
Rumah pengasinganku terdiri dari banyak kamar. Ubinnya dari batu, kusennya dipahat kayu. Rumah lama yang kokoh. Besar dan gagah namun lengang. Sebab hanya dua penghuni disitu. Tiga sekarang setelah ada aku.
Di ruang tengah aku mendapati pigura berjajar didinding. Ramai oleh sosok hitam putih. Orang-orang dari masa lalu yang keluar dari ingatan. Selembar poto adalah cakram beku dari rekaman masa lalu. Sebentuk lagu dengan nada tak terdengar.
Kita melihat orang-orang bergaya. Namun sesungguhnya yang terekam adalah suasana. Poto selusin orang bergaya, bukanlah tentang gaya busana atau corak yang dipakai mereka.
Selusin orang itu pasti sedang merayakan sesuatu. Merayakan pertemuan. Pertemuan lengkap harus tetap terbaca oleh mata. Sebab otak lebih mudah mengingat bila ada pemantiknya.
Nampak Iyang Uti muda dengan beberapa orang yang kutebak adalah suami dan anak-anaknya. Sebab kukenali raut Ayah, yang garis wajahnya tak sekeras hari lalu. Saat berdebat mengenai kemana aku harus mereka buang.
Ada juga Bibi Tantri muda dengan seorang lelaki dan gadis mungil. Mungkin itulah keluarga kecilnya. Kemana orang-orang itu sekarang? Apakah juga tercerai berai oleh ikrar yang telah berakhir? Tercecer seperti keluarga kecil kakaknya, ayahku.
Apakah mereka semua telah tiada? Mati!
Kematian juga merupakan akhir dari ikrar. Ikrar ruh pada penciptanya. Mungkin sekarang, beberapa dari mereka sudah di surga. Sisanya sedang mencari jalan untuk menuju surga.
Aku percaya semua ruh akan pergi ke surga. Namun untuk menuju kesana, banyak yang tersesat dikegelapan barzah. Sebab kurangnya cahaya yang tercipta dari amal ibadah. Aku menghela napas beku.
Aku tak mempunyai banyak kenangan. Selain poto masa kecilku dalam satu album. Poto Mama dengan diriku terpisah di album lain. Poto Ayah dengan diriku juga dalam album tersendiri.
Mereka menjadikan poto-poto itu sebagai hadiah tahunan. Padahal hadiah yang kuinginkan adalah sebuah poto keluarga. Yaitu poto kami bertiga.
Ada lusinan poto dan lusinan kenangan yang menunggu diingat. Jajaran poto itu nampak seperti televisi buram yang tetap hidup berkedip, tak bersuara dan tak ada lagi penontonnya. Merekalah yang menonton kita sekarang dalam keheningan.
Bilik pengasingan milikku merupakan peninggalan seorang perempuan. Aku bisa tahu, sebab suasananya yang lembut, bersih resik.
Bibi Tantri bilang jika ini kamar anaknya. Aku lupa, apakah anaknya telah tiada? Sepertinya masih ada. Sebab masih tersisa pakaiannya. Yang tiada itu sebetulnya ingatanku atau informasi mengenai dirinya. Kakak sepupuku.
Ada sebuah meja kecil disebelah ranjang kayu jati. Yang didalam lacinya kutemukan buku bersampul belacu. Buku harian seorang yang pernah memiliki kamar ini dulu. Tanganku gatal ingin membuka halamannya. Tapi kutahan.
Buku harian itu mudah terbaca namun aku tak berani membacanya. Sebab membaca catatan hati seseorang berarti juga membaca rahasia mereka. Kemudian menanggung rahasia tersebut, menguncinya di langit-langit mulut. Berjaga-jaga agar tak berhamburan bersamaan dengan ludahku.
Memiliki rahasia tak selalu menyenangkan. Apalagi rahasia milik orang. Itulah sebabnya banyak orang menceritakan rahasia. Agar rahasia tersebut terbagi, dan tak menanggung bebannya sendiri.
Jadi, tadi malam kupegang kembali buku itu. Rasa penasaran membuat tanganku lebih berani dari mataku.
Rasa penasaran kerap membuat jantung manusia berkedut. Dan manusia menyukai kedutan itu, sebab memberi pertanda bahwa jantung masih hidup.
Aku membuka halamannya perlahan seolah jariku bisa membaca. Ada tiga lembar poto didalamnya. Kukenali satu dengan nama tertulis dibelakangnya.
