Antares

Antares
Pelangi



Setelah makan siang, gerimis turun serupa jarum. Dan suasana saat gerimis turun di post 3 begitu menakjubkan. Kami mendirikan tenda yang langsung berhadapan dengan pemandangan di bawah. Tak ada yang hendak masuk ke dalam tenda. Jadi kami duduk berhimpitan di atas matras yang dinaungi flysheet di antara dua tenda.


Kehangatan selalu tercipta dari kebersamaan. Canda tawa juga terlahir dari kebersamaan. Ikatan akan terjalin dalam pendakian. Masing-masing kami nampak lebih saling mengenali.


Ketiga anak lelaki nampak telah mempunyai ikatan yang kuat. Ketiganya memang bersahabat, jauh sebelum memasuki sekolah menengah. Jadi dalam pendakian ini mereka saling mengerti tanpa perlu beradu argumen. Banyak anak lelaki yang sering beradu argumen untuk menyatakan eksistensi mereka, terutama didepan anak perempuan. Seperti ada keharusan untuk menarik perhatian dari anak perempuan.


Tetapi mereka tidak demikian. Sikap dan perhatian yang mereka tunjukkan sudah alami. Baik di sekolah maupun ketika mendaki. Meski aku kerap menyadari sikap Danang dan Surya yang melembut jika berhadapan denganku atau Arimbi. 


Romansa remaja nampaknya mulai menjerat kami. Aku mulai menduga-duga apakah Arimbi juga mempunyai perasaan pada Danang ataukah Surya. 


Sejak semula, Danang memang sudah terlihat menyukaiku. Tapi bukankah aku telah terbiasa disukai? Banyak anak lelaki di sekolah lama yang menyukaiku. Wajahku dan pembawaanku yang menyenangkan, begitulah penilaian mereka tentangku. Satu-satunya anak lelaki yang tidak terpengaruh adalah anak sombong itu. Antares Bimasakti. 


Kenapa aku merasa terganggu jika Ares tak menyukaiku. Apakah jika aku menyukai seseorang. Orang itu harus menyukaiku juga? Bukankah selama ini aku tidak pernah menyukai anak lelaki yang telah menyukaiku. 


Jadi inikah perasaan yang dirasakan oleh para anak lelaki itu? Rasanya tidak terlalu menyenangkan. 


Berulangkali Danang juga menawarkan mengantar dan menjemputku dengan jeepnya, menggantikan tugas Ares. Bukannya aku tak ingin. Tetapi sejak kutahu Ares menjadikan tugas mengantarku sebagai bagian penunjang hidup. Aku tak bisa membuatnya kehilangan salah satu sumber nafkahnya. Jadi aku membiarkan Ares menjadi sais abadi.


Sedangkan Mayang sudah begitu jelas menyatakan rasa sukanya pada Ares melalui sikap dan tatapan mata. Sejauh yang kulihat, Ares membalas sikap Mayang dengan secukupnya. Aku tak berani menjelaskan tentang perasaanku sendiri pada Mayang. 


Tidak ada yang mengetahui seseorang yang ada di hati Ares. Meski rahasia itu telah kubaca. Tetapi akupun tidak mengetahui apakah seseorang itu masih ada di dalam hati Antares Bimasakti.


"Putri, kamu kan cukup dekat dengan Ares. Apakah kau tahu siapa yang menjadi kekasihnya?" Suatu hari Mayang bertanya. 


"Entahlah, kami tidak pernah membahas hal-hal seperti itu. Kenapa?"


"Dingin banget! Alasan anak lelaki menjadi dingin pada anak perempuan salah satunya karena ia sudah mempunyai kekasih. Aku penasaran siapa yang sudah memiliki hati Ares!"


Aku menjawabnya dalam hati.


Wening Prubasari, sepupuku yang telah menikah.


Apakah mereka masih berhubungan hingga kini? Berhubungan melalui apa? Aku tak pernah melihat pengantar surat menghampiri rumah Ares. Kecuali paket tertentu yang kutahu bukan dari Wening Prubasari. 


Apakah melalui chat? Sungguh seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Tanganku pernah sangat gemetaran, saat memeriksa ponselnya yang terbuka. Tak ada nama Wening. Atau nama serupa Aphrodite sang kekasih gelap. Apakah mereka bertelepati? 


Terkadang ada rasa aneh yang terbesit dibenakku. Aku tidak menyukai segala dugaanku. Tentang dua orang yang bertelepati. Atau tentang dua orang yang saling mencintai.


