Antares

Antares
Cooling down



Apa hal yang membuatmu senang? Aku?


Ujian selesai! Yipee!


Jika Arimbi kembali merasa cemas akan hasil ujiannya. Mayang sebaliknya, ia pasrah saja. Akupun demikian. Bukankah kita sudah berusaha, mempersiapkannya dengan belajar bersungguh-sungguh. Apapun hasilnya meski tidak seperti yang diharapkan, kita harus dapat menerimanya.


Setelah ujian berakhir. Suasana sekolah tidak terlalu tegang. Guru-guru juga menjadi santai. Sudah bisa diajak bercanda. Entah mengapa seringkali ujian menjadi hantu yang menakutkan semua siswa. 


Jadi selepas sekolah koloniku sering berkumpul seperti biasa. Mendaki ke bukit di Utara. Hari ini kami membawa makanan dan minuman lumayan banyak. 


"Naik gunung lagi, yuk!" Danang kembali mengusulkan keseruan.


"Aku harus mengurus pendaftaran ke Universitas."


"Aku juga!"


"Sama."


Mayang, Arimbi dan Surya menggeleng sedih. Akupun merasa sedih. Sebab perpisahan kami sudah di depan mata. 


Betapa waktu terlalu cepat berlari. Aku masih bisa mengingat dengan jelas. Hari pertama aku bertemu mereka. 


Sesaat ketika bel istirahat berbunyi. Keempatnya menghampiriku. Aku merasa penyebabnya adalah Ares. Mereka melihatku bersama Ares. Ares memang terlebih dulu tergabung dalam kelompok mereka.


Mayang dan Arimbi termasuk anak perempuan yang menjadi idola anak lelaki di sekolah. Begitupun Danang dan Surya. Sedangkan Ares adalah idola tersembunyi.


Tak ada siswa yang terang-terangan mengaku atau menunjukkan rasa kagum jika Ares lewat. Mereka takut dengan pandangan matanya yang terlampau tajam itu. Namun jika Ares menjauh, mereka akan membahas sosoknya. Entah Ares termasuk dalam idola jenis tersembunyi atau idola tapi menakutkan. 


Sudah tahu menakutkan mengapa masih mengidolakannya? Banyak yang menjawab, itulah yang membuat penasaran. Phew!


Di sekolah lamaku. Kelompok anak pintar atau anak kaya, akan bersama golongannya, membentuk kasta tertinggi yang seolah-olah tabu bergaul dengan anak dari kasta rendah lainnya. Disini tidak. Semua berbaur. 


Setelah sekian lama bersekolah di sekolah eksklusif. Bersekolah disini menjadi sulit. Betapa terasa sekali perbedaannya. Pergaulan dengan sesama siswa, juga dengan para guru.


Materi pelajaran di sekolah lamaku memang tinggi tetapi bila dibandingkan dengan suasana ramah dan adab kesopanan disini. Aku lebih memilih sekolah baruku.


"Urusan sekolahmu yang di Jepang, sudah selesai?" Arimbi menatapku. 


Ada rasa tak rela saat mereka mendengar betapa jauhnya aku terpisah. Beberapakali tercetus, mengapa bukan disini saja. Di Jogja ada Universitas seni yang terkenal. Bukankah aku bisa mendaftar disana?


"Masih tahap proses, awal kuliah disana lebih lambat dari dsini. Jadi kemungkinan aku berangkat setelah awal tahun."


"Benarkah? Jadi kamu masih disini, selama menunggu masuk kuliah?"


Aku menggeleng. "Aku pulang ke rumah Mama. Sebab harus melancarkan bahasaku dulu. Percepatan kursus bahasa."


Aduh, aku seperti ingin menangis.


"Ah, aku sedih lho!" Arimbi memelukku. 


Dengan spontan Arimbi dan Mayang memelukku. Aku benci menangis. Tapi sepertinya mataku tidak peduli akan hal itu. Mudah sekali ia menetes akhir-akhir ini.


Kami, para anak perempuan berpelukan menangis. Danang mengacak rambutku. Surya tersenyum geli. Ares hanya bersikap seperti tak melihat.


Aku tahu, mereka semua sedih. Inilah yang kubenci dari pertemuan. Akan ada perpisahan di ujung satunya. 


"Kita buat janji, yuk! Akan tetap bersahabat dan tidak putus berkomunikasi."


"Suatu saat kita reuni ya!"


"Iya, sampai nanti kita reuni sambil bawa anak-anak kita!"


Mereka tertawa. Aku tertawa, membayangkan bila Ares memiliki juniornya.  Lalu kemudian mengutuki pikiranku, saat wajah Wening Prubasari hadir.


"Eh, mau melakukan sesuatu yang seru?"


"Apa?" aku berdebar.


"Hari ini kita harus jujur dan mengakui perbuatan atau kenangan setahun lalu hingga sekarang."


"Perbuatan apa?"


"Apa saja, mencontek-kah, menyukai kawan-kah, nembak seseorang-kah... Apa saja!"


Surya memberi ide. Kami semua saling pandang. Boleh juga! 


Arimbi maju. "Oke! Aku yang pertama. Peristiwa yang paling membekas, saat aku tertangkap pol PP waktu balap di alun-alun. Sebab aku kehilangan si putihku. Dijual bapak!" 


Lalu ia tertawa. Kami semua sudah tahu cerita itu. Arimbi tidak dimarahi bapaknya, hanya motornya yang disita dan dijual. Ia mendapat sepeda tua sebagai ganti kendaraan ke sekolah. Tapi Arimbi dengan sukarela menjalani sangsinya. Sebab dari awal mendapat motor itulah perjanjiannya. Tidak balapan!


