Antares

Antares
Sang Ketua



Obrolan yang paling seru itu ketika merancang perjalanan. Maka kami membahas rencana pendakian setiap kali bertemu. Antares Bimasakti dinobatkan sebagai ketua. Ketua pendakian. 


Dalam setiap pendakian baik besar maupun kecil, wajib mengangkat satu orang sebagai dessicion maker. Si pengambil keputusan. Sebab dengan banyaknya kepala dalam satu kelompok, maka akan banyak pula pendapat yang akan beradu. Semua isi kepala pasti ingin didengar, tetapi terkadang lupa untuk mendengar.


"Tapi kenapa harus, Ares?" 


Aku mengajukan keberatan pada mereka. Menurutku Danang lebih cocok. Anak lelaki itu lebih dominan dalam koloni kami. Danang lebih banyak menawarkan diri memberi bantuan pada kami. Sedangkan Ares hanya mau mengerjakan sesuatu jika pekerjaan tersebut diserahkan padanya. Tidak mau berinisiatif duluan.


"Lah, Ares kan ketua pecinta alam sekolah kita." Mayang memberi informasi.


Baiklah, aku baru tahu bahwa Antares Bimasakti adalah ketua pecinta alam SMA lima belas, Sispala Wanalima. Danang dan Surya juga, keduanya termasuk didalam kelompok itu. Aku mengingat-ingat apakah informasi ini pernah kuketahui? Tidak ada rasanya. Sebab diluar kerja kelompok dan antar jemput, aku tak tertarik mengetahui kegiatan Ares. 


Naik gunung bukan sesuatu hal baru bagiku. Meski tidak sering, dan hanya satu gunung pokoknya aku pernah mendaki. Begitupun dengan Mayang dan Arimbi. Ini tanah leluhur mereka yang disesaki perbukitan dan dua gunung gagah yang tegak berdampingan. Sindoro Sumbing. 


Mayang pernah mendaki Sindoro meski hanya mencapai basecamp saat lulus SMP. Begitupun Arimbi. Singkatnya kami bukan anak baru yang cupu.


"Kalian, para anak perempuan jangan mengeluh, sebab sebelum mendaki, kita harus banyak berlatih."


Ares mulai menunjukkan dominasinya. Mengatur kami.


Ketua regu itu, memastikan kami cukup memiliki persiapan. Peralatan mendaki tidak menjadi masalah. Danang Prasetya seperti biasa selalu menjadi donatur, sebab sudah seperti menjadi kebiasaannya. 


Rasanya memang seperti itu disemua kelompok. Anak yang memiliki kelebihan harta benda selalu tampil menjadi penanggung jawab keuangan. Danang tidak keberatan. Tapi Ares menolak.


"Tidak bisa seperti itu. Yang mau mendaki kan bukan kamu. Mereka harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri."


Ares memutuskan, pengeluaran pribadi menjadi tanggung jawab diri sendiri. Dan pengeluaran kelompok adalah tanggung jawab bersama. Jadi itulah kesepakatan kami.


Mereka semua sudah mempunyai peralatan kemah. Jadi hanya aku yang harus membeli. Tak banyak, hanya sleeping bag dan ransel baru. Menurut Ares jaket yang kupunya sudah memadai sebab memang buatan luar yang mampu menahan cuaca. Sisanya seperti kompor, tenda dan sebagainya merupakan barang milik Antares dan Danang.


Tapi aku tetap meminta Ayah mengirimiku jaket baru. Jaket original, buatan luar yang memiliki lapisan anti hujan itu. Harganya cukup lumayan. Sesuai dengan jargon kalimat penjual. 


Ada harga, ada rupa. 


Hal selanjutnya yang membuatku ketar-ketir, yaitu ijin menginap. Selama di pengasingan aku belum pernah menginap selain ke rumah Mayang. Itupun melibatkan penguatan keterangan dari Ares. 


Antares Bimasakti memang tiket VIP-ku. Tak ada kekhawatiran Iyang Uti dan Bibi Tantri jika Ares ada disekitarku. Mereka mempercai anak lelaki itu. Tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya.


Tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya. 


