
Di tempat pengasingan ini, udara sedemikian dingin. Bukan sebab angin yang sibuk berkesiur. Namun demikianlah adanya jika berada di ketinggian. Orang-orang di ketinggian tidak pernah menyeru agar udara menghangat, saat tubuh mereka menggigil sedemikian rupa.
Sebab bukanlah beban yang harusnya dikurangi, melainkan otot bahu yang harus dilatih mandiri. Sesuatu yang datang dari alam mempunyai takarannya sendiri. Tak pernah melampaui. Jadi, pertebal saja pelapis tubuhmu, daripada memaki rasa dingin.
Bagiku ini, sih, "hanya suhu kamar" dengan AC yang diturunkan lima derajat dari normal. Bedanya remote AC ini hilang, terselip entah di sela ranjang. Untunglah ada selimut wol yang disediakan Bibi Tantri. Biasanya aku masih suka berbagi kehangatan, meringkuk seranjang dengan Mama.
"Putri, Nduk... Bangun. Subuhan!"
Sebuah goyangan dikaki memutus tidurku yang memang tak lelap. Bibi Tantri membangunkanku untuk menyambut subuh. Yang suara adzannya terdengar nyaring dari udara. Nampaknya dari mushala atau masjid yang tak jauh dari rumah.
Aku menggeliat menggumamkan malas sebab dingin dan kantuk. Namun Bibi Tantri dengan gigih tetap membangunkanku sebab Iyang Uti menunggu berjemaah.
"Bangunlah!"
Kewajiban pertama di awal hari, tak boleh ditunda. Rasanya aku tak boleh bersungut-sungut.
"Kamu boleh saja menjadi pembangkang pada manusia. Tetapi tidak kepada-Nya. Tuhan harus disapa dengan doa. Sebab jika Dia memintamu menghadap, niscaya kita semua belum siap!"
"Ayo lekaslah! Sudah ditunggu Iyang!"
Baiklah, baiklah! aku bangun! Aku belum ingin menghadap-Nya.
"Kamu sering meninggalkan kewajibanmu, ya?"
"Ih, enggak kok, Bi... Tapi ya, memang sering bolong-bolong."
Aku memberi penjelasan atas dugaan Bibi Tantri. Menurutnya aku tidak pernah berdoa. Aku berdoa, hanya saja tidak dalam irama. Malah terkadang samasekali tidak ada irama. Mama selalu menyuruh. Tapi aku berdoa karena butuh.
Pelajaran pertama sebelum aku bersekolah hari ini. Menunaikan ibadah bersama. Sebelumnya aku melewatkan subuh di dalam selimut, kemudian bangun tergesa saling menggedor kamar mandi dengan Mama dan menghabiskan pagi dijalanan agar tidak terjebak macet. Itulah irama pagi bagi kami.
Tapi baguslah aku terbangun. Sepertinya aku butuh banyak doa sebelum memulai hari di tempat asing ini. Sebab di pengasingan tak ada pelukan ibu yang akan menenangkanku. Iyang Uti dan Bibi Tantri tentu pernah menjadi ibu. Tapi tentu saja tak akan sama dengan Mama. Ibuku.
Kupikir, pelukan ibu pastilah mendekati suasana surga.
Aku mempunyai Mama namun tidak setiap hari ia menjadi ibu. Kebersamaan kami hanya sebatas menghabiskan pagi di jalan. Selebihnya, aku sendirian. Tak ada kecupan selamat malam. Aku sudah lelap tidur ketika ia pulang. Mama disibukkan dengan pekerjaannya, bahkan tidak ada lagi hari Minggu atau hari libur.
Tepat pukul enam tiga puluh saat matahari telah sedikit meninggi dengan sinarnya. Anak lelaki bernama Ares tersebut sudah menanti di pelataran halaman. Wajahnya menyiratkan kepatuhan. Kepatuhan itu datang sebab kehadiran Iyang Uti di teras rumah.
Aku sebetulnya ingin bertanya, ada jasa apa yang tertanam pada anak lelaki tersebut yang kepatuhan dan kesopanannya tak kudapati jika hanya berdua dengannya, kemarin lusa di bandara hingga pelataran rumah?
