
Wening dan suaminya sedang bercuti. Bukan bulan madu kedua kurasa. Sebab suaminya hanya menginap tiga hari saja. Kemudian ia pulang terlebih dulu, meninggalkan Wening lebih dari seminggu.
Seminggu lebih. Tepatnya sepuluh hari.
Kedua dewa dewi itu kembali bersama.
Aku nelangsa.
Aku tersiksa.
Jadi kuputuskan kembali belajar naik motor dengan Arimbi. Disaat Ares disibukkan mengantar dewinya kesana kemari. Aku tak ingin mengetahui mereka kemana, atau mengerjakan apa. Meski katanya sang dewi sedang mengurus surat menyurat. Aku tak peduli. Aku sudah cukup tersiksa dengan perasaanku yang menyimpan rasa. Tidak perlu kutambahi dengan kemesraan mereka.
Pernah suatu malam. Dengan telinga yang waspada, aku mendengar mereka pulang. Aku bisa mendengar mereka, sebab kamarku terletak di bagian depan.
Kudengar suara Ares yang berpesan. Agar sang dewi bermimpi indah, dan dijawab oleh sang dewi: pasti!
Aku benci!
Aku benci saat aku kembali menangisi kesendirianku.
Jadi aku mengingat dengan keras instruksi dari Arimbi.
"Jangan takut! Jika kamu sudah merasa takut saat di atas motor. Itu akan mendatangkan rasa gugup. Dan itu bahaya. Kamu harus yakin bahwa kamu bisa!"
Arimbi menyemangati. Tetapi yang aku ingat adalah kalimat dibenakku sendiri. Aku harus bisa mengendarai motorku sendiri. Aku tidak ingin bersama lagi dengan Ares ke sekolah.
Aku benci kebersamaan kami. Jadi aku harus bisa mengendarai motor sendiri.
Aku tidak serta merta bisa mengendarai motor. Dan selama rentang waktu itu. Ares tetap mengantar dan menjemputku. Hanya mengantar dan menjemputku dari dan ke sekolah. Tak ada obrolan. Tidak juga berkumpul dengan koloni kami. Ares yang terlebih dulu memberi alasan.
Jadi tidak hanya diriku yang tersisih oleh kehadiran sang dewi. Koloni-ku juga. Mayang akhirnya mengetahui, kenapa Ares bersikap dingin padanya.
"Apakah kakak sepupumu itu kekasih Ares?"
"Mereka pacaran?"
"Bukankah kakak sepupumu itu sudah menikah?"
Arimbi dan Mayang bertanya dengan penasaran.
"Entahlah, aku tidak tahu sedetil itu. Aku juga tidak terlalu mengenal Mbak Wening."
Mayang memelukku. Entah untuk apa. Mungkin pelukan sesama korban. Korban dari perasaan kami sendiri. Betapa terasa bodoh. Apakah cinta kerap membuat orang menjadi bodoh?
Namun aku merasakan sedikit kekuatan. Aku tidak sendiri. Tanpa banyak pertanyaan, Mayang seperti memahami perasaanku. Kami berdua tak bisa mengungguli sang dewi. Mayang mendukungku bahwa aku harus bisa mengendarai motorku. Jadi aku mendapat sekutu. Wening Prubasari adalah rival kami.
Para anak lelaki tidak menganggap kehadiran Wening Prubasari menganggu. Dewi itu begitu cantik. Meski sang Dewi itu tidak lagi sendiri. Bahkan Danang saja mau mengantarnya dengan jeep yang pernah ditawarkan menjadi kereta kencanaku. Mungkin bagi anak lelaki, kehadiran perempuan dewasa lebih mengasyikkan dari kawan seusia mereka. Entahlah.
Jadi tidak salah bila ada kalimat yang tercipta: lelaki itu sama saja.
Dan bertepatan dengan kepergian sang dewi pulang ke tempat muasalnya. Aku berhasil menguasai diriku. Aku berhasil mengendarai motorku. Jadi aku tidak lagi membutuhkan Ares setiap pagi. Maka di suatu pagi, aku berangkat sendiri tanpa menunggu Ares. Aku tak perduli dia mengendarai apa ke sekolah.
"Kau pergi sendiri? Bukankah Iyang Uti sudah melarangmu?"
Ares murka. Tapi aku tak lagi perduli.
"Motorku, aku berhak mengendarai motorku sendiri. Silahkan saja jika kamu mau berhenti. Atau ambil saja uang jasa mengantar dan menjemputku. Tapi aku tetap mengendarai motorku sendiri mulai saat ini!"
Ares tak mendebatku. Ia begitu murka hingga tak lagi menyapaku. Jika dulu aku menganggapnya tak ada. Maka ia memperlakukanku serupa. Bahkan di hadapan Iyang Uti dan Bibi Tantri. Ia seolah tidak melihatku ada.
Entah kenapa sikapnya terasa menyakitkan.
Setelah bisa menggunakan motorku sendiri. Langkahku terasa lebih ringan dan panjang. Memang terkadang sulit sekali merubah rutinitas. Kadangkala aku termangu sendiri di depan motor, menunggu. Lalu kemudian tersadar tak ada siapapun yang kutunggu. Ares kembali menggunakan sepeda balapnya. Kami berangkat pergi dan pulang sendiri. Saling menghindari.
