
Pagi hari datang lebih awal. Ares selesai berdoa saat aku terbangun. Aku tidur cukup nyenyak dan hanya sesekali saja terbangun. Ares menyediakan lengannya sebagai palungan. Panas yang menguar dari lengannya menjadi selimutku. Ares juga menggunakan tubuhnya untuk menghalangi angin. Dan aku tertidur bergelung dalam irama nafasnya yang membuai.
Setelah membagi rasa. Aku merasa nyaman. Kurasa Ares juga demikian. Sikapnya jauh lebih lembut dari hari kemarin. Ares tak lagi merasa canggung saat bahu atau tangan kami bersentuhan. Aku tidak merasa berdebar. Aku merasa aman.
Tadi malam, kami membagi cerita sebelum tertidur. Aku bertanya tentang apa saja mengenai dirinya. Aku bertanya semua. Mengeluarkan lembaran daftar pertanyaan yang tadinya hanya berupa dugaan.
Apakah kau membenciku?
"Aku tidak membenci dirimu, yang aku benci adalah sikapmu. Kau putri manja yang kolokan. Orang tuamu berkecukupan. Kau berpikir bahwa kau bisa mengendalikan semua orang."
Aku tidak persis seperti itu. Tapi aku memang kerap memaksakan kehendakku. Jika tak dapat hari itu, aku akan mencari jalan untuk mendapatkan keinginanku.
"There you go!" ucap Ares membungkamku.
Tapi kita baru bertemu waktu di bandara, mengapa sikapmu seperti sudah mengenalku?
"Hari itu aku taruhan bola dengan Surya. Karena harus menjemputmu, aku kalah"
Memangnya kalau tidak menjemputku, kau akan menang?
"Potomu itu menyebalkan. Surya menaruhnya di dekat TV kami main!"
Aku tak tahu maksudnya, jadi aku kembali bertanya.
Apakah Iyang Uti membayarmu?
"Ya, Iyang Uti memaksaku menerima uang dari Ayah dan Mamamu. Mereka membayarku dengan cukup. Aku sebetulnya menolak. Sebab Iyang Uti dan Bibi Tantri sudah seperti orangtuaku. Tetapi Iyang Uti meyakinkan bahwa ia butuh tanggung jawabku. Menurutnya aku akan lebih bertanggung jawab manakala menjadikan rutinitas itu sebagai pekerjaan. Jadi aku bekerja pada Iyang Uti dan orangtuamu yang membayar gajiku."
Tetapi kenapa sikapmu kasar? Bukankah secara tak langsung aku adalah majikanmu. Ares terbahak.
"Kau bukan majikanku. Aku bekerja pada Iyang Uti, dan orangtuamu yang menggajiku. Paham!"
Sama saja. Aku majikanmu.
"Tidak sama. Aku tidak melaksanakan perintahmu."
Kemana orangtuamu? Ares terdiam.
Mereka sudah tiada? Ares terdiam. Jadi aku meminta maaf atas pertanyaanku.
"Mereka masih ada, namun entah dimana. Katanya bekerja, tapi tak tahu dimana. Aku sudah lelah mencari mereka. Rumah yang kutinggali adalah rumah ibuku. Aku tidak ingin pindah dari situ. Suatu saat mereka akan pulang. Aku ingin ada disitu saat mereka pulang."
Aku terdiam. Merasakan dukanya. Aku tahu bagaimana rasanya menunggu. Aku selalu menunggu Mama pulang. Aku selalu menunggu Ayah pulang. Pulang dan berkumpul dalam rumah yang sama. Mereka masih ada. Namun kebersamaan kami tiada. Dan rasanya lebih menyakitkan dari kematian.
"Maka bersyukurlah. Meski kedua orangtuamu berpisah, mereka masih ada. Kau masih bisa menemui mereka. Meski kalian tidak lagi tinggal bersama. Aku tak tahu kemana lagi mencari jejak mereka. Hanya terkadang ada paket tak tentu yang berisi harapanku. Aku tahu mereka masih hidup. Aku berharap mereka masih hidup."
Jadi itu menjawab pertanyaanku tentang kurir yang rutin mengantarkan paket padanya.
Lalu dengan berdebar, aku bertanya tentang sebuah nama.
Wening Prubasari.
Ares terdiam. Jadi aku bercerita tentang buku bersampul belacu yang ditinggalkan Wening di bilik pengasinganku.
Aku merasakan tubuhnya yang menjadi kaku. Jadi aku menyerah. Aku tidak akan bertanya lagi tentang cerita itu. Atau tentang dewi Aphroditenya. Jika kisah itu telah menjadi bagian dari masa lalu yang tak ingin lagi diingatnya.
Dan aku bertanya tentang perasaannya. Menurutku tak lazim dan tak pantas bagi mereka.
"Apa yang kau tahu tentang pantas atau tidak. Kami tidak menjalin kisah dengan hasrat. Kami hanya berbagi rasa. Tubuhnya masih milik suaminya. Wening hanya membagi hatinya. Akupun tak hendak menguasainya. Cinta yang kami miliki lebih luas lagi maknanya."
Aku tak ingin mendebatnya. Dia menjadi Antares Bimasakti yang mencintai Wening Prubasari. Mereka telah saling memiliki hati untuk ditinggali. Meski terbagi. Dan jika kata pepatah cinta itu buta, memang begitulah adanya. Mereka sedang buta, tak mampu melihat realita.
