Antares

Antares
Puncak



 Sedikit lambat dari jam makan pagi. Akhirnya aku tiba di puncak. 


"Rekor terlamaku naik ke puncak!"


Ares mengeluh pada Danang yang hanya tertawa. Resikonya menjadi sapu jagad. Harus siap berjalan mengikuti ritme anggota terakhir yang bisa jadi sangat lelet. Sepertiku. Aku tak peduli, yang penting aku telah sampai.


"Alhamdullilah!"


"Alhamdulillah, syukurlah Putri. Kami sudah mau turun tadi." 


"Selamat Ulang Tahun, Putri."


Pelukan Mayang dan Arimbi menungguku. Pelukan Danang menungguku. Kami berpelukan saling mengucapkan selamat. Selamat sampai ke puncak. Selamat berulang tahun di puncak. Selamat bertambah pengalaman. Selamat bertambah dewasa.


Pelukan Ares menunggu kami. Kami semua berpelukan. Saling mengucap selamat dengan haru. Bagi Danang dan Ares ini adalah puncak yang kesekian. Namun bagi kami anak perempuan ini yang pertama. Dan bagi anak lelaki ini kali pertama mereka muncak bersama anak perempuan. Yang ternyata merepotkan.


Mereka mengamini, naik dengan perempuan sedikit merepotkan. Manja dan berisik. Lelaki tidak terbiasa dengan jerit spontan perempuan, contohnya saat kaki mereka diserbu pacet. Bukannya cepat membuang dan mengibaskan binatang penghisap darah tersebut tapi malah menjerit-jerit. 


Pacet lebih cepat menyingkir dengan sundutan bara rokok, atau remasan tembakau jika tak ada yang merokok. Atau dengan membalurkan obat cair anti nyamuk, atau dengan minyak oles menyengat lainnya. Jadi lengkingan jeritmu seberapapun merdunya, tidak ampuh mengusir binatang tersebut.


Satu-satunya keuntungan mendaki dengan perempuan adalah... tidak ada. Itu kesimpulan Ares saat Arimbi bertanya padanya. Sesuai janjinya, kami makan siang di puncak. Ares yang memasak. Itu sebabnya ia menyimpulkan demikian. Ia tidak butuh anak perempuan menjadi koki.


"Enak! Ini kamu yang buat?" Mayang pasti menjadi orang pertama yang memuji.


Masakan bikinannya memang enak. Sebetulnya ia tidak memasak, hanya menghangatkan. Lauk ini kami bawa dari rumah. Ralat: Ares membawanya dari rumah. Ayam ungkep rempah yang menurut pengakuannya dimasak sendiri sebelum berangkat. Lalu makanan penutup berupa puding yang mirip seperti tiramisu. 


Ares memberi alasan bahwa menu ini adalah hadiah bagi kami. Anak perempuan yang sudah berusaha mendaki sampai puncak. Entah kenapa aku tersanjung, saat Arimbi menyinggung bahwa Ares sebetulnya memasak demi ulang tahunku. Tapi aku tak mau tersenyum. Ada Mayang yang menatapku kaku.


Lalu kami mengabadikan sebanyak mungkin pemandangan puncak. Sayang Surya harus menunggui tenda. Tentu akan menyenangkan apabila formasi koloni-ku lebih lengkap saat berpoto di puncak. Mungkin nanti kami akan berfoto di area tenda. 


Mayang ingin berpoto bersama Ares. Namun Ares malah mengambil potoku dengan kameranya. Jadi aku menawarkan pada Mayang menjadi potografernya. Membidik kedekatannya dengan Ares yang nampak tersenyum enggan. 


Tak lama setelahnya, kabut pekat mulai turun jadi kami harus bergegas turun dari puncak. Menurut Ares, cuaca bisa tak terduga jika kabut turun dengan pekat. Meski ada keuntungannya, jalur turun tidak akan terik menyengat. 


Formasi turun masih sama seperti saat menanjak. Danang yang pertama dan Ares dibelakang, dengan kami bertiga berada di tengah-tengah. Mayang kini dibelakangku. Masih berusaha lebih dekat dengan Ares.


Dan kesadaran pertamaku datang saat sudah dua puluh menit meninggalkan puncak. Jika tadi kami mendaki perlahan ditemani sinar bulan dan lampu headlamp. Maka sekarang kami turun beradu cepat dengan kabut. Yang semakin lama seperti bertambah pekat. Terus terang aku berdebar. Tanganku bergerak meremas kalung batu di leherku.


Dan deburan jantungku malah bertambah keras. Kalung itu tak ada! 


