
Pada setiap perayaan ulang tahun, manusia tidak mengulangi ingatan saat mereka dilahirkan. Kita merasa perlu untuk merayakan ulang tahun sebab pada tanggal tersebut kita melihat tahun yang terlewati. Lalu merayakannya. Kita merayakan ingatan yang bertambah. Merayakan kedewasaan.
Saat ingatan bertambah, kita merasa telah menjadi dewasa. Ingatan yang banyak, mengindikasikan pengalaman yang banyak pula. Pengalaman itulah yang menjadikan seseorang dewasa. Dan hari ini aku merasa sedikit lebih dewasa. Jadi aku perlu merayakannya.
Di ketinggian area tenda, masih ada sedikit sinyal. Dan ada banyak sekali chat ucapan selamat ulang tahun yang masuk. Semua mengucapkan selamat dan mendoakanku terus tumbuh.
Semoga lebih dewasa -sebab kemarin masih kanak-kanak.
Semoga menjadi anak berbakti -sebab kemarin aku durhaka.
Semoga lebih baik lagi -sebab kemarin aku jahat.
Semoga bahagia -sebab kemarin aku berduka.
Semoga lebih alim -sebab kemarin aku nakal.
Dan macam-macam lagi bunyi harapan itu. Yang kujawab terimakasih pada statusku. Sebab jika kujawab satu-satu, aku khawatir sinyal ponselku keburu menghilang.
Semalam, saat jam hanya bergeser dua menit dari pergantian hari. 00.02 WIB sebuah ucapan masuk dari chat. Ucapan yang mengantri di urutan ketiga setelah dari Mama dan Ayah.
"Selamat Ulang Tahun, just be u!"
Just be you.
Ucapan itu bisa bermakna: Aku tidak diharapkan berubah. Jadilah diriku seperti hari lalu.
Just be you.
Atau makna lainnya: aku diperintahkan untuk menjadi diriku yang sekarang.
Tetapi aku tidak ingin menjadi diriku yang sekarang.
Karena akan pergi muncak. Maka kami bangun di pagi buta. Pukul 02.45. Sedikit terlambat dari jadwal yang kami rencanakan. Dengan sedikit memaksa, Ares meminta kami sigap dan bersiap-siap. Dan aku tak siap.
Kubilang aku tak ingin menjadi diriku yang sekarang. Aku tak siap dengan tatapan matanya. Dengan sikap lembutnya. Bahkan dengan suaranya. Ucapan yang dikirim Ares semalam, menghisap puing terakhir keangkuhanku.
Aku telah benar-benar terhisap. Dan kini aku tak tahu harus bersikap.
Pipiku panas manakali mata kami beradu. Meski langit masih sangat gelap. Aku masih bisa menangkap kilat matanya saat ia mengawasiku.
Ares pasti menyadari alasanku kerap membuang pandang. Bibirnya tersenyum kecil manakala aku mengacuhkannya. Ia menyadari kegugupanku, dan ia menikmatinya.
Surya ditugaskan menjaga tenda, sebab ia sudah sering mendaki Sindoro. Lagipula, kaki Surya sedikit terkilir saat menahanku jatuh kemarin. Kakiku sendiri sehat dan selamat.
Danang menjadi yang pertama diikuti Arimbi. Mayang berjalan di depan ku. Jadi Ares kini berada di belakangku. Kami hanya membawa makanan ringan dan air secukupnya.
Ares mengingatkan Danang untuk beristirahat setiap seratus meter menanjak. Kami menambah ketinggian dengan bertahap. Pelan-pelan saja.
Rasa lelah akan membuat manusia mengeluarkan sisi terburuk mereka. Terkadang otak menolak mengakui keterbatasan tersebut. Kita menolak disebut lemah. Insting untuk mempertahankan harga diri akan membuat manusia menjadi egois.
Kita akan menyumpahi kawan yang berjalan lambat. Sebab kelambatan langkah mereka, membuat kita merasakan keletihan yang berlebih.
Kita akan bertanya dengan nada kesal saat teman menyemangati "Puncak sebentar lagi!"
