Antares

Antares
Perpisahan



Cukup lama Ayah di rumah Iyang Uti. Seminggu. Dan selama seminggu itu Ayah selalu menjadi koki makan malam kami. Kulihat wajah Iyang Uti yang lebih berbinar dari biasanya. Ibu mana yang tidak senang jika anaknya pulang.


Menurut cerita Iyang Uti, Ayah memang anak lelakinya yang jarang pulang. Sebab setelah kuliah Ayah mencari ilmu sekaligus kerja hingga ke negeri seberang. 


Selama seminggu itu pula rumah Iyang Uti menjadi meriah. Koloniku lebih sering kumpul di rumah. Sebab Ayah membawa cerita yang seperti tak ada habisnya. Bercerita sambil makan. Kombinasi yang disukai semua orang.


Dengan cepat koloniku sudah menjadi fans Ayah. Terutama Ares. Mungkin ia pulang ke rumahnya, hanya untuk tidur dan ganti baju saja. Sisa harinya pasti sudah di booking Ayah. 


Mereka seperti kombinasi pasangan ayah dan anak lelaki yang sempurna. Bahkan jika orang yang tidak tahu akan mengira Ares-lah yang anak Ayah, bukannya aku. 


Tapi anehnya aku tak keberatan. Apakah Ares keberatan menjadi anak Ayah?


Saat makan malam terakhir sebelum Ayah pulang, kami semua berkumpul di meja makan. Ares dan Iyang Uti. Nampak sekali mereka berat untuk berpisah. Iyang Uti bilang, beliau masih kangen sama Ayah.


Aku tidak. Bukankah aku masih bisa menemuinya. Aku jarang merindukan Ayah atau Mama. Meski kami jarang bertemu, tapi bukankah kami saling memiliki. Aku memiliki Ayah, aku juga memiliki Mama. Aku masih memiliki semua.


Yang kurindukan mungkin kebersamaan. 


Aku ingin Mama juga ada disini. Duduk di salah satu kursi itu. Makan malam bersama kami. Makan masakan yang Ayah buat. 


Bukankah Ayah pernah berkata bahwa memanjakan perempuan juga bisa melalui masakan? Kenapa Ayah tak memasak dan membuat Mama merasa istimewa. Hingga Mama tak harus pergi dan kami berpisah?


Setelah tersesat dan menyadari rasa cintaku pada Ayah dan Mama. Aku bisa menerima bahwa Ayah dan Mama tak bisa hidup bersama. Tapi aku masih tak mengerti mengapa mereka berpisah.


Kenapa mereka berpisah?


Bukankah Iyang Uti bilang, Ayah adalah anaknya yang baik. Bukankah Ares bilang Ayah adalah orang baik. Kawan-kawanku juga bilang Ayah keren. Ayahku hebat dan semacamnya. Ayah juga tak pernah memarahiku.


Jika Ayah memang sebaik itu. Lantas kenapa Mama pergi meninggalkan rumah? apakah Mama yang tidak baik? 


Apakah ada syarat tertentu agar seseorang bisa disebut baik?


"Tugas yang kutandai, sudah kau kerjakan?" 


Ares tiba-tiba mendatangiku. Iyang Uti dan Ayah masih mengobrol di meja makan. 


Aku menggeleng, "Besok, Ayah pulang. Aku nggak bisa fokus."


Ares duduk di kursi bambu. Menghela nafas panjang. "Punya seorang ayah, seperti Ayahmu itu menyenangkan."


"Hu um, mungkin." Aku menjawabnya ragu.


"Mungkin? Apa kamu tidak merasa seperti itu? Kau kurang menyukai ayahmu?"


"Aku hanya tidak mengerti. Jika memang Ayah sebaik itu, seperti yang semua orang bilang. Kenapa mereka tak bisa tinggal bersama? Ayah dan Mama."


Ares terdiam. Lalu berdiri berjalan menuju tiang beranda, bersandar disana.


