
"Kita tersesat!"
Ares menjawab dengan tegas. Aku kehilangan kalimatku. Aku benci saat dia mengatakannya dengan intonasi yakin.
Bukankah Ares bisa mengatakannya dengan menggunakan bahasa lain, yang lebih halus. Kesimpulannya tadi datang darimana? Kami hanya belum sampai ke tenda. Matahari memang hampir rebah. Keremangan mulai meraja. Dan kini aku merasakan kepanikannya.
Mengapa kami bisa tersesat? Bukankah ini jalanan yang sama seperti saat mendaki tadi? Ataukah semua hanya nampak serupa? Pepohonan dan ladang batu-batu di sebelah Utara dan Selatan, apakah semua sama dengan pepohonan dan ladang batu di bagian Timur dan Barat.
Lantas kami dimana?
Ares duduk lalu menyuruhku untuk ikut duduk. Rerumputan semak memang bukan lagi seperti jalan setapak yang terbiasa di lalui. Ia membuka ransel kecilnya mengeluarkan kompas dan peta. Memeriksa peta dalam keremangan kabut. Nampak garis-garis gambar yang berlekuk-lekuk. Peta kontur katanya.
"Ini kita."
"Dan ini tenda kita."
Ares menunjuk sebuah titik yang katanya adalah tenda. Sedangkan di arah yang berlawanan adalah titik keberadaan kami. Menurut Ares itu cukup jauh.
"Apakah kita tidak bisa kesana?" aku bertanya, mungkin sedikit memohon. Titik-titik di peta itu nampak tidak terlalu jauh. Kami pasti bisa mencapainya. Aku tidak ingin bermalam di sini. Mendung sudah berubah menjadi rinai gerimis.
Ares menggeleng yakin. Aku benci akan keyakinannya. Apakah ia tidak bisa membuat kalimatnya lebih mengandung harapan?
"Jika masih terang, kita bisa kesana dengan mudah. Tetapi kita tidak akan bisa kemana-mana jika kemalaman di jalan."
"Riskan, lebih baik kita menunggu besok pagi." Ares menyelipkan harapan yang kuinginkan dalam kalimat lanjutannya.
"Ini belum terlampau sore. Kita pasti bisa menemukan jalur semula. Bagaimana jika kita semakin tersesat, kita nggak punya tenda dan makanan. Aku lapar dan haus. Aku juga kedinginan."
Dan hal yang tak terduga datang dari sikap lembutnya. Tangannya menangkup kedua pipiku. Memaksa tatapan kami bertemu.
"Dengar. Aku mohon padamu, agar kau simpan sikap tuan putri-mu itu. Untuk malam ini saja. Cobalah untuk mengerti situasi yang kita hadapi sekarang. Kita sedang tersesat. Dan yang bisa menolong kita saat ini hanyalah akal sehat."
"Berhentilah merengek, sebab itu tidak akan menyelamatkan kita. Berhentilah bersikap manja dan bantu aku dengan bersikap lebih dewasa. Paham!"
Aku tidak bisa mengangguk. Tangan Ares begitu erat menangkup pipiku. Aku tahu ia tak membutuhkan persetujuan atau kata iya dariku. Kalimatnya tadi, yang meski diucapkan dengan nada manis. Adalah sebuah perintah yang tak bisa dibantah. Jadi aku hanya terduduk memeluk kedua lututku. Dalam diam aku mengawasinya yang mulai sibuk.
Selembar jas hujan tipis telah dibentangkannya di tempat yang sedikit terlindung. Ia membuat bivak untuk mencegah gerimis yang mulai turun bertambah lebat. Aku ingat, aku menyisihkan jaket impor milikku ke dalam ransel Danang, juga saat Ares bertanya apakah aku sudah membawa jas hujan. Aku tidak tahu jika jaket dan plastik tipis tersebut bisa berguna saat ini.
Ia lantas memerintahkanku untuk pindah duduk di bawah bivak. Lalu ia meneruskan kesibukannya. Mengumpulkan ranting kecil. Ia hendak membuat api. Tadi, saat membereskan peralatan sebelum turun dari puncak. Aku melihat dengan jelas Danang memasukkan kompor gas portable kami di ranselnya.
Kenapa Danang harus memasukkan semua alat ke dalam ranselnya? Apakah mereka menyadari ketidak munculan kami? Kenapa tidak ada yang menyusul kami?
