
Anak-anak sepakat untuk tak menceritakan kejadian tersesat itu kepada Iyang Uti. Bukan ingin menutupi, tapi jika Iyang Uti mendengar. Ada kemungkinan ijin mendaki akan dicabutnya nanti. Atau yang lebih parah, bisa-bisa ijin main bareng juga dibatasi. Ares juga tidak berkata apapun saat mengantarku pulang.
Hari-hari kembali menjadi normal. Sikap Ares tidak lagi kasar, namun tidak juga menjadi lebih manis. Ia bersikap sangat wajar, cenderung dingin kubilang. Selain pembicaraan saat antar jemput, nampaknya ia tak berminat mengajakku mengobrol tentang yang lainnya.
Memangnya aku ingin dia bagaimana?
Itulah dilema saat kau merasa sudah memiliki seseorang. Kau seperti menginginkan kebersamaan yang tanpa jeda.
Memiliki? Aku mentertawakan pikiranku. Aku bahkan tidak memiliki siapapun. Selain cerita tersesat bersama Ares. Mengingat tawanya. Tatapan hangatnya. Lengannya.
Jadi, aku selalu mengingat malam itu. Lalu menjadi melankolis sendiri. Dan ini sangat menyiksa. Hanya bisa mengenang. Sedangkan sosok orang tersebut ada di depan mata.
Kemudian, kebersamaan yang sekecil apapun menjadi begitu berarti. Perlakuan manis yang ditunjukkan Ares kepadaku seperti menjadi momen istimewa. Bahkan ketika mataku menangkap sosoknya, menjadi tambahan adrenalin tersendiri. Dan menyebut namanya menjadi mantra utama.
Antares Bimasakti.
Aku memanggil namanya hanya dalam hati. Aku telah menyukainya. Tapi hati Antares Bimasakti telah terisi.
Rasanya ingin membahas perasaanku ini dengan Arimbi dan Mayang. Namun, Mayang nampaknya masih menyimpan harap pada Ares. Dan aku segan bercerita dengan Arimbi tanpa kehadiran Mayang. Aku takut perasaanku akan melukai mereka.
Aku tidak memiliki sahabat perempuan. Di sekolah lamaku, kebanyakan kawanku adalah anak lelaki. Sebab buatku, lebih mudah berteman dengan anak lelaki. Mereka jujur dan tidak penuh drama seperti anak perempuan. Itulah sebabnya banyak anak perempuan yang memusuhiku.
Mereka mungkin hanya iri, sebab beberapa anak lelaki yang mereka sukai dengan mudahnya menjadi pengikutku. Jadi Mayang dan Arimbi sangat berarti buatku kini.
Kami sering belajar dan mengerjakan tugas bersama. Bersama koloniku. Tapi aku lebih sering diajari secara mendalam oleh Ares. Seminggu tiga kali. Bagian dari janjiku untuk berubah, aku setuju menjadikannya tutorku.
Kesempatan belajar berdua rasanya bisa menjadi momenku. Jika saja sikapnya tidak terlalu keras. Antares Bimasakti terkadang tidak memiliki kesabaran berlebih. Aku lebih sering deg-deg an karena cemas akan dimarahinya. Daripada berdebar karena kebersamaan kami. Kadangkala aku merasa tersiksa sekali.
Tak jarang aku mengerjakan tugas yang diberikannya dengan air mata berlinang. Aku tidak bebal, aku tidak bodoh. Aku juga tidak cengeng. Jika saja Ares bisa sedikit melunak. Aku hanya tidak terbiasa dibentak-bentak.
Biasanya Ares akan terdiam jika aku sudah mulai terisak. Bukan ingin menjadikan air mata sebagai senjata. Tapi apa dayaku. Rasanya sedih sekali jika Ares sudah mulai memaki. Entah mungkin karena aku sudah menyimpan harap. Aku berharap Ares mengistimewakanku, sebagaimana aku mendewakan sosoknya.
Kini aku tersiksa oleh perasaanku sendiri.
Hari ini adalah jadwalnya mengajariku. Tetapi sudah sejak pagi tadi Bibi Tantri memberitahuku juga Ares. Bahwa hari ini akan cukup sibuk. Sebab anaknya semata wayang akan datang berkunjung.
Wening Prubasari akan pulang.
Dewi Aphrodite akan kembali.
Wajah Ares menampakkan sikap wajar. Tapi mungkin hatinya tidak. Sebab sejak pagi hingga kembali mengantarku pulang sekolah. Ia tidak mengajakku berbicara. Apakah ia berdialog dengan hatinya? Mengirim telepati pada sang dewi?
Aku belum pernah bertemu dengan Wening Prubasari, kakak sepupuku. Tapi aku mulai merasa bahwa aku akan membencinya. Apakah perasaanku pada Ares adalah awalnya?
Saat kami pulang sekolah, sosok itu menyambut. Menyambut Ares tepatnya. Mereka baru saja tiba, Wening Prubasari dan suaminya masih duduk diberanda, bersama Iyang Uti dan Bibi Tantri. Ares seperti sudah terlatih. Wening Prubasari juga. Mereka bersikap dengan sangat wajar.
"Syukurlah ada Putri, jadi ibu dan Iyang ada yang menemani."
