Antares

Antares
Ayah



Tok.. Tok..


"Boleh Ayah masuk?"


Ayah membuka pintu kamar yang memang tidak kukunci. Lalu duduk di ujung ranjang. Memandangiku lama, sambil tersenyum kecil.


"Ada apakah?" 


Yang kutahu, jika Ayah seperti itu -menampakkan wajah tersenyum, dengan matanya yang berkedip- berarti ada yang ingin dibicarakannya denganku. Aku menyingkap selimut, lalu ikut duduk di atas ranjang. 


"Besok Ayah pulang. Apa kamu senang disini?"


Aku mengangguk.


"Ayah senang dengan kawan-kawanmu, mereka seru!" 


Aku mengangguk. Setuju.


"Ayah senang dengan Ares."


Aku kembali mengangguk. Setuju. Aku juga senang dengan Ares, Ayah. Tapi aku tak bisa mengatakannya seperti dirimu.


Kemudian Ayah terdiam, seperti mencari kata-katanya. Apakah ia kesulitan mencari kalimat untuk bertanya atau menyatakan pikirannya?


"Apa... kalian, umm..."


"Apa?" Aku berusaha menduga pertanyaan Ayah.


"Nggak jadi."


Aku tak suka jika Ayah membatalkan kalimatnya. Aku tak suka rasa penasaran yang sengaja ditimbulkan dari penggalan pertanyaannya tadi.


"Ayah mau tanya apa, sih? aku nggak suka, ih! bikin penasaran gitu!"


Ayah tertawa dengan suaranya yang berat dan khas. Aku suka mendengar tawanya. Membuatku tanpa sadar juga ikut tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.


"Apa coba! gajelas!"


"Ayah senang kamu menemukan kawan-kawan baru disini. Mereka anak baik. Terutama Ares."


"Tadi sudah Ayah ungkapkan, lho." 


"Hu um... Ayah senang kamu melanjutkan sekolah disini. Seandainya disini ada universitas desain seperti yang kamu inginkan. Mungkin kamu bisa kuliah saja disini."


"Sayangnya nggak ada, kan?" 


"Hu um... Sayang ya, Ares tidak bisa berkuliah. Padahal ia pandai."


Aku menatap Ayah lama. Berdebar setiapkali nama Ares disebut. Apakah Ayah ingin membahas anak lelaki itu?


"Apakah Ayah ingin membantunya kuliah?" 


Aku tahu, Ayah sanggup menanggung biaya lima orang anak lagi. Aku tidak keberatan jika Ares salah satunya.


"Bagaimana menurutmu?"


Aku mengangkat bahu. Aku tahu, Ares banyak membantu Iyang Uti dan Bibi Tantri. Menjalin kedekatan yang istimewa. Menjadi anak lelaki mereka. 


Tapi aku tidak tahu, apakah Ares sebaik itu? Aku tidak tahu kehidupan masa lalunya. Bagaimana ia sebelum ini. 


Ares anak baik. Begitulah menurut semua orang. Aku setuju. Ares sangat bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang dilimpahkan padanya. 


Meski sikapnya sering kasar padaku. Aku masih bisa merasakan kebaikannya. Kalau dulu aku membenci sikapnya itu, sekarang rasanya sudah tidak lagi. 


Begitulah jika sudah saling mengenali. Ares dan juga koloniku. Dengan seringnya kami bersama. Seperti sudah memahami dan mengerti karakter masing-masing. Meski terkadang ada salah satu dari kami yang marah atau bersikap kasar. Bukan berarti mereka orang jahat.


"Kata Iyang, orangtuanya tak pernah pulang. Sejak umur lima tahun. Ares sudah ditinggalkan. Dulu ada adik ibunya yang menjaga Ares, tapi Ares tidak mau ikut mereka lagi setelah buleknya menikah."


Aku diam. Tidak penuh mendengarkan cerita itu. Baru beberapa saat lalu aku dan Ares membahas perpisahan. Dan sekarang tentang perpisahan lagi. 


"Kenapa Ayah dan Mama berpisah?"


Tiba-tiba aku ingin mendengar cerita itu. 


Ganti Ayah yang terdiam. Sebetulnya aku sering bertanya padanya. Juga pada Mama. Mungkin setiapkali ada kesempatan, aku akan bertanya tentang pertanyaan itu.


Dan ketika aku bertanya, biasanya mereka akan terdiam. Lalu berusaha menghindar dengan mengalihkan perhatianku pada hal lain. Begitu terus menerus. 


Malam ini entah mengapa aku tidak ingin Ayah menghindar. Sebab aku merasa, sudah cukup dewasa untuk mendengar. Aku ingin tahu. Aku berhak tahu alasan mereka. Agar aku bisa menjawab penasaranku sendiri.