"Bi... Iyang... Putri pamit, ya."
Ares ikut mencium tangan kedua ibu tersebut seperti aku mencium tangan keduanya. Apakah mereka sudah menjadi ibu dari anak lelaki ini? Jika iya, seharusnya aku menjadi saudara yang tak perlu dibenci. Bukankah sesama saudara tidak boleh saling membenci. Bahkan dengan musuh saja kita diperintahkan untuk mencintai.
Kami bersepeda ke sekolah. Tapi jangan kau bayangkan seperti adegan film lama. Sebab tak ada skenario dialog. Dalam hati kami bermonolog, mengobrol dengan pikiran masing-masing.
Sepadanya tak ada tempat duduk kecil dibelakang, jadi aku harus berdiri memegang bahu anak lelaki itu. Tidak usah kuceritakan tentang perjalanan menuju sekolah. Sebab kebisuan kami tak pernah menceritakan apa-apa.
Ares mengayuh sepeda modern itu dengan kecepatan sedang. Kubilang modern hanya karena bukan berbentuk sepeda tua. Kenapa ia tak menggunakan kereta kencana yang kemarin lusa?
Ares menjadi Ares yang kutemui di bandara. Kebencian belum berganti dari sorot matanya. Namun cemara udang yang berjajar di sepanjang kelok jalan menumbuhkan keriangan. Dan aku menduga apakah pagi yang sedemikian segar ataukah berasal dari wangi rambutnya?
Pagi-pagi tadi begitu dingin dan ada sedikit sesal mengapa aku tak mencuci rambutku. Rasa cemas kembali menguasaiku, tanganku menyentuh kalung batu.
Aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Aku merapal mantra semangat yang kuciptakan dari keriangan jejeran cemara udang.
Jantungku sedikit berdegup saat memasuki sekolah yang mau menerimaku di pengasingan ini. Sekolah lokal dengan murid yang membumi. Letaknya agak jauh dari rumah Iyang Uti. Sedikit menuruni lembah dengan jalan aspal berkelok yang curam.
Berbeda dari sekolah lamaku yang letaknya tidak persis di bumi. Sebab kelasku tiga tingkat jaraknya dari tanah. Hanya ada satu murid dari ekspatriat yang disebar di setiap kelas dan dua orang guru impor. Hal itu lantas menjadikan sekolah lamaku sebagai sekolah internasional. Dengan bahasa utama, bahasa ibu. Ibu dari para ekspatriat itu.
Segera saja kehadiranku menyerap perhatian seisi kelas. Ares tetap menjadi Ares dengan kebencian di matanya yang entah berawal dari mana. Namun anak-anak lain tidak memiliki awal denganku. Mereka tidak membenciku sebagaimana Ares membungkus dirinya dihadapanku.
Bagi anak-anak ini aku seperti mainan impor baru. Seragamku berbeda, meski putih dan abu-abu namun ternyata tidak serupa. Aku saja baru tahu, bahwa warna abu-abu pun mempunyai tingkatan warna.
Kupikir abu-abu terlahir hanya dari hitam dan putih. Ternyata ada abu muda dan ada abu tua. Lalu adakah induk warnanya dari hitam tua ataukah hitam muda yang bercampur putih tua ataukah putih muda? Tapi bagaimanakah rupa warna tua dan muda itu, apakah itu berarti warna hidup dan memiliki usia?
Tetapi jika kita mencampur cat dengan warna tersebut, tidaklah mirip dengan seragam SMA bukan? Seragam kita sedikit kearah kebiruan. Jadi ada lagi tingkatan warna dari abu-abu. Yaitu abu biru. Yang sebetulnya kucurigai datang dari biru seragam SMP kita. Jadi mungkin warna abu merupakan simbol. Masa transisi dari warna biru menjadi warna-warni solid. Kudengar jas almamater universitas terdiri dari warna solid yang berbeda-beda.
Perhatikan bagaimana manusia senang menggolongkan sesuatu menggunakan warna. Contoh dekatnya adalah darah. Padahal darah manusia berwarna sama. Pernahkah kau temui darah biru yang benar-benar berwarna biru?