Antares

Antares
Yang Dicintai



Aku merapatkan tubuh pada anak lelaki yang meringkuk membelakangiku. Mencari kehangatan dari panas tubuhnya, sebab gerimis membuat malam bertambah dingin.


Aku hanya mengenakan celana lapangan dan kaus tipis. Ares sudah memberikan kemeja flanelnya untuk kujadikan selimut. Tapi aku masih merasakan dingin.


Malam terasa sangat panjang. Aku tadi tertidur saat Ares masih terjaga. Dan ketika terbangun aku menduga telah tidur berjam-jam. Ternyata baru dua jam saja. Aku kembali mengutuki malam.


Rasanya baru beberapa saat yang lalu kami bersama-sama. Dalam satu rombongan. Melempar canda dan berbagi tawa. Berbahagia. Menuju puncak, mengucapkan harapan. Kembali berbahagia.


Lalu malam ini kami tidur terpisah. Mereka mungkin sedang tidur di tenda. Nyaman tetapi penuh gelisah, sebab hanya bisa menunggu. Sambil berharap situasi tidak menjadi lebih memburuk.


Aku tidak berharap yang lebih buruk. Aku merasa aman sebab ada Ares bersamaku. Aku membayangkan jika aku tersesat sendirian. Dengan ransel yang hanya berisi perlengkapan memotret. Peralatan memotretku lengkap. Aku tidak melupakan kebutuhan kameraku. Kameraku aman bahkan jika hujan deras sekalipun. Tetapi aku mengabaikan perlengkapan diri yang kubutuhkan disaat genting.


Sebab tidak ada orang yang ingin berada dalam keadaan genting. Tidak ada seorangpun yang ingin dirinya tersesat. Aku tidak ingin tersesat, jadi aku tidak mempersiapkan apapun. 


Dan itulah bagian dari kebodohan seorang pendaki. Pendaki pemula sepertiku. Seharusnya aku tidak terburu-buru menyatakan diri sebagai seorang pendaki. 


Sebab ketika seseorang memutuskan untuk mendaki, maka ia sudah siap dengan segala resiko yang mungkin terjadi. Tersesat. Dan aku belum siap untuk tersesat.


Ayahku seorang chef, ia sudah mempersiapkan diri jika suatu saat tangannya menyentuh api. Selalu ada simpanan cairan pendingin di laci meja masaknya. Juga tabung merah pemadam yang berada di jangkauan tangannya manakala api dari kompor tak terkendali.


Mama seorang pemain saham. Meski sudah ahli, namun tetap ada resiko saham yang dibelinya anjlok dan membuatnya bangkrut. Tapi ia hanya membeli tidak lebih dari setengah. Mama masih mempunyai simpanan yang bisa menyelamatkan keuangannya.


Mereka orang dewasa yang matang oleh pengalaman. Mama dan ayah mungkin sudah tidur sekarang. Dirumah dan ranjang mereka yang berbeda. Tiba-tiba aku ingin pulang, baik ranjang Mama maupun dapur Ayah akan sama hangatnya dibandingkan daun-daun kering ini.


Bagaimana jika besok kami tak juga menemukan jalan. Maka kami akan melewatkan malam yang lebih menyiksa dari malam ini. Aku kedinginan dan kelaparan. Puding di mangkuk kecil tadi tidak mengenyangkanku. 


Aku ingin pulang. Masakan Mama akan lebih mengenyangkan meski terkadang kurang garam. Bahkan tidak apa menjadi gemuk sebab gizi berlebihan dari masakan Ayah. Aku ingin pulang. Aku ingin bersama dengan salah satu dari mereka.


Tidak apa-apa kami hidup terpisah. Tidak apa-apa jika kami tidak lagi serumah. Meski sehari-hari mereka sering tidak ada untuk bekerja, tetapi mereka selalu ada di tempatnya saat aku membutuhkan. 


Ma... aku kedinginan.


Ayah... aku kelaparan.


Aku ingin pulang. 


Ares terbangun. Menyadari sedu sedanku. Menatapku beberapa detik sebelum menemukan kesadarannya. 


"Kenapa? Ada yang sakit?" 


Aku menggangguk, hatiku yang sakit. Aku ingin Mama. Aku rindu Ayah. 


"Aku mau pulang. Aku takut, bagaimana jika kita tak bisa pulang? Bagaimana jika kita mati kedinginan dan kelaparan disini?"


"Aku sering melawan Mama. Aku juga banyak berbohong pada Ayah. Aku anak durhaka. Bagaimana jika aku mati dan belum sempat mengaku dosa?"


Ares merengkuh bahuku dengan lembut. Bibirnya tak mengeluarkan cemooh. Hanya gumaman untuk menenangkanku. Tangannya tak berhenti menepuk dan mengusap pundakku. 


