
Seperti kubilang aku menyukai keseruan. Pengasinganku ke tanah berhumus pastilah lebih menegangkan daripada menghadapi sinetron keji dari Michelle Khanzakh Wiroy .
Bukan aku takut untuk mencari pembenaran padanya saat ini. Aku hanya sedikit muak untuk membela diri sebab mereka sudah meyakini kebenaran diri sendiri.
Jika kau sudah merasa paling benar, maka tidak ada kebenaran yang lain lagi.
"Sialan! Mana sih yang jemput?" Desisku bertambah kesal.
Aku mempunyai tingkat kesabaran yang tipis untuk urusan menunggu. Tidak ada tempat kursus dan sekolah yang mengajarkanku bahwa menunggu bisa menjadi mengasyikkan dibanding memanjangkan leher selama sejam, mencari utusan yang katanya akan menjemput itu.
Dan dari kejauhan akhirnya mataku menangkap seorang anak lelaki yang sedang menatap lekat. Seolah sudah mengenaliku. Ada selembar kertas putih didadanya, aku bergerak mendekat. Semakin dekat akhirnya tulisan di atas selembar kertas tersebut terbaca. Namaku! Putri Maharani.
Aku melambai ceria kearah anak lelaki tersebut. Seperti menemukan utusan dari lain resimen, aku seorang prajurit yang sudah lama berada di terik padang tandus.
Benakku menyapanya, "hei, aku disini!"
Tapi anak itu hanya membuat gerakan kepala dengan tak sabar, memberi isyarat menyuruhku mendekat. Tak ada senyum diwajahnya seperti kebiasaan manusia normal jika bertemu manusia yang lainnya.
Sombong sekali!
"Lambat sekali!" semburnya seraya melihat jam di tangan.
Aku terkesiap, memandang sosok yang masih asing tersebut. Kenalpun tidak, mengapa mulutnya menyemburkan api? Bukan aku yang mengemudi pesawat. Jikapun iya, niscaya ketika mendarat kupastikan moncong pesawatku menabrak moncongmu. Yang berapi itu.
Bukankah kita sendiri menyukai delay? Sebab itu kita suka pergi di menit akhir, hanya terlambat sedikit. Sedikit terlambat yang sama seperti ukuran jauh-dekat base camp itu.
"Tunggu, kamu yang jemput aku?"
"Iya! Lekaslah!" Serunya tak sabar sambil mulai berbalik melangkah.
"Hei, tunggu! Nggak salah orang, kan?" Aku menolak mengikutinya. Bagaimana jika nama Putri di kertas itu bukanlah aku?
"Ini kamu, kan?" Tangan anak itu membalik kertas dengan gemas yang ternyata adalah selembar poto besar. Wajahku tercetak dengan jelas disitu.
Aku mengangguk gugup dan sedikit merona.
Aku merona sebab menyadari dengan cepat, sudah berapa lama anak itu mengamati wajahku yang tercetak lalu mencocokkannya dengan puluhan anak perempuan yang lewat. Itupun kalau ia menungguku lebih lama dari waktu yang kuhabiskan memanjangkan leher tadi.
Aku hafal sekali poto itu. Poto selfie terbaru yang juga menjadi wallpaper HP yang ada di saku. Bisa ditebak siapa yang bertanggung jawab poto itu ada di sini. Mama!
"Cepatlah, aku masih ada urusan!" gerutunya mendahuluiku.
Dia bahkan tidak berbasa-basi, berkenalan atau apa!
Dengan terseok aku mengikutinya, langkahnya panjang sebab tubuhnya menjulang. Catat! Terseok! Koper di troli ini berukuran lumayan dan beratnya juga tidak main-main. Dan anak itu tidak menawarkan bantuan sama sekali.
Sialan!