Antares Bimasakti
Duh!
Jika aku punya anak kelak akan kunamai dengan nama sederhana saja. Seperti Nana, Mimi atau Kiki. Namun nama adalah doa orangtua. Tapi entah mengapa harapan harus diletakkan pada nama anak-anak mereka?
Antares Bimasakti.
Kupikir namanya hanya Ares, dewa perang dari mitologi Yunani. Sebab mata itu selalu mengobarkan peperangan. Dan siapakah Aphrodite itu? Pasangan dewa Ares. Diakah yang berpoto bersama di lembar kedua. Anak perempuan Bibi Tantri, pemilik buku harian ini. Kakak sepupuku.
Wening Prubasari.
Jantungku berdebar. Bukankah saat ini aku sedang membaca sebuah kisah. Adakah kisah mereka bersifat rahasia? Yang kutahu buku harian selalu mencatatkan kisah rahasia.
Ares, kekasih hati
seharusnya kita tak perlu membuat banyak kenangan
tapi kau begitu indah
dan aku menyediakan diri
untuk kau tinggali
kita sama mengakui
kita saling menyayangi
aku tak ingin berpisah
bisakah tinggal lebih lama
tapi kau harus pulang
kalimat itu yang kau bilang
kumau berbagi
dan kau tak keberatan dibagi
tapi janji suci tetap tak boleh dikhianati
apa yang sudah menjadi satu tak elok jika terbagi,
maka perpisahan akan menyakiti
seharusnya kita tak mudah membuat janji
kini aku tak tahu
bagaimana caranya berlari
--
Catatan itu tertulis, berjarak enam bulan lalu. Catatan ini masih baru. Aku membacanya dua kali. Mencerna kalimat dalam sajak itu dengan cepat.
Sebab aku Putri Maharani. Aku putri dan ratu dikerajaanku sendiri. Umurku menjelang tujuh belas namun aku mengerti banyak kata kias. Kalimat bersayap yang dituliskan Wening Prubasari dalam sajak itu.
Aku membacanya dengan jelas.
Ada jalinan rumit yang terangkai secara rahasia. Sebab ada janji yang mereka coba khianati. Wening dan Ares telah saling membeliti diri. Terbelit benang merah dari sebuah simpul ikrar. Ikrar kepada seorang yang entah siapa. Ataukah masih ada seorang lainnya lagi.
Tapi aku perlu tahu siapa Wening Prubasari. Maka kuteruskan catatan itu. Sang Aphrodite tersebut hanya tiga tahun lebih tua dari Antares. Ia menghianati tunangannya. Dan celakanya mereka kini sudah menikah. Enam bulan lalu. Wening Prubasari dan tunangannya itu.
Apakah mereka kini masih menjalin cerita? Wening dan Ares?
Mungkin kakak sepupuku itu tak pernah menyangka bahwa akan ada seseorang yang akan membaca bukunya. Sebab kepindahanku, tidak termasuk dalam rencana siapapun yang ada disini. Atau ia memang ingin cerita ini terbaca. Sebab menyimpan rahasia adalah suatu beban berat. Terutama rahasia diri sendiri.
Seperti inikah rasanya mengetahui rahasia?
Dan aku telah memegang rahasia dewa perang yang kerap mengobarkan api itu. Apakah rahasia ini titik kemenanganku. Jika kusemburkan kewajahnya akankah memadamkan benci di mata itu. Atau malah semakin membesarkan kobarannya.
Mungkin kebencian di mata Ares bukanlah milikku. Api itu milik Aphrodite. Dan dewa perang itu mungkin masih berduka usai ditinggal kekasihnya. Kebetulan aku berada didekat api yang menyala.
Saat catatan di buku ini ditulis, mereka tumbuh bersama, dibesarkan oleh rasa yang perlahan menyamankan seperti cucuran hujan dini hari. Hujan yang membuatmu bergelung hangat diranjang. Menolak bangun untuk menghadapi hari.
Hujan... hujanlah sepanjang hari, tak ada sekolah dan Mama tak perlu bekerja keluar rumah. Tapi hal itu tak pernah terjadi. Ketika kau berharap hujan sepanjang hari. Maka hujan seperti mendengar, dan mendadak berhenti. Maka kami bersungut, tergesa kembali berebut mentari di luar rumah.