Antares

Antares
Pendakian



Awal musim penghujan memang bukan cuaca terbaik untuk mendaki. Namun dengan persiapan memadai, kami meyakinkan diri. Masih ada sekitar dua bulan kedepan hingga musim hujan mencapai puncaknya. Artinya pendakian masih aman untuk kami lakukan saat ini.


Sindoro dari beranda rumah Iyang Uti selalu menampakkan tubuhnya yang gagah. Terutama saat kabut menipis menyisakan rumput dan pepohonan yang hijau segar di lereng-lerengnya. Lekuk-lekuk kontur nampak seperti urat nadi yang menjalar pada punggungannya. Kokoh dan gagah.


Bagiku, Sindoro nampak seperti perempuan yang gagah. Sebab gunung Sumbing disebelahnya sudah kuibaratkan menjadi gunung lelaki. Bukankah lelaki dan perempuan hidup saling berdampingan. 


Sindoro dari rumah Iyang Uti, nampak seperti sejangkauan tangan saja. Jika kau menjulurkan tangan lalu memicingkan mata, maka tanganmu seperti bisa menggapai puncaknya. Betapa pandangan mata bisa menipu kita.


Ternyata jarak tempuh dari tempat kami hingga ke kaki gunung memerlukan lebih dari satu jam perjalanan. Jeep tangguh milik Danang ditinggalnya di pos pintu masuk pendakian. Kebetulan Pak Karmidi jagawana Sindoro adalah paman jauh Surya Kencana. Beliau memudahkan kami mengurus perijinan dan memastikan kendaraan Danang aman.


Oya, sebelum berangkat tadi Iyang Uti dan Bibi Tantri memberi Ares, Danang dan Surya serangkaian wejangan. Humm... Baguslah! Kupikir mereka akan melepasku begitu saja, ternyata ada juga rasa khawatir setelah melihat ransel kami yang bertumpuk. 


Melepas tiga anak perempuan untuk dijaga dari serigala di tengah hutan. 


Bibi Tantri membekali arem-arem, yang kemudian diserbu sebelum pendakian. Sebab pagi masih begitu dingin, makanan jenis apapun dengan mudah mendapat tempat dalam lambung kami. Menurutku, lambung akan memuai saat dingin. Itu sebabnya udara dingin akan membuatku lebih cepat lapar. 


Tapi yang paling terlihat lahap tentu saja Ares. Aku mengetahui nafsu makannya meningkat apabila berhadapan dengan makanan yang dimasakkan oleh Bibi Tantri. 


Seringkali saat Bibi Tantri memasak makanan istimewa, Bibi menyuruhku mengantarkan bagian jatah untuk Ares. Sudah jelas aku tak sudi mengantarkan makanan tersebut. Memangnya Ares raja yang harus dilayani? 


Jadi, aku mengirimkan chat pesan bahwa ada makanan dirumah untuknya. Ares menyuruhku mengantarkan saja ke rumahnya. Enak saja! Jika ia tak mau mengambilnya maka aku mengancamnya, akan kuhabiskan! Tak lama ia pasti muncul.


Kata pepatah: jika ingin membuat lelaki jatuh cinta, masakkan mereka makanan lezat.


Bibi Tantri telah memiliki cinta dari anak lelaki ini.


--


Kemudian kami mendaki. Setelah Ares memeriksa ulang perlengkapan, juga briefing singkat yang padat penekanan. Betapa status ketua dijalankannya dengan sempurna. 


Menjadi ketua pendakian adalah sebuah tanggung jawab yang tidak ringan. Sebab memikul tanggung jawab tidak hanya tentang kondisi anggota, namun juga bagaimana memotivasi anggota tersebut agar mempunyai kepedulian terhadap gunung yang akan mereka daki.


Ares menekankan tentang kerusakan yang bisa kami lakukan. Tentang sampah pribadi dan kelompok. Bungkus permen dan puntung rokok yang kecil sekalipun tidak ditolerirnya untuk dibuang serampangan. Apalagi bungkus mie dan sampah kami para perempuan. Bawa turun kembali sampahmu sebagaimana membawa turun diri kalian. Lengkap!


Termasuk menjaga suara yang keluar dari mulut kami. Euforia, tawa terbahak dan emosi untuk menyumpah serapah. Kami adalah tamu disini. Sudah sepatutnya menjaga sikap. Keheningan suasana gunung bukan karena mereka ingin mendengarkan suara kami para manusia yang tidak tahu diri. 


Alam tak pernah tertawa terbahak apalagi menyumpah dengan kalimat kotor sampah. Keberadaan para manusia di alam yang hening, seharusnya untuk mendengarkan suara mereka. Suara angin yang membisiki dedaunan. Suara air yang bercengkrama dengan bebatuan. Suara rumput yang mencandai bunga liar. 


Jika kalian tidak pernah mendengar suara-suara tersebut, mungkin karena suara yang keluar dari mulut kalian begitu riuhnya. Jadi jangan pergi ke gunung atau hutan, jika kalian tak hendak mendengarkan dialog dari mereka, sang alam. 


"SIAAAAP!"