"Karena Ayah menyayangi Mama." 


"Kalau Ayah sayang kenapa harus berpisah?" 


"Ayah sayang padamu. Ayah nggak ingin berpisah denganmu. Ingin terus berada di sisimu. Melihatmu pergi sekolah setiap hari. Melihatmu tidur setiap malam. Melihat dan menjagamu setiap hari."


"Tapi ada banyak alasan kenapa kita harus berpisah. Disini kamu bisa bersekolah dengan baik. Karena lingkunganmu lebih baik, kawan-kawanmu lebih baik daripada sekolahmu yang dulu."


"Kamu juga berubah, menjadi lebih baik lagi disini. Ayah bisa lihat, kamu sholat tanpa harus diingatkan lagi. Bahkan kamu mencuci dan mengurus sendiri kebutuhanmu. Apakah kamu menyadari perubahan-perubahan itu?"


Aku mengangguk ragu. Meski belum menjawab pertanyaanku.


"Begitu juga dengan Mama."


"Ayah sayang sama Mama. Tapi jika kami bersama, mungkin kami berdua tidak akan menjadi orang baik."


"Kenapa?"


"Butuh lebih dari cinta dan sayang untuk dapat hidup bersama." 


Aku menarik napas kesal. Sudah dua kali aku mendengar kalimat itu malam ini. Ares nampak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Demikian juga Ayah. Mereka mengerti dengan kalimat itu. 


Tapi aku tidak mengerti. Apakah aku memang sebodoh itu?


"Apa kamu pernah jatuh cinta?"


Aku menatap Ayah. Mengapa ia tiba-tiba bertanya tentang cinta? 


Aku menggeleng. Apa rasa suka bisa diartikan cinta? Aku suka dengan Ares. Tapi apakah itu berarti aku jatuh cinta padanya?


"Apa kamu suka sama Ares?"


"Ayah ini apasih!" 


Dengan spontan aku melempar bantal. Pipiku terasa panas.


Ayah tertawa. Tiba-tiba aku tak suka mendengarnya tertawa.


"Terkadang kita mencintai dan menyayangi seseorang. Dan ingin memilikinya untuk diri kita sendiri. Tapi, kita juga harus bisa menerima bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Kita juga harus menghormati perasaan orang lain."


"Ayah menghormati perasaan Mama. Itu sebabnya kami tak bisa lagi bersama."


Aku semakin tak mengerti. Kenapa tidak ada penjelasan yang lebih mudah?


"Apakah Mama... mempunyai orang lain yang disukai?" 


Aku memilih kalimat itu berhati-hati. Dari dulu aku penasaran. Apakah Mama mempunyai orang lain yang disukainya. Hingga mereka harus berpisah?


"Tidak!" 


"Aku juga tidak"


Dengan tegas Ayah menjawab. Entah kenapa aku lega. Sekaligus merasa bersalah. Mungkin sejak aku berseteru dengan musuhku Michelle Khanzakh Wiroy. Aku mempunyai kosakata baru. Selingkuh atau bahasa lainnya Affair. 


Aku pernah mempunyai pikiran seperti yang dituduhkan musuhku itu. 


Dan aku membenci pikiranku. Aku membenci Michelle Khanzakh Wiroy, sebab ia menyuarakan tuduhanku. Jadi aku menghajarnya. Aku ingin ia berhenti menyuarakan pikiranku. 


Mungkin yang ingin aku pukul bukanlah mulut Michelle Khanzakh Wiroy. Melainkan mulutku sendiri. Mungkin yang ingin kuhajar bukanlah Michelle Khanzakh Wiroy, melainkan diriku sendiri. Yang dengan keji menuduh Mama. 


Mungkin Mama berselingkuh. Mungkin Mama berkhianat. Mungkin ada banyak lelaki selain Ayah. Mungkin Mama pencuri lelaki wanita lainnya. Mungkin Mama seperti perempuan binal lainnya.


Jadi aku memang tak membenci Michelle Khanzakh Wiroy. Yang kubenci adalah diriku sendiri. 


"Ada apa?" 


Ayah menghentikan gerakan tanganku yang tanpa sadar meremas selimut. 


"Nggak apa-apa, Ayah. Maafkan pertanyaanku."


Kemudian Ayah memeluk dan mencium puncak kepalaku. Mengucapkan kata maaf.


"Maafkan Ayah. Maafkan Mama, ya?"


"Kami menyayangi dan mencintaimu, Putri Maharani. Kamu putri kesayangan Mama. Kamu ratu untuk Ayah. Maafkan kami."


Lalu entah kenapa aku menangis. 


--