"Aku juga tidak mengerti kenapa Bapak dan Ibu pergi. Mereka bekerja jauh hingga ke lain kota. Aku tak tahu apakah mereka berpisah ataukah masih bersama."


"Aku juga tidak mengerti cara berpikir orang dewasa. Tapi, Bibi Tantri pernah bilang padaku. Bahwa kelak, aku akan mengerti pada saatnya."


"Jika aku sudah dewasa katanya."


Aku tertawa kecil. 


"Kenapa kau tertawa?"


Aku hanya menggeleng. "Ayah juga pernah bilang begitu, kelak aku akan mengerti jika aku sudah dewasa."


Ares memandangku sekilas sebelum membuang lagi pandangannya. "Aku juga pernah berpikir seperti itu."


"Tapi kemudian, aku mengerti. Akan banyak perpisahan dalam perjalanan hidup manusia. Jika kita bisa menerimanya. Maka itulah jalan kita bertambah dewasa."


"Aku nggak ngerti." Aku berusaha mencerna kalimat Ares. Tapi aku tetap tidak mengerti.


"Ayahmu akan pulang ke rumahnya disana. Arimbi dan Mayang akan kuliah ke Jogja. Begitu juga Danang dan Surya. Kamu."


"Kita semua akan berpisah."


"Apakah kamu bisa mencegah perpisahan? Apakah kamu bisa melarang atau meminta mereka untuk jangan pergi?" Ares bertanya padaku.


"Tentu tidak."


"Kenapa? bukankah kau menyayangi semua, ayahmu, juga kawan-kawan kita. Kau bisa meminta agar mereka semua berkumpul saja, tidak kemana-mana."


"Tidak mungkin! mereka pergi karena akan kuliah. Ayahku juga harus bekerja. Aku juga ingin kuliah. Tidak mungkin juga kita selalu bersama."


"Nah, itu kamu mengerti. Jika dengan berpisah itu mendatangkan kebaikan bagi semua. Maka kita harus bisa menerimanya."


Aku terdiam. Aku mengerti bahwa kami akan berpisah, sebab harus berkuliah dan kerja. 


"Jika karena alasan kerja. Mereka tidak harus bercerai, kan?"


Ares menarik napas lagi. 


"Mungkin, karena ada alasan yang lain. Perasaan yang sudah tidak sama mungkin."


"Ayah bilang, ia masih sayang Mama. Demikian juga Mama. Ia pernah bilang seperti itu padaku. Jika mereka masih menyayangi, kenapa harus berpisah?"


Ares berbalik, menatapku lama sekali. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku juga tidak tahu kenapa aku harus bertanya padanya. Kenapa juga aku harus bertanya padanya? Kenapa aku merasa ia harus menjawabnya?


"Karena... butuh banyak alasan bagi dua orang untuk dapat hidup serumah. Cinta dan sayang saja tidak cukup."


"Apa alasan yang lainnya?" Aku memburunya.


Ares menggeleng, seperti terlihat geli. "Aku nggak tahu, aku cuma membaca saja. Aku belum pernah menikah!"


"Itukah alasanmu melepas Wening?"


Kulihat rahang Ares mengeras. Aku membeku, merasa bodoh karena membawa nama itu dalam obrolan ini. "Maaf." 


Aku meminta maaf dengan cepat, tapi kurasa terlambat. Matanya telah kembali membeku. Padahal beberapa hari ini aku mendapati kehangatannya. 


BODOH!


Aku mengutuk benakku. 


"Sudah malam, aku pamit dulu ke dalam. Jangan lupa tugasmu!" 


Setelah Ares masuk, aku berlari ke kamarku. Kembali melanjutkan mengutuki kebodohanku. Padahal suasana tadi sangat langka. Ares tidak pernah mengajakku mengobrol seperti itu. Mengobrol layaknya seorang sahabat.


Aku dan mulutku. 


Bodoh.


--