Antares

Antares
Kemiskinan



Lepas dari bandara perjalanan menuju rumah Iyang Uti masihlah beberapa jam lagi. Anak lelaki itu mengendarai mobil yang entah miliknya, milik orangtuanya atau milik Iyang Uti -sebab aku tak berminat bertanya dan menjalin percakapan sepanjang perjalanan.


Dataran aspal semakin lama semakin meninggi dan kabut berdatangan silih berganti bersamaan dengan rinai gerimis. Membawa serta kebekuan yang duduk leluasa diantara kami. Aku bisa saja duduk di jok belakang seperti majikan, menjadi tuan puteri di dalam kereta kencana. Dan anak itu hanyalah supir suruhan Ayah atau Mama.


Tapi jika ia memang seorang supir, sudah kusuruh Ayah atau Mama memecatnya sejak lama. Dan duduk di jok belakang itu akan menurunkan harga diriku jika ternyata isi perutku berdesakkan meminta turun ke aspal di tengah jalan. Aku seorang pemabuk sejati dalam lain versi. Bahasa kerennya "motion sickness", atau mabuk perjalanan. Terutama di jalur yang berkelok-kelok seperti ini. Perutku tak segarang karakterku. Perut penghianat!


Itu sebabnya aku meminta naik pesawat. Namun aku tak menyangka, aku belum pernah ke rumah Iyang Uti. Sebab Ayah tak pernah ada waktu membawaku. Jadi kupikir letak bandara hanya limaratus meter saja dari rumah Iyang Uti. Bukan ratusan kilometer berkelok-kelok lagi di jalan beraspal seperti ini.


Mengapa Iyang Uti tidak tinggal didekat bandara? Atau mengapa bandara tidak dibangun saja setiap satu kilometer seperti shelter pemberhentian bis kota?


Bukan tidak pernah aku membayangkannya. Tapi ide untuk bisa terbang lurus ke satu titik nampak lebih menarik daripada berhenti disetiap persimpangan menurunkan penumpang. Ketepatan dan kecepatan. Itulah yang diburu orang-orang.


Beberapa perkebunan lewat silih berganti, dari hutan jati ke kebun tembakau, lalu kebun teh. Perkotaan, perkampungan, jalan lengang, lalu kembali memasuki hutan yang terbelah aspal untuk kembali ke perkampungan atau pedesaan. Begitu terus berulang.


Jujur saja, aku adalah anak kota. Pemandangan menakjubkan hanyalah tatkala anak-anak kelas mengajakku mendaki bukit-bukit kecil di pinggir kota. Dua kali ke arah Cipanas, yang salah satunya untuk mendaki Gede-Pangrango. Selebihnya hanyalah kafe, mall dan taman hiburan.


Liburan dengan Mama diisi meetingnya di ruangan hotel, aku dibiarkan di kolam renang atau pinggir pantai masih dikawasan hotel itu juga. Kurasa Mama tidak pernah melewatkan liburan tanpa bekerja. Atau mungkin bekerja adalah liburan itu sendiri baginya.


Sementara liburan dengan Ayah berarti wisata kuliner kemana-mana. Sebab Ayah seorang chef yang merasa perlu mencicipi makanan chef lainnya. Untuk mendapatkan inspirasi katanya. Biasanya setelah dirumah, ia me-reka ulang makanan tersebut. Menambahkan bumbu yang diyakininya membuat makanan tersebut bertambah baik cita rasanya. Bahkan pada jajanan kaki lima. 


Apa kau pernah mencicipi telur gulung abang-abang. Jajanan itu belum ada saat ia bersekolah, lalu Ayah menambahkan lembaran daging dan sayuran. Menurutnya jajanan tersebut akan menjadi lebih sehat dan bergizi untuk pertumbuhan anak-anak. Tapi ia lupa, bukan gizi dan sehat yang dicari dari jajanan kaki lima. 


Kita jajan karna ingin jajan, apapun makanannya tak masalah. Manusia butuh memamah seperti kerbau di sawah. 


Barulah ini aku melihat tembakau ditanam di tanah lapang di ketinggian. Bukan miskin pengetahuan aku hanya miskin pemandangan. Apalagi kabut yang turun menambahi rasa takjubku. Selama ini aku sudah kemana saja? Bagaimana bisa aku tidak pernah mengunjungi Iyang Uti jika saja aku tahu jalanan menuju rumahnya sedemikian indah? 


Tempat pengasinganku yang indah!


Terdengar desis sinis dari sisi kananku. 


Ya, supir suruhan itu tentu mendecak menghinaku. Menghina kemiskinanku. Aku tak peduli. Sebab aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Aku kembali menyentuh leher dan merapal mantra mengusir ketidaknyamanan yang ditiupkannya dari bangku kemudi.


Coba jika keadaannya kita balik. Jika anak itu yang ke tempat tinggalku. Bukan tidak mungkin dirinya akan melongo takjub saat berjalan di keriuhan lampu merah. Seperti laron-laron yang terkesima akan silau lampu kota. 