Langkahku terhenti. Mencoba mengingat dengan cepat keberadaannya. Ingatanku hanya ke puncak. Aku punya poto kalungku di berbagai tempat yang kurasa penting diabadikan. Jadi aku juga membuat poto kalung itu di puncak Sindoro. Kawah Sindoro mengingatkanku akan gunung Gede. Aku punya poto kalungku berlatar kawah Gede. 


"Mau kemana?" Ares menahan langkahku saat aku melewatinya yang sedang jalan beriringan dengan Mayang. 


"Puncak! kalungku ketinggalan!" sahutku panik. Seolah meninggalkan bagian diriku sendirian di atas sana.


"Hanya kalung, kan bisa kau beli lagi di bawah!"


Mama bilang kalung itu dibeli Ayah sebelum aku lahir. Memang untuk kupakai kelak saat aku sudah bisa menjaganya. Sebab batu itu berharga, batu yang terisi mantra. Mantra cinta saat mereka mengucap ikrar bersama.


Dan aku terbiasa menyentuhnya saat mengucap mantra. 


Aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku... Duh! kalung itu tak ada lagi di leherku. Dan aku merasa hampa. Aku bukan siapa-siapa.


Air mata memang bukan senjata. Dan aku menolak menggunakannya. Tidak juga karena lemah dan meminta belas kasihan darinya. Jadi air mataku turun sebab aku kehilangan. Aku takut jika kalung itu hilang.


"Ya sudah kita cari di atas. Tapi kamu tunggu disini, jangan kemana-mana. Aku mengantar Mayang dulu sampai bertemu Danang. Kita jangan sampai terpisah, sebab kabut bertambah pekat."


Ares mewanti-wanti agar aku tidak bergerak dari jalan setapak itu. Sampai ia mengantarkan Mayang dibawah tanggung jawab Danang yang sedikit jauh di depan. Kuduga jarak Danang telah cukup jauh sebab Ares membutuhkan sekitar tiga puluh menit menghampiriku kembali. 


Tiga puluh menit itu sangat lama. Sebab aku hanya bisa menunggu di jalan setapak yang berkabut. Keheningannya begitu menyiksa. Beberapa hal yang berat untuk dihadapi manusia adalah kesendirian dan rasa hening. Aku tak tahan dan merasa sangat lega ketika sosok Ares muncul dari keremangan kabut itu.


"Kamu yakin tertinggal di puncak?" Ares bersuara. Namun intonasi suaranya membuatku nyaman. Bertolak belakang dengan wajahnya yang kaku menahan emosi. Membuatku was-was, apakah ia menahan amarah? 


Beberapa saat di puncak tadi ia menyatakan bahwa mendaki bersama anak perempuan sangat merepotkan. Dan aku membuktikan bahwa pernyataannya itu benar. Masa bodohlah, aku hanya ingin kalungku kembali.


Aku mengangguk, menjawabnya dengan yakin. Bahwa aku memang melepasnya untuk dipoto. Ares memuji tindakanku yang memanusiakan kalung tersebut. Dia bertanya apakah aku juga mengajak kalungku berbicara. Dan aku mengangguk mengiyakannya. 


Kami berjalan beriringan, agar kabut tak memisahkan kami. Sesampainya di puncak aku mencari bongkahan batu tempat terakhir yang kuingat, menempatkan kalungku untuk dipoto. Aku bertambah cemas, semua batu nampak serupa. Dan kalung itu tak ada! 


Kemana dia?


Dari sudut mata aku menangkap Ares bergerak ke arah berlawanan. "Ini kalungmu?" sahutnya mengacungkan kalungku.


"Iya! Kok bisa ada disana!" 


"Bukankah tadi kamu berpoto-poto disana?"


Aku berterima kasih atas kemampuannya mengingat. Kalung itu adalah potonganku. Dan ia berhasil menemukan bagian diriku. Aku berterimakasih hingga rasanya ingin memeluknya. Jadi aku memeluknya karena rasa yang membuncah. 


Ares terpana, wajahnya terlihat menjadi kikuk. 


Jika air mata tidak menjadi senjata. Mungkin sebuah pelukan bisa. Kulihat Antares Bimasakti kehilangan suara.


Lalu kami turun. Tak ingin berlama-lama. Sebab mendung kini sudah mulai menggantung. Kabut dan mendung membuat pandangan kami terbatas. Ares sudah menggunakan senter untuk menyoroti langkahku. Jalan di depan kami menjadi samar-samar. Hari belum lagi sore, namun matahari seperti sudah ingin tertidur saja.


Entah sudah berapa saat lamanya kami turun. Rasanya jauh lebih lama dari waktu mendaki. Ares menyuruhku berhenti. Wajahnya mengeras.


"Kenapa?" 


"Kita tersesat!"