--
Di suatu tikungan di jejeran cemara udang, aku sering berhenti. Ada sebuah saung kecil, yang di hadapannya terbentang pemandangan desa lain, nun jauh di sana. Aku duduk cukup lama disitu. Sangat lama. Bahkan kadang hingga memasuki rembang.
Aku rindu.
Aku rindu pada seseorang yang pernah kumaki dan kutampar disini.
Aku rindu Ares.
Ares, Aku rindu kebersamaan kita.
Satu-satunya kebersamaan yang kami miliki adalah saat Ares menjadi tutorku. Ujian kelulusan akan menjelang. Aku butuh nilai-nilaiku meningkat. Ayah atau Mama bisa saja mendaftarkanku di universitas swasta yang tak membutuhkan nilai. Tetapi untuk lulus dari sekolah ini, aku membutuhkan sejumlah nilai. Tidak perlu tinggi, hanya rata-rata saja.
Ares mengajariku dengan gayanya yang tak berubah. Tetap tak mempunyai rasa sabar. Namun aku tak lagi menangis. Kurasa air mataku sudah habis. Cukup banyak air mataku tertumpah saat Wening Prubasari kembali pulang, waktu itu.
Jadi aku menikmati ketidaksabaran Ares. Bahkan aku kerap bersikap tidak mengerti pelajaran itu, meski aku sudah mengerti penjelasan darinya. Aku menikmati emosinya. Aku menikmati kekesalannya. Wajahnya yang merah. Bibirnya yang mendesis marah.
"Kau ini bodoh, atau apa? Kenapa sulit sekali mengajarimu?"
"Aku yang payah sebagai guru, atau otakmu tidak ada di tempurung kepala?"
"Kau ini mau lulus atau tidak sebenarnya?"
Aku bisa apa? Aku tak lagi bisa berharap perlakuan manisnya. Beberapa bulan kedepan mungkin aku sudah tak ada lagi disini. Beberapa bulan ke depan aku akan merindukan semua perdebatan kami. Aku akan merindukan makiannya.
--
Di suatu siang, saat aku sudah tiba di rumah. Kejutan menanti.
"Ayah?"
Lelaki itu memelukku. Lelaki itu selalu memelukku dengan lama setiap bertemu. Pelukannya mungkin berupa ribuan angka, hasil penjumlahan rasa rindu yang bertambah setiap waktu.
Ayahku ada disini. Aku senang, sebab sudah cukup lama aku tak bersamanya. Ayah mengunjungi Iyang Uti, ibundanya. Tapi agenda utamanya adalah menjengukku.
Aku Putri Maharani. Aku adalah putri dan ratu di hatinya. Itulah mantra yang diajarkan Ayah, saat kami berpisah. Mantra yang diucapkannya saat aku tak ingin berpisah darinya dulu.
"Jadi, puteriku apa kabar? Apa kamu bahagia disini?" Ayah bertanya.
Aku mengangguk. "Kedatangan Ayahlah yang membuatku bahagia."
Ayah tertawa. Aku tertawa. Sudah lama sekali aku tidak tertawa. Kapan terakhir aku merasa bahagia? Sebelum kedatangan Wening atau setelah bertemu Ares?
Lalu tiba-tiba saja Ares masuk. Hari ini memang jadwalnya mengajariku.
Jadi kedua lelaki itu bertemu. Entah mengapa aku merasa berdebar. Apakah mereka membuatku bahagia dengan cara yang berbeda?
Sebelumnya, Ayah hanya tahu namanya sebagai anak lelaki yang bekerja padanya. Mengantar dan menjemputku juga menjadi tutorku. Nampaknya Ayah cukup terkesan dengan sikap Ares, kepandaiannya dan kedekatan Ares dengan sang ibunda, Iyang Uti.
Jadi hari itu kami tidak belajar.
Ayah mengajak Ares ke dapur. Lelaki itu sudah menguasai dapur. Namun kulihat Ares sudah menguasai Ayah. Menaklukkan hatinya.
Ayah tentu tak akan melewatkan kesempatan memamerkan keahliannya meracik makanan. Dan Ares dibaptis menjadi asistennya. Ayah senang Ares mampu mengikuti instruksinya dengan cepat.
Kurasa, Ayah ingin seorang anak lelaki. Padahal aku kerap menjadi anak lelaki untuk Ayah. Tapi Ares memenuhi semua kriteria yang diinginkannya.
"Biar sedikit, anak lelaki harus bisa masak. Sebab perempuan selalu ingin dimanja. Jika mereka mulai marah-marah, manjakan mereka dengan makanan."
"Betul, ada anak perempuan yang kukenal. Ia mulai emosi jika perutnya kosong!"
Lalu mereka tertawa bersama. Seperti sudah saling mengerti saja. Seharusnya aku cemburu, dengan cepatnya mereka menjalin kedekatan. Namun entah kenapa aku malah tidak keberatan.
Malam itu kami makan dengan gembira. Obrolan kami juga dipenuhi rasa gembira. Ares menceritakan koloni kami. Jadi Ayah ingin kami semua datang untuk makan siang.
"Kalau begitu, besok aku akan memasak banyak. Undang semuanya, ya!"
"Setelah lulus, Putri nanti akan kuliah ke luar. Ini mungkin sebagai jamuan terimakasih karena sudah menerima dan berteman dengan puteri-ku."
--