Aku mengingat saat terakhir kali aku dipeluk. Yaitu saat Mama dan Ayah memutuskan untuk berpisah. Aku menggunakan air mata sebagai senjata agar Mama tak membawaku dari rumah. Aku menangis, agar Ayah mau membuat Mama tetap tinggal dirumah. Tapi mereka bergeming. 


Pelukan Ayah meyakinkanku bahwa meski berpisah aku tetap putri dan ratu dalam istana mereka. Rumah kami. Aku boleh berkunjung kapanpun. Ke istana milik kami. Aku menangis, aku tak mau pergi.


Jika menjadi dewasa dengan jalan berpisah. Aku tidak ingin menjadi dewasa. Aku tidak ingin menjadi dewasa dan kehilangan pelukan mereka. Setelahnya tidak akan lagi sama. 


Aku terluka, dan pelukan Ayah atau Mama tak lagi bisa menyembuhkanku.


Dan malam ini Ares memelukku dengan cara yang sama. Aku tak juga merasa sembuh. Bukan Ares yang menyakitiku. 


"Semua ini salahku! Kita tidak akan tersesat jika aku tak mengambil kalung ini." 


Aku menggenggam kalung di leherku. Aku tidak butuh mantra itu saat ini. Aku Putri Maharani, aku bukan putri juga ratu. Aku bahkan tak mempunyai istana. Aku anak durhaka. Aku adalah prahara.


Ares mencegahku menarik kalung batu itu. Tangannya kembali merengkuhku dengan lembut. Bibirnya tak mengeluarkan cemooh. Hanya gumaman untuk menenangkanku. Tangannya kembali menepuk dan mengusap pundakku. 


Ares membisikkan gumaman serupa mantra. Mantra yang ampuh menghentikan isakku. 


"Sshh... Besok kita akan mencari jalan pulang. Besok kita akan pulang. Ini belum tengah malam. Ini masih hari ulang tahunmu. Berdoalah sekali lagi."


"Berdoalah dengan bersungguh-sungguh agar kita bisa pulang, ya?"


Ares selalu berdoa. Ares tidak meninggalkan ibadah meski dengan bertayamum saja. Aku meninggalkan-Nya. Aku berpura-pura lupa. Menyodorkan berbagai alasan, keterbatasanku untuk beribadah. Padahal Dia yang Maha Tahu segalanya.


Dia menegurku.


Aku berdoa dan mengucap harap saat di puncak tadi. Tapi aku berdoa sebatas pada keinginanku. Aku berdoa untuk kebahagiaanku saja. Aku berdoa untuk kepentinganku saja. Jika aku berdoa sekali lagi. Apakah Dia masih mau mengabulkannya?


"Tidak ada batasan manusia dalam berdoa. Kau boleh meminta sebanyak-banyaknya."


"Kau boleh meminta banyak kebahagiaan. Kau boleh mengajukan banyak permintaan."


"Bukankah kau meminta pada Yang Maha Kaya?"


Ares meyakinkanku. 


Maka aku berdoa sekali lagi. Dengan bersungguh-sungguh. Aku meminta-Nya untuk memberikan Ayah dan Mama banyak kebahagiaan. Dan memohon, aku termasuk dalam kebahagiaan mereka. Aku juga berjanji akan berubah. Jika itu juga termasuk dalam kebahagiaan mereka. Aku mencintai mereka sebanyak cinta mereka kepadaku. 


Aku berdoa tanpa suara. Hanya air mata yang semakin menderas. Aku merasa sangat tak berdaya. Mungkin Ares bisa membawa kami pulang. Namun tanpa ijin-Nya, kami bukanlah siapa-siapa di alam ini. Tak ada yang menolong kami jika bukan karena kemurahan hati-Nya.


Aku juga memohon agar kami dimudahkan dalam mencari jalan pulang. Aku ingin pulang dan bertemu kembali dengan semuanya. Aku berdoa untuk keselamatan kami semua. Kawan-kawan koloni-ku yang berada di tenda. Juga Iyang Uti dan Bibi Tantri. Agar jangan merepotkan mereka. Orang-orang yang peduli padaku. Orang-orang yang mencintaiku. Aku ingin bertemu mereka kembali.


Mungkin kita membutuhkan alasan untuk membenci seseorang. Tapi kini aku menyadari, aku tak lagi membutuhkan alasan untuk mencintai. Perjumpaan adalah awal terciptanya kebersamaan. Aku bersyukur akan awal perjumpaan yang membawaku kepada mereka.


Di bumi pengasinganku. Di tanah yang membuatku tersesat. Aku menemukan hakikat diriku. Aku Putri Maharani. Aku masihlah seorang putri dan ratu. Tak lagi ada kerajaan sebab aku memiliki seluruh semesta. Semesta yang terisi orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. 


Ares membisiki mantra lain lagi.


"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Putri Maharani. Just be you.... Just be you."


--