Jadilah sepekan ini kami rutin berlatih mendaki bukit kecil di Utara yang di lerengnya banyak ditumbuhi tanaman tembakau . Motor-motor kami titipkan di kaki bukit, di rumah Pak Sukidi yang bekerja di perkebunan milik ayah Danang. Berlatih mendaki agar paru-paru kami bisa aklimatisasi. Padahal kami tinggal di ketinggian. Aklimatisasi apalagi yang dibutuhkan?


"Kenapa kau selalu mendebat? Tak bisakah kau mengikuti saja yang kuminta. 


Latihan ini bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Jika tak ingin latihan, tidak usah mendaki saja. Aku tak mau membawa anak cengeng yang nanti mengeluh sepanjang jalan!"


Jadi, meski dengan menahan emosi. Aku ikuti apa yang dimintanya. Menurut Ares ini hanya latihan ringan. Dan usai pembagian rapor, kami menyiapkan ransel. 


Hasil raporku di pengasingan: nilaiku lebih rendah dari kelima lainnya. Tapi bagiku ini nilai lumayan. Di sekolah lama, aku selalu mendapat catatan merah dan mengulang ujian. Para guru bahkan pernah menyarankan Mama untuk mendaftarkanku di banyak tempat les. 


Mereka para guru itu ingin hidupku habis hanya untuk kesekolah dan tempat les. Menurut mereka aku tak bodoh hanya kurang motivasi, sebab tidak semua otakku berfungsi.


Antares Bimasakti? tentu saja tetap menjadi bintang terbesar di rasi skorpio. Nilainya tertinggi di antara kami. Ia tentu mencemooh nilaiku. Tapi aku tak perduli.


Aku Putri Maharani. Aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Tugasku disini hanya membuat hati Mama dan Ayah senang. Lainnya aku tak peduli.


Tanggapan datang dari Iyang Uti dan Bibi Tantri. Mereka streotipe ibu desa. Saran mereka: belajarlah dengan Antares Bimasakti si bintang, agar nilaimu lebih baik. Aku mengangguk tapi bukan menyetujui. 


Mungkin kedua orang itu belum mengetahui, bahwa bintang Antares di rasi Skorpio sana sudah sekarat bahkan konon sudah meledak hanya saja akibat jarak, kita di bumi akan mengetahuinya beratus tahun cahaya lagi. Sekitar 640 tahun cahaya. Itulah satuan ukuran yang tak pasti. Manusia hanya bisa menduga-duga mengandalkan penglihatan saja.


Jika ada kemajuan yang lainnya adalah perdebatanku yang mereda. Sebab aku tak terlalu perduli akan eksistensi Antares Bimasakti. Kami mungkin berada di langit yang sama, namun kupastikan dalam galaksi berbeda. Selain antar jemput aku tak mengekorinya, waktuku lebih banyak bersama Mayang dan Arimbi. Ares menjadi buntutku sebab kami berada dikoloni yang sama. 


Kebencian yang pernah menguar dari matanya sedikit meredup. Masih ada, namun serupa pijar. Tak lagi membakar. Dan aku bersumpah pernah melihatnya menerima amplop putih dari Iyang Uti. 


Amplop putih tebal, kuduga isinya harga diri. Jadi aku tidak bertanya. Tidak ada lelaki yang ingin harga dirinya berada dalam amplop. Mereka tak bisa memilih. Atau bisa jadi memilih sebab pilihan itu mendatangkan keuntungan yang lebih.


Sekian waktu berlalu aku menyadari. Antares Bimasakti hidup sendiri. Rumah putih yang ditinggalinya lengang. Meski berkali-kali penasaran, aku tak ingin bertanya. Dari penampakan luar aku bisa membaui duka di dalamnya. Dan aku tak tertarik perasaan itu. 


Sebab duka adalah sejenis luka yang terlahir dari udara. Jika tak kuat kau akan tersedak air mata.


Kebencian di mataku tak meredup. Masih ada dan menyala. Namun jika tak ada pemantik, tak akan membakar. Sesekali anak lelaki itu melempar kayu kering. Aku bara. Tak perlu pemantik sebab kayu kering adalah pemancing api terbaik. Kuduga sengaja, untuk menjaga api dimataku tetap menyala. 


Sebab ia Ares. Dewa Mars yang menyukai pijar perang. Ares tahu dan berulangkali memastikan takaran emosiku masih sama. Meski aku tak lagi menakar kekuatannya. Aku tahu kekuatannya, dia tahu emosiku. Kami mengukur diri.