Di lingkungan lama aku terbiasa dilayani atau paling tidak ditawari bantuan. Terutama oleh anak lelaki di sekolah. Aku Putri yang terkadang menjadi 'Putri' sungguhan. Aku bisa meminta mereka melakukan yang kuinginkan. Sebab mereka memuja wajahku, dan memperlakukanku istimewa. Mereka, yaitu para anak lelaki itu.
Namun anak lelaki yang ada didepanku berbalik, memandangku dengan tatapan serupa pedang.
"Aku hanya ditugaskan menjemputmu, bukan melayanimu!" ucapnya dengan penekanan pelan dan dalam.
Aku tersedak, sedikit terpana dengan nada bicara yang mengandung kesumat. Ada apa dengannya? Aku bahkan baru mengenalnya kurang dari sepuluh menit lalu. Tahu namanya pun tidak, kenapa ia bersikap seolah-olah muak kepadaku?
"F*** you!" desisku spontan.
Dan tanpa disangka, anak itu bergerak mendekat.
"Apa? Kamu bilang apa barusan?" Matanya melontarkan bara. Aku sampai mundur selangkah.
Aku tidak pernah takut menghadapi siapapun. Latihan taekwondo dan karate selama tahunan telah menghasilkan ban hitam. Anak ini hanya sedikit lebih jangkung. Dan aku sudah memperhitungkan, satu tendangan tepat di titik lemah tentu akan menghasilkan jeritan payah dari mulutnya yang berbisa .
Jika saja ia berani menyentuhku!
"I said f*** you! Kita memang belum saling kenal, tapi kamu nggak berhak bersikap kasar kepadaku!"
"Aku berhak melakukan apapun yang aku mau, karena aku memang tidak mengenalmu!" Desisnya tak kalah tajam.
Anak lelaki ini pastilah berbakat menjadi aktor brilian. Kalimatnya yang mengaku tidak mengenalku pastilah hasil dari latihan kebohongan. Bagaimana seseorang dapat membenci jika tidak pernah mengenali?
Sebagaimana akhir dari sebuah ikrar itu. Pasti ada sebuah awal. Kebencian dari dua orang yang pernah mengucap ikrar pasti karena telah saling mengenali diri.
Kebencian yang keluar dari kalimatnya pasti karena ia telah mengenalku sebelum ini. Tapi apa, dimana, kenapa? Apakah wajahku pada poto itu telah menyiksa matanya beberapa jam ini? Atau karena kisah pengasinganku tersiar cepat seperti kabar hoax di dunia maya.
Kabar hoax tak butuh klarifikasi. Orang-orang tak benar-benar membutuhkan klarifikasi, sebab mereka hanya menanti sensasi untuk membenci.
Anj####, bab#...
Sumpah serapah kukeluarkan dalam benakku. Sebab sudut mataku sudah menangkap beberapa orang yang mulai tertarik pada pertengkaran mulut kami. Meski emosiku sudah di puncak, aku masih orang beradab.
Jika anak itu tidak malu akan situasi ini, maka aku masih seorang anak perempuan. Pada usiaku anak perempuan tidaklah ingin jadi bahan tontonan bagi anak perempuan lainnya. Apalagi untuk peristiwa yang tidak ada ujung pangkalnya seperti ini.
Perasaanku sudah cukup buruk sejak dua minggu lalu. Aku ingin menghabisinya. Tapi aku tidak ingin hari pertamaku disini berubah menjadi tragedi. Tidak ada keseruan yang datang dalam tragedi.
Dengan langkah tak perduli, aku berjalan menuju pintu tanda keluar. Aku tidak ingin dikendalikan oleh emosi dari seseorang. Terutama di tempat yang akan menjadi pengasinganku. Aku menyentuh kalung di leherku. Membawanya ke gigi dan mencecapnya di ujung lidah.
Aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Aku merapal mantra yang kuciptakan sendiri.
Tak lama anak itu berjalan mendahului. Dan sumpah serapah kembali menguasai benakku.
Siapapun kamu! Awas saja nanti!