Setelah ranting cukup banyak terkumpul. Ares memisahkan sesuatu dari veldples nya. Aku baru tahu bagian bawah tempat minum tersebut bisa berfungsi sebagai wadah. Ares menggunakannya untuk membuat air panas. Sedangkan pemancing api didapatnya dari kotak kecil berisi potongan kain berminyak. Dengan cepat api menyilap dari kain ke ranting-ranting tersebut.
Ternyata caranya cukup mudah, hanya dengan potongan kain yang dibalur minyak vaselin. Dan kotak kecil itu berisi peralatan lain yang bisa menolong kami disaat genting. Ares menyebutnya kotak bala bantuan. Survival kit box.
Aku bertanya, apalagi yang bisa dilakukannya saat ini. Sebab hanya ransel Danang yang berisi bahan makanan. Lalu Ares membuat keajaiban. Ia mengeluarkan sisa puding bagiannya. Dan memberikan padaku. Ia sendiri hanya minum, sisa dari air minum bergula miliknya. Setelah membaginya denganku. Katanya kami harus berhemat sampai ada cadangan makan dan minum selanjutnya. Aku ingat masih menyimpan sebungkus roti abon.
"Simpan rotimu, aku membutuhkannya besok."
Aku pikir Ares akan memakannya untuk sarapan. Tapi kemudian kudengar lanjutan kalimatnya.
"Nanti, pagi-pagi kamu bakal berteriak kelaparan. Sikapmu menyebalkan saat kelaparan! Jadi aku butuh roti itu besok!"
Lalu Ares tertawa. Aku terpana. Baru ini aku melihatnya tertawa. Apakah aku tidak salah lihat? Aku pernah melihatnya tertawa bersama Danang dan Surya. Tapi belum pernah saat bersamaku. Apakah tersesat membuatnya bahagia?
"Kamu sedang senang, ya?" aku menyikut rusuknya. Kami duduk merapat bersisian. Sebab rinai gerimis makin bertambah lebat. Belum menjadi hujan. Namun cukup untuk membuat suhu menjadi lebih dingin dan basah. Untung Ares sudah menumpuk banyak daun kering di tengah sodetan tanah yang dibuatnya agar aliran air tak membasahi bagian bawah bivak, tempat kami duduk.
Aku menyesali tindakanku menyingkirkan jas hujan tipis ke carrier di tenda. Aku juga menyesali jaketku yang terbawa di ransel Danang. Kurasa benda-benda itu bisa sangat berjasa saat ini.
"Senang karena tersesat bersamamu?"
"Tidak! Tapi aku senang, sebab kau tersesat bersamaku!" Ares mengucapkan kalimat yang membuatku mencernanya dengan bersungguh-sungguh.
"Coba kau bayangkan, jika kau bersikeras naik mencari kalung itu sendirian. Lalu kami menunggu di bawah tanpa kepastian. Sementara kamu sudah berjalan entah ke dunia mana. Bagaimana aku harus bertanggung jawab pada Iyang Uti? Keluargamu?"
Aku mencerna kalimatnya lagi. Aku benci. Kalimatnya mengandung kebenaran.
"Apakah Danang dan Surya tidak mencari kita?"
"Tidak!" Ares menjawab pasti.
"Kenapa?"
Aku seharusnya tidak bertanya sebab ia akan menyombongkan kembali dirinya.
"Sebab kau bersamaku. Dan mereka tidak bodoh. Melakukan pencarian saat malam sama saja dengan terjun langsung ke jurang."
"Kunci utama yang harus dilakukan agar tidak tersesat semakin jauh adalah berhenti berjalan. Kebanyakan orang yang tersesat akan terus berjalan, karena mereka dalam kepanikan. Jadi begitu mengetahui kita sudah tersesat, kita harus berhenti berjalan."
"Tapi kan kita tersesat, bagaimana bisa keluar dari hutan jika kita tidak mencari jalan?"
"Betul, kita memang harus tetap mencari jalan. Tapi disaat kita sudah tenang dan menguasai keadaan. Jika sudah gelap, maka berhenti dulu dan bermalam. Jika lapar, cari dulu makanan. Jika kedinginan maka usahakan membuat tubuh hangat. Yang bisa menyelamatkan orang tersesat adalah akal sehat mereka. Dan akal sehat timbul dari emosi yang stabil."
"Dan sekarang, kau tidurlah! Emosi stabil bisa kau dapatkan saat tubuhmu tidak lelah.