
Senin pagi adalah awal hari yang baru. Bukan dalam penanggalan. Tetapi yang kurasakan. Setelah mendapat pernyataan dari Ares dan Danang.
Mungkin pernyataan Ares bukan pernyataan cinta. Tetapi tetap saja pernyataan perasaan. Rasa rindu dan kehilangan. Artinya kehadiran diriku selama ini, sudah tercatat di pikirannya.
Semenjak Ayah mengunjungiku, Ares kembali mengantar dan menjemputku. Pagi ini ia sudah siap di atas motor, menungguku. Aku sedikit lambat. Entah mengapa terasa ada yang kurang saat menatap bayanganku di cermin.
Apa rambutku harus kugerai, atau kukuncir? Apa aku harus memakai bedak lebih banyak? Apa aku harus menggantinya dengan wangi parfum? Tapi aku suka wangi bedak bayiku.
"Putriiii, buruan! Kita terlambat nanti!" Ares berteriak tak sabar.
Aku keluar, mencemooh ketidaksabarannya. "Rambutku, bagus dikuncir atau diurai?"
"Ckk! Kuncir aja!"
Aku mencibir. Sudah kuduga!
Banyak yang bilang jika rambutku tergerai, penampilanku jadi feminin dan manis. Dan jika kukuncir buntut kuda seperti biasa, mereka bilang aku terlihat lebih tomboy.
Ares tak ingin aku nampak manis.
"Kau pakai parfum?"
Ares bertanya sesaat setelah aku naik ke boncengan motor. "Hu um, kenapa?"
"Banyak banget, bikin pusing!"
Parfumku beraroma teh yang lembut. Ares hanya tidak suka melihatku berdandan. Ares memang tak pernah suka jika aku berpenampilan lebih feminin.
"Kenapa sih kamu hari ini? Sudah jadian ya, dengan Danang?"
"Kepo!"
Kemudian kami berangkat dan kubiarkan saja pertanyaan Ares yang tak terjawab sejak malam tadi. Aku semakin ingin membuatnya tercekik rasa penasaran.
"Danang menawarkan mengantar dan menjemputku, boleh?"
"Naik mobilnya? Jangan coba-coba!"
"Lha, kenapa?"
"Aku nggak perduli, jika kalian sudah pacaran atau apa. Antar dan jemput itu bagianku. Jangan coba-coba!"
Aku tersenyum dari balik punggungnya. Aku geli dan senang dengan nada suaranya yang terdengar sangat murka. Entah mengapa aku senang mendengarnya.
"Ayah mempercayakanmu padaku, ingat itu!"
Aku hanya mengiyakan. Aku merasa Ares terganggu, sebab teretori kekuasaannya atas diriku, bisa tersingkir oleh kehadiran Danang. Tak ada lelaki yang ingin wilayahnya diganggu.
Jadi aku berniat mengganggunya hari ini. Saat di kelas, aku lebih banyak mengajak Danang berdiskusi. Juga saat di kantin. Meski bersama Arimbi dan Mayang juga, aku lebih banyak dekat dengan Danang.
Danang juga terlihat berbeda. Sikapnya menjadi lebih lembut dan lebih befokus padaku saat aku mengajaknya berbicara. Mungkin seperti inilah sikap anak lelaki pada perempuan yang disukainya. Lembut dan manis.
Padahal aku sering mendapat perlakuan istimewa seperti ini. Entah mengapa terasa berbeda, setelah orang tersebut menyatakan perasaannya.
Sikap Ares dan Danang memang berbeda. Jika Ares bertambah cerewet dan menyebalkan. Danang sebaliknya, menjadi lebih menyenangkan untuk diajak berbicara.
"Kalian benar pacaran, ya?"
Ares sampai harus berhenti di saung. Bertanya kembali dengan wajah kesal. Aku berhasil membuatnya uring-uringan seharian ini. Biar saja, aku merasa perlu membuatnya kesal. Ares sudah membuatku merasa malu dan bodoh, dengan pernyataan rindunya itu.
"Kalau iya kenapa? Tidak ada hubungannya denganmu juga, kan?"
Ares terlihat semakin kesal. "Kita sudah mau ujian. Padahal aku sudah mengingatkan Danang untuk tidak mengatakan padamu saat-saat ini."
