
Aku menangis tersedu-sedu di pelukan Ayah. Selama ini aku tak pernah menyadari perasaanku sendiri.
Kenakalan-kenakalan yang kubuat untuk melampiaskan rasa putus asaku. Mungkin aku hanya ingin diperhatikan. Disayangi. Diutamakan.
Aku benci mereka harus berpisah. Aku benci kami harus terpisah. Aku benci Mama yang pergi. Aku benci Ayah yang tak menahan Mama pergi.
Aku juga benci sekolahku. Aku benci pelajaranku yang sering mengisahkan cerita sempurna. Ada ayah, ibu, ada keluarga yang berkumpul dalam satu rumah. Aku benci sebab ada anak-anak yang mengejek perceraian orangtuaku.
Sebelum dengan Michelle Khanzakh Wiroy. Aku sering berkelahi. Anak-anak yang mengejek perceraian itu. Mereka mengejek dan menghinaku, kenapa aku tak boleh memukul mereka? Mengapa guru-guru menuduhku mencari gara-gara. Aku benci guru-guruku.
Aku dipenuhi rasa benci.
Aku kembali tersedu. Menyuarakan kebencianku sambil terisak. Menceritakan semua kebencian yang tumbuh bersamaku. Lalu kembali terisak.
Kenapa pada diriku ada banyak kebencian, Ayah? Aku benci pada perasaanku ini. Aku juga membenci diriku sendiri.
"Maafkan, Ayah."
Kami menangis berdua.
"Aku menyayangi Ayah juga Mama. Maafkan aku yang tak pernah mengerti pada perhatian kalian."
"Aku benci, kalian membuangku kesini. Aku merasa diasingkan. Aku merasa kalian tidak membutuhkanku lagi."
"Tapi perlahan, aku akhirnya tahu. Ini memang untuk kebaikanku."
"Aku akhirnya tahu. Benih tak bisa tumbuh di sembarang tempat. Benih harus tumbuh di tempat yang tepat. Seperti tunas pisang, yang harus dipisahkan dari induknya. Ditanam di lain tempat agar ia bertambah besar. Besar dan berbuah lebat."
"Terimakasih, Ayah juga Mama. Karena sudah mengirimku ke tempat Iyang Uti. Terimakasih karena sudah mempercayaiku. Percaya bahwa aku bisa menjadi anak baik."
"Aku kangen Mama, Ayah."
"Maafin Putri, Ma. Sudah jahat sama Mama."
Aku kembali terisak di pelukan Ayah.
"Kamu dengar itu, Rara?"
Dengan sigap aku mendorong Ayah. Menatap bingung pada ponsel di tangan kirinya. Layarnya terbuka.
"Sejak kapan Ayah vcall Mama?"
Dengan gugup, malu tapi juga gembira. Aku mengusap air mataku. Berbicara pada Mama di seberang sana yang juga ikut mengusap matanya. Aku benci Mama membuangku ke rumah Iyang Uti. Jadi aku selalu menolak setiapkali Mama melakukan panggilan video call.
Mama tertawa. Aku rindu tawa Mama.
"Mama juga kangen sama kamu. Mama sayang kamu, Putri."
"Maafin Mama, ya."
Lalu kami mengobrol bertiga di ranjang. Ayah, aku dan Mama di seberang sana. Aku merasa seharusnya kami melakukan hal seperti ini sejak lama. Tapi melakukannya sekarangpun masih terasa istimewa.
Masih mempunyai mereka adalah suatu berkah. Tidak apa-apa. Aku tidak lagi menuntut agar mereka bersama. Seperti inipun tidak mengapa. Jika ini yang terbaik untuk semua.
Jika berpisah bisa membuat Mama dan Ayah bahagia, tidak apa-apa. Aku sudah tidak apa-apa. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku. Aku tidak harus memaksakan semua keinginanku terpenuhi.
Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku sendiri. Selama ini aku disibukkan untuk membahagiakan diriku sendiri. Aku tak pernah tahu bahwa membuat mereka bahagia bisa juga mendatangkan kebahagiaan buatku.
"Mama tadinya bingung, kenapa liburan kamu nggak pulang. Ternyata disana kamu sudah mempunyai banyak kawan."
Aku mengangguk pada Mama. Lalu bercerita tentang Mayang dan Arimbi yang mengajariku naik motor.
"Jadi kamu sudah bisa naik motor?" Mama tertawa.
Mama sama khawatirnya seperti Iyang Uti jika aku terluka. Aku tidak lagi merasa kekhawatiran mereka berlebihan. Entah mengapa banyak sekali larangan yang sekarang aku mengerti kenapa tidak boleh dilakukan.
Bukan karena cerewet. Tapi karena mereka tak ingin aku terluka.
"Jadi, apa kamu sudah punya pacar sekarang?"
"Mama apasih! sama aja seperti Ayah! gasuka!"
"Tapi kamu suka, kan sama dia."
"Dia siaapaa... Mama sok tahu."
"Tahu lah, kan Ayah sudah cerita."
"Ah, tauk! Aku matiin ni, vcallnya."
Mama tertawa. Ayah juga tertawa.
Aku suka mereka tertawa.
--