Alam begitu besar dan gagah. Kami adalah serombongan manusia yang jika dilihat dari jauh, hanya serupa noktah kecil yang merayap di punggung besarnya. Jika gunung adalah raksasa yang mempunyai kaki dan tangan, kami tak lebih dari kutu yang merayapi tubuhnya. Coba kau bayangkan pabila mereka marah. Maka jangan menggigit dan membuat kerusakan di atas tubuh mereka. 


Latihan kami beberapa minggu ini memang membuat stamina sedikit meningkat. Meski kami anak perempuan memang mempunyai keterbatasan. Jenis kelamin seringkali menjadikan kami terbagi. Seperti ukuran ransel yang tak sama besar. 


Meski Mayang terlihat lebih kuat dariku, ranselnya tak seberat ketiga anak lelaki. Kami anak perempuan mengangkut perlengkapan yang lebih ringan. Dan mereka anak lelaki membagi sama beban perlengkapan untuk rombongan. Pada saat seperti ini, aku bersyukur dilahirkan menjadi anak perempuan.


Danang di depan sebagai pembuka jalan. Lalu Arimbi kemudian aku. Dibelakangku ada Surya yang bertugas membantu pabila diantara kami kesulitan memijak bebatuan licin. Dibelakang Surya ada Mayang yang berjalan terkadang pelan-pelan. Lalu Ares yang bertugas menjadi sapu jagad, memastikan tidak ada anggotanya yang tertinggal langkah.


Kecepatan kami tak sama. Di bagian tanjakan Arimbi sering kesulitan. Maka Danang yang menariknya. Di bebatuan licin kakiku sering menolak perintah, maka Surya duluan melangkah dan memastikan tangannya menjadi penahan. Sedangkan Mayang dan Ares hanya muncul disaat keletihan kami menghilang. Jarak langkah keduanya sedikit lebih lama. Kutebak Mayang mencuri waktu untuk bisa berlama-lama berjalan bersisian dengan Ares.


Kemunculan Mayang yang disertai Ares acapkali menggangguku. Aku perlahan menyadari debaran di hatiku atas kehadiran anak sombong itu. Aku benci ketika menyadari bahwa sudut mataku mulai mencari-cari sosoknya. 


Aku belum ingin mengakui bahwa aku menyukai Ares. Tidak!


Tetapi aku merasa akhir-akhir ini, Ares tidak banyak menggangguku dengan sorot mata dan mulutnya yang berbisa. Kebersamaan masih menjadi milik kami, yaitu saat Ares menjemput dan mengantarku. Tapi ia tak lagi mendebat jika aku mempunyai keinginan. Ada banyak keinginanku yang disetujuinya tanpa banyak cakap. 


Seperti misalnya ketika kami sudah sampai di pos 3 dan mendirikan tenda. Aku ingin tenda kami dibagi berdasarkan jenis kelamin namun berhadapan agar bisa saling berbagi atap plesit. Meski Mayang ingin kami semua dalam satu tenda saja, tenda kedua untuk perlengkapan. Seperti rencana kami semula. 


Mayang beralasan berada di satu tenda akan membuat udara tak terlalu dingin. Sebab tenda yang satu lagi bukan dari jenis double deck sempurna. Ares kemudian menyetujui usulku. Biarlah para lelaki berada di tenda tanpa double deck. 


Begitu juga ketika memasak. Aku kebagian memasak di hari pertama. Aku tak bisa menanak nasi, langsung menggunakan nesting diatas kompor gas. Aku tak bisa memasak. Bahkan dirumahpun aku tak pernah menyentuh dapur. Aku pernah kelaparan saat Mama tak ada. Namun ada banyak jasa pengantar makanan yang bisa kupesan secara online. Ada banyak pilihan menu makanan lezat tanpa perlu bersusah payah memasaknya.


Maka nasi kami mentah, setengahnya lagi gosong. Mie tumis yang rasanya campah dan ikan asin yang terlalu garing mendekati mutung. Bahkan aku tak bisa menamai sambal cabai yang kubuat. Satu-satunya yang terasa lumayan adalah nugget goreng, sebab nugget sendiri rasanya sudah sempurna tanpa perlu campur tanganku. Arimbi tertawa.


"Seumur-umur, baru ini aku tersiksa... Ya ampun, Putriiii!"


Tetapi Ares makan tanpa banyak bicara. Ia meminta agar koki masak selanjutnya bergiliran, siapa saja selain aku. Nampaknya aku gagal jika ingin memikatnya melalui masakan buatanku.


Lalu Ares membuatkan kami minuman. Susu coklat panas untuk anak perempuan dan kopi untuk para anak lelaki. Entah kenapa Ares membuat minuman kami berbeda. 


"Apakah kopi hanya pantas diminum para lelaki, dan perempuan lebih cocok meminum yang manis. Apakah rasa manis identik dengan gender?"


"Aku tidak suka susu!"


Tanpa banyak cakap, Ares menukar kopi miliknya dan mengambil jatah minumanku. Maka lagi-lagi kami tak berdebat. Padahal Ares bisa saja mendebat tentang tuduhanku karena telah mencampurkan gender dalam segelas minuman. 


Dan aku menyumpahi benakku yang merindukan adu mulut kami. Mengapa manusia kerap merindukan rutinitas tertentu jika tak lagi melakukannya. Mengapa berdebat menjadi sebuah rutinitas bagiku?