Bibi Tantri bercerita tentangku kepada anak dan menantunya itu. Wening Prubasari menampakkan wajah bahwa ia gembira. Rumah mereka kembali ramai. Lalu cerita lainnya bergulir dengan wajar. Obrolan ramai, seru. Dan Ares belum juga beranjak masuk rumahnya hingga makan malam ditawarkan.
"Ares, makan malam disini, ya. Aku tadi masak ayam bumbu."
Wening Prubasari, memberitahu Ares bahwa hari ini ia masak. Apakah masakannya selezat masakan Bibi Tantri?
Ayam itu memang sangat lezat. Apakah karena Wening memasukkan cinta kedalam bumbunya? Ayam itu mengingatkanku akan masakan Ares di puncak gunung. Apakah bumbunya sama? Apakah Wening yang mengajarinya?
Aku merasa nelangsa.
Nampaknya kehadiran Ares saat Wening Prubasari kembali ke rumah, adalah hal biasa. Ares adalah bagian dari mereka sejak lama. Makan malam kami berlangsung meriah. Semua obrolan berlangsung meriah. Perlahan aku menyadari kenapa seorang Antares Bimasakti terpikat pada Wening Prubasari.
Kakak sepupu itu memang cantik sekali. Ia bersuara dan bercerita dengan intonasi memikat. Seperti pendongeng yang memiliki keahlian hipnotis. Membuai. Padahal yang diceritakannya adalah cerita keseharian. Tetapi terasa seperti cerita istimewa yang harus didengarkan. Belum lagi tawanya yang seperti mengajak kita juga tertawa.
Jika aku tak percaya ada sosok perempuan yang tercipta sempurna. Maka Wening Prubasari adalah contoh nyata. Seorang perempuan disebut cantik, bukan karena ada lelaki yang menilai kecantikan mereka.
Menurutku, perempuan cantik adalah jika kecantikan mereka bisa membuat perempuan lainnya ikut jatuh cinta. Kurasa aku bisa saja mencintai Wening Prubasari, jika aku tak pernah membaca rahasia mereka.
Saat makan malam, berulangkali aku mencari mata Ares. Ares terlibat dalam obrolan mereka. Sebab obrolan di meja makan adalah cerita masa-masa dulu. Saat aku belum ada. Jadi aku tidak terlibat. Hanya mencari-cari mata Ares.
Berulang kali mata kami bertemu. Namun hanya beberapa detik. Sebab mata itu sepenuhnya tertuju pada Wening Prubasari. Sang dewi Aphrodite-nya yang kembali.
Aku tidak membenci Ares. Aku juga tidak bisa membenci Wening Prubasari. Aku benci perasaanku sendiri.
Jadi selepas makan aku mengundurkan diri. Aku tidak ingin menyiksa diriku lebih lama lagi. Ares bersikap wajar. Wening Prubasari bersikap wajar. Tapi aku tidak bisa bersikap wajar. Sebab aku benci kewajaran sikap mereka. Jika saja aku tidak pernah membaca perasaan mereka yang tertulis di buku bersampul belacu.
Wening Prubasari tidak lagi menempati kamar lamanya, bilik pengasinganku. Sebab ranjang dan ukuran kamarnya hanya pas untuk satu orang. Jadi Wening dan suaminya menempati kamar lain yang mempunyai ukuran lebih besar.
Aku mengingat lelaki di samping kakak sepupu itu. Bintang Samudra. Ya Tuhan. Adakah nama yang sederhana?
Bintang Samudra dan Antares Bimasakti. Mereka serupa. Gugusan bintang di hati Wening? Apakah seorang perempuan boleh memiliki dua gugus bintang secara bersamaan di langit hatinya?
Aku merasa Tuhan sedikit tak adil.
Lelaki-nya itu tidak terlihat seperti lelaki lemah yang bisa ditindas. Bintang Samudra merupakan jenis lelaki dominan yang kurasa tidak rela jika tahu ia hanya memiliki setengah hati perempuannya. Kurasa lelaki itu juga tidak menduga.
Inilah yang kubenci dari rahasia. Kau akan tersiksa sendirian menjaganya. Jika kumuntahkan rahasia itu di hadapan semua. Bisa jadi yang disalahkan adalah diriku sendiri. Bisa jadi semua murka akan tertuju padaku.
Sebab selayaknya rahasia. Biarlah terkubur di dasar hati manusia.
Jadi malam itu aku menangis. Entah apa yang kutangisi. Hatiku terasa sakit. Padahal tak ada yang menyakiti.
Ares tak pernah meminta atau menjanjikan apapun padaku. Tidak juga mengancamku atas rahasia itu. Ia menjadikan cerita mereka adalah cerita wajar. Apa yang salah dari cinta? Apa yang salah dari dua orang yang saling jatuh cinta?
Tidak ada!
Bukan cinta mereka yang salah. Bukan waktu juga yang salah. Lalu siapa?
Jika mereka salah, lantas apakah cintaku yang paling benar?
Jika Ares mencintai Wening Prubasari yang telah dimiliki Bintang Samudra apakah itu salah?
Jika kubilang aku mencintai Ares yang telah dimiliki Wening Prubasari. Apakah itu yang paling benar?
Maka aku menangis. Sebab aku tak tahu apa yang kuanggap benar. Aku menangisi ketidaktahuanku. Aku menangis sebab aku menginginkan jawaban. Tidak ada yang bisa menjawabku. Mungkin aku menangisi kesendirianku