
Sudah Senin lagi. Tapi ini Senin yang berbeda.
Ujian akhir. Aku berdebar saat kertas soal dibagikan. Semalam aku tidak belajar. Sebab kupikir setelah menghabiskan cukup banyak hari dengan belajar dan belajar. Otak juga harus istirahat.
Jadi semalam setelah sholat Isya dan makan malam. Aku hanya berbaring di ranjang sambil mendengarkan musik melalui headset.
Beberapa pesan masuk di grup chat koloni yang kami buat. Mayang, Arimbi, Surya juga Danang. Bertanya apakah sudah mengulang pelajaran lalu saling mengingatkan agar kami lebih semangat belajar untuk ujian.
Aku mengirim selfie dan memberitahu bahwa aku sedang mendengarkan musik sambil berbaring di ranjang. Mereka sepakat mengataiku sinting. Aku mengirimkan pesan suara. Suara tawaku. Juga teriakan semangat.
Jadi pagi ini aku berdebar.
Soal pertama berbentuk cerita panjang. Padahal pertanyaannya hanya singkat saja.
Apa tema cerita.
Siapa karakter utama.
Apa alur cerita
Klasifikasi karangan
Apa pesan cerita
Dan jawabannya sudah tersedia dalam salah satu bulatan yang harus dihitamkan.
Aku tak pernah suka pertanyaan dengan banyak pilihan jawaban. Padahal setiap pertanyaan hanya membutuhkan satu jawaban. Pilihlah jawaban yang masuk akal.
Jawaban yang benar, adalah yang paling masuk akal. Jadi mengapa harus bersusah payah membuat tiga jawaban lain yang kadang terlihat menggelikan dan mengalihkan pikiran.
Seperti jebakan.
Aku tak suka, sebab mataku seringkali terkecoh. Aku tahu jawabannya ada di bulatan B. tapi tanganku bergerak menghitamkan A. Padahal A dan B tidak serupa. Hanya bersebelahan saja.
Mungkin itulah inti dari jawaban ganda. Hanya pembuktian apakah otak dan tanganmu bisa bekerja sama.
Aku tak kesulitan dengan pertanyaan tersebut, aku hanya sulit mengajak otak dan tanganku bekerja sama. Jadi tiba-tiba suara Ares seperti terdengar.
"Jangan lupa untuk mengoreksi ulang, sebelum kau kumpulkan jawabannya.
Maka aku mengoreksi ulang. Menemukan enam atau delapan kesalahan noda hitam. Hampir saja! Untunglah! Dengan percaya diri aku mengumpulkan lembar jawaban.
Lembar soal selanjutnya dipenuhi angka, kurva, garis dan hitungan. Ini materi yang paling menyiksa.
Aku tak pernah mengerti mengapa kita harus repot menghitung sudut sebuah segitiga. Apakah penting mengetahui berapa sudutnya? Mengapa tidak dibiarkan saja menjadi segitiga apa adanya?
Sama kakikah, sama sisikah, siku-siku. Bukankah semua adalah segitiga? Tidak masalah jika sisi yang satu tidak sama panjang. Atau salah satu sudutnya terlalu sempit.
Satu-satunya masalah segitiga yang kuingat adalah ketika berjalan memintas di lapangan. Dari titik A langsung menuju titik C. Sebab lintasan yang dibuat akan lebih pendek daripada berjalan menyusuri titik A ke B dan titik B ke C.
Jadi aku sebetulnya tidak mempunyai masalah dengan segitiga. Kecuali ada satu garis tambahan, ia tidak akan lagi menjadi segitiga. Melainkan segiempat.
Bahkan segiempat juga tidak dibiarkan menjadi dirinya sendiri. Sebab segiempat bisa menjadi bangun ruang. Menjadi balok, kubus, prisma dan limas.
Dan kembali harus dihitung panjang, tinggi, luas, volume, juga rusuknya. Aku tak pernah mengerti apakah aku harus mengingat semua rumus tersebut. Apakah kelak berguna?
Mengapa harus repot menghitung luas dan volume bangun ruang yang diisi cairan? Aku tak pernah membutuhkan hitungan saat mengisi air ke bak mandi atau botol. Aku mengisi dan berhenti ketika kurasa cukup.
Bukankah manusia hanya perlu berhenti ketika merasa sudah cukup.
Belum lagi lingkaran yang harus dicari jari-jarinya. Padahal lingkaran tak pernah mempunyai tangan. Bagaimana bisa ia mempunyai jari?
Itulah mengapa aku tak pernah menyukai matematika.
Selama tujuh belas tahun yang kulewati. Hitungan yang paling kubutuhkan hanyalah berapa jumlah uang yang kupunya. Berapa sisanya. Dan berapa yang harus kupinta.
Entah mungkin kelak jika aku memutuskan menjadi ahli matematika atau fisika. Atau menciptakan pesawat. Atau membuat portal mesin waktu. Aku mungkin membutuhkan rumus rumit tersebut.
Tapi aku tahu, aku tak ingin menjadi ahli matematika.
Satu-satunya pelajaran yang bisa kucerna hanya bahasa Inggris dan seni budaya. Nilaiku cukup tinggi. Materi gambar selalu kukuasai dengan baik sejak di sekolah lama. Sebab menggambar tak membutuhkan banyak pertanyaan dan hitungan. Melainkan rasa.
Aku selalu berhasil menangkap rasa dan menuangkannya menjadi visual yang terbaca oleh mata. Ares tak berhasil mengungguliku dalam materi ini. Nilainya hanya rata-rata.
Sayangnya, materi seni bukanlah pelajaran utama yang menentukan syarat kelulusan.
Mengapa sistem pendidikan utama di banyak sekolah, mengharuskan manusia menjadi ahli dalam otak kanan? Dan menjadikan otak kiri hanya penyeimbang?
Padahal jika otak kiri yang berkembang. Manusia akan lebih mampu berempati. Mereka akan lebih peka. Pada perasaan diri dan sekelilingnya.
Lebih peka pada tetes hujan yang jatuh. Pada desau angin yang berkesiur. Menempatkan mereka dalam bait sajak dan karangan. Menangkap mereka dalam lukisan. Menciptakan keindahan.
Maka manusia akan menghargai kehidupan. Melupakan keinginan bersaing dan berperang. Sebab hitung-hitungan akan menimbulkan keserakahan. Manusia menjadi rakus setelah mengetahui nilai angka yang bisa didapatkan dari kalkulasi hitungan.
Saat kudebat, Ares menjawab. "Tidak semua orang bisa melukis atau menjadi seniman. Kita tetap butuh orang yang bisa menyelesaikan masalah yang lebih pelik."
"Masalah yang timbul akibat keserakahan?"
"Manusia tidak bisa hidup hanya dengan makan tidur saja. Jika manusia tidak mau memikirkan kerumitan hidup, apa beda manusia dengan hewan jadinya. Itulah mengapa Tuhan memberi tidak hanya otak, namun juga akal."
"Tuhan juga menciptakan tantangan berupa bencana, agar manusia berpikir mencari jalan keluarnya. Manusia memang harus mengasah rasa agar peka pada sekelilingnya."
"Tapi kita tetap butuh seorang ahli untuk menciptakan vaksin yang menyelamatkan kehidupan manusia atau mesin yang memudahkan hidup kita."
"Jadi biarlah para ahli bersajak atau melukis. Dan biarkan juga ahli yang lainnya menyelesaikan rumus matematika."
Baiklah! Aku akhirnya mengakhiri debatku. Meski aku yakin aku tidak butuh matematika.
---