
Usai latihan, kami bergerumbul membentuk lingkaran. Baiklah, aku mengakui kemampuan Ares mengorganisir. Dibalik sikap dingin dan kalimat ketusnya. Ia motivator berbakat. Pada latihan terakhir, ia memerintahkan kami mendaki sambil berlari. Jadi kami berlari. Lerengnya tidak tinggi namun lari membuat kami payah, panas dan gerah.
"Lari? Kau gila ya?" mulutku kembali gatal memakinya.
"Ckk! Lari mendaki dengan irama stabil, bukankah latihan kemarin kita berhasil turun bukit dengan berlari?"
Apa mendaki gunung harus sesusah ini? Ini kan bukan gunung yang beresiko tinggi. Menurut Mayang, Arimbi dan lainnya, jalurnya tidak begitu sulit. Jalur biasa yang dimiliki gunung pada umumnya. Kenapa Ares membuatnya nampak susah?
Aku menduga Ares hanya bisa memerintah. Ia mungkin berleyeh-leyeh sementara kami berlari. Sama seperti banyak ketua, berani memerintah namun sesungguhnya untuk menutupi kelemahan mereka.
Dulu, aku berlatih taekwondo dan karate. Berlari juga terkadang keliling lapangan. Tapi itu di tanah datar, tak sesulit berlari di kontur tanah yang menanjak seperti ini. Aku kepayahan. Aku yang terakhir tiba dititik, Ares pun tiba hanya berselisih tiga menit. Ia berlari setelah memastikan tidak ada anggotanya yang tertinggal di belakang. Baiklah, ia berlari. Dan aku terkesan.
"Untuk Sindoro, dan untuk lancarnya pendakian kita!"
"YEAAA!"
Kemudian kami semua mengucap ikrar dan melontarkan semangat kami ke udara. Seraya berpegangan tangan. Aku terharu disesaki euforia. Aku mencintai mereka. Gerombolan baru. Koloni-ku.
Kata anonim: jika ingin tahu tabiat asli seseorang ajaklah mendaki, maka kau akan saling mengenali.
Dan kami belum mendaki namun ikatan baru telah terjalin. Lebih kuat. Aku mencatatkan semuanya sebagai kenangan terbaikku.
Menjelang remang, kami pulang bermotoran. Peluh masih tersisa di belakang punggungku. Dan aku membaui semangat yang menguar dari punggung di depanku. Punggung Antares Bimasakti. Hari ini aku membaui aroma yang berbeda. Aroma yang lebih nyaman dari hari sebelumnya.
Aku selalu takjub akan cara kerja pikiran. Selalu membuat kesimpulan kemudian meralatnya, lalu menghasilkan kesimpulan baru. Kemudian membuat kesimpulan lain lagi, dan meralatnya. Begitu terus berulang.
Hari ini aku berpikir. Betapa menyenangkan sikap Antares. Seandainya ia menjadi Ares hari ini, aku mungkin akan menasbihkannya menjadi sahabat. Aku tak mempunyai sahabat lelaki. Kawan lelakiku banyak tapi tak ada yang menjadi sahabat. Mereka lebih tertarik mengembangkannya ke arah lain. Aku yang tak tertarik.
Ares sedikit berbeda. Ia tak tertarik padaku. Ia membenciku dan aku membencinya. Ia hanya mencintai Wening yang juga mencintainya. Jadi ia aman buatku.
Kami sering terlibat menghabiskan hari bersama. Ares mengantar dan menjemputku, bahkan untuk pergi main bersama Mayang dan Arimbi yang pada akhirnya membuat Danang, Surya juga ikut bergabung.
Dan banyak hal menakjubkan yang lahir dari kebersamaan. Jadi setelah kebersamaan aku sering meralat pikiranku.
Antares sangat menyebalkan pada awal pertemuan. Dan kuralat: Ares bisa bersikap menyenangkan jika ia mau. Meski tak ada yang dapat memaksanya agar mau.
Antares sangat tidak sabaran pada awal pertemuan. Dan kuralat: Ares rela mengantar jemput bahkan menungguiku hingga petang. Meski terkadang dengan wajahnya yang beku itu.
Antares sangat kasar pada awal pertemuan. Dan kuralat: Ares pernah berkata dengan bahasa halus dan lembut sekali waktu. Meski itu hanya untuk membangkitkan emosiku.
Dan ada banyak hari yang kulalui dengan perasaan berdebar. Sialan memang. Matanya yang dulu berisi kebencian dan setelah nyalanya meredup. Malah membuat pusaran.
Bintang Antares pada konstelasi skorpio adalah bintang besar yang berpijar. Bintang raksasa berwarna merah namun ia dingin. Ia menggunakan semua bahan bakar yang dimiliki untuk membuatnya tetap berpijar, seperti semua bintang besar lain. Dan setelah semua gas yang dipunyai habis bintang itu akan meledak menjadi supernova. Meninggalkan lubang hitam dan akan menghisap apapun yang berada di dekat orbitnya.
Aku Putri Maharani. Aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Aku membangun kerajaan di konstelasi. Satu supernova terdeteksi. Ledakannya meninggalkan lubang hitam. Aku tercekat sedikit terlambat menyadari, kerajaanku dalam bahaya.
Tolong.
Aku terhisap