"Kita ujian minggu depan. Jangan dulu memikirkan cinta, paham?"
Aku memandang Ares, sedikit tidak percaya. Aku merasa ia melangkah terlalu jauh. Ikut campur dalam urusan Danang, juga urusanku. Danang memang sahabatnya. Tapi aku bukan adik, pacar atau miliknya.
"Kurasa, kau tidak ada hak melarang atau menentukan apa yang diinginkan Danang atau aku!"
Ares terdiam. "Jika fokusmu terpecah, dan nilaimu menurun. Tidak ada gunanya latihan yang kuberikan selama ini."
Apakah Ares merasa otakku tak mempunyai cukup ruang untuk memikirkan banyak hal secara bersamaan?
Atau sebetulnya ini bukan tentang nilaiku. Nilaiku baik-baik saja sebelum ini. Bahkan ketika Wening Prubasari datang dan membuatku menangis. Aku masih bisa mendapatkan nilai rata-rata. Aku malah lebih fokus belajar untuk melupakan kemesraan mereka.
Aku juga berhasil belajar mengendarai motor. Aku baik-baik saja saat Ares menjauh dariku. Memang ada rasa kehilangan. Tapi aku baik-baik saja.
"Kenapa aku tak boleh pacaran? Kau saja pacaran dengan Wening!"
Kalimatku berhasil membungkam Ares. Wajahnya berubah. Yang tadinya terlihat kesal, kini nampak seperti entahlah. Apa ada kata yang tepat menggambarkannya. Terpukul? Terluka? Tak percaya aku mengucapkan kalimat tersebut sebagai pembanding?
Aku sendiri tak tahu mengapa aku selalu membawa nama Wening Prubasari.
Keadaan setelah kalimat tersebut kulontarkan menjadi bertambah tak menyenangkan. Ares mengajakku pulang tanpa berkata-kata.
Hingga hari-hari sesudahnya. Kami kembali dalam suasana semula. Perang dingin. Meski ia tetap mengantar dan menjemput. Juga menjadi tutor. Hanya satu kali pertemuan lagi.
Ares hanya memeriksa latihan yang sudah diberikannya. Ares bilang aku sudah memahami lebih dari separuh materi yang diperkirakannya akan keluar saat ujian nanti.
"Kamu banyak kemajuan, semoga kita bisa menyelesaikan ujian besok dengan lancar, ya."
"Hu um, makasih, ya. Sudah mengajariku. Semoga lancar."
Aku mengucapkan terimakasih. Tapi aku lebih ingin mengucapkan maaf.
Usai memeriksa latihanku. Ares belum beranjak dari kursinya. Ia nampak ingin mengatakan sesuatu.
Aku tahu, ia selalu nampak kesulitan mencari kalimat apabila menyangkut perasaannya. Ia selalu butuh waktu beberapa detik sebelum membalas semua kalimatku. Ia memilih kata-katanya. Memilih yang paling singkat dan tajam.
"Aku minta maaf." jadi aku memutuskan lebih dulu mengawalinya.
"Maaf, sudah menyebut nama mbak Wening. Dan hubungan kalian..."
"Aku tidak mau kita menjalani ujian dalam suasana seperti ini, maafkan aku."
Ares hanya mengangguk pelan hampir tidak kentara. "Aku juga minta maaf sudah ikut campur dalam urusan pribadimu."
Kemudian Ares pulang.
Dan air mataku kembali turun. Perasaanku tidak semakin membaik. Padahal aku sudah meminta maaf. Sebetulnya apa yang kuinginkan?
Apakah aku ingin Ares menjelaskan padaku bentuk hubungannya dengan Wening Prubasari?
Aku ingin Ares menjelaskan bahwa hubungan mereka tidak seperti yang ada di pikiranku. Atau mereka kini sudah tidak berhubungan lagi. Atau entahlah.
Mengapa aku kecewa dengan pernyataan maaf dari Ares karena sudah mencampuri urusan pribadiku.
Apakah itu artinya hubungan Ares dan Wening adalah urusan pribadi yang tidak boleh kucampuri juga?
Ares benar. Otakku tidak cukup mempunyai ruang untuk memikirkan banyak hal. Sebab mungkin tidak ada hal lain yang kupikirkan selain namanya.
Antares Bimasakti.
---