
Ayah pulang sesaat setelah sarapan. Kami hanya mengantar hingga halaman saja. Ayah membawa Jeep kanvas kesayangannya. Aku berpesan hal yang sama dengan Iyang Uti. Agar Ayah berhati-hati.
Ares juga ikut mengantar Ayah. Mereka berpisah seperti ayah dan anak lelaki. Tanpa air mata seperti aku. Tapi aku tahu, Ares akan merindukan Ayah sepertiku juga.
Ayah berpesan agar kami semua menjaga diri. Berpesan pada Ares untuk menjaga kami. Mempercayakan Ares menjaga perempuan-perempuan yang disayanginya.
Lalu semua kembali kerumah. Ares kembali kerumahnya sebab ini hari Minggu. Kami tak sekolah. Rasanya baru kemarin Ayah mancing gurame dengan Ares di kolam belakang, lalu memanggangnya dan makan bersama para koloni. Ternyata itu hari Minggu yang lalu.
Mengapa waktu selalu terasa lebih cepat? Mengapa rumah Iyang Uti terasa sangat sepi? Apakah seperti ini yang Iyang Uti rasakan setiapkali anak-anaknya datang dan pergi? Sepi dan rindu.
Sepi dan rindu.
Mungkin semua orangtua akan merasakan hal tersebut manakala anak-anaknya telah dewasa. Satu persatu meninggalkan rumah. Tumbuh dan besar di tempat mereka sendiri.
Aku tak ingin memikirkan itu semua.
Dulu aku selalu memikirkan semua. Bagaimana bila begini, bagaimana bila begitu... dan menjadi cemas akan pikiranku sendiri.
Sekarang aku tahu, bahwa ada hal yang tak perlu dipikirkan terlalu jauh. Namun cukup dirasakan dan direnungkan.
Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Sebab ada pertanyaan yang tidak harus terjawab hari itu.
Kehidupan tidak harus sempurna. Biarkan mengalir saja. Perjumpaan dan perpisahan. Kelahiran dan kematian. Cinta dan benci. Tawa dan tangis.
Musuh dan sahabat.
Dan banyak lagi hal yang akan kurasakan. Dalam perjalanan yang membawaku dewasa. Nanti, perlahan. Jangan cemas. Berjalan saja.
Nikmati.
"Mau keluar?"
Aku terkejut akan sosok Ares yang sudah berdiri di pintu. Sejak kapan ia berdiri disitu?
"Kemana?"
"Saung?"
Sebuah saung di tikungan jejeran cemara udang. Tempatku memaki dan menampar Ares. Tempat itu menjadi titik berhenti saat kami berdebat atau bersepakat manakala tak bisa mengungkapkan omongan kami di depan Iyang Uti.
Kami bermotor kesana.
Aku berdebar. Ares tak pernah sengaja mengajakku keluar. Kami tak pernah sengaja pergi atau mencari waktu berdua seperti ini. Apakah ada yang ingin dikatakannya?
Namun Ares hanya mengajakku duduk. Duduk dalam hening yang sangat lama. Hening yang menyiksa. Aku tak pernah suka keheningan seperti ini.
Sebab dalam hening, suara-suara di kepalaku terdengar lebih riuh.
Jadi aku mencari topik obrolan. Tapi mengenai apa? Kenapa jika aku sengaja mencari. Topik obrolan seperti menghilang?
Apakah tidak apa-apa jika tidak ada yang berbicara? Apakah dua orang yang duduk berdua harus saling berbicara? Apakah tak bisa dengan bertelepati saja?
Aku tak bisa bertelepati. Manusia normal tidak bertelepati. Itu sebabnya manusia berbicara dan bersuara.
Tetapi duduk berdua dalam hening seperti ini juga menyenangkan. Tapi mengapa duduk berdua terasa menyenangkan. Padahal kami tak berbicara dan bersuara.
Apakah karena kami berdua saja makanya terasa menyenangkan? Itu sebabnya banyak manusia yang mencari pasangannya. Agar merasa senang.