"Besok ulang tahunmu, kan?" Danang bersuara sesaat setelah kami hening bercanda. Topik candaan kami tadi mengenai makan siang gagal yang kumasak. Meski setelahnya Arimbi mengajarkanku cara menanak nasi langsung di nesting. 


Yaitu dengan mengecilkan api sekecil-kecilnya sesaat beras telah mengering separuh tanak. Lalu mendiamkan nesting yang tertutup rapat tersebut matang secara perlahan. Mungkin nanti akan kucoba jika mereka mempercayaiku memasak kembali.


Aku mengangguk sekilas, "iya."


"Tujuh belas, kan! Pas kita di puncak saja ya! Asik banget! Tujuh belasku sudah di puncak Merbabu beberapa bulan lalu, sebelum kamu kesini." Surya memberitahuku. 


Mereka semua sudah melewati angka tujuh belas. Bahkan Mayang sudah tujuh belas saat kelas satu. Aku yang terakhir diantara mereka. Entah kenapa para remaja merasa perlu merayakan tujuh belas. Bilangan itu terasa sakral untuk dilewati begitu saja tanpa perayaan. 


"Dapat hadiah apa? Aku dapat si putih saat tujuh belas." Arimbi menjelaskan kuda besi, motor kesayangannya yang sering digunakan untuk berpacu di alun-alun.


Aku tersenyum menjelaskan laptop dari Ayah yang kutukar dengan tiket ke gunung Sindoro. Mungkin hadiahku nanti adalah sebuah puncak. Sedangkan Mama menghadiahkanku sejumlah bilangan angka direkening yang tak bisa kuambil sebelum umurku cukup. 


Jika Ayah senang menghujaniku dengan benda-benda, maka Mama sebaliknya. Ia memberiku bilangan angka. Menurutnya deretan angka adalah kepastian dalam hidup seseorang. Aku tak ingin mendebat, sebab Mama lebih dulu menjalani hidup. Hidupnya di masa lalu tak memiliki bilangan angka, maka ia memastikanku mempunyai banyak angka.


Mereka akhirnya tahu, cerita tentang macbook baruku. Surya memandang Ares sengit, iri pada kemudahannya mendapatkan benda tersebut. Mayang dan Arimbi juga ikut mendebat. Danang hanya tersenyum kecut, saat Ares menjelaskan. Ia hanya mengajukan penawaran dan aku sendiri yang rela menukar macbook dengan puncak. 


"Tujuh belas hanya sekali, aku bisa meminta macbook lagi pada Ayah." 


Entah kenapa aku merasa harus membela Ares agar tak didebat oleh keempat anggota koloni-ku. Aku merasa harus membagi hadiahku pada Ares. Sebab tak ada cerita tentang tujuh belas yang keluar dari mulut Ares. Ia tak merayakan tujuh belas. Tak ada yang memberinya hadiah. Tidak juga Wening?


Mereka juga akhirnya tahu bahwa kedua orangtuaku sudah berpisah. Danang, Surya, Mayang dan Arimbi masih mempunyai orangtua lengkap yang tinggal dalam satu atap. Dan sekali lagi tidak ada cerita tentang orang tua yang keluar dari mulut Ares. Ia tidak lagi mempunyai orang tua. Apakah Wening adalah satu-satunya yang ia miliki?


Gerimis telah benar-benar reda saat matahari hampir rebah. Di kejauhan nampak selengkung busur berwarna-warni. Gerimis ternyata juga mendatangi tanah dibawah sana. Dan sinar mentari bersepakat menyajikan pemandangan terindahnya.


Alam tak pernah saling berkelahi. Mereka saling memiliki dan melengkapi. Jika manusia acapkali memaki rinai hujan. Maka sinar mentari akan menghibur hujan dengan menjadikannya bias pelangi. Alam selalu menunjukkan dengan kebersamaan, keindahan akan selalu datang. 


Menjelang gelap kami beribadah. Namun aku membenci ibadahku kali ini. Suara Ares bergema dengan lembut dan syahdu, memimpin sholat kami. Ia melantunkan ayat yang memecah pikiranku. Tuhan, ampuni aku. Sebab ayat tersebut tak kudengarkan bersungguh-sungguh. 


Aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Apakah kerajaanku kini telah runtuh. Bersama puing-puing keangkuhanku aku semakin terhisap.