Antares

Antares
Pernyataan cinta



Sepanjang pulang, aku memaki pikiranku. 


Bodoh 1000x


Bodoh 1000x


Bodoh 1000x


Entah sampai tiba di rumah. Sudah berapa ribu 'Bodoh' yang kuteriakkan. 


Di halaman, ada Jeep milik Danang. Ia mengunjungiku, sendirian. Bajunya rapi dan ia sangat wangi. Tapi ia terlihat sedikit gugup. Mengapa hari ini orang-orang bersikap aneh?


"Baru pulang?" 


Danang menyapaku dan Ares. Kami mengangguk. Ares memasukkan motorku lalu bertanya pada Danang, apakah ia ingin kerumahnya. Seperti biasa.


Tapi Danang menggeleng. 


"Maaf, aku mau pinjam Putri, sebentar. Boleh?"


"Huh? Mau kemana? Aku belum mandi."


"Kutunggu."


Adegan selanjutnya terasa sangat aneh. Danang menungguiku yang mandi dan berganti baju. Sementara Ares ikut menemaninya. Mereka duduk mengobrol seperti biasa. Lalu aku keluar setelah pamit pada Iyang Uti dan Bibi Tantri.


Dan pamit pada Ares. 


Ares menatapku dengan pandangan yang tak bisa kucerna. Sungguh terasa aneh. 


Danang mengajakku ke alun-alun. Meski belum terlalu malam. Kami makan, sejak siang aku memang belum makan. Siang tadi aku tak merasa lapar. Duduk bersama Ares di saung tadi membuatku lupa akan rasa lapar.


Setelah makan kami duduk-duduk. Mengobrol santai seperti kami berbicara setiap harinya. Danang lebih bisa membuat suasana hidup. 


Seperti halnya Ares. Danang juga tak pernah sengaja mengajakku pergi berdua saja. Rasanya canggung. Tapi Danang bisa menghilangkan kecanggungan itu. 


Ada banyak topik yang kami bicarakan. Danang mempunyai banyak simpanan topik yang tak habisnya. Berbeda sekali dengan Ares yang pelit mengeluarkan kata-kata. Padahal jika dengan yang lainnya Ares tampak tak kesulitan berbicara. Kenapa denganku ia seperti berhati-hati?


Mengapa aku malah memikirkan dan membandingkan Danang dan Ares?


Lalu Danang mengajakku pulang. Aku pikir sudah begitu saja, selesai. Danang hanya ingin makan dan ngobrol denganku. Tapi sebelum sampai pertigaan menuju rumah Iyang Uti. Danang menghentikan Jeepnya. 


"Aku boleh bicara?"


Aku menatapnya bingung, "bukankah dari tadi kita sudah bicara?"


"Bicara yang agak serius, boleh?"


Aku berdebar. Mengapa hari ini orang-orang terasa sangat aneh?


"Aku tahu, kita mau ujian. Tapi jika aku tidak mengatakannya sekarang. Aku tidak akan bisa tenang menghadapi ujian. Jadi kumohon, jangan marah."


"Bicaralah, kamu buat aku gugup." 


"Aku mungkin menyukaimu."


Danang berkata dengan sangat cepat, hingga hampir tak tertangkap keseluruhan kalimatnya.


Danang menyukaiku? Mungkin, katanya tadi jika aku tak salah dengar.


"Mungkin?"


Danang mengangguk. "Mungkin menyukaimu lebih daripada Arimbi, Mayang atau anak perempuan lainnya."


Tunggu dulu! Apakah ini pernyataan cinta? Apakah menyukai sama artinya dengan mencintai? 


"Makasih, sudah menyukaiku lebih dari mereka." 


Aku berhati-hati agar tidak terlampau besar rasa. Sebelumnya tadi Ares juga bilang akan merindukanku. Bisa jadi Danang juga seperti itu. Hanya menyukai dan tidak bermaksud apapun.


Gantian Danang yang terlihat bingung. Jarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Sesekali menggaruk rambutnya yang kutahu pasti tak berkutu atau berketombe.


"Ckk, ah! Maaf!"


Danang terlihat menyesal. Meski agak terlambat. Aku akhirnya menangkap maksud dari kalimatnya. Duh!


"Huh? Baiklah! Jika itu yang kamu maksud. Anu... Aku mengerti."


Tiba-tiba kalimat Ares tadi terdengar lagi. Aku mengerti kenapa. Akhirnya. 


Mengapa aku selalu terlambat mencerna?


hj


"Seharusnya kita memang fokus pada ujian dulu. Tapi terimakasih, ya. Atas pernyataanmu."


Kemudian Danang terlihat lebih rileks. Ia tertawa, "iya, maaf. Tidak usah menjawabnya sekarang. Tidak dijawabpun tidak apa-apa. Aku sudah cukup senang bisa menyatakan perasaanku. Daripada mengganjal."


Aku ikut tertawa. Danang memang selalu terbuka dengan apa yang dirasakannya. Suka atau tidak suka. Namun tidak dengan cara yang frontal atau vulgar. Ia akan menyematkan kata "maaf" sebelum kalimat lanjutannya.


Berbeda dengan Ares yang lebih banyak menyimpan kalimatnya. Dan hanya menyatakannya bila didesak atau memang diperlukan saja. 


Lagi-lagi aku membandingkan keduanya.


"Put, maaf. Apakah kamu dan Ares sedang menjalin hubungan?"


Aku cukup terkejut dengan pertanyaan Danang. Aku menggeleng.


"Begitu ya?" Danang menggut-manggut. 


"Ya sudah, kita pulang sekarang. Sekali lagi terimakasih, ya."


"Sama-sama Danang." 


--


Ketika kami tiba. Ares masih dirumah, mengobrol dengan Iyang Uti. Lantas keluar saat Danang kembali pamit. Ikut mengantarnya dari pintu. 


"Ada sesuatu?"


"Sesuatu?" aku balik bertanya tak mengerti.


"Wajah kalian terlihat sedikit berbeda. Apa ada sesuatu? Sepertinya tadi Danang terlihat mempunyai urusan penting denganmu, yang tak boleh kudengar?"


Mengapa Ares terdengar seperti Iyang Uti? Yang senang bertanya dengan detil?


"Iya, ada. Sudah disampaikannya tadi."


"Tentang apa?"


Aku urung melangkah ke dalam kamar. "Kamu kepo!"


"Menyatakan cinta, ya?" 


"Danang menyatakan perasaannya, ya kan?"


Ares mendesakku. Aku terpaksa mengangguk.


"Kamu menerimanya?" 


"Ckk, aku capek. Belum sholat juga. Pulang sana! Kepo!"


Aku masuk kamar dan menguncinya langsung. Biar saja. Aku ingin Ares tenggelam dalam rasa penasarannya malam ini. 


Biar saja! 


Rasakan!


---