Jadi aku memutuskan untuk menyudahi pembicaraan kami. Aku bergelung lebih rapat di pelukannya. Tidak ada hasrat. Ia membuatku merasa aman. Satu-satunya yang harus kuwaspadai adalah perasaanku sendiri.
Jadi untung saja pagi datang lebih awal.
Ares benar. Saat matahari meninggi. Perutku mulai terasa lapar. Aku membagi roti abon milikku. Ia mengambil satu gigitan dan mengembalikan sisanya padaku. Ares membutuhkan kewarasanku untuk membantunya mencari jalan pulang. Ralat: Ares yang mencari jalan pulang, aku membantunya dengan tidak mendebat kata-katanya.
Dengan terampil Ares menggunakan keahliannya bernavigasi. Mencari tanda patokan untuk membidik kompas. Aku tidak paham angka-angka saat ia menarik lintasan membuat azimuth atau back azimuth. Yang kutahu sebelum tengah hari kami sudah di jalur pendakian normal.
Ares membuat suara-suara. Suara melengking yang mirip anjing hutan. Kupikir ia memanggil kawanannya. Kawanan anjing hutan liar. Tak lama terdengar sayup-sayup suara menyahuti yang kutebak datang dari Danang atau Surya.
Mulutku gatal untuk kembali mendebatnya. Hanya memerlukan beberapa jam saja untuk bisa menemukan jalur pulang. Jika saja tadi malam kita terus melangkah.
"Kau gila? Jalur yang kita tempuh semalam mengarah ke jurang. Penerangan kita terbatas. Kau mau mati konyol, ya?"
Akhirnya aku kembali bertemu koloni-ku. Mereka menyambut kami dengan rasa haru. Setelah memberi kami makan, mereka semua bertanya dengan tak sabar. Mereka hanya bisa menunggu, sebab kabut memang terlampau pekat setelah kami dari puncak. Yang membuat agak tenang, bahwa ada Ares bersamaku.
Danang dan Surya telah mempunyai rencana. Pertama, mereka akan menunggu. Sebab mereka tak pernah ragu akan kemampuan Ares melakukan survival. Baiklah, aku mengakui kemampuan Ares bersurvival. Ia menyelamatkan hidupku.
Kedua, jika kami tak juga muncul hingga jam makan siang. Maka mereka yang akan bergerak mencari kami. Dan jika rencana-rencana tersebut tak juga berhasil. Maka mereka akan memilih yang terakhir. Melaporkan kami pada pos jagawana di kaki gunung.
"Ulang tahun yang epik!" Mayang memujiku. Ia seperti tahu bahwa ada ikatan baru yang terjalin pada dua orang yang baru saja melewatkan malam bersama. Malam di tengah hutan rimba. Tersesat raga dan mungkin juga jiwa. Sebab mataku kini menghamba. Pada sosok Antares Bimasakti.
"Maafkan aku." Aku memeluknya. Bukan karena ingin meminta Ares padanya.
Aku memeluk Mayang, dan memeluk Arimbi. Kemudian Danang dan Surya mengikuti. Ares bergerak merengkuh kami. Aku bersungguh-sungguh meminta maaf karena membuat mereka susah. Mereka menerima maafku dan juga menyodorkan maaf yang mereka punya, sebab tak bisa langsung mencari kami.
Jadi kami saling meminta maaf. Dan kurasa ikatan kami bertambah kuat.
Dulu aku tak pernah mengucapkan maaf atas kekacauan yang kubuat. Sebab meski meminta maaf tak ada yang berubah. Kekacauan tetaplah menjadi kekacauan.
Kini aku tahu, kata maaf tak akan seketika mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik kembali. Kekacauan akan tetap menjadi kekacauan. Tetapi kata maaf yang terucap akan membuat perasaanmu lega. Jadi kata maaf yang diucapkan bukanlah untuk orang lain, melainkan diri sendiri.
Kami berkemah semalam lagi. Dan lebih banyak waktu yang kami habiskan di depan tenda. Kami tak ingin tidur dan melewatkan waktu bersama begitu saja tanpa cerita. Jadi kami banyak bercerita.
Kami enam orang, jadi ada enam cerita. Yang masing-masing kisah seperti buku tebal ratusan halaman. Cerita yang tidak ada hentinya. Itulah hal menguntungkan jika kau mempunyai banyak kawan. Ada banyak kisah yang bisa kau dengarkan. Aku menyukai cerita mereka.
Besok malam tentu sudah berbeda. Akan ada rasa kehilangan. Saat kami berada kembali di rumah masing-masing. Aku menyukai malam terakhir ini. Besok malam kami sudah berpisah. Aku tak ingin berpisah. Kami tak ingin berpisah.
"Apa kau kapok?" Danang bertanya.
Aku menggeleng. Selagi ada Ares. Aku bisa menaruh harap.
"Aku yang kapok!" Ares menyahut cepat. Lalu tertawa. Aku menyukai rasa yang keluar dari tawanya. Rasa bahagia.
Aku menyentuh kalung di leherku. Membawanya ke ujung gigi. Dan mencecapnya di lidah. Rasanya ingin mengucap mantra baru. Bisakah kusimpan tawa itu?
--