Antares

Antares
Rencana



Hidup di pengasingan memiliki beberapa syarat dan ketentuan. Syarat yang pertama yaitu mengenai ibadah yang tak boleh tertinggal kecuali oleh alasan tamu. Tamu kami para perempuan. Hore!


"Iyang Uti meminta satu darimu. Jangan tinggalkan ibadahmu ya, Nduk!"


"Manusia membutuhkan dunia. Kamu boleh main sepuasmu tapi ingat akan kewajibanmu. Manusia hidup tidak hanya di dunia ini saja."


Aku tak pernah membantah soal satu itu. Konsep surga neraka dalam ibadah telah kuhapal luar kepala. Sebab begitu adanya dalam semua ajaran agama. Tetapi aku memaknai ibadah serupa makan minum bagi raga. 


Jika tubuh kasatku membutuhkan makanan agar hidup, maka demikian pula rohaniku. Jika aku tak memberinya makan, rohaniku uring-uringan. Maka ibadah akan menjadikanku seimbang. 


Suatu ketika Iyang Uti bertanya apa aku dapat membaca Quran. 


"Apa kamu sudah bisa baca Qur'an?"


"Bisa, Iyang."


Sejak SMP aku sudah khatam tiga kali. Iyang Uti berpura-pura terkejut. Kubilang berpura-pura, sebab tentu Ayah sudah bercerita. Khatam pertamaku menjadi kisah tersendiri, satu minggu lamanya ia bercerita kepada siapa saja yang dirasanya perlu tahu.


"Jadi, kamu sudah khatam tiga kali, artinya ayat-ayat tersebut sudah bisa kamu maknai, kan? Jadi Iyang Uti tidak perlu mengingatkan apa yang dilarang dan apa yang harus dilakukan. Betul begitu?


Baiklah! Iyang Uti kini hanya perlu mengutip ayat sebagai pengganti titahnya. 


Oke, siap!


Nampaknya hanya syarat ibadah itu yang dominan. Selebihnya sama seperti peraturan di rumah Mama. Peraturan bagi anak perempuan yang tak perlu dijabarkan, sebab peraturan tersebut melekat bersamaan kelahiran kami anak perempuan. Jadi seorang perempuan biasanya sudah mengerti secara alami. Peraturan yang biasanya tidak diberlakukan bagi para lelaki.


Phew! Lagipula aku masih terlalu muda untuk melakukannya. Dan tidak ingin membahasnya. Lagipula gerombolanku adalah anak-anak seru. 


Letak rumah kami tak terlampau jauh. Ares di depan rumah Iyang Uti. Danang berjarak dua puluh rumah ke utara. Rumah Mayang sedikit masuk di belakang gapura perempatan jalan. Sedangkan Arimbi dan Surya berjarak tiga kilometer saja. Tak jauh, itu menurut satuan jarak bagi mereka. 


Jadi setiap pagi biasanya kami berkumpul di kelokan ke lima, lalu bersama-sama bermotor ke selatan menuju sekolah. Pada sabtu sore biasanya kami menuju utara, mendaki bukit kecil lalu menunggu rembang hilang di balik tubuh gagah gunung Sindoro. 


Sebetulnya dari teras rumah Iyang Uti, aku sering berlama-lama menatap gurat lereng yang nampak jelas ketika pagi dan cuaca cerah. Seringkali jariku membuat bentuk kotak lalu memicingkan mata, memasukkan siluet tubuh gagah Sindoro kedalamnya. Persis seperti potografer sebelum membidik objeknya. Gunung Sindoro berlatar langit biru cerah lukisan sang maestro pencipta. Postingan potoku di sosial media yang kupunya, melengkapi puja-pujiku atas gunung di tempat pengasinganku.


Aku punya akun di sosial media yang kukunci, baik komentar maupun privasi. Tujuannya jelas, biar saja mereka yang mengikuti beritaku di pengasingan. Sebab aku tak butuh dikomentari. Meski beberapa kawan lama memenuhi inbokku dengan tanya dan kabar berita. Ya, aku menjawab beberapa yang kurasa pantas untuk tahu. Selebihnya kuabaikan saja. 


Manusia memang mahluk sosial. Tapi kita tidak harus membagikan kisah kita kepada seluruh dunia, kan?


--


Sindoro. Gunung tinggi yang gagah itu nampak seperti wanita penggoda. Yang meminta dijamah. Lantas kami tergoda.  


"Bagaimana jika selepas ujian kita mendaki." Danang mengusulkan.


"Mendaki Sindoro?" Arimbi bertanya dengan suaranya yang lembut dan berlogat kental. Aku suka mendengar suaranya.


"Iya, jalur Tambi saja. Aku sama Ares pernah lewat situ. Tidak terlalu sulit!" Surya ikut memberikan saran. 


"Boleh saja, aku juga belum pernah sampai puncak!" Mayang ikut menyuntikkan semangat.


Akhirnya kami semua sepakat. Lepas ujian nanti kami akan mendaki. Mendaki Sindoro bersama gerombolan baru. Koloni-ku.


Antares Bimasakti tertawa sinis, memecah antusiasku. "Malas, ah!"


"Kalau kau tak mau ikut, ya nggak usah ikut!"


Aku tak perduli ia mau ikut atau tidak. Bagiku dia tidak pernah ada. Dan aku menyuruhnya dirumah saja, tak perlu bersatu dengan gerombolan baru, koloni-ku. 


"Kau pikir Iyang Uti akan mengijinkanmu? Jika bukan aku yang menjadi tiketmu."


