Aku hampir tak pernah lagi menangis sejak kutahu air mata bukanlah senjata. Sebab air mataku tak pernah menjadi pedang yang menebas egosentris mereka. 


"Hanya satu setengah tahun, Putri. Mama mohon, tinggallah di tempat Iyang Uti. Dan melanjutkan sekolahmu disana."


Akhirnya tawar menawar terjadi. Dan kedua orang tersebut menyetujui. Setelah bilangan tahun itu terlewati, aku boleh memilih jurusan di universitas yang kuimpikan di luar negeri. Maka dengan senang hati pengasingan kujalani. 


Aku mencintai mereka. Dibalik tingkah liarku, aku tetap mencintai mereka. Kedua orang yang bersusah payah bekerja. Mereka memastikanku menjadi seorang yang berpendidikan dengan selalu mendaftarkan di sekolah bermutu. 


Sekolah bermutu selalu membutuhkan banyak biaya. Sebab sistem pengajarannya diimpor dari belahan dunia. Sesuatu yang didapatkan dari impor tentu dibandrol tinggi. Itu sebabnya kedua orang tua berjibaku mengusahakan biaya. Melepas anak panahnya untuk diasah. Sesuatu yang berbau impor diyakini lebih unggul, bukan?


Ckk, Aku tak peduli! Selagi aku mendapatkan apa yang kumau, prosesnya tidak lagi menjadi keluh kesah. Aku akan berkuliah di lain benua. Titik! Dan itu tujuan utamaku.


--