
Pada pagi harinya. Ares kembali mengantar dengan motorku. Sebab Ayah berdiri di beranda. Ares kembali menunjukkan penghambaannya. Apakah ia sudah menganggap Ayah sebagai ayahnya juga.
Aku tidak keberatan.
Di tikungan di jejeran cemara udang, di saung kecil itu. Ares menghentikan motor. Bertanya tentang kebenaran berita itu.
"Benarkah? Kau akan melanjutkan kuliah ke luar negri?"
"Iya, setelah lulus aku akan kuliah desain ke Jepang."
"Kenapa Jepang? Di Jogja juga banyak kampus desain."
Aku mengangkat bahu, kubilang aku ingin mengetahui benua lain. Sebab mama pernah berkata, selagi muda dan tidak mempunyai ikatan. Lebih baik mencari banyak pengalaman.
Lantas Ares terdiam. Hingga aku mengingatkannya kami akan terlambat. Jadi kami bermotor dalam keheningan. Aku tak bisa menduga apa yang ada dalam pikirannya.
Apakah Ares keberatan dengan tujuanku? Tapi kenapa ia harus merasa keberatan? Ataukah ia senang karena tak lagi terbebani? Bisa saja, ia berpikiran begitu. Toh, ia terlihat membenciku selama ini.
Dan sekali lagi aku merasa sakit.
--
Siang setelah pulang sekolah. Para kawan koloniku berkumpul di rumah. Menikmati makanan yang dimasakkan Ayah. Ayah menjadi koki, otomatis para anak lelaki di koloni menjadi asistennya. Dan kami para anak perempuan, termasuk Iyang Uti dan Bibi Tantri menjadi tuan putri yang duduk manis.
"Kapan lagi bisa dilayani para lelaki?" Iyang Uti berkata. Kami semua tertawa.
"Aku suka masakan ayahmu! Enak!"
"Ayahmu keren! Ia sering membawakan acara masak di televisi itu kan?"
Ayah memang belum terlalu tua, dan penampilannya masih seperti anak muda dengan rambut panjang yang digelungnya saat masak. Jadi Mayang dan Arimbi tak henti-henti mengambil poto Ayah. Mereka akan memamerkannya di akun medsos mereka. Ayah memang cukup dikenal juga di layar kaca.
Setelah makan, kami masih melanjutkan obrolan. Ayah bertanya tentang rencana kami setelah lulus. Mayang dan Arimbi akan kuliah di Jogja. Surya akan ke Malang. Sedangkan Danang melanjutkan ke Bandung mengambil tehnologi permesinan. Ia hendak melanjutkan usaha tembakau milik ayahnya.
"Aku tidak melanjutkan kuliah. Aku akan bekerja dulu."
Ares memberitahu rencananya setelah lulus nanti. Ares akan tetap disini. Tidak melanjutkan kuliah, namun bekerja. Ada kenalan yang memintanya menjadi tutor di bimbingan belajar miliknya. Ares memang lebih pandai dari kami.
"Kenapa? Sayang sekali bila tidak sambil berkuliah. Jika passionmu di bidang pengajaran. Kamu bisa menaikkan level dengan berkuliah. Kelak kamu bisa mengajar di tingkat yang lebih tinggi lagi. Menjadi dosen atau bahkan profesor di bidang pendidikan!"
Ayah terlihat bersemangat. Seolah memberi pencerahan pada anak lelakinya sendiri.
Aku ingin Ares menjadi anak lelakinya.
Ares tertawa, "Sudah ada rencana kesana. Tetapi aku tidak bisa seketika meninggalkan rumah begitu saja. Tidak ada lagi penghuninya selain aku, Om. Rumah itu akan mati jika aku juga pergi."
Tiba-tiba saja aku mengingat kalimatnya saat kami berdua di tengah hutan dulu. Ares masih berharap ibunya pulang. Ayahnya kembali pulang. Ia seperti terikat akan kenangan dan harapannya tentang rumah itu. Aku tak bisa menyalahkan. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku akan berbuat serupa.