Namun ijinkan aku sedikit memuji. Supir suruhan ini lumayan terampil menguasai kereta kencana jemputanku. Jalanan berkelok yang serupa ular melingkar tersebut dengan terampil dilaluinya tanpa meninggalkan kejutan mual pada lambungku yang lemah. Sudah cukup hinaannya pada kemiskinanku. Aku tak ingin dia menghina kelemahanku yang satu itu.


Rupanya tempat pengasinganku terletak diatas bukit atau bagian dari anak pegunungan. Atau kaki gunung, ataukah lereng. Atau entah apa nama tepatnya. Baiklah, aku harus mengakui aku kurang kaya akan kosakata.


Kupikir jalan aspal yang kami lalui pastilah membawa kami jauh menanjak ke atas bukit, ternyata tempat tinggi itu masihlah bagian sebuah lembah. Kupikir tempat pengasinganku benar-benar terasing dari rumah lainnya, ternyata letaknya di tengah rumah-rumah desa. 


Rumah-rumah desa yang besar dan indah. Namun entah kenapa malah menampakkan kesederhanaannya. Sejuk, sederhana dan indah. Itulah yang seharusnya nampak dari sebuah rumah. Tiba-tiba aku mengasihani mereka yang tinggal di rumah-rumah kota seharga ratusan juta. 


Sepertinya ia khawatir jika terlambat sedetik menurunkannya, sesuatu yang kubawa dari kota akan menetes mengotori keretanya.


Ia tidak menungguku turun, aku tak peduli. Tapi sedikit takjub akan perlakuannya pada dua koper berat yang dengan sukarela ditariknya hingga ke depan Iyang Uti. Lalu menyalami Iyang Uti dengan khidmat. Wajahnya tampak bening dan datar namun matanya silau akan keceriaan. Menyerupai wajah dan mata Iyang Uti. Bibi Tantri juga keluar dari dalam rumah. Menyambutku.


Sikap penjilat! Beberapa jam lalu supir itu seperti ingin meracuniku.


"Masyaallah, cantiknya cucu Iyang!" 


Suara serak parau dan bergetar dari seorang perempuan tua menyambut tanganku yang mencium tangan keriputnya. Aku tidak mempunyai ingatan akan sosok Iyang Uti muda. Apakah beliau sudah berkursi roda sejak dilahirkan ataukah usia renta membuatnya bergantung pada kursi beroda.


Bibi Tantri memelukku seperti Iyang Uti memelukku. Hangat dan sarat kerinduan. Padahal aku tidak mempunyai rasa yang sama. Kerinduan sama halnya dengan kebencian. Bagiku, harus ada awal dari semua perasaan. 


Aku tidak hanya miskin pandangan. Aku kurang kaya akan kosakata dan aku juga miskin akan perasaan. Harus ada alasan atas segala tindakan dan aku selalu haus akan penjelasan. 


Kenapa harus merindukan jika tak pernah ada perjumpaan? 


"Ayo masuk! Kamu juga, Ares. Makan malam dulu!" 


Bibi Tantri mendorong pundak supir yang ternyata mempunyai nama tersebut. 


Ares. Apa nama kepanjangannya? Penggares?


Bibi Tantri mengajak Ares, bukannya malah menggamit tanganku. Mungkin karena Iyang Uti bisa bergerak lincah dengan kursinya. Sementara aku sudah pasti akan masuk, kemana lagi tujuanku jika bukan tempat ini.


Kudengar jawaban menolak dengan suara yang sedemikian lembut dalam bahasa halus. Aku sampai harus memfokuskan mataku dalam keremangan senja yang menuju malam. 


Tidakkah suaranya sebelum ini mengandung bongkah bara?


Supir yang sudah bernama itu menolak makan malam, tapi ia masih berbaik hati menyeret koper beratku hingga ke depan sebuah pintu yang rasanya adalah bilik pengasinganku. 


"Makan malam dulu, Ares! Ajak sekalian temanmu." Iyang mengulangi titah Bibi Tantri dengan bahasa daerah halus. Aku sebetulnya tidak paham. Tapi kira-kira seperti itulah benakku menterjemahkan percakapan mereka. 


Jika kemiskinan masih bisa kutambahi. Aku juga miskin penguasaan bahasa ibu. Bahasa yang mungkin bisa mengikatku akan tanah kelahiran leluhurku. Leluhur Ayah atau Mama yang mempunyai bahasa ibu.


Di usia belia aku telah menguasai bahasa Inggris dan dua lagi bahasa asing yang sedang kupelajari. Bukan bahasa ibu dari leluhurku. Tetapi apa arti leluhur dari sebonggol biji yang tercerabut dari wadah utamanya. Bukankah mempunyai leluhur sama seperti akar tanaman yang tumbuh dengan menyerap sari tanah leluhurnya?


Aku masihlah bonggol biji yang tumbuh, jika akarku tak menyerap sari tanah, maka kelak daunku melebar membaui udara. Angin akan sukarela membagi oksigen dari para leluhur terdahulu. 


Konon meski hidup di tanah yang berbeda bukankah kita masih bernapas pada ketiak langit yang sama?