Apakah merasa senang sama dengan merasa bahagia?
Apa saat ini aku bahagia?
Ares duduk di ujung saung. Aku di ujung satunya. Kami membuat jarak yang cukup untuk saling mengamati dalam diam. Aku tahu Ares mengamatiku dalam diam. Aku pun mengamatinya dalam diam. Dengan sudut mata, saat ia tak melihatku.
Rambut lebat tak teratur, garis hidung hingga lekuk bibir dan dagunya dari samping.
Ah, seandainya aku membawa kamera. Atau ponselku. Tapi aku lebih suka kameraku. Aku senang suara lensa yang berputar dan bergerak saat mencari fokus. Aku senang mendengarkan suara saat lensaku menangkap objek yang telah fokus.
Aku ingin menangkap siluet sempurna seorang Antares Bimasakti.
Ya Tuhan, aku tak mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini. Mengapa aku ingin meluapkan perasaanku?
"Sebentar lagi kita ujian akhir, ya?"
Akhirnya Ares bersuara. Tapi apakah ia ingin membahas tentang pelajaran saat ini? Jauh-jauh ke saung?
"Duh, aku belum mengerjakan latihanku. Maaf!"
Ares tertawa. Tawanya yang merdu seperti candu.
"Ya, aku tahu. Saat ini kita fokus menyiapkan ujian dulu, ya?"
Aku menatapnya bingung, "Memangnya ada apa setelah ujian?"
Ares menggeleng. "Tidak ada apa-apa."
Aku tak begitu mengerti. Mengapa aku seperti berharap ada apa-apa? Aku kenapa?
"Sudah menentukan universitas yang kau pilih di sana?"
"Ada beberapa rekomendasi Mama. Tapi aku masih mencari dan membandingkan yang terbaik."
"Hu um, semoga lancar semua urusanmu."
Aku kenapa? Kenapa aku tidak ingin mendengar kalimat tersebut? Aku kenapa?
"Kamu beneran nggak kuliah?"
Ares mengangguk mantap. Mengapa ada sedikit rasa kecewa? Apa aku berharap Ares juga berkuliah? Satu universitas bersamaku? Apa Ayah akan membantunya?
Aku memaki dan memutuskan untuk tak mendengarkan pikiranku.
"Jepang itu jauh. Kurasa... aku akan merindukanmu."
Aku kembali memaki pikiranku. Ares hanya bilang akan merindukanku. Itu bukan ungkapan cinta.
Bodoh!
"Kau akan merindukan... perdebatan denganku?"
Ares tertawa lepas. "Ya!"
"Itu salah satunya."
"Salah duanya?" aku menjadi iseng. Aku ingin mendengar tawanya kembali.
"Humm... Mungkin tidak hanya ada dua. Akan banyak sekali yang kurindukan darimu."
Ares akan merindukanku.
Sialan! Kenapa aku seperti ingin meloncat ke udara?
"Terimakasih. Putri Maharani."
Eh? Mengapa Ares mengucapkan terima kasih?
Ares balas menatapku. Matanya berbinar. Aku kenal sorot matanya. Ia sedang gembira.
"Terimakasih, karena sudah membuat hari-hariku cukup berwarna. Aku senang bisa mengenalmu. Aku harap kau tidak melupakanku setelah disana, ya?"
Eh? Maksudnya bagaimana?
Jadi semua kalimatnya tadi memang bukan sedang mengungungkapkan perasaannya? Bukan pernyataan cinta?
Ares hanya berharap aku tak melupakan dirinya. Melupakan hari-hari kami disini. Tidak melupakan keseruan kami disini.
Apakah aku berharap pernyataan cinta dari Ares?
Apakah aku sebodoh itu?
Aku memang bodoh!
Sesaat tadi aku lupa. Ares tak mungkin menyatakan apapun. Hatinya telah terisi dan dimiliki.
Kau memang bodoh!
---