Mayang berdiri. "Kalau aku, humm... Coklat dari anak kelas dua itu. Ingat nggak! Bikin horor aja!"


Karena risih suatu hari, Mayang menerima salah satu coklat tersebut. Malamnya ia bermimpi tentang anak kelas dua itu, selama tiga hari. Pamannya yang tahu bertindak cepat. Entah bagaimana. Akhirnya obsesi Mayang pada anak itu terhenti.


Kami bertanya apakah ia memakan coklat tersebut. Mayang hanya menggigit sedikit, sisanya direbut si Abu, lutung peliharaannya yang atraktif dan omnivora. Sambil tertawa kami bertanya apakah si Abu meminta bertemu dengan anak itu?


Si Abu baik-baik saja. Namun anak kelas dua itu jadi bersikap aneh. Seperti tidak mengenali Mayang manakala kami berpapasan. Entah mengapa. Aku sendiri takjub, meski melihat sendiri namun memilih tidak percaya akan sesuatu semacam itu. 


Satu yang kupelajari, bahwa mistis ternyata tak berpengaruh pada hewan. Mungkin karena mereka hanya memiliki insting, dan tak mempunyai pikiran seperti manusia. 


"Aku ya!" Danang maju, sambil menatapku. Aku sedikit berdebar.


"Aku nembak Putri sebelum ujian."


Ucapannya disambut sorak sorai. Arimbi, Mayang dan Surya saja. Ares seperti biasa, datar. Mereka bertiga tidak kaget malah bertanya hasilnya. 


"Aku digantung, Putri belum ngasih jawaban." 


Mereka bersorak lagi. Memintaku memberi jawaban pada Danang.


"Aku berterimakasih pada Danang atas pernyataannya. Aku juga suka sama kamu, tapi... sebatas kawan. Lagipula aku belum ingin menjalin hubungan, aku masih ingin sekolah jauh."


"Ah, klise! Pacaran ya pacaran saja, to!"


"Iya ni, pacaran kan bukan untuk menikah. Jangan serius banget, lho! Nikmati masa mudamu!" Mayang menyinyiriku. 


Aku tertawa. "Lah, kalau terjadi sesuatu bagaimana? Masa aku harus mengorbankan masa depanku karena kecelakaan misalnya."


"Walah, kamu ini! Ya, jangan di jalan juga pacarannya jadi nggak kecelakaan!" 


Kami semua tertawa. 


Ares hanya memasang telinga, wajahnya seperti biasa, tanpa ekspresi.


Lalu Surya maju, "Kalau aku, sebetulnya ingin nembak seseorang. Tapi takut ditolak sih."


Kembali kami bersorak. Menduga-duga anak perempuan tersebut. Kemudian Surya bergerak ke arahku. Aku berdebar. Ia berlutut. 


Berlutut di hadapan Arimbi yang berada di sebelahku. Phew! 


"Keberatan enggak kalau kita LDR -an?"


Pernyataan cinta yang aneh menurutku. Tapi Arimbi tersipu, matanya berkedip. Kurasa mereka telah menjalin kebersamaan saat tak bersama kami.  Jadi kurasa Arimbi pasti setuju. 


Kami bersorak. "Enggak.. Enggak..." 


(kan yang ditanya, keberatan enggak?)


Arimbi menggeleng lalu mengangguk. Tidak keberatan dan mau. Kami bersorak lagi. Entah mengapa aku ikut merasa senang. 


Lalu tiba giliranku. Karena nampaknya kami dipenuhi euforia tentang cinta. Aku terbawa juga. 


"Aku sedang jatuh cinta." 


Anak-anak kembali bersorak sorai. "Katanya tadi nggak mau pacaran..."


Aku tersenyum. "Aku... jatuh cinta pada tempat pengasinganku, rumah Iyang Uti, Bibi Tantri, kalian."


Mereka serentak diam. Dengan sudut mata kuperhatikan wajah Ares yang sedikit berubah.


"Tadinya, aku tidak mengerti mengapa Ayah dan Mama membuangku kesini. Ke... tempat yang sangat jauh dari keramaian. Aku sempat kesulitan. Aku belum terbiasa. Apalagi aku harus mengurus sendiri kebutuhanku. Tapi, kalian banyak membantuku."


"berada di tempat yang jauh dari Ayah dan Mama membuatku menemukan banyak kebaikan dalam diri orang-orang. Kebaikan dari mereka, kalian... membantuku menemukan diriku."


"Aku bersyukur Ayah menempatkanku di rumah Iyang Uti. Bersyukur disekolahkan di SMA Lima Belas dan bertemu dengan kalian."


"Jadi, aku sangat mencintai kalian, Iyang Uti, Bibi Tantri. Semua..."


"Aku berterima kasih. Aku senang bersahabat dengan kalian.. Aku..."


Sebelum ucapanku selesai, Arimbi dan Mayang sudah memelukku. 


"Putri apaan sih, jadi mau nangis!"


"Aku juga senang ketemu dan sahabatan sama kamu."


Jadi sekali lagi kami berpelukan. Padahal aku belum menyelesaikan kalimatku. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku menemukan makna bahagia yang baru. Makna cinta yang baru. Namun sepertinya aku tak perlu menjelaskan apapun.


Sebab mereka, sahabatmu akan mengerti semua itu.


---