Antares

Antares
Dosa purba



Antares Bimasakti 


Pastilah masih sangat muda saat kisah mereka bermula. Mungkin itu sebabnya Iyang Uti dan Bibi Tantri menyebutnya "tetangga kita". Namun entah apakah rahasia mereka bisa menjadi rahasia kita bersama.


Saat Antares berumur lima belas, Wening delapan belas, ia sudah lulus SMA. 


Aku mencari ingatan membekas saat berumur lima belas. Kelas tiga SMP pelajaran terlampau padat. Kami bersekolah hanya lima hari dengan kurikulum adopsi. Seharusnya aku tak boleh mengeluh namun ada banyak hari kulalui dengan bersembunyi. Aku kurang suka suasana sekolah. Aku tidak pernah suka akan sekolah.


Aku mempunyai gerombolan. Yang biasanya kabur setelah jam makan siang. Tapi pelarian kami tak jauh dari warnet dekat sekolah. Rasa-rasanya saat itu kami belum mengenal cinta. Mungkin yang paling mendekati hanya rasa cinta pada karakter di game online kami. 


Cinta pada kawan? Aku tak bisa jatuh cinta pada seorang kawan. Aku mencintai mereka semua, seperti mereka mencintaiku. Tapi mungkin tak seperti kisah cinta Antares Bimasakti kepada Wening Prubasari. 


Bagiku cinta harus tumbuh perlahan. Seperti benih yang dipelihara, disiram dan di pupuk setiap hari. Bisakah jatuh cinta kepada sahabat lelaki? Seperti Wening kepada Antares. Aku tak tahu. Aku tak pernah mempunyai sahabat lelaki. Aku juga tak pernah merasakan jatuh cinta. Memangnya jatuh cinta itu seperti apa?


Mereka bersahabat dan menjalin kisah jauh lebih lama. Bilangan lima belas dan delapan belas adalah ikrar bahwa mereka akan terus bersama. Namun syarat bisa berkuliah di tempat yang jauh dari rumah adalah bertunangan. Lalu diikuti dengan menikah. 


Bagi Bibi Tantri. Syarat tersebut mutlak. Bukan berpikiran ortodok. Seorang ibu tentu akan selalu berpikir tentang kebaikan anaknya. Maka Bibi Tantri bisa melepas anak perempuannya jauh disana. Hiduplah kalian disana, berbagi rumah atau kamar bersama dengan ikatan sah. Maka selesai tugas orangtua, mengurangi dosa zinah anak-anak separuh dewasa yang berkuliah di lain kota.


Jika saja di dunia maya ada polisi susila. Dan data digital bersepakat untuk berkhianat. Baik data tersembunyi maupun yang telah terlempar ke keranjang sampah dunia maya. 


Bayangkan berapa juta manusia yang tergagap dan tersedak. Pontang-panting menyelamatkan aibnya. Apa istilah yang tepat untuk itu. Menyelamatkan harga diri atau mengubur aib. Sebab aib harusnya tidak dikuburkan. Jika harga diri tak pernah digadaikan.


Dan segala bentuk dosa selalu terbungkus dengan indah. Kisah cinta akan terdengar indah apabila memasukkan unsur dosa. Kusebut satu, kisah dewa Ares yang berselingkuh dengan Aphrodite. Kisah tersebut diceritakan berulang-ulang untuk mencari pembenaran. 


Bahwa banyak pasangan tak bisa membendung cinta kedua meski telah ada  cinta pertama. Cinta ataukah hasrat yang sebetulnya bermuka serupa. Mungkin idiom cinta pertama benar adanya, dan yang datang setelahnya bukan lagi cinta melainkan hasrat. 


Tetapi pada usia berapa cinta boleh datang? Bahkan anak SD jaman sekarang sudah bercinta-cintaan. Jika cinta pertama sudah datang diusia belia, maka jenjang selanjutnya berarti tinggallah hasrat.


Aku menutup buku bersampul belacu. Menyentuh kalung di leherku.


Aku Putri Maharani. Aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Tak kubiarkan cinta menyapaku terlampau dini. Seperti cinta pertama Mama kepada Ayah, yang ternyata tak bisa kukisah lama hingga mereka menua.