Aku mengeluarkan sisi terburukku. Berulangkali mendesis kesal saat Ares memintaku bangun dari istirahat yang dirasanya melewati jadwal yang dibuatnya. Setiap seratus meter, hanya ada satu kali istirahat selama sepuluh menit.
Aku istirahat setiap sepuluh langkah selama sepuluh menit.
Puncak memang tak harus diburu. Namun puncak Sindoro memiliki waktu kunjungan terbatas. Kami harus mendaki saat hari masih gelap, untuk mengindari uap belerang yang naik ketika matahari terjaga nanti. Jadi yang kami buru, adalah waktu kunjungan itu.
Maka kami berdua tertinggal cukup jauh. Jadi tangan Ares kini menyeretku. Seharusnya aku berdebar manakala ia menarikku. Tangannya kokoh menggenggam tanganku sejak tanjakan kelima. Dan ini tanjakan kesepuluh, ia masih menggenggamnya. Seharusnya aku berdebar. Tapi aku mati rasa. Tanjakan demi tanjakan seperti tak pernah ada akhirnya.
Aku menyerahkan tanganku sepenuhnya pada Antares Bimasakti. Ia bebas menggenggam, menarik, meremas atau mendekap jemariku. Kakiku mengikuti jejak sepatunya. Rasa letih kembali menguasai benakku. Aku tak ingin berpikir. Aku kepayahan.
Dingin dari udara sudah tak lagi terasa. Turbin mesin dalam tubuh kami sudah menyala. Bergerak menghasilkan panas merata. Seperti percuma memakai jaket anti air dan angin ini. Jadi dari tadi aku sudah menitipkan jaketku pada Danang, yang membawa ransel lebih besar.
"Minum dulu, kamu tampak seperti zombie. Masih kuat sampai ke puncak?"
Ares mendudukkanku. Lalu menyodorkan botol minum miliknya. Aku meneguk isinya. Rasanya manis seperti sikapnya. Aku mengamati isi botol Ares. Ia mencampurkan minumnya dengan gula aren.
"Kenapa kau campur gula, aku nggak suka manis."
"Ini bukan lagi tentang suka atau tidak suka. Tetapi kebutuhan. Tubuh membutuhkan banyak energi saat mendaki. Dan minuman manis lebih cepat mendatangkan energi." ucapnya membungkam cemoohku tentang kesukaannya pada rasa manis.
"Aku lapar."
Ares dengan sigap memberiku sepotong coklat dari saku celana lapangannya. "Nanti kita makan setelah sampai puncak. Sementara kau ganjal dulu dengan coklat."
Aku mendesis kesal, menerima coklat tersebut dengan terpaksa. Bahkan jadwal makanpun diaturnya. Aku ingin makan sungguhan. Energiku akan datang setelah memakan nasi dengan lauk. Mama dan Ayah selalu memberiku makan sungguhan manakala moodku memburuk.
Kata mereka: emosi selalu bersumber dari perut. Kamu lapar itu sebabnya mukamu tertekuk.
"Jangan manja!" Ares membentakku kesal.
Ia menampakkan sisi terburuknya. Entah apakah itu memang sisi yang buruk. Sebab aku lebih memilih dibentak dan diperlakukan buruk seperti kebiasaannya selama ini. Aku telah terbiasa pada kata-kata kasarnya.
Perlakuan dan sikap manisnya selama beberapa hari ini membuatku waspada. Aku takut akan perhatiannya. Aku khawatir sebab ada rasa nyaman yang berbeda saat ia berlaku lebih manis. Seperti sebuah harapan, bahwa ia akan tetap berlaku manis. Dan itu berbahaya. Bagaimana jika aku menginginkannya?
Maka sisa perjalanan menuju puncak kami lalui dengan hening. Aku menolak tangannya yang mencoba menarikku di tanjakan terakhir. Energiku bertambah bukan sebab air gula dan coklat itu.
Aku tak ingin terjatuh. Maka aku akan lebih hati-hati melangkah. Aku tidak ingin terpedaya oleh tangannya yang terulur. Ia bukan ingin membantuku melainkan menarikku semakin masuk ke dalam perangkapnya.
Aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Meski kerajaanku telah runtuh dan terhisap. Aku menolak masuk dalam lubang hitam itu. Perangkapnya