
"Cantik!"
"Rambutmu juga sangat cantik!"
Mayang, anak perempuan berambut mayang menyentuh rambutku. Padahal rambutnya tak kalah indah. Hanya karena kulitku sedikit lebih cerah. Membuat kilau rambutnya berkurang setengah. Padahal kulit gelap Mayang sangat eksotis, banyak anak bule dikelasku yang ingin kulitnya berwarna seperti Mayang.
"Aku? Makasih... Kamu juga cantik."
Aku tak pernah tahu bahwa rambut juga bisa menjadi sesuatu yang cantik.
Ada empat anak yang segera menasbihkanku menjadi kawan satu kelompok. Sebab ada tugas pertengahan tahun di sekolah baru ini yang harus dikerjakan berkelompok.
Menurutku manusia sudah hidup berkelompok sejak purba. Kesendirian akan menyebabkan manusia melemah dan tak mampu menyelesaikan masalah. Tugas sekolah itu misalnya.
Mayang Dewi Utari, Danang Prasetya, Arimbi Sitoresmi dan Surya Kencana, anak lelaki yang pernah makan malam bersama di rumah Iyang Uti. Ternyata kami juga satu kelas.
Nama mereka indah dan sederhana hingga tidak susah mengingatnya. Sedikit berbeda dengan nama anak di sekolah lamaku. Mungkin karena tanah kelahiran leluhur yang menyebabkannya berbeda. Padahal masih sama Indonesia.
Kuambil contoh satu, yaitu nama musuhku. Michelle Khanzakh Wiroy. Anak perempuan produk lokal namun karena lahir dan besar jauh dari tanah leluhur. Orangtuanya memakaikan nama internasional agar kelak kehidupannya menjadi lebih modern. Mungkin.
Michelle Khanzakh Wiroy.
Huruf konsonan pada namanya lebih banyak daripada huruf vokal. Membuatnya memang tampak modern, tetapi sulit untuk diucapkan dengan tepat.
"Kh" dinamanya itu apakah harus diucap dengan suara seperti orang membuang dahak hijau?
Acapkali kupraktekkan, manakala Michelle 'Khanzakh' Wiroy lewat. Memanggilnya dengan intonasi orang yang membuang dahak. Meski tidak ada sesuatu yang keluar dari kerongkonganku.
Tapi bukan aku yang duluan memulai. Sebab sejak pertama kali kami satu kelas, cewek centil itu selalu memanggilku Putri 'wannabe' Maharani. Intonasi suaranya saat mengucap 'wannabe' itu yang membuatku gemas. Ingin ******* mulutnya yang mencibir sinis, atau mencolok matanya yang otomatis diputar keatas manakala aku lewat.
Banyak yang berpikir bahwa perseteruan kami bermuara dari nama. Padahal perseteruan kami bukan bermuara dari nama. Tetapi Mama. Aku punya sedangkan ia tidak.
Ia memanggilku 'anak mama' sebab Mama muncul disekolah lebih sering daripada mama anak lainnya. Katanya jika ingin bertemu lebih sering dengan Mamaku. Coba saja mengganggu Putri 'wannabe' Maharani.
Katanya lagi, Mr. Bernard Suseno mantan guru pembimbing kita yang tampan rupawan itu naksir berat pada Mama. Mama-ku yang serupa bidadari. Itu sebabnya Mama sukarela mendatangiku di sekolah. Bertolak belakang dengan ceritaku tentang kesibukan Mama.
Mr. tampan rupawan itu terpaksa dipindah karena tampangnya banyak mengacaukan tidak hanya hati para siswi, namun juga guru paruh baya. Menurut cerita anak-anak seperti itu. Tapi kurasa ia pindah karena alasan yang tidak ada hubungan dengan wajahnya.
Kubuat bibir Michelle 'Khanzakh' Wiroy membengkak, berdarah. Sebab ia mendesiskan bahwa Mama tidak berkonsultasi dengan Mr. Bernard Suseno tentang tumbuh kembangku. Melainkan keliaran dan tumbuh kembang asmara mereka.
Kubuat ia menghiba dengan mulutnya meminta tanganku berhenti. Namun matanya menyiratkan sesuatu yang luput kukenali. Kesumat dendam yang lahir dari rasa benci.
Seperti yang kubilang bahwa kebencian harus mempunyai awal. Mungkin Mama adalah awal perseteruan kami di sekolah.
Perseteruan itu seru buatku. Seperti ada semangat yang timbul apabila menangkan perlombaan. Kalah hari ini, toh, masih ada hari esok untuk berlomba kembali. Namun ia memelihara dengan subur, rasa yang timbul dari perseteruan, yaitu benci.
Kejadian selanjutnya adalah kelihaiannya mengaduk hati para guru dengan bercerita bahwa aku mengganggunya sebab ia tak punya ibu dan lahir dari batu. Tak ada pelukan ibu akan membuatmu menjadi anak batu. Dan para guru percaya aku kerap memukul batu itu.
Dan kemudian aku tersadar. Bukan lagi pedang dan air mata, namun luka bisa juga menjadi senjata. Kukira aku menghajarnya dengan tanganku. Nyatanya ia yang menghabisiku dengan bengkak lukanya.
Satu yang kusesali hingga hari ini, yaitu kelambatanku memelihara rasa. Jika saja kebencian kami tumbuh subur secara bersamaan, niscaya aku bisa membuat bibirnya tak bisa lagi membunyikan suara.
Maka, dipengasingan ini aku berharap bisa berkawan dengan anak-anak bernama sederhana. Mereka semua mempunyai ibu. Jadi tidak ada anak-anak yang terlahir dari batu. Dan aku tak harus berseteru.
Enam orang, jumlah lengkap kelompok baruku. Terhitung aku dan Ares. Aku tidak mengerti mengapa Ares harus satu kelompok dengan kami. Sebab anak lelaki itu masih menjadi Ares yang menemuiku di bandara kemarin lusa. Kebenciannya tetap tak terbagi meski ada empat anak lain yang bisa saja terkena terik murka dari matanya.
"Ares itu tetangga kita, lho! Rumah kita tidak berjauhan, jadi itu akan memudahkan kerja kelompok nantinya." Danang Prasetya, yang telah memujaku memberi alasan.
Ah, tetangga kita tidak sama dengan rumah kita. Apakah kita bisa menjadi kata ganti milik untuk rasa yang sama? Apakah rasa bencinya bisa menjadi benci kita juga?
Dan aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaanku sendiri. Aku bisa bertanya dengan halus pada mereka, mengapa ada kebencian yang menguasai matanya. Yang tidak ditemui di mata kita?
Surya Kencana memberi tanggapan. Sebab Ares tidak mempunyai ibu. Ibu bagi Ares adalah Iyang Uti dan Bibi Tantri -ku. Ares tumbuh berhadapan rumah dengan kedua ibu. Anak lelaki itu mempunyai dua ibu, pantas rasanya jika ia mentertawai kemiskinanku. Meski tak cukup kuat melontarkan kemarahan dari uap tubuhnya yang membuatku gerah.
Jadi apakah alasan tersebut menjadikan pemakluman bahwa ketiadaan ibu akan melahirkan rasa benci yang mudah terlontar dari matanya. Seperti halnya musuh lamaku. Apakah Ares membenciku, sebab aku merebut ibu -nya. Merebut pelukan ibu? Aku ragu.
--