Aku memandangnya sengit. Anak lelaki sombong itu memang sialan. Karena dia benar. Aku bisa berkeliaran bebas sebab dialah saisku. Mengantarku kemana-mana. Iyang Uti dan Bibi Tantri terlalu percaya pada srigala yang menyepuh bulu ini. 


Pernah satu ketika saat Mayang dan Arimbi menginap di bilik pengasinganku. Kami mengadakan ladies night yaitu berupa girl talk dengan topik utama tiga lelaki di koloni kami. 


Mereka sependapat bahwa Danang anak lelaki paling rupawan di sekolah kami. 


"Tapi saingan Danang itu Ares. Wajah cool milik Antares Bimasakti itu, lho! 


Bisa bikin panas dingin anak perempuan." Mayang tertawa ramai. 


"Sedangkan Surya. Aku suka cara tertawanya. Enak didengar. Bikin kita juga ikut bahagia. Ya, kan?"


Kami memang merasa perlu membahas para anak lelaki. Sebab kurasa para anak lelaki juga pernah membahas tentang kami.


"Ares bersikap angkuh sebab dia tahu wajahnya lebih rupawan dari Danang. Namun Danang lebih unggul sebab disamping rupa, anak lelaki itu juga mempunyai banyak benda. Harta benda adalah tambahan pemikat yang membuat anak perempuan lebih memilih Danang!" 


Kedua anak perempuan di koloni setuju dengan pendapatku.


Mereka juga mengamini bahwa sikap Antares sangat berbeda jika di depan Iyang Uti dan Bibi Tantri. Tetapi mereka menambahkan bahwa Antares memang selalu sopan dengan orang tua. Dia hanya agak ketus terhadapku. Padahal kami setiap hari berangkat sekolah bersama.


"Memangnya kamu nggak berniat menggigit dan menghisap darah Ares? Kamu, kan punya banyak kesempatan saat dibonceng. Sepertinya kamu benci banget sama Ares!" Mayang bertanya.


"Maksudmu menghabisinya?" aku tertawa dengan istilah Mayang. Ia mengangguk.


"Pasti aku orang yang pertama kali diciduk polisi jika Ares mati dengan cara ganjil. Jadi kamu saja mewakili aku. Menghabisi Ares!"


Lantas dengan tersipu Mayang mengaku, "Kurasa, aku menyukai Ares. Tapi kalian selalu berdua. Kupikir..."


"Hah? Seriusan?" dengan cepat aku memotong kalimat Mayang. Meski aku tak paham kenapa Mayang bisa menyukai Ares. Menyukai anak sombong itu? Suka pada sikap palsunya?


"Kamu boleh memilikinya, sebab kami tak akan bergerak ke arah sana, selain hubungan sais dan majikannya."


"Sadis, kamu!" Mayang tertawa. 


Hubunganku memang terlihat sadis, tapi ia berharap ada di posisiku saat ini. Begitulah adanya jika manusia sudah jatuh cinta. Lantas obrolan kami bergerak secara alami, membahas pengalaman jatuh cinta. 


Aku tertegun, dengan banyaknya pengalaman mereka jatuh cinta. Tiba-tiba merasa seperti anak baru datang dari desa. Padahal akulah yang anak kota. Menurut mereka, koleksi mantanku pasti berlusin-lusin. Padahal satupun saja aku tak punya. Itulah satuan jumlah bagi setiap orang yang berbeda. Jauh-dekat, sedikit-banyak. Kita hanya mampu menduga-duga. 


--


"Jelas kamu harus ikut!" Mayang meminta Ares penuh harap. 


Aku mempelajari bahasa tubuh Mayang. Ia menginginkan kehadiran anak lelaki itu. Kawan dari koloni-ku sedang melakukan pendekatan. Jadi aku harus membantunya. Berbaik-baik dengan Ares.


"Baiklah, aku merelakan jatah jajanku seminggu, jika kamu mau mau ikut sebagai tiketku." aku meniru persis bahasa tubuh Mayang. Menaruh harap dengan jelas pada kedua mataku.


Dan manusia angkuh itu hanya menatap sekilas. Aku tahu otaknya sedang menaksir berapa banyak keuntungan yang bisa diraihnya. Setelah beberapa saat aku akhirnya tahu. Ares sering memenangi perlombaan yang berlatar belakang hadiah tunai. Dia belajar keras bukan karena ingin pandai, ia hanya berusaha untuk menjadi pandai. Sebab ada keuntungan yang besar disitu. Hadiah tunai yang jumlahnya ratusan hingga jutaan itu.


Sebetulnya aku juga curiga bahwa Iyang Uti melakukan penawaran dibelakangku. Penawaran tinggi atas kepatuhannya. Mengantar dan menjemputku.


"Macbook air, milikmu!" Desisnya hampir tanpa suara.


Muka gila! 


Aku hampir menyemburkan serapah. Ayah baru saja mengirimnya sebulan lalu. Hadiah ulang tahunku yang datang lebih awal.


"Bisa? Merayakan tujuh belas di puncak Sindoro pasti berkesan. Kau bisa meminta macbook yang baru pada Ayahmu."


Aku memperhatikan Mayang yang sedang berbicara dengan Surya. Jika aku menyetujui, lebih karena aku ingin tujuh belasku berkesan. Tujuh belas hanya datang satu kali. Macbook adalah macbook, yang terus berganti seri. 


Aku kembali menyumpah. Antares Bimasakti, anjing licik serakah!


--