Aku juga berpikir tentang Iyang Uti dan Bibi Tantri. Tentu tak mudah bagi keduanya bila Ares tak ada. Banyak sekali bantuan Ares pada kedua perempuan itu. Ibu dan nenek yang sudah dianggap keluarganya.
Aku merasa geli dengan pikiran itu. Rumah kami. Sejak kapan aku merasa rumah Iyang Uti menjadi rumahku?
Ketika Ayah memberitahu mereka bahwa setelah lulus ini aku akan berkuliah ke Jepang. Mereka semua kecuali Ares nampak terkejut. Bahkan Mayang dan Arimbi berkaca-kaca. Tak hendak berpisah denganku. Aku ikut terharu, jika saja kami berteman lebih lama, kurasa aku akan kuliah bersama mereka ke Jogja. Lalu tak sengaja keluarlah cerita saat kami mendaki.
Ayah akhirnya tahu ceritaku yang tersesat. Aku khawatir, meski aku tahu Ayah tak akan memarahiku. Ayah tak pernah marah padaku. Serumit apapun masalah yang kuciptakan.
"Jadi, kamu tadinya mau ke puncak sendirian?"
Aku mengangguk. Ayah memencet hidungku, sesuatu yang dilakukannya saat gemas akan kelakuanku.
"Aduh, sakit!"
Sebetulnya tidak begitu sakit, hanya malu. Ayah selalu memperlakukanku seperti anak lima tahun.
Aku bercerita tentang alasanku pergi kepuncak. Aku menyelamatkan kalungku. Kalung yang diberikannya. Kalung yang berisi ikrar cintanya bersama Mama.
Ayah kemudian mengacak-acak rambutku. Meminta maaf pada kawan-kawanku sebab aku menyusahkan mereka. Juga berterimakasih pada Ares karena sudah ada disana.
Jadi hari itu penuh berisi permintaan maaf dan terimakasih. Dan aku merasa bahwa kata maaf dan terimakasih akan membuat suatu hubungan bertambah kuat.
Mereka juga berjanji akan membuat hari-hariku disini semakin berkesan. Sebab mereka tak ingin dilupakan. Dan aku kembali menyadari, masa-masa ini akan menjadi kenanganku yang paling indah. Ini yang paling indah.
"Jadi, kamu masih tidak mau cerita, kenapa kamu berkelahi dengan anak itu?"
Aku menggeleng. Ayah masih bertanya dan yakin suatu saat aku akan bercerita alasanku berkelahi hingga dikeluarkan dari sekolah.
Aku meminta maaf pada Ayah. Sebab aku masih tak bisa membuka cerita kenapa aku membuat bibir Michelle Khanzakh Wiroy berdarah. Kawan koloniku yang sudah mengetahui cerita itu juga tidak ada yang membuka mulut.
Aku merasa ada untungnya juga berbagi cerita. Lalu merahasiakannya bersama. Mungkin inilah misteri dari rahasia. Kami seperti mempunyai ikatan ketika sepakat menguburkan rahasia tersebut bersama-sama.
Ayah pasti ikut terluka jika mendengarnya. Ayah masih mencintai Mama, mereka hanya tak bisa bersama.
Aku berterimakasih pada musuhku Michelle Khanzakh Wiroy. Sebab tanpa perkelahian dengannya aku tak dikeluarkan dari sekolah.
Aku berterimakasih pada beberapa guru yang tak mempercayaiku. Sebab mereka meyakinkan bahwa aku akan tumbuh jauh lebih baik di lain tempat.
Tempat pengasinganku.
Di tempat pengasinganku inilah, aku menemukan diriku. Juga kenangan-kenangan indah bersama mereka.
Jadi jika Ayah bertanya lagi, apakah aku bahagia.
"Aku bahagia, Ayah!"
--